Prosesi Upacara Metatah (Potong Gigi) Massal


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

Adapun tahapan upacara metatah bagi keluarga tidak mampu saat nyekah sesuai petunjuk Sang Yajamana adalah sebagai berikut :

1. Sembahyang di Sanggah atau Merajan. Sebelum peleksanaan metatah bagi anak- anak yang telah dewasa, pagi sekitar pukul 5.00 Wita diawali sembahyang di sanggah atau merajan masing-masing, yang dipimpin oleh orang tua atau pemangku. Tujuannya sebagai permakluman bahwa yang bersangkutan akan melaksanakan upacara metatah dan memohon supaya diberi keselamatan yang dipimpin oleh pemangku. Setelah itu orang yang akan diupacarai melaksanakan upacara mabyakala.

2. Upacara mabyakala yang dipimpin oleh pemangku sonteng. Upacara ini dilakukan di halaman tepatnya di bale peyadnyan. Banten byakala diletakan di bawah depan mereka yang akan metatah dengan cara berbaris, baru kemudian dilanjutkan dengan mengucapkan mantra–mantra sesontengan bagi mereka yang mengikuti kegiatan metatah. Dengan tujuan agar para peserta yang mengikuti metatah dibersihan secara spiritual supaya tidak mendapat gangguan hal-hal yang bersifat negatif, melalui natab banten byakala dan nunas tirtha pengelukatan dari sulinggih dan tirtha sanggah atau merajan. Adapun mantra natab banten byakala sebagai berikut.

 

Ong pengadeganing Sang Hyang Janur kuning, Siwa Rininggiting Guru, tinutus dening prawateking Dewata, kajenenganing prawatek Sarwa pinuja anepung tawari

Angresiki anglengeni, amrayascitaning Sarwa pinuja, lumilangaken

Sarwa mala geleh pata leteh Sariran ipun, Ong sriem bhawantu,

Ong purnam bhawantu, Ong sukam bhawantu

Pakulun Bhatara Kala, saksinin Manusanira sang pinandesan

Angaturaken pabayakala, katur Ring sang kala aruk,sang kala Pengpengan, sang kala pati, sang Kala bumi, iki tadah sajinira Ngeraris amukti sari, wus amukti Sari aluara sira saking sariran Manusanira sang pinandesan, Mantukaknasira ring dangka Khayangan sira suang-suang, Muah pasang sarga sira ring Bhatara Siwa Ong Sidhi restu yenamah suaha.

3. Pengekeban. Upacara penyekeban dalam tradisi metatah bertujuan untuk mengendalikan diri, melakukan yasa kerti pada diri, agar menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat, oleh karena itu, keburukan- keburukan pada diri seperti sad ripu atau enam keburukan dikendalikan agar lebih sempurna. Upacara pengekeban dilakukan dibuah ruangan khusus dan dilengkapi banten pengekeban. Selama pengekeban peserta metatah melakukan mono brata, tidak berbicara, tidak makan dan tidak boleh melakukan aktivitas. di ruangan pengekeban didamping pemangku atau balian memohon kepada Sang Hyang Siwa dapat memeberikan perindungan dan menjauhkan dari pengaruh negatif. Setiap peserta dipercikkan tirta sebelum metatah.

Mantra Pangekeban :

Ong pakulun Sang Hyang Kumaragana-Kumaragani, angadeg Ring madianing bumi, saksinin Manusanira,angaturaken tadah Saji pawitra, manusanira angidep Anelaku pinandesan, apan ipun Wus akalib anyaluk teruna teruni, Ipun aminta sih kerta nugraha Linukata de paduka Bhetara Menadi sarira sudha mirmala.

Ong Sudha  sudha wari  wastu yenamah swaha

Ong Hyang anggadakaken sari Ong Hyang angaturaken sari

Ong Hyang angiserpaning sarining Yadnya

Ang Ung Mangsarwa Dewa angisep Sarining mertha

Ang Ah merta sanjiwa yenamah suaha Ang Ung Mang Siwa merta

Yenamah swaha

Ong kara muktyayet sarwa peras Presida sudha nirmala yenamah suaha




Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Baca Juga