- 1Dualisme Internal - Manifestasi Pradana dan Purusa
- 2Sunya, Bumi Patimah dan Isadumaya
- 2.1Sunya dan Amreta Sanjiwani
- 2.2Misteri Isadumaya dan Tirai Windu
- 3Dinamika Kesadaran : Jagrat, Svapna dan Susupti
- 3.1Fisiologis Susupti (Tidur Lelap)
- 3.2Hermeneutika Svapna (Layar Mimpi)
- 3.3Proses Jagrat (Terjaga)
- 4Alkimia Internal : Transformasi Sekala Menuju Niskala
- 4.1Ekstrapolasi Puspa Tanalum dan Kuranta Bolong
- 4.1.1Bunga yang Tak Pernah Layu
- 4.1.2Jembatan Keselamatan dan Paralelisme Usadha
- 5Pralina Pati - Mencapai Kebebasan
- 6Terjemahan Lontar Tegesing Warah Rwa Bhineda Tan Pasastra
Terjemahan Lontar Tegesing Warah Rwa Bhineda Tan Pasastra
Iti tegesing warah rwa bhineda tan pasastra, nga, nering raga sarira, ne magnaḥ ring hati putih, nga, tlĕnging tinggale. Hirika gnaḥing Sang Hyang Rwa Bhineda ne tanpa sastra, lwirnyasarining gtiḥ heneh ning, ya mawak Sang Hyang Atma. Atma mawak hi meme, dane hi meme rumaga Sang Hyang Agni. Sarining Sang Hyang Agni rumagā yeḥ, yeḥ rumaga hi bapa. Ikā ne malingga ring netra karo, malawat amarupa taya wong rare. Dane maharan hi rare cili, hikā ne katon malawat kajaña, ya sinanggaḥ lawat, dudhu ya lawat. Ikā hingaranan atma jatti, ya lawat rwa bhineda tanpa sastra, ne malingga ring netra tngĕn mawak hi bapa. Dane hi bapa mawak yeḥ. Hi meme malingga ring netra kiwa mawak Sang Hyang Agni, nanging katon mapinda wong rare, maka urip dane hi meme mwaḥ hi bapa.
Terjemahan :
Ini adalah penjelasan tentang ajaran Rwa Bhineda tanpa aksara (tan pasastra) yang berada di dalam raga sarira (tubuh), yang bertempat di hati yang putih, yaitu pada inti penglihatan. Di sanalah tempat bersemayamnya Sang Hyang Rwa Bhineda yang tanpa aksara, adapun wujudnya berupa sarinya darah yang jernih, itulah yang menjiwai Sang Hyang Atma. Atma berwujud si ibu, dan si ibu mewujud sebagai Sang Hyang Agni (api). Intisari dari Sang Hyang Agni mewujud sebagai air, dan air itu mewujud sebagai si ayah. Itulah yang berstana di kedua mata, membayang bagaikan wujud anak kecil yang gaib. Ia dinamakan hi rare cili (anak kecil), itulah yang terlihat membayang secara nyata, yang dianggap sebagai bayangan, padahal itu bukan bayangan biasa. Itulah yang disebut Atma Jati, yaitu bayangan Rwa Bhineda tanpa aksara, yang berstana di mata sebelah kanan mewujud sebagai si ayah. Dan si ayah itu berwujud air. Si ibu berstana di mata sebelah kiri mewujud sebagai Sang Hyang Agni, namun terlihat menyerupai anak kecil, yang menjadi sumber kehidupan bagi si ibu dan si ayah.
Hana mr̥ĕta sañjiwaning, ne magnaḥ tngahi ng huntĕk he, sabatan polone. Irika gumantung tanpa cantelan, ya maharan tuñjung putiḥ hasari mas, ya maka urip dewane kabeḥ, mwaḥ watĕk r̥ĕśi, tkaning dewa pitara, mwaḥ kala. Ya Sang Hyang Amr̥ĕṭā ya jiwaning, maka urip ing sajagat kabeḥ, mwaḥ watĕk nering raga sarira, mwaḥ ring bwaṇna hagung pingitakna haywa werat ngĕsik ibwatknang soda, hantuk Sang Hyang Ha, pada halanya śwargga mupu kawaḥ, kawaḥ mupu śwargga.
Terjemahan :
Ada amreta sanjiwani (air suci kehidupan) yang bertempat di tengah-tengah otak, pada bagian dalam kepala. Di sanalah ia menggantung tanpa kaitan, yang dinamakan tunjung putih bersari emas, yang menghidupkan para dewa semuanya, serta golongan resi, hingga dewa pitara (leluhur), dan kala. Dialah Sang Hyang Amreta yang menjadi jiwa, yang menghidupkan seluruh jagat beserta seluruh unsur di dalam raga sarira, dan di dalam jagat raya (bhuana agung). Hal ini sangat dipingitkan (dirahasiakan), jangan sembarangan disebarkan, kuasailah dengan kesucian batin demi Sang Hyang Ha, karena pada hakikatnya surga dapat berwujud kawah (neraka), dan kawah pun dapat berwujud surga.
Yan sakala sira hatu rusir̥ĕp, kadyang ngapa tingkaḥny Sang Hyang Amr̥ĕṭā sañjiwaning idā nunggal maraga Bhaṭarā ring tngaḥing cakra sunya, maharan Sang Hyang Tunggal, gumantung tanpa cantelan ring tngaḥing huntĕk. Ikā hingaranan gumi patimaḥ. Yan wushan nunggal Sang Hyang Amr̥ĕttha marupa tnggl. Sang Hyang Tunggal rariś hidā tunrun kapuk wing jiwanta, nga, ngongkoling paḥĕ bapa sumurup ring hi meme, kadi kris amañjing ngin harangka. Hus mangkaṇna, raris matinggal dane huling lalaṭā, ngraris kapasyakaning huntĕk, huling di huntĕkeng raris tuhun, ngamarghaning kabolong wat jajaḥ gihingnge, hamargharing gigitoka, nga, trus dane ka lobangnging papusuḥhe. Irika hana hati cnika ya jawasanunggalah, hisadumaya haranya. Irika ring pw̶puk wing hati Sang Hyang Atma makul̥ĕm sir̥ĕp windu, nga, gtiḥ. Hirika hi bapa kabatbat hantuk nawasanga ne, sami bayu pul̥ĕs, mawtudading ipi.
Terjemahan :
Ketika manusia berada dalam keadaan tidur lelap secara sekala, bagaimanakah keadaan Sang Hyang Amreta Sanjiwani? Beliau menyatu mewujud sebagai Bhatara di tengah-tengah cakra sunya (pusat keheningan), yang bergelar Sang Hyang Tunggal, menggantung tanpa kaitan di tengah-tengah otak. Itulah yang disebut dengan bumi patimah. Ketika selesai menyatu, Sang Hyang Amreta berwujud tunggal. Sang Hyang Tunggal kemudian turun menuju ke inti jiwamu, yaitu menyatunya benih ayah meresap ke dalam benih ibu, bagaikan keris yang masuk ke dalam sarungnya. Setelah demikian, lalu ia bergerak dari dahi, kemudian menuju belahan otak, dari otak lalu turun melewati rongga dada hingga menembus lubang ulu hati. Di sanalah terdapat hati kecil yang menjadi pusat penyatuan, yang bernama isadumaya. Di sana, di dalam lubang hati, Sang Hyang Atma tertidur lelap dalam wujud windu, yaitu darah. Di sanalah si ayah digerakkan oleh kekuatan Dewata Nawasanga, seluruh bayu (energi) tertidur, yang kemudian memanifestasikan diri menjadi mimpi.
Sang Hyang Tunggahal hajur̀ kang sadidik ring pukwing jiwa, kna kasiraman windu ikā, ne makul̥ĕm ring papusuḥ. Blaḥ windu hikā dadi dadwa, matmahan sirāmangipi, matmung ajak hanak hluḥ. Apa karaning mangkanā, hapan hi bapa matmur ing hi meme, mangkanā pawakedewek pul̥ĕs, dadi wruḥ ring waraḥ, hapan hi meme hi bapa pawakan manusa sakti. Yan e mangipi dui, di kala ne manguipuitang iyane bisa mahang orahang, pawaraḥ ipyane, toya madan hawake mangawakin. Yan mangipi katmu pitr̥ĕ atmaning wong ma’urip, katmu ring pangipyan, hangapa karaning mangkanā, sarining kapangan kinum hirahuni, ika kna kasiraman hantuk Sang Hyang Mr̥ĕṭā sañjiwaning, ikane katon mapindah atmmā. Yan sirāngipin pukindewā, ika Sang Hyang Tunggal kna katingalan hantuk Sang Hyang Atma, samangkanā kapr̥ĕdatanya.
Terjemahan :
Sang Hyang Tunggal melebur sedikit demi sedikit pada inti jiwa, dibasahi oleh windu tersebut yang berada di dalam hati. Belahan windu itu kemudian menjadi dua, yang mengakibatkan terjadinya mimpi bertemu dengan seorang wanita. Mengapa bisa demikian? Karena benih ayah bertemu dengan benih ibu, begitu pula wujud diri kita saat tidur lelap, sehingga menjadi paham akan ajaran, karena ibu dan ayah adalah perwujudan dari manusia sakti. Jika bermimpi yang aneh, ketika tersadar dari mimpi itu ia bisa menceritakan petunjuk mimpinya, air itulah yang mewujud dalam diri. Jika bermimpi bertemu dengan roh leluhur atau atma dari orang yang masih hidup di dalam mimpi, mengapa hal itu terjadi? Karena intisari dari apa yang dimakan dan diminum telah dibasahi oleh Sang Hyang Amreta Sanjiwani, sehingga terlihat menyerupai wujud atma. Jika bermimpi melihat kedewatan, itu tandanya Sang Hyang Tunggal dapat dipandang oleh Sang Hyang Atma, demikianlah keadaannya secara nyata.
Yansi rapul̥ĕs hana nggugaḥ glis matangi, Sang Hyang Tunggal saḥ saking pukwing jiwwa, mal̥ĕsat mantuk maring luhur̀, ka tngaḥing huntĕk. Irika maliḥ hida tan paraga, hajur̀ maraga mr̥ĕṭā, kna windu hikā kasiraman, ne makul̥ĕm ring pukwing papusuḥ, dadi matangi yĕḥ indu hikā, waluya maragga hatma. Raris Sang Hyang Atma glis maring luhur̀, malinggā kapasyakan tingale, marupa dane hi meme hi bapa kaya wong rare. Hi bapa mungguḥ ring tinggal tngĕn, mawaking hidhĕp, wisayan dane maninggalin rupa war̀ṇna, hala klawan hayu. I meme mungguḥ ring tinggal kiwā, pawaking bayu, paśiwĕran denering kar̀ṇna, wisayan dane tangawasne tanpahawak pawaking pangrangā, hamir̥ĕngngang swara hala klawan hayu, nga.
Terjemahan :
Jika saat tertidur ada yang membangunkan lalu segera terbangun, Sang Hyang Tunggal akan pergi dari inti jiwa, melesat kembali ke atas menuju tengah-tengah otak. Di sana Beliau kembali menjadi tanpa wujud fisik, melebur menjadi amreta, dibasahi oleh windu yang sebelumnya berada di dalam hati, sehingga air windu itu terbangun dan kembali berwujud atma. Kemudian Sang Hyang Atma dengan cepat menuju ke atas, berstana pada belahan penglihatan (mata), berwujud seperti ibu dan ayah yang menyerupai anak kecil. Si ayah bertempat pada mata sebelah kanan, sebagai perwujudan dari idhep (pikiran), yang bertugas melihat rupa dan warna, serta hal buruk maupun baik. Si ibu bertempat pada mata sebelah kiri, sebagai perwujudan dari bayu (energi), yang terhubung dengan telinga, yang bertugas merasakan tanpa wujud fisik sebagai perwujudan rasa, serta mendengarkan suara yang buruk maupun yang baik.
Login Membership









