- 1Kosmogoni dan Evolusi Material Alam Semesta
- 1.1Konsepsi Nir-Wujud dan Kemunculan Tiga Adnyana
- 1.2Mitologi Telur Semesta (Hiranyagarbha) dan Politik Sinkretisme
- 2Genealogi Intelektual dan Tata Ruang Geografis
- 2.1Eksodus Rsi Markandhya dan Pembukaan Lahan
- 2.2Pertarungan Magis dan Marginalisai I Macaling
- 3Dinamika Sosiokultural dan Resolusi Konflik
- 3.1Kritik terhadap Hegemoni Catur Kasta
- 3.2Fenomena Kembar Buncing, Tabu Eksogami dan Kutukan Cuntaka
- 4Filsafat Aksara dan Konsep Sawa Sagota
- 4.1Mikrokosmos Aksara dan Anatomi Kehidupan
- 4.2Sawa Sagota - Penjelasan Tidur dan Kematian
- 5Geopolitik Keruntuhan Majapahit dan Ideologi Sinkretis Hinduisme
- 5.1Runtuhnya Kemaharajaan Jawi dan Trauma Keagamaan
- 5.2Arsitektur Hinduisme dan Fleksibilitas Ajaran Buddha
- 6Tata Laksana dan Praktik Teologis Mrecha Dana
- 7Terjemahan Lontar Batur Kalawasan Petak
Filsafat Aksara dan Konsep Sawa Sagota
Mikrokosmos Aksara dan Anatomi Kehidupan
Sebagai sebuah purana dan pedoman ke-Rsi-an yang luhur bagi aliran Siwa Bhujangga, Lontar Batur Kalawasan Petak menyajikan analisis mistik yang mendalam terhadap kekuatan aksara. Lontar ini tidak melihat huruf semata sebagai representasi fonetik, melainkan menafsirkan deretan aksara Jawa kuno atau silabis Carakan (A, Na, Ca, Ra, Ka, dst.) ke dalam representasi fungsional organ anatomi tubuh manusia (mikrokosmos). Penjabaran ini memperlihatkan konsep deifikasi aksara yang holistik, di mana susunan abjad merupakan replika dari struktur penciptaan tubuh biokimia manusia. Naskah merincikan korelasi tersebut secara etimologis spiritual (kirata basa) sebagai berikut :
Login Membership
Login Membership
Sawa Sagota – Penjelasan Tidur dan Kematian
Memasuki penutup lembaran lontarnya, Rsi Wisnawa merangkum seluruh kerangka metafisiknya melalui ajaran rahasia yang disebut Sawa Sagota, yang merupakan penjabaran filsafat tentang batas kabur antara kondisi kesadaran (bangun), istirahat (tidur / bermimpi), dan kematian absolut. Lontar ini memberikan penjelasan bahwa elemen kosmik terproyeksi secara ekuivalen ke dalam rongga tubuh manusia.
Naskah menyebutkan :
Langite tan pajalada, natan pawindu ne munggah ring awak caine, selantum teke caine madan langit ditu nongos urip caine.
Hal ini bermakna bahwa otak dan kepala manusia adalah perwujudan dari hamparan langit (angkasa kosmik) tempat bersemayamnya Urip atau nyawa kesadaran tertinggi.
Napas atau angin di dalam paru-paru diibaratkan sebagai keberadaan bintang dan bulan yang mengatur pasang surut aliran rasa, emosi (lobha, legha), dan nalar keadilan (dharma, patut, salah).
Sedangkan jantung sebagai motor pemompa energi dianalogikan sebagai Surya (matahari) dan api (api kamulan atin caine) yang menghasilkan getaran kehidupan dan hawa panas biologis.
Login Membership
Barulah ketika pusat kesadaran (Budhi) memutuskan untuk mati (mabudhi mati), Sang Hyang Pramana (sang pencipta nyawa) mencabut seluruh daya hidup secara permanen. Tubuh akan mendingin ketika esensi api padam, kembali menjadi bayu (angin kosmik), yang akan kembali menyatu pada wilayah Brahma Lokha kosmik.












