Lontar Wariga Gemana

Lontar Wariga Gemana – Metafisika Waktu dan Kosmologi Bali


Dalam lanskap kebudayaan Bali yang kaya akan simbolisme dan ritual, waktu tidak dipahami sebagai entitas yang linier, hampa, dan netral. Sebaliknya, waktu dipandang sebagai Kala, sebuah kekuatan dinamis yang memiliki kualitas, energi, dan kehendak. Konsep ini melahirkan disiplin ilmu yang dikenal sebagai Wariga, sebuah sistem pengetahuan astronomi dan astrologi yang kompleks yang mengatur ritme kehidupan masyarakat Bali agar selaras dengan hukum alam semesta (Rta).

Di dalam korpus luas literatur Wariga, terdapat naskah-naskah spesifik yang membahas dimensi mikro dari takdir manusia dan pergerakan fisik, salah satunya adalah tradisi teks yang dikenal sebagai Lontar Wariga Gemana atau sering bersinggungan dengan Lontar Wariga Gemet.

Jika Wariga Belog menekankan pada tanda-tanda alam makrokosmos untuk pertanian, Wariga Gemet dan Gemana menyelam ke dalam kompleksitas numerologi (neptu/urip) untuk memetakan karakter manusia dan keselamatan dalam mobilitas (gamana).

Pemahaman terhadap naskah ini bukan sekadar upaya pelestarian artefak kuno, melainkan sebuah eksplorasi terhadap sistem manajemen risiko dan psikologi tradisional yang telah menopang peradaban Bali selama berabad-abad.

Artikel ini akan menguraikan bagaimana Wariga Gemana berfungsi sebagai jembatan antara mikrokosmos (tubuh manusia) dan makrokosmos (alam semesta), mengatur segalanya mulai dari langkah kaki dalam perjalanan hingga denyut nadi ritual kelahiran.

Mengurai Benang Kusut Terminologi

Untuk memahami substansi Lontar Wariga Gemana, kita harus terlebih dahulu mengurai lapisan etimologis yang membentuk namanya. Kata “Wariga” sendiri sering dijabarkan oleh para ahli bahasa Kawi dan Sanskerta. Dalam teks Wariga Gemet, Wariga diinterpretasikan sebagai gabungan tiga suku kata : Wa yang bermakna terang, Ri yang bermakna puncak, dan Ga yang bermakna wadag atau badan. Definisi ini menyiratkan bahwa ilmu Wariga adalah upaya tubuh fisik manusia untuk mencapai pencerahan atau puncak kesadaran melalui penyelarasan waktu.

Definisi lain yang lebih teknis menempatkan Wariga sebagai derivasi dari Jyotisha, cabang Vedangga yang mempelajari pergerakan benda langit untuk menentukan waktu pelaksanaan Yadnya (korban suci).

Tantangan filologis muncul ketika membedah istilah “Gemana“. Dalam khazanah bahasa Jawa Kuno (Kawi) dan Sanskerta, kata Gamana memiliki arti “perjalanan”, “gerakan”, “cara berjalan”, atau “pergi”.

Dalam konteks tertentu, gamana juga bisa berarti senjata atau alat. Hal ini memberikan petunjuk kuat bahwa Wariga Gemana adalah spesialisasi ilmu perbintangan yang berfokus pada keselamatan dalam mobilitas, strategi pergerakan, dan arah perjalanan. Ini berbeda namun melengkapi Wariga Gemet. Kata Gemet dalam bahasa Bali berarti “kecil”, “rumit”, “teliti”, atau “halus”. Wariga Gemet dikenal sebagai naskah yang memuat perhitungan horoskop yang sangat detail (gemet), menggunakan variabel numerik (neptu) yang rumit untuk meramal nasib seseorang dari lahir hingga mati.

Meskipun terdapat perbedaan nuansa makna, dalam praktiknya sering terjadi tumpang tindih atau intertekstualitas. Sebuah naskah lontar mungkin berjudul Wariga Gemet namun di dalamnya memuat bab-bab tentang dewasa ayu (hari baik) untuk bepergian (gamana). Sebaliknya, prinsip-prinsip neptu yang ada dalam Wariga Gemet menjadi landasan kalkulasi untuk menentukan arah keberuntungan dalam Wariga Gemana. Oleh karena itu, ini akan menggunakan pendekatan integratif, memandang Gemana sebagai fungsi dinamis (pergerakan) dari sistem statis (karakter) yang dibangun dalam Gemet.

Artikel ini akan mencakup analisis komprehensif terhadap :

  1. Struktur Kalender : Sistem Wewaran, Wuku, dan Sasih sebagai kerangka waktu.
  2. Numerologi Neptu : Peran nilai urip dalam menentukan kualitas waktu.
  3. Anatomi Takdir : Hubungan antara Wuku dengan organ tubuh manusia dalam Wariga Gemet.
  4. Navigasi Spiritual : Penentuan hari baik bepergian (Gamana) dan pantangannya.
  5. Relevansi Kontemporer : Bagaimana sistem ini bertahan dan bertransformasi di era digital dan pariwisata modern Bali.

Struktur Sistem Kalender dan Kosmologi Wariga

Sistem waktu yang digunakan dalam Lontar Wariga Gemana bukanlah sistem tunggal, melainkan sebuah orkestrasi dari berbagai siklus yang berputar bersamaan. Kompleksitas inilah yang menjadikan perhitungan Wariga begitu “gemet” (rumit).

A. Wuku : Siklus 210 Hari dan Narasi Mitologis

Tulang punggung dari sistem Kalender Bali adalah Wuku. Berbeda dengan kalender Gregorian yang berbasis matahari atau Hijriah yang berbasis bulan, Wuku adalah siklus aritmatika murni yang terdiri dari 30 minggu, di mana setiap minggu berdurasi 7 hari, menghasilkan total siklus 210 hari (satu Oton).

Nama-nama ke-30 Wuku ini tidak sembarangan, melainkan diambil dari mitologi Raja Watugunung. Lontar-lontar menuturkan kisah tragis Watugunung, seorang raja sakti yang secara tidak sadar menikahi ibunya sendiri (Dewi Sinta) dan akhirnya dikalahkan oleh Dewa Wisnu dalam wujud Kurma Avatar. Nama-nama Wuku diambil dari nama Watugunung, istri-istrinya, dan anak-anaknya. Urutan ini menjadi basis narasi yang dihafal oleh setiap ahli Wariga.

Berikut adalah tabel struktur Wuku beserta Dewa penaung dan nilai strategisnya dalam perhitungan Wariga :

No Nama Wuku Dewa Penaung Karakteristik Kosmik Lokasi Anatomis (Wariga Gemet)
1 Sinta Batara Yamadipati Awal siklus, ketegasan hukum, introspeksi Mata (Penglihatan)
2 Landep Batara Mahadewa Ketajaman pikiran, kecerdasan, senjata
3 Ukir Batara Mahayakti Kekukuhan, perlindungan
4 Kulantir Batara Langsur Hubungan sosial, diplomasi
5 Tolu Batara Bayu Gerakan angin, mobilitas tinggi, emosi
6 Gumbreg Batara Candra Keindahan, kesuburan ternak
7 Wariga Batara Asmara Cinta kasih, daya tarik Jantung/Pusuh (Kehidupan)
8 Warigadean Batara Penyarikan Administrasi, pencatatan
9 Julungwangi Batara Sambu Harum nama, popularitas
10 Sungsang Batara Gana Pembalikan keadaan, perlindungan
11 Dungulan Batara Kamajaya Kemenangan Dharma (Galungan)
12 Kuningan Batara Indra Kemakmuran, leluhur (Kuningan)
13 Langkir Batara Kala Waktu yang memakan, kewaspadaan Telinga (Pendengaran)
14 Medangsia Batara Brahma Api, penciptaan, kemarahan
15 Pujut Batara Guritna Ketenangan, pertapaan
16 Pahang Batara Tantra Pengetahuan mistis
17 Krulut Batara Wisnu Kebahagiaan, seni, asmara
18 Merakih Batara Surenggana Kehormatan, jabatan
19 Tambir Batara Siwa Peleburan, transformasi Hidung (Pernafasan)
20 Medangkungan Batara Basuki Keselamatan, fondasi
21 Matal Batara Sakri Energi maskulin, kekuatan
22 Uye Batara Kuwera Kekayaan material
23 Menail Batara Citra Ganas, perang
24 Prangbakat Batara Bisma Strategi militer, keteguhan
25 Bala Batara Durga Kekuatan magis, perlindungan Usus (Pencernaan)
26 Ugu Batara Singajalma Kepemimpinan otoriter
27 Wayang Dewi Sri Kesuburan pangan, seni pertunjukan
28 Kelawu Batara Sedana Uang, perdagangan
29 Dukut Batara Baruna Lautan, penyucian
30 Watugunung Batara Anantaboga Penyangga bumi, akhir siklus Kaki (Perjalanan)

 

Dalam perspektif Wariga Gemet, lokasi anatomis ini sangat vital. Misalnya, “Watugunung bertemu pada kaki” menyiratkan bahwa Wuku Watugunung menguasai aspek mobilitas atau perjalanan fisik. Sementara “Wariga pada jantung” menyiratkan pusat vitalitas kehidupan. Narasi dalam lontar menyebutkan :

“Sanghyang Bayu, air kehidupan dunia, terletak pada hati… Watugunung bertemu pada yang lebih tua tiga kali, pada kaki, pada mata…”.

Ini adalah kode esoteris yang menghubungkan waktu dengan biologi manusia.

B. Wewaran : Dinamika Harian dan Energi Pasaran

Sistem kedua yang berjalan paralel dengan Wuku adalah Wewaran, yaitu siklus hari. Wariga mengenal sepuluh jenis pekan, mulai dari Ekawara (pekan 1 hari) hingga Dasawara (pekan 10 hari). Namun, yang paling dominan dalam perhitungan Wariga Gemana adalah pertemuan antara Saptawara (pekan 7 hari) dan Pancawara (pekan 5 hari).

  • Saptawara : Redite (Minggu), Soma (Senin), Anggara (Selasa), Buda (Rabu), Wraspati (Kamis), Sukra (Jumat), Saniscara (Sabtu).
  • Pancawara : Umanis (Legi), Paing, Pon, Wage, Kliwon.

Interaksi keduanya menciptakan siklus 35 hari (7 x 5) yang disebut Weton atau Oton dalam skala kecil. Setiap kombinasi, seperti Anggara Kliwon atau Buda Wage, memiliki energi unik yang disebut Neptu atau Urip. Lontar Wariga Gemet secara eksplisit menyatakan bahwa sistem horoskop di dalamnya lebih mengandalkan divinasi berbasis numerologi neptu ini daripada posisi benda langit (planet) layaknya astrologi Barat.

C. Matematika Kosmis : Sistem Neptu (Urip)

Neptu atau Urip adalah nilai angka metafisik yang melekat pada setiap hari. Dalam Lontar Wariga Gemana, manipulasi angka-angka inilah yang menentukan nasib. Apakah hari itu “berat”, “ringan”, “panas”, atau “dingin” ditentukan oleh penjumlahan urip Saptawara dan Pancawara.

Tabel Nilai Urip dalam Wariga :

Saptawara Nilai Urip Arah Mata Angin Pancawara Nilai Urip Posisi/Stana
Redite (Minggu) 5 Timur (Purwa) Umanis 5 Timur
Soma (Senin) 4 Utara (Uttara) Paing 9 Selatan
Anggara (Selasa) 3 Selatan (Daksina) Pon 7 Barat
Buda (Rabu) 7 Barat (Pascima) Wage 4 Utara
Wraspati (Kamis) 8 Tenggara (Agneya) Kliwon 8 Tengah
Sukra (Jumat) 6 Barat Laut (Wayabya)      
Saniscara (Sabtu) 9 Barat Daya (Nairiti)      

Metode perhitungannya sederhana namun filosofis :

Jika seseorang ingin bepergian pada hari Redite Umanis, maka nilai uripnya adalah 5 (Redite) + 5 (Umanis) = 10. Angka 10 ini kemudian dikonsultasikan dengan tabel Guru-Ratu-Lara-Pati atau formula lain dalam lontar untuk melihat apakah hasilnya membawa kemenangan (Jaya) atau kematian (Pati). Dalam Wariga Gemet, angka ini juga menentukan karakter dasar seseorang.



Baca Juga