rwa bhineda

Kajian Lontar Tegesing Warah Rwa Bhineda Tan Pasastra


Alkimia Internal : Transformasi Sekala Menuju Niskala

Di luar kerangka konseptual teoretisnya, nilai agung Tegesing Warah Rwa Bhineda Tan Pasastra terletak pada kemampuannya untuk mentransformasikan laku jasmaniah sehari-hari menjadi teater ibadah esoteris tingkat tinggi. Ritual kemurnian fisik yang profan seperti menggosok gigi, mencuci muka, keramas, dan mandi tidak dibiarkan kosong dari makna teologis. Lontar ini membongkar aktivitas tersebut sebagai ritual peleburan dualitas antara Sang Rare Guna dan Sang Empu Siwa Guna.

Sang Rare Guna adalah penjelmaan lain dari Si Ibu (Api/Pradana) yang mewakili entitas yang sedang dibersihkan, sedangkan Sang Empu Siwa Guna adalah personifikasi fungsional dari Si Ayah (Air/Purusa) yang meraga menjadi medium pembersih dan tangan praktisi itu sendiri. Narasi pembersihan tubuh ini dapat diskemakan sebagai tarian penyucian antara kedua figur tersebut, sebagaimana diilustrasikan dalam tabel berikut :

Laku Jasmani (Sekala) Manifestasi Sang Rare Guna (Objek yang Disucikan) Manifestasi Sang Empu Siwa Guna (Subjek Penyucian) Narasi Transendensi (Niskala)
Masisig (Menggosok Gigi) Bersemayam di rongga dan barisan gigi yang kotor. Bertempat di ujung jari tangan kanan. Subjek (Ayah) turun untuk menyentuh dan membersihkan area material (Ibu) di batas oral.
Keramas (Mencuci Rambut) Menarik diri naik ke ujung folikel rambut kepala. Bersemayam di telapak tangan, mewujud sebagai air pencuci. Air (Purusa) membasahi dan meredam hawa panas dari energi (Api) yang naik ke puncak kepala.
Masugi (Mencuci Muka) Berlindung di sela-sela dahi bagian depan (ajna cakra). Di telapak tangan mewujud sebagai aliran air pembasuh. Pertemuan purusa dan pradana di titik tersuci wajah (pusat kebijaksanaan) untuk meluruhkan noda sekala.
Mandi Esoteris Bergerak menutupi seluruh area terluar tubuh manusia. Mewujud sebagai keseluruhan air yang mengguyur dari atas. Momen pemberkatan di mana Sang Siwa bertindak sebagai Brahmana Agung yang menyiram dan melenyapkan kotoran Sang Rare.

Setelah mandi fisik rampung, energi ini tidak berhenti. Sang Rare Guna menyerap masuk kembali melalui dahi, berjalan ke ujung lidah, dan menyelam menuju lubang Isadumaya.

Di sana ia berevolusi menjadi Agni Rahasya (Api Gaib), entitas yang melahirkan gelar “Manusia Sakti”. Manusia Sakti ini kemudian bergerak mendaki otot rongga dada, kembali ke pelukan otak, di mana Bhatara Taya (manifestasi kehampaan tak berwujud dari Amreta Sanjiwani) secara niskala menahbiskan dan menyirami Atma tersebut dengan air keabadian (Matirta Camana).

Melalui doktrin ini, seseorang yang telah memahami rahasia Rwa Bhineda menjadi kuil dan brahmana bagi dirinya sendiri sepanjang hayatnya.

Ekstrapolasi Puspa Tanalum dan Kuranta Bolong

Untuk menguji validitas wacana teologis naskah ini, sangatlah esensial untuk melacak jejak terminologisnya dalam rona ekosistem Susastra Bali yang lebih makro. Di luar Isadumaya, terdapat dua konsep leksikal kuno yang sangat sentral dalam lontar ini dan memiliki gaung intertekstual yang masif di luar sana, yaitu Puspa Tanalum dan Kuranta Bolong.

Bunga yang Tak Pernah Layu

Pada bagian instruksi tata cara persembahyangan kepada roh leluhur (pitara) atau dewa, naskah memperingatkan agar sembah tidak ditujukan semata-mata pada ruang hampa fisik di pelinggih. Praktisi diwajibkan untuk mengaktifkan Sang Hyang Puspa Tanalum di dalam raganya.

“Siapakah yang disebut Sang Hyang Puspa Tanalum? Dialah Sang Hyang Atma. Apa yang menjadi atma? Intisari dari darah, yang mewujud menjadi Sang Hyang Agni”. Saat berdoa, batin dipusatkan ke tengah-tengah dahi bagian dalam untuk menyatukan Atma, dan Atma inilah yang dipersembahkan sebagai sesajen mutlak kepada Sang Hyang Tunggal di dalam “pura tubuh”.

Atma adalah “puspa tanalum” mendapat konfirmasi yang sangat kuat dari naskah independen bernama Lontar Puspa Tan Alum. Konfirmasi ini, bahwa Puspa Tan Alum adalah bunga yang tak pernah layu yang merepresentasikan sumber roh, selaras sempurna dengan lontar Tegesing Warah Rwa Bhineda terhadap formalisme ritus.

Berbeda dengan sarana upakara fisik (seperti bunga pacah atau cempaka yang akan layu dalam sehari), Atma Jati adalah bunga abadi yang harus dihaturkan langsung oleh kesadaran murni kepada Tuhan. Ritual pelepasan pitara menjadi paripurna ketika atma sang penyembah (Puspa Tanalum) menginisiasi peleburan roh orang mati tersebut untuk ditarik masuk ke dalam Sang Hyang Tunggal, menjamin keselamatan arwah di Indra Bhawana.

Jembatan Keselamatan dan Paralelisme Usadha

Nomenklatur gaib kedua yang paling menonjol adalah jalur spiritual yang dinamakan Kuranta Bolong dan serambi-serambinya yang disebut Hurung-hurung Gading. Menjelaskan dengan presisi rute kosmis ini :

“Jalurnya keluar masuk adalah melalui hurung-hurung gading. Arti dari hurung-hurung gading adalah pikiran (idhep)… Itulah jalur keluar masuknya Sang Hyang Atma, yang disebut kuranta bolong”.

Jika kelak ajal tiba, atma dilepaskan secara sadar menuju surga lewat terowongan rohani.

Menariknya, terminologi Kuranta Bolong di alam filologi Bali sangat lekat dengan teks pengobatan, secara khusus Lontar Usadha Kuranta Bolong (atau Kuranta Bolot /Klimosada).

Sekilas, terdapat kesenjangan epistemologis antara “Jalur Kelepasan Roh (Sushumna Nadi)” dalam naskah Tattwa yang sedang kita kaji. Namun, apabila kita menerapkan analisis hermeneutik mendalam, benang merah  ini dapat ditarik, yakni pada tema proteksi terhadap entitas sang Rare (Anak Kecil). Dalam dimensi material (sekala), Lontar Usadha Kuranta Bolong bertugas memastikan kesehatan fisik, anatomi saluran pernapasan, saluran pencernaan (rongga dada dan perut bolong), serta energi vital seorang bayi manusia agar terhindar dari cacat atau kematian mendadak.

Di sisi lain, pada ranah metafisik (niskala), Lontar Tegesing Warah Rwa Bhineda menggunakan sandi Kuranta Bolong untuk memastikan keselamatan jalan (saluran sushumna yang kosong / bolong di sepanjang tulang punggung hingga otak) dari sang “bayi gaib” (Rare Cili/Atma Jati).

Keduanya saling melengkapi, tanpa raga bayi jasmani yang sehat (melalui usaha Kuranta Bolong), Atma tidak memiliki wahana di bumi, dan tanpa lorong Kuranta Bolong yang tersucikan di dalam pikiran rohani, jiwa (Rare Cili) tak akan mampu mendaki menuju pembebasan (Moksha) saat fisik hancur lebur.



HALAMAN TERKAIT
Baca Juga