Landasan Pokok Kepemimpinan (Astabrata) dari 8 Sifat Dewa


Ajaran astabrata dalam versi kraton ada dua yaitu versi dengan redaksi yang panjang dan redaksi yang pendek. Redaksi yang pendek, hanya memuat ajaran astabrata, sedangkan yang panjang tidak semata-rnata hanya dituju­kan kepada seorang pemimpin atau raja, tetapi juga untuk seluruh rakyat Watak dewa yang ter­cantum di dalamnya bukanlah teladan untuk raja yang ideal, tetapi watak ideal yang harus dimiliki oleh semua rakyat. Sebab watak itu sangat penting bagi kehidupan manusia. Hal ini dapat di­benarkan karena setiap manusia pasti akan mengarnbil peranan seorang pemimpin, walaupun tidak sebagai pemimpin negara, paling tidak sebagai pemimpin rumah tangga.

Dalam keluarga, bentuk kelompok kehidupan terkecil, ayah­lah yang paling berkuasa. Ia bertanggung jawab atas kelangsungan keluarga dan bertanggung jawab pula atas hubungan-hubungannya dengan kehidupan di masyarakat. Anak-anaknya yang durhaka ter­hadap orang tua akan kena tulah (kualat) terkutuk.

Tingkah ning suta manuting bapa gawenya mwang guna pen-danen

Seorang anak lelaki harus mengikuti jejak ayahnya meniru perbuatan dan kecakapannya.

Adapun judul naskah yang membicarakan ajaran astabrata antara lain : Ramayana, Nitisruti, Serat Jarwa, Serat Astabrata, Serat Partawigena. Babon dari pada ajaran Astabrata adalah kitab Weda Manawa Dharmasastra yang bersumber dari pada wahyu (sruti) yang dihimpun oleh para Rsi Hindu yang dijadikan isi dari ajaran astabrata dalam kitab-kitab tersebut. Hal itu menandakan ajaran tersebut cukup relevan di sepanjang jaman dan tidak saja diulas oleh para generasi tua, juga para generasi muda.

Walaupun ajaran astabrata menjadi inti dalam kitab-kitab ter­sebut di atas, namun terlihat ada perbedaan penekanan yang disebabkan kondisi jaman dan pe­megang kuasa (pemerintahan).
Berikut dibawah ini keidealan dari ke-8 Dewa yang dijadikan teladan sesuai dengan apa yang tercantum dalam ajaran Astabrata :

  1. Sifat dewa Indra dirumuskan dalam serat ini sama dengan Ramayana Kekawin yaitu menjaga adat-istiadat dunia dengan memberi dana, yaitu membuat seluruh dunia sejahtera dengan dana dari raja.
  2. Sifat dewa Yama dirumuskan dalam naskah ini harus meng­hukum semua penjahat tanpa pandang bulu. Dirumus sebagai dewa yang selalu menjatuh­kan hukuman yang seadil-adilnya bagi orang yang berbuat salah, jahat, dan menghukum pencuri kalau ia sudah mati (Yamabrata dhumadha karmaphala dan pula malung maling yar pejah). Rupa-­rupanya keadilan merupakan sifat ideal seorang raja yang menjadi perhatian utama. Dan keadilan bukan me­rupakan tujuan akhir, tujuan lebih lanjut adalah hidup keber­samaan.
  3. Sifat dewa Surya dalam naskah ini dirumuskan tidak saja merangkul masyarakat yang diakui, tetapi juga merangkul musuh jika musuh tersebut mau bertobat. Dirumuskan dalam naskah ini adalah mem­bujuk orang untuk menjadi pengikut setia, bahkan musuhnya di­bujuk juga untuk memihak dirinya.
  4. Sifat dewa Candra yang memuat senang masyarakat, namun sikap pemaaf dalam naskah ini tidak dinyatakan. Dirumuskan sebagai dewa yang bersifat lembut, menyenangkan dan hormat
  5. Sifat dewa Bayu dalam naskah ini dirumuskan sebagai mata-­mata dunia, derma dan pemaaf bagi orang yang bersalah. Dirumuskan dalam naskah sebagai dewa yang selalu memata-matai masyarakat tidak kentara dan sambil meng­usahakan kesenangan rakyat.
  6. Sifat dewa Kuwera dirumuskan dalam naskah sebagai dewa yang selalu menikmati makan dan minum. Diharapkan adanya tin­dakan agar masyarakat melihat kasunyataan dan purwaning dumadi. Dirumuskan dalam naskah sebagai dewa yang mencerminkan kehidupan istana yang serba mewah, namun juga memberi dana yang adil. Sehingga kalau kesejahteraan sudah terpuasi maka tinggal mencari hakekat diri pribadi. Ini semua men­cerminkan bahwa kemewahan istana harus pula diluapkan kepada masyarakat secara luas.
  7. Sifat dewa Baruna dilukiskan sebagai dewa yang seram se­bagai penghalau musuh dan sebagai penguat kehendak untuk selalu mengumpulkan ilmu, baik pengetahuan yang berguna mau­pun pengetahuan yang tan mrih arjeng rat yaitu tanpa adanya ikat­an duniawi. Dirumuskan sebagai dewa pengikat manu­sia, bukan takut karena senjata nagapasa.
  8. Sifat dewa Brahma digambarkan sebagai dewa yan galak. Dirumuskan selalu membakar musuh se­cara habis-habisan, namun gelakan itu bukan tanpa penyelesaian perundingan, juga menggalakan dan aktif dalam usaha perdamaian.

Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa seorang pemimpin yang baik yaitu konsep tidak “pilih kasih”, tidak pandang saudara kalau ia berbuat salah dan sebaliknya musuhpun bisa dirangkul sebagai teman apabila ia memang mau bertobat. Dalam sikap seperti ini raja atau seorang pemimpin harus mempunyai jiwa pemaaf dan derma terhadap siapa pun yang mengalami kesusahan. Konsep yang lain yang kiranya cukup rele­van dihayati untuk jaman sekarang yaitu sikap ketekunan untuk memperdalam ajaran agama dan ilmu pengetahuan dan menjaga perdamaian dunia. Konsep menekuni bidang agama dan ilmu pengetahuan harus berdasarkan konsep keseimbangan. Jangan sampai ada mendominasi dari salah satunya sehingga apa yang di­sebutkan oleh Robert Eistein ilmu tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu buta.

Dalam ajaran astabrata versi kraton para dewa dapat dirumus­kan sebagai berikut :

  • Bathara Indra mempunyai sifat senang mengajar. Semua orang, baik yang bodoh, yang masih muda, maupun orang desa petani, diinsyafkan apa arti pengajarannya. Perintah belajar dilaku­kan sering dengan keras, sering pula dengan lembut. Kalau dilaku­kan dengan keras diikuti dengan sikap banyak maaf, banyak pemberian hadiah dan sikap merangkul sebagai saudara dengan diberi harapan untuk bisa ikut mem bangun negara.
  • Bathara Yama Wicaksuh mempunyai sifat suka menghancur­kan orang jahat ialah orang yang suka mencuri, tukang bohong dan orang yang berbuat nista. Bukan orangnya yang dibenci oleh bathara Yama Wicaksuh, tetapi kejahatannya, bahkan orang jahat yang telah bertobat akan dimaafkan. Pengikut Yama bertindak teliti dan tidak semrawut; bahkan saudara sendiri pun bisa dimusnahkan kalau ia berbuat jahat dan mengecewakan negara.
  • Sifat bathara Surya yaitu senang mengumpulkan harta benda. Harta benda dianggap penting, karena harta benda inilah yang dapat memulai dan menyelesaikan perkara, serta menyebabkan orang menjadi mashur. Uang dapat membawa bencana, tetapi uang yang terang bisa memberi hidup dan kekuatan hidup. Untuk bisa dimanfaatkan sebagai kekuatan hidup uang itu harus bersih dan jelas. Uang pun bisa berbahaya kalau dilakukan tidak tertib; hati bisa panas melihat tetangga punya banyak uang. Mencari uang pun dapat dengan segala jalan, mencari uang dengan modal uang, me­naksir kekayaan orang dan sebagainya asal dengan cara yang terang.
  • Bathara Candra bersifat senang akan keindahan dan kecang­gihan, baik- kecanggihan bersenggama, merayu maupun kecanggih­an kawi. Dengan kesenangannya kepada keindahan dan kecanggih­an itu perintah kepada para pengikut terasa mengenakkan, bahkan pengikutnya juga merasa diperlakukan dengan adil karena diberi perintah dan sikap dengan seni dan canggih itu.
  • Sifat bathara Bayu sebagai tabiat yang rajin. Sifat rajin ini sangat penting karena tanpa ketekunan dan kerajinan kepandaian tidaklah bermanfaat, tanpa tabiat rajin ini banyak kerja yang ter­buang. Bathara Bayu menghukum orang malas dengan menyuruh­nya makan dan minum serta tidur dengan sepuas-puasnya.
  • Bathara Wisnu bersifat suka mendalami ajaran agama, sehing­ga orang merasa satu dengan Sang Pencipta. Untuk menyelamat­kan dunia dari ketidaktaatan beragama para umat manusia, maka Bathara Wisnulah yang mempunyai tugas sebagai awatara (penye­lamat dunia).
  • Bathara Brahma mempunyai sifat selalu waspada menjaga jajahan tapal batas dan selalu waspada terhadap datangnya bahaya dari luar maupun dari dalam.
  • Bathara Baruna yaitu melunakkan segala yang keras hati, sehingga kekerasan hati menjadi kesetiaan, kecintaan dan penghormatan.

Konsep kepemimpinan banyak disinggung dalam sastra Jawa kunoSerat Parta Wi­gena “. Naskah Parta Wigena adalah naskah kuno Jawa yang isinya bertemakan ajaran kepemimpinan Astabrata, namun diberi judul lain yaitu Makutha Rama. Ajaran Astabrata babonnya adalah kitab Weda Manawa Dharmasastra.

Konsep Ngunduh Wohing Pakarti yaitu memetik hasil per­buatan yang dilakukan. Dengan adanya slogan ngunduh wohing pakarti, maka bagi orang dalam bertingkah laku sehari-hari selalu berdasarkan dari pada Sepi ing Pamrih Rame ing gawe, dan memayu hayuning bawano. Tidak mempunyai pamrih dalam kerja (hasil) dan lebih mementingkan demi kesejahteraan masyarakat (bawono ). Karena rasa kehormatan orang bukan terletak pada materi maupun jabatan yang mereka duduki. Melainkan terletak pada tiga hal konsep Jawa dinyatakan “Ajining diri dumunung ono ing Ati, Lati Ian Pakarti“, artinya rasa kehormatan seseorang ter­letak pada Hati suci, pembicaraan yang suci (lati) dan perbuatan yang luhur (pakarti).

Dengan uraian tentang perbuatan yang luhur (pakarti), semua merupakan ajaran Hindu yaitu yang menguraikan ten­tang Crada Karma Phala, sebagai hukum sebab akibat suatu per­buatan yang dilakukan oleh manusia.

Sedangkan Ajining diri dumununga ono ati, lati Ian pakarti, itulah yang merupakan ajaran Tri kaya parisuda yaitu tiga perbuat­an yang harus disucikan yaitu meliputi, Manacika Parisuda: pikiran (hati) yang disucikan; Wacika Parisuda: bicara yang terkontrol (disucikan); Kayika Parisuda: perbuatan yang harus suci.

Konsep Tumimbal Lahir juga banyak disinggung dalam nas­kah Parta Wigena. Dalam konsep ini masyarakat menyadari bahwa hidup di dunia yang fana ini hanya “mampir ngombe”, artinya sekadar mampir dalam perjalanan jauh untuk minum. Maksudnya adalah bahwa kita dititahkan atau diciptakan Tuhan untuk hidup di dunia ini hanya suatu proses yang dalam perjalan­an untuk mencapai kesempurnaan hidup atau dalam mencapai manunggaling kawula gusti. Maka dari itu atau juga disebut dina­mika pertumbuhan rohani dan jasmani.

Makin baik karma baik yang kita lakukan dalam kehidupan ini, makin baik kesempatan yang kita peroleh dalam kehidupan yang akan datang. Sebelum dalam hidup ini mencapai kesempurnaan, maka dia akan selalu mengalami “tumimbal lahir” lahir yang berulang kali (Hukum Punarbawa /reinkanasi). Maka dengan permasalahan hidup yang rumit tersebut manusia dalam hidup di dunia ini selalu berusaha untuk berbuat yang baik-baik, agar bisa mencapai kesempurnaan hidup.



Blog Terkait



Bhagavad Gita

"Tiada Yadnya Yang Lebih Tinggi Dari Pengetahuan"

Beryadnya dengan Share dan Komentar

FACEBOOK COMMENT