Lontar Bali Wariga Gemet

Lontar Bali Wariga Gemet – Konsep Waktu, Astronomi dan Psikofisik


Perhitungan Padewasan: Urip, Umah dan Alahaning Dewasa

Kekuatan Lontar Wariga Gemet terletak pada ketepatan formulasi matematika sakralnya. Setiap elemen penanggalan, baik siklus wewaran maupun wuku, memiliki nilai numerik kuantitatif yang disebut urip (neptu) serta orientasi spasial geometris yang disebut umah (stana arah mata angin).

Nilai-nilai inilah yang menjadi variabel dasar dalam kalkulasi penentuan derajat keselarasan hari.

Siklus Komponen Urip Orientasi (Umah)
Ekawara Luwang 1 Barat Laut (Bayabya)
Dwiwara Mnga 5 Timur (Purwa)
  Pepet 7 Barat (Pascima)
Triwara Dora 9 Selatan (Daksina)
  Waya 4 Utara (Utara)
  Byantara 5 Timur (Purwa) / Pusat
Caturwara Sri 6 Timur Laut (Ersanya)
  Laba 5 Timur (Purwa)
  Jaya / Jangur 8 Tenggara (Gneya)
  Mandala 9 Selatan (Daksina)
Pancawara Umanis 5 Timur (Purwa)
  Paing 9 Selatan (Daksina)
  Pon (Pwan) 7 Barat (Pascima)
  Wage 4 Utara (Utara)
  Kliwon 8 Tengah (Madya)
Sadwara Tungleh 7 Barat (Pascima)
  Aryang 6 Timur Laut (Ersanya)
  Urukung 5 Timur (Purwa)
  Paniron 8 Tenggara (Gneya)
  Was 9 Selatan (Daksina)
  Maulu 3 Barat Daya (Neriti)
Saptawara Radite 5 Timur (Purwa)
  Soma 4 Utara (Utara)
  Anggara 3 Barat Daya (Neriti)
  Buda 7 Barat (Pascima)
  Wrespati 8 Tenggara (Gneya)
  Sukra 6 Timur Laut (Ersanya)
  Saniscara 9 Selatan (Daksina)
Dasawara Pandhita 1 Barat Laut (Bayabya)
  Pati 2 Barat Daya (Neriti)
  Suka 3 Barat Daya (Neriti)
  Duka 4 Utara (Utara)
  Sri 5 Timur (Purwa)
  Manuh 6 Timur Laut (Ersanya)
  Manusa 7 Barat (Pascima)
  Raja 8 Tenggara (Gneya)
  Dewa 9 Selatan (Daksina)
  Raksasa 10 Barat Laut (Bayabya)

Dalam merumuskan keputusan akhir mengenai kelayakan sebuah hari (padewasan), para pakar wariga tidak hanya menjumlahkan angka-angka urip secara mekanis, melainkan menerapkan hukum hierarki spiritual yang dikenal sebagai Alahaning Dewasa.

Hukum ini bertindak sebagai filter eliminasi energi temporal ketika terjadi benturan nilai antara satu siklus penanggalan dengan siklus lainnya. Aturan pengabaian dan dominasi energi ini dirumuskan sebagai berikut :

Wewaran < Wuku < Penanggal/Panglong < Sasih < Dauh <  Sanghyang Trayodasa Saksi

Berdasarkan hukum di atas, pengaruh hari (wewaran) berada pada posisi terendah dan dapat dianulir sepenuhnya oleh watak wuku yang menaunginya. Selanjutnya, pengaruh buruk dari wuku tertentu dapat diredam jika hari tersebut jatuh pada sistem posisi bulan (penanggal / panglong) yang sangat baik. Posisi penanggal / panglong ini tunduk pada pengaruh bulan tahunan (sasih).

Pada tingkat yang lebih spesifik, pengaruh sasih dikalahkan oleh pembagian waktu dalam sehari (dauh). Di puncak tertinggi dari seluruh hierarki ini, segala perhitungan matematis eksternal tersebut dapat dianulir sepenuhnya oleh kekuatan spiritual kesadaran murni manusia (Sanghyang Trayodasa Saksi).

Ketika batin manusia berada dalam kondisi hening, tulus, dan selaras dengan kehendak ilahi, energi buruk dari hari tersebut secara otomatis ternetralisasi menjadi energi kebaikan.



Dapatkan Dalam Versi Cetak
Baca Juga