Terjemahan Lontar Lontar Wrati Sesana
Oṁ awighnamastu. Praṇamya bhāskaraṁ dewaṁ, bhuktamuktiwarapradam, sarwalokahitatārthaya, prawākṣyeti śāsanam. Bhaṭāra Śiwāditya, sira dewa sinĕmbaḥninghulun, sira maweḥ bhukti muwang mukti, mangkana hanugrahanira. Bhukti, nga. abhyudaya; mukti, nga. kaniśreyaśan. Hapa tadoninghulun sumambaḥ ri sira, wratiśāsanam prawākṣye, nghulun umājarakĕn śāsana sang wiku, sarwalokahitārthaya, makadon sukaning loka.
Yamaśca niyamaścewa, yaṭāharakṣye gu paṇdhitaḥ, tepaṁ sangrakṣatĕnewa, buddhirakṣyana calyate. Sang pāṇdita sira, rinākṣanira hikang yama brata, muwang ikang niyama brata. Āpanyan karākṣa, yama niyama brata, tañcala buddhinira. Ndyata ng yama brata? Ahingsā brāhmācāryaṁ ca, satyam hawāyawāharikaḥ, hastenyam iti pañcete, yamarudrena bhaṣyitaḥ.
Ahingsā ngaraning tan pamatimati. Brāhmācārya ngaraning tan kĕneng strī sangkān rare, muwang sang kumawruhi mantra ka brahmācāyan. Satya ngaraning tuhu mojar. Hawāyawāharikā ngaraning tan papyāwahāra. Hastenya ngaraning tañ cidraning dr̥wyaning len. Hika takalima, yama brata ngaranya, ling bhaṭāra Rudhra.
Terjemahan :
Semoga tiada rintangan. Hormat kepada Dewa Surya (Śiwāditya), pemberi anugerah kenikmatan duniawi (bhukti) dan kebebasan sejati (mukti), demi kesejahteraan seluruh dunia, ajaran suci ini disabdakan. Bhatara Siwaditya adalah dewa sembahanku, Beliau yang menganugerahkan kemakmuran dan pembebasan, demikianlah anugerah Beliau. Bhukti artinya kemakmuran duniawi (abhyudaya), mukti artinya kebahagiaan rohani yang tertinggi (kaniśreyaśan). Itulah tujuan hamba menyembah Beliau, serta akan menguraikan Wrati Śāsana; hamba mengajarkan ajaran tentang perilaku seorang wiku (pendeta/petapa), demi kesejahteraan seluruh makhluk, dengan tujuan kebahagiaan dunia.
Yama dan Niyama itu hendaklah dijaga oleh sang pandita, jika hal itu senantiasa dijaga, maka keteguhan budinya tidak akan tergoyahkan. Sang pandita hendaknya melaksanakan Yama Brata dan Niyama Brata. Karena jika Yama Brata dan Niyama Brata itu dilaksanakan dengan baik, maka budi pekertinya tidak akan goyah. Yang manakah yang termasuk Yama Brata? Ahimsa (tidak membunuh), Brahmacarya (tidak kawin/menjaga kesucian), Satya (kebenaran), Awayawaharika (tidak terikat urusan duniawi/hukum), dan Asteya (tidak mencuri); kelima hal ini disebut Yama Brata oleh Bhatara Rudra.
Ahimsa artinya tidak melakukan pembunuhan. Brahmacarya artinya tidak menyentuh wanita sejak masa kanak-kanak, serta memahami mantra-mantra kesucian. Satya artinya berkata yang jujur/benar. Awayawaharika artinya tidak melibatkan diri dalam pertikaian urusan keduniawian. Asteya artinya tidak menginginkan atau berbuat curang terhadap milik orang lain. Kelima hal inilah yang dinamakan Yama Brata berdasarkan sabda Bhatara Rudra.
Akrodhā guruśuśrūṣaḥ, śocaṁ ahāralāghawam, apramadaśca pañcete, niyamaḥ parikīrttitaḥ. Hakrodha ngaraning tan kataman sr̥ngĕn. Guruśuśrūṣa ngaraning lot umulahakĕn siddhaning swakāryaning guru, gurubhakti kalīnganya ri samangkana, makanimitta hyuniran rumĕngwakĕn asarinahasyaning waraḥ-waraḥ sang guru. Śoca ngaraning nitya samacāmana, sūryasewana ngācanari bhaṭāra. Ahāralāghapam ngaraning tan barang-baranging pinangan. Apramāda ngaraning tan palĕḥ-palĕḥ, an mangabhyāṣa ri sanghyang kabhujanggan. Hika takalima, niyama brata, nga. Ling bhaṭāra Śiwa.
Hikā tang yama niyama brata, yaṭā rinākṣa desa sang wiku sari-sari, makadon katĕguhanira sanghyang brata. Hāpan tan karākṣa hasalaḥ siki hikā, niyata buddhi cāṇdala tĕmahanya, yata matangyan panasar sang kĕngka pikun, pakāpaśanang abhakṣana, hapeya-peya, hagamyāgamana, yeka pantĕn bwat japanya. Yapwan tan karākṣa hingsa brata, makanimittang krodha, moha, mada, māna, mātsarya, nguni-yuni makanimittang kāma, yekā pantĕn dadyanya.
Terjemahan :
Akrodha (tidak marah), Guruśuśrūṣa (bakti kepada guru), Śoca (kesucian), Ahāralāghawa (mengatur makanan), dan Apramāda (tidak lalai); kelima hal ini dinyatakan sebagai Niyama Brata. Akrodha artinya tidak dikuasai oleh rasa marah. Guruśuśrūṣa artinya selalu berusaha melaksanakan dan menyelesaikan tugas-tugas dari guru; arti sejatinya adalah berbakti kepada guru, dengan tujuan agar dapat mendengarkan intisari rahasia ajaran-ajaran sang guru. Śoca artinya senantiasa menyucikan diri (ber-acamana), melakukan suryasewana (pemujaan matahari) kehadapan Bhatara. Ahāralāghawa artinya tidak memakan sembarang makanan. Apramāda artinya tidak lengah atau bermalas-malasan dalam mendalami ajaran kabhujanggan (kependetaan). Kelima hal ini adalah Niyama Brata, menurut sabda Bhatara Siwa.
Demikianlah Yama dan Niyama Brata yang hendaknya dijaga oleh sang wiku setiap hari, dengan tujuan demi keteguhan pelaksanaan bratanya. Sebab, jika salah satu saja dari ajaran itu tidak dijaga, niscaya budi pekertinya akan menjadi nista (candala) akibatnya. Itulah sebabnya orang yang tersesat menjadi pikun rohaninya; ia akan memakan makanan yang terlarang, meminum minuman yang haram, dan melakukan hubungan intim yang terlarang (agamyagamana), sehingga sia-sialah japa mantra yang diucapkannya. Jika ia tidak menjaga brata ahimsa, yang disebabkan oleh kemarahan, kebingungan, kemabukan, kesombongan, keirihatian, dan terutama didorong oleh nafsu birahi (kama), maka kehancuran itulah yang akan menjadi hasilnya.
Kunang pwa hingsāyan makadon dhamma, tan doṣa hikā ndya hatingsā makador̀ ndhar̀mma? Ring amatyani sarwa satwa, matadon ginawe caru ring dewa pūjā, pitr̥ pūjā, hatiti pūjā, palikar̀ma pūjā, tan doṣa sira yan mangkana. Tathāpinyan wĕnang-wĕnang hikang hingsukan, kadyanggāning hitik, hangsa, hayam, nguni-yuni wĕdus, celeng, miṣa, tan pangawakana sira hingsaka, makonkonan asira kayogyan ikā.
Kunang ikang bur̀wan, kawaśah ikā hingsun, sakalwiring mr̥ga, paksyi, mātsyā, singha pakanya, nguni-yanin walang, wilalan hityewamādi, tan doṣa sang wiku hingsaka ri samangkana, yan makadon bhinukti. Muwah ikang sayogya hiningsan, hikang asarwa prāṇidhar̀mmawīghata muwang yogawighata. Hikang sinangguḥ magawe śarīrawikārakāraṇa, ndyata lwir̀nya : tumatitinggi, namūk, salwiring manglarani panahutnya muwang pangumpĕtnya, wĕnang patyanah ikā.
Muwah adinya hingsakanikang śarīrawikārakāraṇa, hikang dhar̀mmawighāta, nga. maling, yogya sang wiku mamĕjahaneriya, yan marye umaḥnira, humaḥning wĕkānira, humaḥning kadang muwang wwang sānaknira, yan mitranira kunang, tan doṣa sang wiku hingsuka riya, hapan ātmarākṣa doniran mangkana. Hanapwa duṣṭa salwiranya, kasĕkĕptaya denira, tan wāgya sang wiku hapatyananahiriya, hapan tanāna bhāyaning huwus katalyan, pantĕn sang wiku yan hingsakĕng tĕlas kasikĕp, muwang hupus katalyan ikang wwang, pakeḥ juga konĕnira hamĕjahan akā yogyan ikā.
Yan hana wwang kumarakira ri patyanira, hatĕtĕr̀ takhakawurungan buddhinyā halari sira, makonkonan asira ri patyanikā, tan sira hingsaka prihawak. Yan sira hingsakā, pantĕn sira yan mangkana. Tĕkā pwa hi sira hikang kumirakira ri patyanira, saha cihna, bhāya siran mangkana, tan doṣa sira hingsakā. Lawan yan hana strīnira dūr̀śila, putrīnira kunang, makonkonan asira hamĕjahana, hikang rowangning strinira dūrācāra, tan sira hamĕjahana. Yan sira hamĕjahiriya, pantĕn sira yan mangkana. Kunang yan kal̥ĕngan isĕdĕngnyan mangkana, kasr̥gāgĕn ata sira hamĕjahiriya, mĕjahanastrīnira kunang, tan doṣa hikā yan mangkana sira.
Terjemahan :
Adapun pembunuhan yang bertujuan demi dharma (kebenaran/kewajiban suci) adalah tidak berdosa. Pembunuhan manakah yang bertujuan demi dharma? Yaitu membunuh segala jenis binatang yang ditujukan untuk dijadikan sarana caru (kurban suci) dalam dewa puja (pemujaan dewa), pitra puja (pemujaan leluhur), atiti puja (penghormatan tamu), dan palikarma puja; tidaklah berdosa seorang wiku jika berbuat demikian. Walaupun demikian, hewan yang boleh dibunuh itu terbatas, seperti bebek, angsa, ayam, serta kambing, babi, dan kerbau. Sang wiku sendiri tidak boleh menyembelihnya secara langsung, melainkan harus menyuruh orang lain yang patut untuk melakukannya.
Sedangkan mengenai hewan buruan, diizinkan untuk dibunuh, yaitu segala jenis binatang berkaki empat (mriga), burung (paksi), ikan (matsya), ataupun singa, termasuk belalang, ulat, dan sejenisnya. Tidaklah berdosa sang wiku membunuhnya dalam keadaan seperti itu jika tujuannya untuk dimakan. Selain itu, yang patut dibunuh adalah makhluk yang mengganggu kehidupan makhluk lain (pranidharmawighata) serta mengganggu pelaksanaan yoga (yogawighata). Yaitu makhluk yang menimbulkan kerusakan atau bahaya bagi tubuh, seperti : kutu busuk, nyamuk, dan segala yang menyakitkan baik karena gigitannya maupun sengatannya, itu semua boleh dibunuh.
Termasuk pula tindakan membunuh demi mencegah kerusakan tubuh dan kehancuran dharma, contohnya terhadap pencuri (dharmawighata). Sang wiku patut membunuhnya jika pencuri itu memasuki rumahnya, rumah anaknya, rumah kerabatnya, rumah saudaranya, ataupun rumah sahabatnya; tidaklah berdosa sang wiku membunuhnya karena hal itu dilakukan demi membela diri (atmaraksa). Namun, jika penjahat jenis apa pun telah berhasil ditangkap dan diringkus, sang wiku tidak boleh membunuhnya begitu saja, karena tidak ada lagi bahaya dari orang yang sudah terikat. Adalah berdosa bagi sang wiku jika membunuh orang yang sudah tertangkap dan terikat mati; tindakan yang patut adalah menyerahkannya kepada pihak yang berwenang (pemerintah/prajurit) untuk dihukum sepatutnya.
Jika ada orang yang merencanakan pembunuhan terhadap dirinya, dan niat jahat orang itu sudah bulat untuk menyerangnya, sang wiku boleh menyuruh orang lain untuk membunuh orang tersebut, dan bukan ia sendiri yang membunuhnya secara langsung. Jika ia membunuhnya sendiri, maka berdanyalah ia. Tetapi, jika orang yang merencanakan pembunuhan itu datang langsung menyerang dengan membawa senjata nyata, sehingga mengancam jiwanya, maka tidaklah berdosa sang wiku jika membunuhnya (secara langsung). Demikian pula jika istrinya atau putrinya berlaku serong (berzina), ia boleh menyuruh orang lain untuk membunuh laki-laki yang menjadi pasangan serong istrinya itu, dan bukan ia sendiri yang membunuhnya. Jika ia membunuhnya sendiri, berdanyalah ia. Namun, jika ia memergoki tindakan serong itu secara langsung di tempat kejadian, lalu dalam keadaan terkejut dan emosi ia langsung membunuh laki-laki itu atau istrinya sendiri, maka ia tidak berdosa jika berbuat demikian.
Hapwan sira hingsaka makanimittang tukar, ndān angruhuni ta sira, pantĕn ikā sang wiku mangkana. Kunang yan karuhunan, tan wighāni sira n sināhasa, cinapalan ri kang śabda mupangasta. Cinapalan pwa sira ring kadgā mal̥ĕsta sira, tan doṣa sira yan mangkana, hapan bhāyarākṣakā ngaraning mangkana. Ya donikā sahuranya, lwir̀nyekang tukar, rinuhunan ta sira hingsakan, mal̥ĕcta sira, yogyā sang sĕkāram uwaḥ.
Sang wiku pwa sira mangruhunakĕn nimittaning hukar, makāwaśanang hingsakan, makanimattā tyantaning tan yuktinikang śabda kar̥ĕngö, hatyanta wapala kunĕng sira, mal̥ĕsta sira hingsak, pantĕn sira yan mangkana, tan yogya sang sĕkāran muwaḥ, hapantan hana prāyaścittaning pantĕn ngaranya. Yata matangyan haywu tan prayatna ca ng wiku, ri karākṣaning hahingsā brata.
Kunang ikā sang brahmācārya, hikang tan kĕneng strī. Mapatā lwir̀ nira hinan? Śuklabrāhmācāri, tr̥ṣṇabrāhmācari, sapalabrāhmācāri. Śuklabrāhmācāri, nga. Tan pastrī sangkan-sangkan rare tĕkeng patinira. Tr̥ṣṇabrāhmācāri, nga. Har̀ kĕneng strī sĕdĕngningsumewakĕng guru, makanimitta pĕdiniran byapar̀ttikā numulahakĕn kaguruśuśrūṣan, har̥ĕp wruḥ ari tĕgĕs sanghyang kabhujanggan, muwang amriḥ ri kaputusanira sanghyang walawidyā, seṣṭinira, yantar̀kka, wyakāraṇa, jrotiṣa, salwiring hāgama seṣṭi sang wiku.
Terjemahan :
Jika sang wiku melakukan pembunuhan yang diawali dari suatu pertengkaran, di mana ia yang memulai terlebih dahulu, maka berdoṣalah sang wiku jika demikian. Namun, jika ia yang diserang terlebih dahulu, tidaklah bersalah ia ketika mengalami kekerasan atau dicaci maki dengan kata-kata kasar. Jika ia diserang dengan pedang lalu ia membela diri hingga penyerangnya tewas, ia tidak berdosa berbuat demikian, karena tindakan itu disebut bela diri dari ancaman maut (bhāyarākṣakā). Oleh karena itu, jika dalam pertengkaran ia didahului dan diserang, lalu ia membela diri hingga membunuh lawan, maka ia patut disucikan kembali (melalui upacara penyucian diri/samskara).
Tetapi jika sang wiku yang memulai pertengkaran yang mengakibatkan terjadinya pembunuhan, disebabkan oleh ucapan kasar yang sangat tidak patut didengar, atau ia berlaku sangat angkuh lalu menyerang hingga membunuh, maka berdoṣalah ia jika demikian. Ia tidak boleh disucikan kembali, karena tidak ada upacara penebusan dosa (prayasccita) bagi orang yang berstatus panten (pendeta yang gugur bratanya). Itulah sebabnya sang wiku harus sangat berhati-hati dalam menjaga pelaksanaan brata ahimsa.
Adapun mengenai Brahmacarya, artinya adalah tidak menyentuh wanita. Bagaimanakah pembagiannya? Yaitu Sukla Brahmacarya, Trisna Brahmacarya, dan Sawala Brahmacarya. Sukla Brahmacarya artinya tidak menikah/beristri sejak masa kanak-kanak hingga ajalnya tiba. Trisna Brahmacarya artinya boleh beristri setelah selesai berguru. Selama berguru ia memusatkan diri pada pengabdian kepada guru (guruśuśrūṣa), dengan tujuan agar memahami arti kependetaan (kabhujanggan) serta berusaha menguasai ilmu pengetahuan suci (walawidya) yang diinginkannya, seperti ilmu logika (tarka), tata bahasa (wyakarana), astronomi/perbintangan (jyotisa), dan segala kitab suci agama yang dicita-citakan oleh sang wiku.
Kunang ri sĕdĕnging waraḥnira hanumungsi rang kagr̥hasthānan, marabyata sira tunggal, tan parabi sira muwaḥ ri patining binira, ya tr̥ṣṇabrāhmācāri nga. Kunang ngikang sawālabrāhmācāri nga. tan parabi sĕdĕnging guruśewaka. Kunang i sĕdĕngning kagr̥hasthān, marabyata sira sakahar̥ĕp, ndān putrawr̥ddhi donira, wruhata sireng pūjāsanggama muwang kāladeśa, wihikanata siraring yogya bhāryā rowanganira hamr̥ddhyakĕn putra śantana, mopabhāya tuwi, ndā rowanganira hamr̥ddhi putra.
Yan śuśila hambĕknikang strī rowanganira, saji-saji par̀ṇahnya, tuhin wruha hangiringakāla ning pasanggamana, muwang ikālining singgahan apa sanggamanikā, tan tamtama sira ring sanggama, makanimitta wruḥniraring halaning śakĕteng wiṣaya, hapan nikang strī dadi hikang kāma doṣa yan kinaśakta.
Terjemahan :
Adapun jika setelah selesai menerima ajaran (berguru) ia hendak memasuki masa berumah tangga (grahasta), ia hanya boleh menikah dengan satu orang istri saja, dan tidak boleh menikah lagi meskipun istrinya telah meninggal dunia; itulah yang disebut Trisna Brahmacarya. Sedangkan yang dimaksud Sawala Brahmacarya adalah tidak menikah selama mengabdi dan berguru kepada guru. Namun, saat memasuki masa berumah tangga (grahasta), ia diperbolehkan menikah sesuai keinginannya (lebih dari satu), tetapi tujuannya harus demi melahirkan keturunan (putrawriddhi). Ia harus memahami tata cara persetubuhan yang suci (pujasanggana) serta waktu dan tempatnya (kaladesa), serta tahu betul mana istri yang patut diajak bekerja sama untuk melahirkan keturunan yang saleh, bahkan dalam keadaan saling membantu demi memperoleh anak.
Jika istri yang menjadi pendampingnya itu berbudi pekerti luhur dan selalu siap melayani, maka sang suami harus tahu diri untuk mengikuti waktu yang tepat dalam bersetubuh, serta menjauhi waktu-waktu yang dilarang untuk berhubungan. Ia tidak boleh mengumbar nafsu dalam bersetubuh, karena ia telah memahami betul dampak buruk dari keterikatan pada nafsu keduniawian (wisaya). Sebab, wanita dapat menjadi sumber dosa keduniawian jika seseorang terlalu terikat dan dikuasai oleh nafsu birahi kepadanya.
Sangkeng kāṣa dadi krodha, sangkeng krodha dadi lobha, sangkeng lobha dadi moha, sangkeng moha dadi māna, sangkeng māna dadi mātsārya, sangkeng matsārya dadi hingsakā, yata matangyan inĕr̥tnikang wiṣaya, nguni-yuni yaning strī wiṣaya, tan ulurān angulaḥ śaktaring stri, makādiring agamyāgamana, jamĕ-jamikang buddhi yan mangkana. Pilih agamyāgaman, piliḥ ngurwāngganāmana.
Agamyāgamana, nga. makastrī tan yogya pakastryānira, kadyangganing : hibu, hanak, putu, kapwānakan, muwang sānak, warang. Nahang tang pinakastrīning agamyāgamana. Pradhāra, nga. makastrī strīning pwang paneḥ, hikā ta sang wiku yan mangkana, tan wurung tumampuring nirayaloka, kinĕla dening yamabala. Mangkanaring agamyāgamana, l̥ĕwiḥ pātakanya, halawas pinakesining kawaḥ, sanghyang yama, sabarinyan mĕntas sangkĕng kawaḥ, sakeli-kelikning rāt pinakatĕmahanya, kadyangganing tĕtĕk, lintaḥ, hiris-hiris poḥ, cacing, pĕlus, kuricak, hasing kekeliking tmuga tĕmahanya.
L̥ĕwiḥ tapa takaning gurwāngganāmana, nga. makastrī bhāryasangguru, jajamahansangguru, pantĕn kungatĕki taki wiku yan mangkana. Kunang ika ring wiku yan agamyāgamana, patita ngaranya, kātargataring pantĕn, yata kāraṇa sang pāṇdita, prayatna ri karākṣakaning brāhmācārya, dwitaṃya sanghyang yamabrata.
Terjemahan :
Dari nafsu berahi muncul kemarahan (krodha), dari kemarahan muncul ketamakan (lobha), dari ketamakan muncul kebingungan pikiran (moha), dari kebingungan pikiran muncul kesombongan (mana), dari kesombongan muncul keirihatian (matsarya), dan dari keirihatian muncul keinginan membunuh atau menganiaya (ahimsa). Itulah sebabnya nafsu indra harus dikendalikan, terutama nafsu terhadap wanita. Jangan sampai mengumbar perilaku yang diperbudak oleh wanita, terlebih lagi melakukan hubungan seksual yang terlarang (agamyagamana); karena hal itu akan mengotori rohani. Kejahatan seksual itu contohnya adalah agamyagamana dan gurwangganamana.
Agamyagamana artinya mengawini atau menyetubuhi wanita yang tidak patut dikawini, seperti : ibu, anak perempuan, cucu, keponakan, saudara kandung, dan besan. Itulah wanita-wanita yang termasuk dalam larangan agamyagamana. Sedangkan Pradhara artinya mengawini atau menyetubuhi istri orang lain. Jika seorang wiku berbuat demikian, ia pasti akan terlempar ke alam neraka dan direbus oleh para sepasukan malaikat maut (yamabala). Demikian pula dengan dosa agamyagamana, dosanya sangat besar dan akan menjadi penghuni kawah neraka dalam waktu yang sangat lama di bawah siksaan Sang Hyang Yama. Setelah mentas (keluar) dari kawah neraka, ia akan menjelma menjadi makhluk melata yang paling menjijikkan di dunia, seperti : lintah, cacing, ulat pohon mangga, belut, katak sawah, atau makhluk apa pun yang merangkak di tanah.
Lebih besar lagi dosa dari Gurwangganamana, artinya mengawini atau menyetubuhi istri sang guru, atau menjamah wanita simpanan sang guru. Sangat berdosalah (panten) wiku yang berpikiran kotor seperti itu. Adapun bagi seorang wiku yang melakukan agamyagamana, ia disebut “patita” (orang yang jatuh atau hancur martabatnya), termasuk dalam golongan pendeta yang gugur bratanya (panten). Itulah alasannya mengapa sang pandita harus sangat berhati-hati dalam menjaga kesucian dirinya (brahmacarya), sebagai bagian kedua dari ajaran suci Yama Brata.
Kunang ikang satya, hatĕguḥta sang wiku ring wacana, yatna humingan iri wuwusnira, wĕdinirān tan tuhwā, hapan akweḥ wacana ri kal̥ĕkasaning ujar, lāwan taywawākparuṣya, hasing ujar menak juga wuwusakĕna, tan mujarakĕnangujar agangsul, haywa mujarakĕn ujar hawor̀ krodha, nguni-yuni yan adulura sāpata, pisuḥ-pisuḥ, hapan ujar madwā hikang sāpatamuwang pisuḥ, tan satyeng brata nga.
Muwaḥ satyata sira ring hulaḥ, ring brata, sawacananing sang guru hĕlas kering denira, hapan sang wiku yan tan satyeng brata pantĕn sira, kadyanggānirasang siddhāntabrata.
Terjemahan :
Adapun mengenai Satya, sang wiku harus teguh dalam setiap perkataannya. Ia harus berhati-hati dan membatasi ucapannya karena takut jika apa yang dikatakannya tidak sesuai dengan kenyataan. Sebab, terlalu banyak bicara dalam pergaulan dapat menggelincirkan lidah. Selain itu, jangan sekali-kali mengucapkan kata-kata kasar (wakparusya). Ucapkanlah kata-kata yang menyenangkan saja, jangan mengucapkan perkataan yang menyinggung perasaan, dan jangan berbicara saat dikuasai kemarahan, terlebih lagi jika disertai dengan menyumpahi (sapata) atau memaki-maki (pisuh-pisuh). Karena perkataan yang mendua, sumpah serapah, dan makian itu adalah bukti seseorang tidak setia pada bratanya (tan satyeng brata).
Selain itu, sang wiku harus setia dalam perbuatan dan pelaksanaan bratanya. Segala petunjuk dan nasihat dari sang guru harus dilaksanakan dengan tulus ikhlas, sebab jika seorang wiku tidak setia pada bratanya, maka ia gugur kesuciannya (panten), sama halnya dengan aturan dalam Siddhanta Brata.
Kunang ri sĕdĕnging waraḥnira hanumungsi rang kagr̥hasthānan, marabyata sira tunggal, tan parabi sira muwaḥ ri patining binira, ya tr̥ṣṇabrāhmācāri nga. Kunang ngikang sawālabrāhmācāri nga. tan parabi sĕdĕnging guruśewaka. Kunang i sĕdĕngning kagr̥hasthān, marabyata sira sakahar̥ĕp, ndān putrawr̥ddhi donira, wruhata sireng pūjāsanggama muwang kāladeśa, wihikanata siraring yogya bhāryā rowanganira hamr̥ddhyakĕn putra śantana, mopabhāya tuwi, ndā rowanganira hamr̥ddhi putra.
Yan śuśila hambĕknikang strī rowanganira, saji-saji par̀ṇahnya, tuhin wruha hangiringakāla ning pasanggamana, muwang ikālining singgahan apa sanggamanikā, tan tamtama sira ring sanggama, makanimitta wruḥniraring halaning śakĕteng wiṣaya, hapan nikang strī dadi hikang kāma doṣa yan kinaśakta.
Terjemahan :
Adapun jika setelah selesai menerima ajaran (berguru) ia hendak memasuki masa berumah tangga (grahasta), ia hanya boleh menikah dengan satu orang istri saja, dan tidak boleh menikah lagi meskipun istrinya telah meninggal dunia; itulah yang disebut Trisna Brahmacarya. Sedangkan yang dimaksud Sawala Brahmacarya adalah tidak menikah selama mengabdi dan berguru kepada guru. Namun, saat memasuki masa berumah tangga (grahasta), ia diperbolehkan menikah sesuai keinginannya (lebih dari satu), tetapi tujuannya harus demi melahirkan keturunan (putrawriddhi). Ia harus memahami tata cara persetubuhan yang suci (pujasanggana) serta waktu dan tempatnya (kaladesa), serta tahu betul mana istri yang patut diajak bekerja sama untuk melahirkan keturunan yang saleh, bahkan dalam keadaan saling membantu demi memperoleh anak.
Jika istri yang menjadi pendampingnya itu berbudi pekerti luhur dan selalu siap melayani, maka sang suami harus tahu diri untuk mengikuti waktu yang tepat dalam bersetubuh, serta menjauhi waktu-waktu yang dilarang untuk berhubungan. Ia tidak boleh mengumbar nafsu dalam bersetubuh, karena ia telah memahami betul dampak buruk dari keterikatan pada nafsu keduniawian (wisaya). Sebab, wanita dapat menjadi sumber dosa keduniawian jika seseorang terlalu terikat dan dikuasai oleh nafsu birahi kepadanya.
Sangkeng kāṣa dadi krodha, sangkeng krodha dadi lobha, sangkeng lobha dadi moha, sangkeng moha dadi māna, sangkeng māna dadi mātsārya, sangkeng matsārya dadi hingsakā, yata matangyan inĕr̥tnikang wiṣaya, nguni-yuni yaning strī wiṣaya, tan ulurān angulaḥ śaktaring stri, makādiring agamyāgamana, jamĕ-jamikang buddhi yan mangkana. Pilih agamyāgaman, piliḥ ngurwāngganāmana.
Agamyāgamana, nga. makastrī tan yogya pakastryānira, kadyangganing : hibu, hanak, putu, kapwānakan, muwang sānak, warang. Nahang tang pinakastrīning agamyāgamana. Pradhāra, nga. makastrī strīning pwang paneḥ, hikā ta sang wiku yan mangkana, tan wurung tumampuring nirayaloka, kinĕla dening yamabala. Mangkanaring agamyāgamana, l̥ĕwiḥ pātakanya, halawas pinakesining kawaḥ, sanghyang yama, sabarinyan mĕntas sangkĕng kawaḥ, sakeli-kelikning rāt pinakatĕmahanya, kadyangganing tĕtĕk, lintaḥ, hiris-hiris poḥ, cacing, pĕlus, kuricak, hasing kekeliking tmuga tĕmahanya.
L̥ĕwiḥ tapa takaning gurwāngganāmana, nga. makastrī bhāryasangguru, jajamahansangguru, pantĕn kungatĕki taki wiku yan mangkana. Kunang ika ring wiku yan agamyāgamana, patita ngaranya, kātargataring pantĕn, yata kāraṇa sang pāṇdita, prayatna ri karākṣakaning brāhmācārya, dwitaṃya sanghyang yamabrata.
Terjemahan :
Dari nafsu berahi muncul kemarahan (krodha), dari kemarahan muncul ketamakan (lobha), dari ketamakan muncul kebingungan pikiran (moha), dari kebingungan pikiran muncul kesombongan (mana), dari kesombongan muncul keirihatian (matsarya), dan dari keirihatian muncul keinginan membunuh atau menganiaya (ahimsa). Itulah sebabnya nafsu indra harus dikendalikan, terutama nafsu terhadap wanita. Jangan sampai mengumbar perilaku yang diperbudak oleh wanita, terlebih lagi melakukan hubungan seksual yang terlarang (agamyagamana); karena hal itu akan mengotori rohani. Kejahatan seksual itu contohnya adalah agamyagamana dan gurwangganamana.
Agamyagamana artinya mengawini atau menyetubuhi wanita yang tidak patut dikawini, seperti : ibu, anak perempuan, cucu, keponakan, saudara kandung, dan besan. Itulah wanita-wanita yang termasuk dalam larangan agamyagamana. Sedangkan Pradhara artinya mengawini atau menyetubuhi istri orang lain. Jika seorang wiku berbuat demikian, ia pasti akan terlempar ke alam neraka dan direbus oleh para sepasukan malaikat maut (yamabala). Demikian pula dengan dosa agamyagamana, dosanya sangat besar dan akan menjadi penghuni kawah neraka dalam waktu yang sangat lama di bawah siksaan Sang Hyang Yama. Setelah mentas (keluar) dari kawah neraka, ia akan menjelma menjadi makhluk melata yang paling menjijikkan di dunia, seperti : lintah, cacing, ulat pohon mangga, belut, katak sawah, atau makhluk apa pun yang merangkak di tanah.
Lebih besar lagi dosa dari Gurwangganamana, artinya mengawini atau menyetubuhi istri sang guru, atau menjamah wanita simpanan sang guru. Sangat berdosalah (panten) wiku yang berpikiran kotor seperti itu. Adapun bagi seorang wiku yang melakukan agamyagamana, ia disebut “patita” (orang yang jatuh atau hancur martabatnya), termasuk dalam golongan pendeta yang gugur bratanya (panten). Itulah alasannya mengapa sang pandita harus sangat berhati-hati dalam menjaga kesucian dirinya (brahmacarya), sebagai bagian kedua dari ajaran suci Yama Brata.
Kunang ikang satya, hatĕguḥta sang wiku ring wacana, yatna humingan iri wuwusnira, wĕdinirān tan tuhwā, hapan akweḥ wacana ri kal̥ĕkasaning ujar, lāwan taywawākparuṣya, hasing ujar menak juga wuwusakĕna, tan mujarakĕnangujar agangsul, haywa mujarakĕn ujar hawor̀ krodha, nguni-yuni yan adulura sāpata, pisuḥ-pisuḥ, hapan ujar madwā hikang sāpatamuwang pisuḥ, tan satyeng brata nga.
Muwaḥ satyata sira ring hulaḥ, ring brata, sawacananing sang guru hĕlas kering denira, hapan sang wiku yan tan satyeng brata pantĕn sira, kadyanggānirasang siddhāntabrata.
Terjemahan :
Adapun mengenai Satya, sang wiku harus teguh dalam setiap perkataannya. Ia harus berhati-hati dan membatasi ucapannya karena takut jika apa yang dikatakannya tidak sesuai dengan kenyataan. Sebab, terlalu banyak bicara dalam pergaulan dapat menggelincirkan lidah. Selain itu, jangan sekali-kali mengucapkan kata-kata kasar (wakparusya). Ucapkanlah kata-kata yang menyenangkan saja, jangan mengucapkan perkataan yang menyinggung perasaan, dan jangan berbicara saat dikuasai kemarahan, terlebih lagi jika disertai dengan menyumpahi (sapata) atau memaki-maki (pisuh-pisuh). Karena perkataan yang mendua, sumpah serapah, dan makian itu adalah bukti seseorang tidak setia pada bratanya (tan satyeng brata).
Selain itu, sang wiku harus setia dalam perbuatan dan pelaksanaan bratanya. Segala petunjuk dan nasihat dari sang guru harus dilaksanakan dengan tulus ikhlas, sebab jika seorang wiku tidak setia pada bratanya, maka ia gugur kesuciannya (panten), sama halnya dengan aturan dalam Siddhanta Brata.
Yan pamanganirikang inuhutakĕning siddhantabrata, pantĕn sira yan mangkana, yatekā tan panganira nihan. Karawāna rago wyaghraḥ, gajāśwa swāna garddhabhaḥ, kūrkuṭāha sūkaras singgaḥ, sarwa macokṣamangsakam. Kadyanggāning daginging wong, daginging wre, daginging sapi, daginging wyadhra, daginging gajaḥ, daginging ajaran, daginging hasu, daginging gandharbha, daginging tetep umaḥ, daginging celeng humaḥ, daginging singha, hikāta kabeḥ, hingaranan acokṣamangsa, nga.
Grahaśca kumbhirannakraḥ, marairaḥ musyikas tasyā, nakulaḥ manduka wyalaḥ, sarwa macokṣangsakam. Lāwanta muwaḥ : daginging puhaya, daginging lodan, daginging kuluyu, daginging puṣa, daginging tikus, salwiring tikus, daginging garang-garangan, daginging kuwuk, daginging wiyung, daginging ulas, salwiring ula, hikāta kabeḥ, hinaranan acokṣamangsa.
Duḥ krimamangsakitabhuḥ, sarwaloka prahelikaḥ, praṇinam rūpabhedañca, sarwam kaniṣṭangsakam. Muwah ikang prāṇi krimi, nga. kadyanggāning hul̥ĕr mungguwing l̥ĕmaḥ, lāmanta salwiring prāṇi kagila-gila, kinelik-kelik andeningsarwaloka. Hikang prāṇi bheda rūpanya, kadyangganing lintaḥ, cacing, kuricak, hiris-iris poḥ, hul̥ĕr, kakawĕdi-wĕdi, singgat, hityewamadi, tan kinaśr̥ddhaning wang mulat, tikāta kabeḥ sinangguḥ kaniṣṭamangsa, nga. Kālawanikang sinangguḥ camaḥ, hikang mr̥ga desang siddhantabrata, kadyanggāning luwak, wingsang, langkapan, kĕnddowantaraḥ, wut, wirog, ruti, wurangutan, lalawaḥ, tal̥ĕdhu, huwahuwa, kadal, karapkarap, tĕkek, cĕcĕk, hilap, tunggĕlit, tan yogya bhakṣana desang siddhantaśuddha.
Terjemahan :
Jika memakan makanan yang dilarang dalam Siddhanta Brata, maka gugurlah kesuciannya (panten). Adapun makanan yang tidak boleh dimakan adalah sebagai berikut : daging manusia, daging kera (wre), daging sapi, daging harimau (wyaghra), daging gajah, daging kuda (ajaran), daging anjing (hasu), daging badak/gandharba, daging tokek rumah (tetep umah), daging babi domestik/babi rumah, dan daging singa. Semua itu digolongkan sebagai daging yang tidak suci (acoksamamsa).
Termasuk pula : daging buaya (puhaya), daging paus/lodan, daging hiu/kuluyu, daging kucing (pusa), daging tikus (segala jenis tikus), daging cerpelai/garang-garangan, daging kucing hutan/kuwuk, daging katak (wiyung), dan daging ular (segala jenis ular). Semua itu dinamakan daging yang tidak suci (acoksamamsa).
Selanjutnya adalah yang termasuk hewan melata/serangga (krimi), seperti ulat yang hidup di tanah, serta segala jenis makhluk yang menggelikan dan dibenci oleh semua orang. Makhluk yang bentuk rupanya menjijikkan seperti lintah, cacing, katak pohon (kuricak), ulat mangga (hiris-iris poh), belatung, singgat, dan sejenisnya, yang tidak sudi dilihat orang, semuanya itu disebut daging yang paling nista (kanistamamsa). Ada pula hewan yang digolongkan cemar (camah) menurut aturan Siddhanta Brata, yaitu luwak, musang (wingsang), sejenis bajing (langkapan), tikus pohon (kendowantarah), landak kecil (wut), tikus wirog, tikus ruti, orangutan, kelelawar (lalawah), kalajengking (taledhu), kera owa (huwahuwa), kadal, penyu karam (karapkarap), tokek (tekek), cecak, biawak (hilap), dan musang tanah (tunggelit). Semua ini tidak sepatutnya dimakan oleh mereka yang menjalankan kesucian Siddhanta.
Kokollakaś śateśyena, kākakokikaś ūsikaḥ, kīraśūkaśca sarikaḥ, sarwa macokṣamangsakam. Kadyanggānikang manuk krurapaksyi : gagak, dok, hayambakikuk, hulung, trilaklak, kak, tutuhu, domdoman, hatat, syung, nori, cod, gagandyan alapalap, bibidho, dar̀yyas, minukwidhu, tan yogya bhakṣadiyak desang siddhantabrata.
Muwaḥ nīlapaksyi, muwang ikang paksyi naraśabda, koci, cĕngkelung, dedekcu, tikustikusan, jalak, sudahan, cucak, salwiring cucak, thethekek, sulindit, tan bhakṣanika desang siddhantabrata, muwaḥ salwiring satwa pañcanaka, tan yogya bhakṣanĕn desang siddhantabrata.
Kunang ikang pañcanaka yukti bhakṣanĕn : warak, laṇdak, bulus, baning, pĕñu, salwiring pĕñu. Muwah ikang yogya bhakṣanĕn : hikang celeng alas, hayam wana, mahiṣa, wĕdus, bañak, hitik, dhara, mungwaḥ bur̀wan bhakṣanĕnikā, tinggiling, kidang, mañjangan, kañcil. Yapwan manuk len sangkang inuhutakĕn bhakṣyanĕn ngūni, kadyanggāning mĕrāk, kadawa, hijohan, wuruwuru, purukukut, tr̥guku, putĕr, waliwis, mayong, kalwang. Nāhan ikang adinya yogya bhakṣanĕn, hikang iwa king lwaḥ, muwang iwak sāgara, ndatan ilung wuhaya.
Terjemahan :
Adapun golongan burung buas atau pemakan daging yang dilarang meliputi : burung gagak, burung hantu (dok), ayam hutan jantan (hayambakikuk), elang (hulung), burung kestrel (trilaklak), gagak kecil (kak), burung tuwu/tutuhu, burung pelatuk (domdoman), burung betet (hatat), burung beo/syung, burung nori, kalong besar (cod), alap-alap, burung alap-alap srigunting (bibidho), burung hantu kecil (daryas), dan burung pemakan bangkai (minukwidhu). Semua itu tidak boleh dimakan menurut ajaran Siddhanta Brata.
Demikian pula burung nilapaksi, burung yang bisa menirukan suara manusia, burung koci, cengkelung, dedekcu, tikustikusan, jalak, sudahan, burung cucak (segala jenis cucak), thethekek, dan serindit; tidak boleh dimakan oleh pengikut Siddhanta Brata. Begitu juga segala jenis hewan berkuku lima (pancanaka) pada umumnya tidak boleh dimakan.
Namun, ada hewan berkuku lima yang dikecualikan dan boleh dimakan, yaitu : badak (warak), landak, bulus, kura-kura darat (baning), dan penyu (segala jenis penyu). Hewan lain yang juga boleh dimakan adalah babi hutan, ayam hutan, kerbau liar (mahisa), kambing, angsa (banak), bebek (itik), burung dara, serta hewan buruan seperti trenggiling, kidang, menjangan, dan kancil. Jenis burung lain di luar yang dilarang di atas yang boleh dimakan antara lain : merak, kadawa, hijohan, burung puyuh (wuruwuru), tekukur/purukukut, trguku, puter, belibis (waliwis), mayong, dan kalong buah (kalwang). Demikian pula ikan sungai (iwaking lwah) dan ikan laut boleh dimakan, asalkan bukan buaya.
Muwaḥ ikang mīṇa hatyantaring göng atikrūra rūpanya, hikāta tan wĕnang. Lāwanta muwah ikang yegyabhakṣanĕn desang siddhantatunddhabrata, hisĕdĕngnyan inolaḥ, yan kal̥ĕbwandĕning lal̥ĕr ñamukti tinggi, mĕrimĕri, tuma, kapiñjal, saṭākcaṭāhak, limpit, tĕngu, cāmpur yan mangkana, tan yukti bhakṣanĕn.
Lāwanta muwaḥ sang siddhanta haywa sira hamukti surudan, salwiranikang caru, tuhitan pamangana sakilwiring katumpangan camaḥ kaharaseng cāmpur kunang, hapituwi hikang tĕlas katĕda dening hañjing, katĕda dening hayam, katĕda dening cel̥ĕng, kebĕran kunang. Muwang haywa mukti salwiring sinangṣayan, camaḥ, śuci kunĕng, tan pamuluyan atĕda, sakalwiraning tĕda, makādiyan amangan atĕdaning śudra, salwirannikang pwang-pwang sinangguḥ janma caṇdala kohutakĕnak ikā.
Kunang yan amangan akang inuhutakĕn kang sinangguḥ camaḥ salingnging bratiśāšana patĕni kā sang bhujangga yan mangkana, tan sĕnggĕhĕn wiku, nga. Yan abhakṣa-bhakṣaṇa, muwang aweya-peya, nga. hangunum tan yogya hinumĕn, kadyanggāning twak waragang, badhyag, twak angśawalan, twak budur. Kunang ikang inumĕnira yogya kĕnumadesang siddhantabrata : br̥ĕm, kilang, madhu, hampwa, br̥ĕm cina, yekā wĕnang inumĕnira.
Terjemahan :
Termasuk juga ikan yang ukurannya teramat besar dan berwajah sangat menyeramkan, itu tidak boleh dimakan. Selanjutnya, makanan yang sebenarnya boleh dimakan menurut aturan Siddhanta Tundhabrata, namun ketika sedang dimasak kejatuhan lalat, kutu busuk (tinggi), kutu rambut (meri-meri/tuma), pinjal (kapinjal), ulat bulu (satakcatahak), kepinding (limpit), atau tungau, sehingga tercampur oleh hewan-hewan tersebut, maka hidangan itu menjadi tidak patut untuk dimakan.
Selain itu, seorang penganut Siddhanta tidak boleh memakan sisa sesajen (surudan) dari segala jenis caru, serta tidak boleh memakan makanan yang telah kejatuhan benda cemar atau bersentuhan dengan unsur yang kotor; terlebih lagi makanan yang telah dicicipi atau disentuh oleh anjing, ayam, babi, ataupun yang dihinggapi burung. Jangan pula memakan makanan yang diragukan kesuciannya, entah itu kotor atau suci; serta tidak boleh sembarangan memakan makanan milik orang golongan Sudra atau golongan orang-orang yang dianggap nista/candala; semua itu terlarang bagi wiku.
Jika seorang wiku nekat memakan makanan terlarang yang dianggap cemar tersebut, maka menurut kitab Wrati Śāsana gugurlah kesuciannya (panten), dan ia tidak boleh lagi diakui sebagai seorang wiku. Demikian pula halnya dengan larangan memakan sembarang makanan (abhaksa-bhaksana) dan meminum minuman terlarang (aweya-peya). Minuman yang haram diminum adalah tuak waragang, badhyag (tuak kental), tuak siwalan, dan tuak budur. Adapun minuman yang diperbolehkan bagi seorang wiku menurut ajaran Siddhanta Brata adalah : beram (brem), air tebu (kilang), madu, nira kelapa (hampwa), dan brem Cina; itulah yang boleh diminum.
Yan pamanganirikang inuhutakĕning siddhantabrata, pantĕn sira yan mangkana, yatekā tan panganira nihan. Karawāna rago wyaghraḥ, gajāśwa swāna garddhabhaḥ, kūrkuṭāha sūkaras singgaḥ, sarwa macokṣamangsakam. Kadyanggāning daginging wong, daginging wre, daginging sapi, daginging wyadhra, daginging gajaḥ, daginging ajaran, daginging hasu, daginging gandharbha, daginging tetep umaḥ, daginging celeng humaḥ, daginging singha, hikāta kabeḥ, hingaranan acokṣamangsa, nga.
Grahaśca kumbhirannakraḥ, marairaḥ musyikas tasyā, nakulaḥ manduka wyalaḥ, sarwa macokṣangsakam. Lāwanta muwaḥ : daginging puhaya, daginging lodan, daginging kuluyu, daginging puṣa, daginging tikus, salwiring tikus, daginging garang-garangan, daginging kuwuk, daginging wiyung, daginging ulas, salwiring ula, hikāta kabeḥ, hinaranan acokṣamangsa.
Duḥ krimamangsakitabhuḥ, sarwaloka prahelikaḥ, praṇinam rūpabhedañca, sarwam kaniṣṭangsakam. Muwah ikang prāṇi krimi, nga. kadyanggāning hul̥ĕr mungguwing l̥ĕmaḥ, lāmanta salwiring prāṇi kagila-gila, kinelik-kelik andeningsarwaloka. Hikang prāṇi bheda rūpanya, kadyangganing lintaḥ, cacing, kuricak, hiris-iris poḥ, hul̥ĕr, kakawĕdi-wĕdi, singgat, hityewamadi, tan kinaśr̥ddhaning wang mulat, tikāta kabeḥ sinangguḥ kaniṣṭamangsa, nga. Kālawanikang sinangguḥ camaḥ, hikang mr̥ga desang siddhantabrata, kadyanggāning luwak, wingsang, langkapan, kĕnddowantaraḥ, wut, wirog, ruti, wurangutan, lalawaḥ, tal̥ĕdhu, huwahuwa, kadal, karapkarap, tĕkek, cĕcĕk, hilap, tunggĕlit, tan yogya bhakṣana desang siddhantaśuddha.
Terjemahan :
Jika memakan makanan yang dilarang dalam Siddhanta Brata, maka gugurlah kesuciannya (panten). Adapun makanan yang tidak boleh dimakan adalah sebagai berikut : daging manusia, daging kera (wre), daging sapi, daging harimau (wyaghra), daging gajah, daging kuda (ajaran), daging anjing (hasu), daging badak/gandharba, daging tokek rumah (tetep umah), daging babi domestik/babi rumah, dan daging singa. Semua itu digolongkan sebagai daging yang tidak suci (acoksamamsa).
Termasuk pula : daging buaya (puhaya), daging paus/lodan, daging hiu/kuluyu, daging kucing (pusa), daging tikus (segala jenis tikus), daging cerpelai/garang-garangan, daging kucing hutan/kuwuk, daging katak (wiyung), dan daging ular (segala jenis ular). Semua itu dinamakan daging yang tidak suci (acoksamamsa).
Selanjutnya adalah yang termasuk hewan melata/serangga (krimi), seperti ulat yang hidup di tanah, serta segala jenis makhluk yang menggelikan dan dibenci oleh semua orang. Makhluk yang bentuk rupanya menjijikkan seperti lintah, cacing, katak pohon (kuricak), ulat mangga (hiris-iris poh), belatung, singgat, dan sejenisnya, yang tidak sudi dilihat orang, semuanya itu disebut daging yang paling nista (kanistamamsa). Ada pula hewan yang digolongkan cemar (camah) menurut aturan Siddhanta Brata, yaitu luwak, musang (wingsang), sejenis bajing (langkapan), tikus pohon (kendowantarah), landak kecil (wut), tikus wirog, tikus ruti, orangutan, kelelawar (lalawah), kalajengking (taledhu), kera owa (huwahuwa), kadal, penyu karam (karapkarap), tokek (tekek), cecak, biawak (hilap), dan musang tanah (tunggelit). Semua ini tidak sepatutnya dimakan oleh mereka yang menjalankan kesucian Siddhanta.
Kokollakaś śateśyena, kākakokikaś ūsikaḥ, kīraśūkaśca sarikaḥ, sarwa macokṣamangsakam. Kadyanggānikang manuk krurapaksyi : gagak, dok, hayambakikuk, hulung, trilaklak, kak, tutuhu, domdoman, hatat, syung, nori, cod, gagandyan alapalap, bibidho, dar̀yyas, minukwidhu, tan yogya bhakṣadiyak desang siddhantabrata.
Muwaḥ nīlapaksyi, muwang ikang paksyi naraśabda, koci, cĕngkelung, dedekcu, tikustikusan, jalak, sudahan, cucak, salwiring cucak, thethekek, sulindit, tan bhakṣanika desang siddhantabrata, muwaḥ salwiring satwa pañcanaka, tan yogya bhakṣanĕn desang siddhantabrata.
Kunang ikang pañcanaka yukti bhakṣanĕn : warak, laṇdak, bulus, baning, pĕñu, salwiring pĕñu. Muwah ikang yogya bhakṣanĕn : hikang celeng alas, hayam wana, mahiṣa, wĕdus, bañak, hitik, dhara, mungwaḥ bur̀wan bhakṣanĕnikā, tinggiling, kidang, mañjangan, kañcil. Yapwan manuk len sangkang inuhutakĕn bhakṣyanĕn ngūni, kadyanggāning mĕrāk, kadawa, hijohan, wuruwuru, purukukut, tr̥guku, putĕr, waliwis, mayong, kalwang. Nāhan ikang adinya yogya bhakṣanĕn, hikang iwa king lwaḥ, muwang iwak sāgara, ndatan ilung wuhaya.
Terjemahan :
Adapun golongan burung buas atau pemakan daging yang dilarang meliputi : burung gagak, burung hantu (dok), ayam hutan jantan (hayambakikuk), elang (hulung), burung kestrel (trilaklak), gagak kecil (kak), burung tuwu/tutuhu, burung pelatuk (domdoman), burung betet (hatat), burung beo/syung, burung nori, kalong besar (cod), alap-alap, burung alap-alap srigunting (bibidho), burung hantu kecil (daryas), dan burung pemakan bangkai (minukwidhu). Semua itu tidak boleh dimakan menurut ajaran Siddhanta Brata.
Demikian pula burung nilapaksi, burung yang bisa menirukan suara manusia, burung koci, cengkelung, dedekcu, tikustikusan, jalak, sudahan, burung cucak (segala jenis cucak), thethekek, dan serindit; tidak boleh dimakan oleh pengikut Siddhanta Brata. Begitu juga segala jenis hewan berkuku lima (pancanaka) pada umumnya tidak boleh dimakan.
Namun, ada hewan berkuku lima yang dikecualikan dan boleh dimakan, yaitu : badak (warak), landak, bulus, kura-kura darat (baning), dan penyu (segala jenis penyu). Hewan lain yang juga boleh dimakan adalah babi hutan, ayam hutan, kerbau liar (mahisa), kambing, angsa (banak), bebek (itik), burung dara, serta hewan buruan seperti trenggiling, kidang, menjangan, dan kancil. Jenis burung lain di luar yang dilarang di atas yang boleh dimakan antara lain : merak, kadawa, hijohan, burung puyuh (wuruwuru), tekukur/purukukut, trguku, puter, belibis (waliwis), mayong, dan kalong buah (kalwang). Demikian pula ikan sungai (iwaking lwah) dan ikan laut boleh dimakan, asalkan bukan buaya.
Muwaḥ ikang mīṇa hatyantaring göng atikrūra rūpanya, hikāta tan wĕnang. Lāwanta muwah ikang yegyabhakṣanĕn desang siddhantatunddhabrata, hisĕdĕngnyan inolaḥ, yan kal̥ĕbwandĕning lal̥ĕr ñamukti tinggi, mĕrimĕri, tuma, kapiñjal, saṭākcaṭāhak, limpit, tĕngu, cāmpur yan mangkana, tan yukti bhakṣanĕn.
Lāwanta muwaḥ sang siddhanta haywa sira hamukti surudan, salwiranikang caru, tuhitan pamangana sakilwiring katumpangan camaḥ kaharaseng cāmpur kunang, hapituwi hikang tĕlas katĕda dening hañjing, katĕda dening hayam, katĕda dening cel̥ĕng, kebĕran kunang. Muwang haywa mukti salwiring sinangṣayan, camaḥ, śuci kunĕng, tan pamuluyan atĕda, sakalwiraning tĕda, makādiyan amangan atĕdaning śudra, salwirannikang pwang-pwang sinangguḥ janma caṇdala kohutakĕnak ikā.
Kunang yan amangan akang inuhutakĕn kang sinangguḥ camaḥ salingnging bratiśāšana patĕni kā sang bhujangga yan mangkana, tan sĕnggĕhĕn wiku, nga. Yan abhakṣa-bhakṣaṇa, muwang aweya-peya, nga. hangunum tan yogya hinumĕn, kadyanggāning twak waragang, badhyag, twak angśawalan, twak budur. Kunang ikang inumĕnira yogya kĕnumadesang siddhantabrata : br̥ĕm, kilang, madhu, hampwa, br̥ĕm cina, yekā wĕnang inumĕnira.
Terjemahan :
Termasuk juga ikan yang ukurannya teramat besar dan berwajah sangat menyeramkan, itu tidak boleh dimakan. Selanjutnya, makanan yang sebenarnya boleh dimakan menurut aturan Siddhanta Tundhabrata, namun ketika sedang dimasak kejatuhan lalat, kutu busuk (tinggi), kutu rambut (meri-meri/tuma), pinjal (kapinjal), ulat bulu (satakcatahak), kepinding (limpit), atau tungau, sehingga tercampur oleh hewan-hewan tersebut, maka hidangan itu menjadi tidak patut untuk dimakan.
Selain itu, seorang penganut Siddhanta tidak boleh memakan sisa sesajen (surudan) dari segala jenis caru, serta tidak boleh memakan makanan yang telah kejatuhan benda cemar atau bersentuhan dengan unsur yang kotor; terlebih lagi makanan yang telah dicicipi atau disentuh oleh anjing, ayam, babi, ataupun yang dihinggapi burung. Jangan pula memakan makanan yang diragukan kesuciannya, entah itu kotor atau suci; serta tidak boleh sembarangan memakan makanan milik orang golongan Sudra atau golongan orang-orang yang dianggap nista/candala; semua itu terlarang bagi wiku.
Jika seorang wiku nekat memakan makanan terlarang yang dianggap cemar tersebut, maka menurut kitab Wrati Śāsana gugurlah kesuciannya (panten), dan ia tidak boleh lagi diakui sebagai seorang wiku. Demikian pula halnya dengan larangan memakan sembarang makanan (abhaksa-bhaksana) dan meminum minuman terlarang (aweya-peya). Minuman yang haram diminum adalah tuak waragang, badhyag (tuak kental), tuak siwalan, dan tuak budur. Adapun minuman yang diperbolehkan bagi seorang wiku menurut ajaran Siddhanta Brata adalah : beram (brem), air tebu (kilang), madu, nira kelapa (hampwa), dan brem Cina; itulah yang boleh diminum.
Hathapinya yan campur bhājananya, huwus winadhahakĕning cajöng, sakalwiraking sajöng, tan yogya jugah inumĕnira, desang siddhantabrata, hapan kaharasing cāmpur, nga. Kunang yan hana sang siddhanta minum ikang tan yogya hinumĕnira, yan makanimitta tan wruenira yan camaḥ, makāwaśāṇawruḥ sira yan campur, hiwĕkasan, maprayaścittata sira, manadhaha prāyaścittaring guru. Kunang yan al̥ĕm̥ĕha prāyaścittā, pantĕn sira yan mangkana.
Kunang yan makanimitta moha mada denira hamangan camaḥ, tan sangkeng tan wruḥ nira, pantĕn ikā, tan wĕnang tinghalana desang wiku, nguni-yuni n sambhāṣaṇan desang samasamanira, matangyan prayatnāta sang wiku ri karākṣanira sanghyang siddhanta brahaśāsana, maran atĕguhikang kasatyabratan, humantuk syiramaring paramapada yan apagĕhing krama, tr̥tīya sanghyang yamabrata.
Terjemahan :
Walaupun demikian, jika wadah minumannya tercampur atau pernah digunakan untuk menampung segala jenis arak atau tuak (sajeng), maka minuman itu sama sekali tidak boleh diminum oleh penganut Siddhanta Brata, karena telah bersentuhan dengan benda cemar. Namun, jika ada seorang penganut Siddhanta meminum minuman yang tidak sepatutnya ia minum karena ketidaktahuannya bahwa minuman itu haram, lalu di kemudian hari ia baru menyadari bahwa minuman itu telah tercemar, ia wajib melakukan upacara penebusan dosa (prayascitta) dengan memohon penyucian dari sang guru. Jika ia enggan atau menolak untuk melakukan upacara penyucian itu, maka gugurlah kesuciannya (panten).
Tetapi, jika ia memakan makanan cemar itu akibat dikuasai oleh kebingungan pikiran atau kemabukan rohani (moha mada), dan bukan karena ketidaktahuan, maka seketika itu juga ia menjadi panten (gugur kesuciannya). Ia tidak boleh lagi dipandang sebagai seorang wiku, terlebih lagi untuk diajak berbicara oleh sesama wiku lainnya. Itulah sebabnya sang wiku harus sangat berhati-hati dalam menjaga pelaksanaan ajaran suci Siddhanta Brata Sasana, agar keteguhan janji bratanya tetap kuat, sehingga ia dapat kembali pulang menuju alam tertinggi (paramapada) jika ia teguh dalam perilakunya; inilah bagian ketiga dari ajaran suci Yama Brata.
Śikā jihwā śiwadwāraṁ, strīcūktahiḥ śudrawālakeḥ, śapamawyanna bhakṣañca, śapasang sparṣaṇam bhawet. Lāwanta muwah ikesang siddhantaśuddhabrata : hikang śikā, muwang ikang jihwā, lāwan ikang śiwadwāra, haywa juga kahungkulandening sinanggaḥ hangśuci, tan kagarapadena strī sĕdang cāmpur, lāwan ikang pwang śudrajāti, makādipwang caṇdala, salwiring janma caṇdhala, hapan ikā katĕlu, wiśeṣa cihna sang siddhāśuddhabrata.
Muwaḥ haywa tan sira hambhākṣaṇa caruning wwang māti, muwang sakalwiraningsaji-sajining wwang māti, tan dadi sira kapar̥ĕkĕng wwang māti, nguni weḥ yan kagĕpoka risahupakāraning kunapa, hawyasang singdhānta mangkana, makādiyan panganggwa sapasajining kunapa, lāwan bĕkĕl-bĕkĕlnya, harwan-arwaning māti, tan yukti hanggwanĕnira hika kabeḥ, sahananya.
Terjemahan :
Rambut/kuncung (sika), lidah (jihwa), dan ubun-ubun (siwadwara); jangan sampai ketiga hal ini dikuasai atau disentuh oleh apa yang dianggap tidak suci, tidak boleh tersentuh oleh wanita yang sedang datang bulan (campur), serta oleh orang golongan Sudrajati, terlebih lagi orang Candala dan segala jenis manusia nista lainnya. Sebab ketiga bagian tubuh tersebut merupakan tanda kesucian yang paling utama bagi seorang penganut Siddhanta Suddhabrata.
Selain itu, jangan sekali-kali memakan makanan caru untuk orang mati, ataupun segala jenis sesaji yang diperuntukkan bagi orang mati. Sang wiku tidak diperbolehkan mendekati mayat, terlebih lagi menyentuh segala sarana upacara jenazah (kunapa). Janganlah seorang penganut Siddhanta berbuat demikian, seperti mengenakan pakaian atau kain bekas mayat, mengambil barang-barang peninggalannya, ataupun dedaunan bekas pembungkus jenazah; semua hal yang berkaitan dengan kematian itu sama sekali tidak patut digunakan oleh sang wiku.
Lāwanta muwaḥ kumwalingning śastra, tan dadi sirān pawyawahāra, ndan wĕnang siram apyawahāra, ndyata donirayan pawyawahara, makadon karākṣakaning drewya, sangkeng tuha-tuhangūni, hikang dr̥wyakaliliran, bhūmi, ndan mangkana makatanggwanang kasādhun, lāwan kasatyanira, dadi sang wiku mawyawahara, haywa tamakāmbĕk duṣṭa.
Hapanyan atyanta humĕnĕngaripanahāsaning paraprasanggha humalap drawyanira kaliliran sangkeng tuha-tuha, byakti hilang ikang dr̥wyakaliliran dening para, yata hetuniran wĕnang mapyawahāra. Muwaḥ yan makadon karākṣakaning strīnira, putranira, salwiring dr̥wyanira krāksyāning pomahomaḥ, muwang karāksyāning ngr̥wya sang guru, karāksyāning bhār̀yyakuṭumbha sang guru, tĕkeng putra-putrīnira, mawyawahārāta sirā, ndan tuhwata sirān mājarakĕna satuhu-tuhuningswakarrmarahayu, yogya sira mawyapahāra.
Mawyawahara pwa sang wiku dening pihutang, dening dagangan, tanulahanira hikā. Hapan tanulahanira sang wiku madwalawĕlya, mapihutang pwasira madwalawĕlya hulaḥnira, prayatnata sira, tan dadi mangalantarakĕn apirak, cakrawr̥ddhi, wruha ri kramaning wadwalana muwang pawĕlyana, lāwan ikang pamitutangana, maran sira tan kewĕraning l̥ĕkasing krayawikrayakarrma, lāwan reṇar̥ĕṇi, hapan ewĕḥ hikang yogya pihutangananĕnira, matangyan ingĕt-ingĕtinira.
Terjemahan :
Selanjutnya berdasarkan petunjuk kitab suci, seorang wiku tidak diperbolehkan berurusan dengan perkara hukum keduniawian (pawyawahara). Namun, ia diizinkan melibatkan diri dalam urusan hukum apabila tujuannya adalah demi menyelamatkan harta benda warisan dari leluhur terdahulu, baik berupa tanah pusaka maupun harta leluhur lainnya, dengan dasar menegakkan kebenaran dan kejujuran. Dalam keadaan demikian, sang wiku boleh berperkara hukum, asalkan tidak didasari oleh niat yang jahat atau tamak.
Sebab, jika ia teramat diam ketika ada orang lain atau kelompok lain yang berbuat sewenang-wenang hendak merampas harta warisannya dari para leluhur, niscaya harta pusaka tersebut akan hilang dikuasai orang lain; itulah alasan mengapa ia dibenarkan berperkara hukum. Demikian pula jika tujuannya demi melindungi keselamatan istrinya, anak-anaknya, segala harta benda yang menjaga rumah tangganya, serta demi melindungi harta milik sang guru, melindungi istri dan keluarga sang guru, hingga putra-putri sang guru, maka ia diizinkan berperkara hukum. Namun, ia harus berkata yang sejujur-jujurnya demi menegakkan perbuatan yang bajik; dalam kondisi itulah ia patut berperkara hukum.
Akan tetapi, jika sang wiku berperkara hukum yang dipicu oleh urusan hutang piutang atau urusan perdagangan, maka tindakan itu adalah pelanggaran bagi dirinya. Sebab, bukanlah kewajiban seorang wiku untuk berjual beli. Jika ia sampai mengurusi hutang piutang dan berdagang dalam perilakunya, ia harus sangat waspada. Ia tidak boleh membungakan uang secara berlipat ganda (cakrawriddhi). Ia harus memahami batasan dalam menjual ataupun membeli, serta memahami etika meminjamkan uang, agar ia tidak terjebak dalam lingkaran transaksi dagang (krayawikrayakarrma) serta urusan utang piutang yang rumit. Karena sangatlah sulit menemukan orang yang benar-benar patut untuk diberi pinjaman, itulah sebabnya ia harus selalu mengingat hal ini dengan sungguh-sungguh.
Kunang ikang hastenya brata, hatyanta prayatnānira sang wiku, ri tan pangambila drewyaning len, tan pangulaha cicidran, dadi dĕṇḍanyā, tĕka pwa ri we, kayu, rumbut, jangan, hasing drewyaning len, yan tan wineweḥ, tan dadi pinalap desang wiku. Kunang yan hana pwan amr̥ttikā ri l̥ĕkasing marggakarrma, ring tĕngaḥing wanāntara, kahiwĕkasan dening luwe hurā-hurā, katĕmungan pwa sirā rumbut, witning jangan-jangan, wwahning kayu, salwiring kaphalam, tan doṣa sang wiku malap ikā, saḍandananira juga pinalapnira, makadon pamorutaken luwenira ri samangkana, tan doṣa sang wiku mangkana, tan sangguḥ hastenya brata nga. pan mangkana l̥ĕkasing marggakarrma.
Yapwan pinorukan l̥ĕwih sangkeng saḍandananira, cicidran ngaranya, pantĕn sira yan mangkana. Yata matangyan prayatnāta sang wiku ri karākṣaning hastenya brata, kapañcama sanghyang yamabrata. Ndah samapta pwa sanghyang yamabrata karākṣa desang wiku.
Terjemahan :
Adapun mengenai brata Asteya (tidak mencuri), sang wiku harus teramat berhati-hati untuk tidak mengambil milik orang lain, serta tidak melakukan tindakan curang yang dapat berujung pada hukuman. Jangankan barang berharga, bahkan air, kayu, rumput, atau sayuran sekalipun, jika itu milik orang lain dan tidak diberikan secara sukarela, tidak boleh diambil oleh seorang wiku. Namun, apabila ia sedang melakukan perjalanan jauh (margakarma) di tengah hutan belantara, lalu ia mengalami kelaparan yang teramat sangat, kemudian ia menemukan rumput, tanaman sayur, buah-buahan, atau segala jenis buah pohon, maka tidaklah berdosa sang wiku jika mengambilnya. Ia hanya boleh mengambil sekadar pengganjal perutnya saat itu demi menghilangkan rasa laparnya. Tidak berdosa sang wiku jika berbuat demikian, dan tindakan itu tidak dianggap melanggar brata Asteya, karena hal itu dilakukan dalam kondisi darurat di tengah perjalanan.
Tetapi, jika ia mengambil lebih dari sekadar pengganjal perutnya (berlebih-lebihan), maka tindakan itu disebut mencuri/curang, dan gugurlah kesuciannya (panten). Itulah sebabnya sang wiku harus sangat waspada dalam menjaga brata Asteya, sebagai bagian kelima dari ajaran suci Yama Brata. Maka, selesailah pembahasan mengenai ajaran suci Yama Brata yang wajib dijaga oleh sang wiku.
Krama sanghyang niyamabrata pwa kapwa karākṣa denira, ndyata lwir̀nya : hakrodha tĕka pwa ring guruśuśrūṣa, śoca, ahāralāghawa, apramāda. Hakrodha ngaraning kahr̥t ikang krodha, tan kataman sĕnggĕt, muring-muring tĕka pwa ring paraparaprasangga, makādiyan kinacapalan, pinuṣparyya, sināhasa kunang, tan kĕneng krodha, hapan ikang krodha bwat japa nirmmūla dadyanya desanikang krodha.
Hinganya hal̥ĕting wiku krodha, kadyangganing krodha sang wiku ri sĕdĕnging mangaji, umājarakĕn kapuṇḍitan, krodha ri sisyanira yan dūr̀śila, mwang yan paraparaprasangga kunang dūr̀śila, krodhata sang wiku riya, makadon pangikana l̥ĕkasnira mangkana, tan doṣa sang wiku mangkana, satwika krodha ngaranya, mangkana krodha makadon dhamma.
Terjemahan :
Selanjutnya adalah aturan suci Niyama Brata yang harus dijaga, adapun bagian-bagiannya adalah : Akrodha (tidak marah), Guruśuśrūṣa (bakti kepada guru), Śoca (kesucian), Ahāralāghawa (mengatur makanan), dan Apramāda (tidak lalai). Akrodha artinya mampu mengekang amarah, tidak dikuasai oleh rasa kesal atau dongkol, serta tidak muring-muring (marah-marah) meskipun terhadap orang lain yang berbuat kurang ajar, mencaci maki, atau berlaku kasar sekalipun kepada dirinya. Ia tidak boleh terpancing amarah, karena kemarahan itu dapat melenyapkan pahala dari japa mantra yang diucapkannya hingga tak berbekas.
Adapun batasan kemarahan yang diperbolehkan bagi seorang wiku, contohnya adalah kemarahan sang wiku saat sedang mengajar ilmu suci atau mengajarkan kependetaan. Jika ia marah kepada muridnya yang berperilaku buruk (dursila), atau marah kepada orang lain yang nyata-nyata berbuat dursila, di mana kemarahan sang wiku itu bertujuan demi memperbaiki perilaku orang tersebut agar menjadi baik, maka tidaklah berdosa sang wiku jika demikian. Kemarahan yang seperti itu disebut Satwika Krodha (kemarahan yang bijaksana), yaitu kemarahan yang bertujuan demi menegakkan dharma.
Bagian 16 : Dampak Buruk Kemarahan yang Egois (Tamasa Krodha)
Kunang ikang krodha makanimittang kabhuktan, kadrywan, makanimittang kasaktian, pamr̥ddhyakĕn strī putra, bwat japa nirmmūla dadyanya desanikang krodha mangkana, tāmasa krodha ngaranya, l̥ĕwiḥ pātakanya ri sang wiku, yan kataman tāmasa krodha, bwat japanya hilang, bratanya rĕsak, kapatitanya dadi pantĕn, yata matangyan kaprayatnan ikang hakrodha brata, prathama sanghyang niyamabrata.
Terjemahan :
Akan tetapi, jika kemarahan itu dipicu oleh urusan makanan, urusan harta benda, urusan kesaktian/ego, ataupun demi membela urusan istri dan anak secara membabi buta, maka kemarahan yang demikian akan melenyapkan pahala japa mantra hingga tak berbekas. Kemarahan jenis ini dinamakan Tamasa Krodha (kemarahan yang gelap/egois), yang dosanya teramat besar bagi seorang wiku. Jika seorang wiku sampai dikuasai oleh Tamasa Krodha, maka pahala japanya akan musnah, bratanya hancur, dan ia jatuh martabatnya menjadi panten (gugur kesuciannya). Itulah sebabnya brata Akrodha ini harus dijaga dengan penuh kewaspadaan, sebagai bagian pertama dari ajaran suci Niyama Brata.
Kunang ikang guruśuśrūṣa, lot umulahakĕn siddhaning swakāryya sang guru, hāpan sang wiku yan pituhun pwa sirā ri wawaḥ-waraḥ sang guru, tĕguh pwa siraring kasatyabratan, mwang yan lot amriḥ ri kasiddhaning kāryya sang guru, mangkana krama sang guruśuśrūṣa nga. Ndya lwir̀ning kāryya sang guru siniddhakĕn? Kadyanggāning mangar̀cca, mayajna, nguni-yuni yan pāmāna ri samasamanira wiku, mwang yan hāna pakonira salwiraning pakon rahayu, tulusakĕn denira, haywa mĕnggĕng, haywa mutmulan hambĕknira, matangyan prayatnāta sang wiku ri karākṣaning guruśuśrūṣa brata.
Hāpan yan l̥ĕm̥ĕha ri pakon sang guru, śabda sungsang pwa dadi sahurira ri sang guru, mal̥ĕsta pwa sirān kumĕwa ri sang guru, pātakata sira yan mangkana, pantĕn krama sang wiku mangkana, tan sĕnggĕhĕn wiku sira dening samasamanira wiku, yata matangyan kaprayatnan ikang guruśuśrūṣa brata, dwitīya sanghyang niyamabrata.
Terjemahan :
Adapun mengenai Guruśuśrūṣa, artinya adalah selalu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menyukseskan dan menyelesaikan segala tugas serta keperluan sang guru. Sebab, seorang wiku apabila patuh dan taat pada petunjuk serta ajaran sang guru, maka ia akan teguh dalam pelaksanaan janji bratanya. Jika ia senantiasa berupaya demi keberhasilan karya sang guru, demikianlah yang disebut dengan perilaku Guruśuśrūṣa. Tugas sang guru yang manakah yang harus disukseskan? Seperti pelaksanaan pemujaan (mangarca), pelaksanaan korban suci (mayajna), terlebih lagi dalam hal memberikan penghormatan/pelayanan kepada sesama wiku, serta apabila ada perintah dari sang guru berupa segala perintah yang menuntun pada kebajikan, maka hendaklah hal itu dilaksanakan dengan tulus ikhlas. Janganlah menolak, dan jangan pula menggerutu atau bersungut-sungut di dalam hati. Itulah sebabnya sang wiku harus sangat berhati-hati dalam menjaga pelaksanaan brata Guruśuśrūṣa.
Sebab, jika ia enggan atau membangkang terhadap perintah sang guru, bahkan mengeluarkan kata-kata yang menentang (sabda sungsang) sebagai jawaban kepada sang guru, serta berani melawan atau mendurhakai sang guru, maka berdosalah ia jika demikian. Perilaku wiku yang seperti itu dikategorikan sebagai panten (gugur kesuciannya), dan ia tidak akan lagi diakui sebagai seorang wiku oleh sesama wiku lainnya. Itulah alasannya mengapa brata Guruśuśrūṣa ini harus dijaga dengan penuh kewaspadaan, sebagai bagian kedua dari ajaran suci Niyama Brata.
Muwah kramaning sang guruśuśrūṣa, haywa sira humunghuwi l̥ĕkasing sang guru, yan sang guru sĕdĕnging malinggih, haywa sirān amriḥ malinggiha ring l̥ĕwiḥ sangkeng pinalinggihan sang guru, yan sang guru sĕdĕnging mamadwā, haywa sirān amadwā ring parantarā. Yan sang guru lumaku, haywa sirān rumuhuni lakunira sang guru, tahwata sirān mangiring ring luriḥ kunang, yan tan hāna pakonira lumakwā ring har̥ĕp, haywa juga sirān rumuhuni sang guru.
Muwah hasing wuwus sang guru, yadyapin sawayawa capala kunang wuwusnira, pakaśraḍhan juga denira, haywa winwalang śabda sang guru. Yan sira hamwalang śabda sang guru, gurudrohi ngaraning mangkana, narakaloka tĕmahanya ring wĕkas, kinĕla dening yamabala, yata matangyan singgihakĕna saśabda sang guru.
Terjemahan :
Lebih lanjut mengenai tata cara Guruśuśrūṣa, jangan sekali-kali posisi atau kedudukan Anda berada di atas posisi sang guru. Jika sang guru sedang duduk, janganlah Anda sengaja mencari tempat duduk yang lebih tinggi daripada tempat duduk sang guru. Jika sang guru sedang berbicara atau berdiskusi, janganlah Anda memotong pembicaraan Beliau di tengah-tengah. Jika sang guru sedang berjalan, janganlah Anda mendahului langkah kaki sang guru; hendaklah Anda mengiringi Beliau di belakang atau di samping belakang. Kecuali jika ada perintah dari Beliau untuk berjalan di depan, barulah Anda boleh berjalan mendahului sang guru.
Selain itu, apa pun yang diucapkan oleh sang guru, meskipun ucapan Beliau terkesan keras atau kurang berkenan di hati, hendaklah diterima dengan penuh keyakinan dan rasa hormat, jangan sekali-kali membantah perkataan sang guru. Jika Anda berani membantah atau menyanggah perkataan sang guru, tindakan itu disebut Gurudrohi (durhaka kepada guru). Alam neraka lah yang akan menjadi tempat kembalinya kelak, di mana ia akan direbus oleh sepasukan malaikat maut (yamabala). Itulah sebabnya patuhilah dan muliakanlah setiap perkataan sang guru.
Kunang ikang guruśuśrūṣa, lot umulahakĕn siddhaning swakāryya sang guru, hāpan sang wiku yan pituhun pwa sirā ri wawaḥ-waraḥ sang guru, tĕguh pwa siraring kasatyabratan, mwang yan lot amriḥ ri kasiddhaning kāryya sang guru, mangkana krama sang guruśuśrūṣa nga. Ndya lwir̀ning kāryya sang guru siniddhakĕn? Kadyanggāning mangar̀cca, mayajna, nguni-yuni yan pāmāna ri samasamanira wiku, mwang yan hāna pakonira salwiraning pakon rahayu, tulusakĕn denira, haywa mĕnggĕng, haywa mutmulan hambĕknira, matangyan prayatnāta sang wiku ri karākṣaning guruśuśrūṣa brata.
Hāpan yan l̥ĕm̥ĕha ri pakon sang guru, śabda sungsang pwa dadi sahurira ri sang guru, mal̥ĕsta pwa sirān kumĕwa ri sang guru, pātakata sira yan mangkana, pantĕn krama sang wiku mangkana, tan sĕnggĕhĕn wiku sira dening samasamanira wiku, yata matangyan kaprayatnan ikang guruśuśrūṣa brata, dwitīya sanghyang niyamabrata.
Terjemahan :
Adapun mengenai Guruśuśrūṣa, artinya adalah selalu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menyukseskan dan menyelesaikan segala tugas serta keperluan sang guru. Sebab, seorang wiku apabila patuh dan taat pada petunjuk serta ajaran sang guru, maka ia akan teguh dalam pelaksanaan janji bratanya. Jika ia senantiasa berupaya demi keberhasilan karya sang guru, demikianlah yang disebut dengan perilaku Guruśuśrūṣa. Tugas sang guru yang manakah yang harus disukseskan? Seperti pelaksanaan pemujaan (mangarca), pelaksanaan korban suci (mayajna), terlebih lagi dalam hal memberikan penghormatan/pelayanan kepada sesama wiku, serta apabila ada perintah dari sang guru berupa segala perintah yang menuntun pada kebajikan, maka hendaklah hal itu dilaksanakan dengan tulus ikhlas. Janganlah menolak, dan jangan pula menggerutu atau bersungut-sungut di dalam hati. Itulah sebabnya sang wiku harus sangat berhati-hati dalam menjaga pelaksanaan brata Guruśuśrūṣa.
Sebab, jika ia enggan atau membangkang terhadap perintah sang guru, bahkan mengeluarkan kata-kata yang menentang (sabda sungsang) sebagai jawaban kepada sang guru, serta berani melawan atau mendurhakai sang guru, maka berdosalah ia jika demikian. Perilaku wiku yang seperti itu dikategorikan sebagai panten (gugur kesuciannya), dan ia tidak akan lagi diakui sebagai seorang wiku oleh sesama wiku lainnya. Itulah alasannya mengapa brata Guruśuśrūṣa ini harus dijaga dengan penuh kewaspadaan, sebagai bagian kedua dari ajaran suci Niyama Brata.
Muwah kramaning sang guruśuśrūṣa, haywa sira humunghuwi l̥ĕkasing sang guru, yan sang guru sĕdĕnging malinggih, haywa sirān amriḥ malinggiha ring l̥ĕwiḥ sangkeng pinalinggihan sang guru, yan sang guru sĕdĕnging mamadwā, haywa sirān amadwā ring parantarā. Yan sang guru lumaku, haywa sirān rumuhuni lakunira sang guru, tahwata sirān mangiring ring luriḥ kunang, yan tan hāna pakonira lumakwā ring har̥ĕp, haywa juga sirān rumuhuni sang guru.
Muwah hasing wuwus sang guru, yadyapin sawayawa capala kunang wuwusnira, pakaśraḍhan juga denira, haywa winwalang śabda sang guru. Yan sira hamwalang śabda sang guru, gurudrohi ngaraning mangkana, narakaloka tĕmahanya ring wĕkas, kinĕla dening yamabala, yata matangyan singgihakĕna saśabda sang guru.
Terjemahan :
Lebih lanjut mengenai tata cara Guruśuśrūṣa, jangan sekali-kali posisi atau kedudukan Anda berada di atas posisi sang guru. Jika sang guru sedang duduk, janganlah Anda sengaja mencari tempat duduk yang lebih tinggi daripada tempat duduk sang guru. Jika sang guru sedang berbicara atau berdiskusi, janganlah Anda memotong pembicaraan Beliau di tengah-tengah. Jika sang guru sedang berjalan, janganlah Anda mendahului langkah kaki sang guru; hendaklah Anda mengiringi Beliau di belakang atau di samping belakang. Kecuali jika ada perintah dari Beliau untuk berjalan di depan, barulah Anda boleh berjalan mendahului sang guru.
Selain itu, apa pun yang diucapkan oleh sang guru, meskipun ucapan Beliau terkesan keras atau kurang berkenan di hati, hendaklah diterima dengan penuh keyakinan dan rasa hormat, jangan sekali-kali membantah perkataan sang guru. Jika Anda berani membantah atau menyanggah perkataan sang guru, tindakan itu disebut Gurudrohi (durhaka kepada guru). Alam neraka lah yang akan menjadi tempat kembalinya kelak, di mana ia akan direbus oleh sepasukan malaikat maut (yamabala). Itulah sebabnya patuhilah dan muliakanlah setiap perkataan sang guru.
Kunang ikang śoca, nitya samācamana, sūryasewana ngācanari bhaṭāra. Śoca ngaraning nitya maśauca, sĕdĕnging matangi ring kalyan, makādiring hāwā, nitya maśauca ring wĕ, maśaucata sira ring l̥ĕmaḥ, winulaḥakĕn pwa desang śāstra krama, nitya samācamana, ngyan amangan, ngyan anginum, muwaḥ huwusning amangan anginum, mācamana ta sirā. Yan mahurip pwa sirā, huwusning turu mācamana ta sirā, mangkana kramaning nitya samācamana nga.
Terjemahan :
Adapun mengenai Śoca, artinya adalah senantiasa melakukan penyucian diri (ācamana) dan melaksanakan sūryasewana (pemujaan matahari) kehadapan Bhatara. Śoca berarti selalu menjaga kebersihan dan kesucian diri. Ketika bangun di pagi hari, maupun setelah buang air (hawa), harus selalu menyucikan diri menggunakan air serta membersihkan diri dengan tanah (zat pembersih), yang dilakukan sesuai dengan petunjuk serta tata cara kitab suci. Selain itu, wajib senantiasa melakukan ācamana (berkumur/membersihkan mulut dan memercikkan air suci) sebelum makan, sebelum minum, serta sesudah makan dan minum. Demikian pula saat baru bangun dari tidur, hendaklah langsung melakukan ācamana; itulah yang dimaksud dengan tata cara nitya samācamana (senantiasa menyucikan diri).
Kunang ikang sūryasewana, nitya pūjā pwa sirā ri bhaṭāra Śiwāditya, sĕdĕnging prātaḥkāla, madhyandina, sāyaṅkāla, pituhun pwa sirā ring pūjākrama, saśāstrakrama doniran mangkana, haywa mĕnggĕng, haywa bosenan, haywa kataman l̥ĕḥ-l̥ĕḥ hambĕknira, nitya pūjā jugā sira. Hāpan sang wiku yan l̥ĕm̥ĕha ri sūryasewana, muwang ri tan mācamana sira, pantĕn krama sang wiku mangkana, tan śuci buddhi tĕmahanya desaning tan maśauca, bwat japanya nirmmūla dadyanya.
Yata kāraṇa sang pāṇdita, prayatna ri karākṣaning śoca brata, tr̥tīya sanghyang niyamabrata. Ndah l̥ĕkas pwa sanghyang niyamabrata mangkana, maran apagĕhing kasatyabratanira sang wiku, hantuking paramaśiwaloka tĕmahanya ring wĕkas.
Terjemahan :
Sedangkan yang dimaksud dengan sūryasewana adalah senantiasa melakukan pemujaan kehadapan Bhatara Śiwāditya pada waktu pagi hari (prātahkāla), tengah hari (madhyandina), dan sore hari (sāyaṅkāla). Laksanakanlah pemujaan itu dengan patuh sesuai tata cara pemujaan (pūjākrama) dan petunjuk kitab suci (saśāstrakrama). Janganlah menolak, jangan bosan, dan jangan pula memelihara rasa malas di dalam hati; hendaklah senantiasa melakukan pemujaan secara ajek. Sebab, jika seorang wiku enggan melaksanakan sūryasewana serta lalai tidak melakukan ācamana, maka wiku yang demikian dikategorikan sebagai panten (gugur kesuciannya). Pikirannya akan menjadi tidak suci akibat tidak menjaga kebersihan, dan pahala japa mantranya pun akan musnah tak berbekas.
Itulah alasannya mengapa sang pandita harus sangat berhati-hati dalam menjaga pelaksanaan brata Śoca, sebagai bagian ketiga dari ajaran suci Niyama Brata. Demikianlah pelaksanaan Niyama Brata tersebut dijaga, agar janji setia brata sang wiku menjadi teguh, sehingga pada akhirnya ia dapat kembali pulang ke alam tertinggi Paramaśiwaloka.
Kunang ikang ahāralāghawa, nga. tan barang-baranging pinangan. Ahāralāghawa ngaraning ngingĕt-ingĕt ring pamangan, tan amangan amr̥ddhyakĕn mada, muwang tan amangan sakahar̥ĕp-har̥ĕp, wruha ring pamorutakĕn luwenira juga, ling bhaṭāra Śiwa. Kawruhana pwa kramaning suwapanira sang wiku, yan sang wiku mangorègrèh, ring wanāntara, sahananing tĕda pinalapnira ring wana, kadyanggāning phalāmūla, kawruhana kramaning suwapanira ri samangkana, walung suwap porsi suwapanira sang wiku mangorègrèh.
Yapwan sang wiku haneng pomahomaḥ kunang, rwa wĕlas suwap porsi suwapanira, yan sang wiku mangaji muwang umājarakĕn kapuṇḍitan ring śiṣya, rwa wĕlas suwap porsi suwapanira, yan sang wiku umulahakĕn kagr̥hasthān porsi suwapanira sang wiku mangkana, tĕlung puluh rwang suwap porsi suwapanira, sakahar̥ĕpnira pwa yan amangana, sakalwiraning tĕda pininganira, ndan pininganira sakahar̥ĕp mangkana, tan ahāralāghawa brata ngaraning mangkana.
Terjemahan :
Adapun yang dimaksud dengan Ahāralāghawa adalah tidak memakan sembarang makanan. Ahāralāghawa berarti selalu berhati-hati dan mengontrol diri dalam hal makan; tidak memakan makanan yang dapat membangkitkan kemabukan/hawa nafsu (mada), dan tidak makan secara berlebihan menuruti segala keinginan, melainkan tahu batas sekadar untuk menghilangkan rasa laparnya saja, demikian sabda Bhatara Siwa. Ketahuilah aturan jumlah suapan bagi seorang wiku : jika ia seorang wiku yang hidup menyendiri/bertapa di tengah hutan (mangorègrèh), dan memakan apa saja yang diperoleh di dalam hutan seperti buah-buahan atau umbi-umbian, maka batas porsinya adalah delapan suap saja.
Apabila sang wiku tinggal di tempat pemukiman/asrama (pomahomah), porsi makanannya adalah dua belas suap. Jika sang wiku sedang belajar atau mengajarkan ilmu kependetaan kepada murid-muridnya, porsi makanannya adalah dua belas suap. Sedangkan jika sang wiku menjalani kehidupan berumah tangga (grahasta), porsi makanannya adalah tiga puluh dua suap. Jika ia makan sekehendak hatinya, memakan segala jenis makanan secara berlebih-lebihan menuruti hawa nafsu, maka perilaku yang demikian tidak dapat disebut sebagai pelaksanaan brata Ahāralāghawa.
Hāpan sang wiku yan atyanta ring pamangan, amangan sakahar̥ĕp-har̥ĕp, mada moha dadi tĕmahanya desaning pamangan mangkana, r̥ĕsak ikang brata, hilang ikang japa, kapatitanya dadi pantĕn, tan sĕnggĕhĕn wiku sira dening samasamanira wiku, yata matangyan kaprayatnan ikang ahāralāghawa brata, kacaturthā sanghyang niyamabrata.
Terjemahan :
Sebab, jika seorang wiku teramat rakus dalam hal makan dan makan sesuka hatinya, maka kemabukan rohani dan kebingungan pikiran (mada moha) akan menguasai dirinya akibat cara makan yang salah tersebut. Akibatnya, bratanya akan hancur, pahala japanya akan musnah, dan ia jatuh martabatnya menjadi panten (gugur kesuciannya). Ia tidak akan diakui lagi sebagai seorang wiku oleh sesama wiku lainnya. Itulah alasannya mengapa brata Ahāralāghawa ini harus dijaga dengan penuh kewaspadaan, sebagai bagian keempat dari ajaran suci Niyama Brata.
Kunang ikang apramāda, nga. tan pal̥ĕh-pal̥ĕḥ an mangabhyāṣa ri sanghyang kabhujanggan. Apramāda ngaraning tan l̥ĕḥ-l̥ĕḥ ring pamorutakĕn kahar̥ĕpnira, amriḥ ring kaputusanira sanghyang walawidyā, muwang katĕguhanira ring kasatyabratan, mangkana krama sang apramāda brata, ling bhaṭāra Śiwa. Hāpan sang wiku yan kataman l̥ĕḥ-l̥ĕḥ hambĕknira, ngyan mangaji, ngyan amriḥ ri kaputusanira sanghyang walawidyā, muwang yan l̥ĕm̥ĕha ri karākṣanikang yamaniyamabrata, pantĕn krama sang wiku mangkana, bwat japanya nirmmūla dadyanya, tan sĕnggĕhĕn wiku sira dening samasamanira wiku.
Yata kāraṇa sang pāṇdita, prayatna ri karākṣaning apramāda brata, kapañcama sanghyang niyamabrata. Ndah samapta pwa sanghyang niyamabrata karākṣa desang wiku, tĕlas pwa sanghyang yamaniyamabrata karākṣa desang wiku sari-sari, makadon katĕguhanira sanghyang brata, mangkana krama sang wiku kĕngka pikun.
Terjemahan :
Adapun yang dimaksud dengan Apramāda adalah tidak lengah atau bermalas-malasan dalam mendalami ajaran kependetaan (kabhujanggan). Apramāda berarti tidak berleha-leha dalam mewujudkan cita-cita ruhaninya, melainkan selalu bersungguh-sungguh untuk menguasai intisari ilmu pengetahuan suci (walawidya), serta menjaga keteguhan janji bratanya; demikianlah perilaku Apramāda Brata menurut sabda Bhatara Siwa. Sebab, jika seorang wiku memelihara rasa malas di dalam hatinya, baik saat belajar, saat berusaha menguasai ilmu pengetahuan suci, maupun jika ia lalai dalam menjaga pelaksanaan Yama dan Niyama Brata, maka wiku yang demikian dikategorikan sebagai panten (gugur kesuciannya). Pahala japa mantranya akan musnah tak berbekas, dan ia tidak akan diakui lagi sebagai seorang wiku oleh sesama wiku lainnya.
Itulah alasannya mengapa sang pandita harus sangat berhati-hati dalam menjaga pelaksanaan brata Apramāda, sebagai bagian kelima dari ajaran suci Niyama Brata. Maka, selesailah pembahasan mengenai ajaran suci Niyama Brata yang wajib dijaga oleh sang wiku. Apabila ajaran suci Yama dan Niyama Brata telah dilaksanakan dan dijaga oleh sang wiku setiap hari, dengan tujuan demi keteguhan pelaksanaan bratanya, demikianlah sejatinya perilaku seorang wiku yang mulia dan bijaksana.
Mangkana krama sang pāṇdita yan apagĕhing kasatyabratanira sang wiku, humantuk syiramaring paramapada yan apagĕhing krama, hantuking paramaśiwaloka tĕmahanya ring wĕkas, tan kawalikaning saṅsāraloka muwaḥ, tĕ tĕgĕs sanghyang kaniśreyaśan tĕmungnira ring wĕkas. Ndah samapta pwa wratiśāsanam prawākṣye, nghulun umājarakĕn śāsana sang wiku, sarwalokahitārthaya, makadon sukaning loka. Oṁ Śānti, Śānti, Śānti, Oṁ.
Terjemahan :
Demikianlah garis perilaku sang pandita; apabila sang wiku teguh dalam janji kesetiaan bratanya, ia akan kembali pulang menuju alam tertinggi (paramapada). Paramaśiwaloka lah yang akan menjadi tempat kembalinya kelak, dan ia tidak akan terlempar kembali ke alam kesengsaraan duniawi (samsaraloka). Itulah arti kebahagiaan rohani yang tertinggi (kaniśreyaśan) yang akan ia capai pada akhirnya. Maka, selesailah penguraian naskah Wrati Śāsana ini; hamba telah mengajarkan ajaran tentang perilaku seorang wiku, demi kesejahteraan seluruh makhluk, dengan tujuan kebahagiaan dunia. Semoga damai, damai, damai di hati, damai di dunia, damai senantiasa.














