Upacara Perkawinan Patiwangi untuk Beda Kasta (Tri Wangsa)


Download Konten PDF – 12 Bulan

Rp 110.000,00


Penting – Mohon untuk dibaca :

  • Donasi ini bukan sebagai “penjualan konten atau konten berbayar“, karena “tanpa donasipun” user tetap dapat membaca seluruh konten yang ada di website Blog Bali ini. Isi serta format sama dengan apa yang akan di download ke PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan. Konten akan terus ada penambahan, dan bebas untuk download konten baru selama akun aktif.
  • Pastikan menggunakan Email yang aktif untuk pendaftaran dan Login.  Seringkali user ada kesalahan ketik saat memasukan alamat email ( baik saat mendaftar maupun saat login), mohon pastikan dan teliti kembali email yang digunakan sebagai username.
  • Pembayaran : Transfer Bank (VA Account), QRIS (QR scanner seperti BCA Mobile, OVO, Dana, LinkAja, Gopay, Shopee pay, Sakuku, dll).
  • Tidak diperlukan untuk melakukan konfirmasi pembayaran ke admin, karena sistem pembayaran melaui Gateway iPaymu dan akan diteruskan secara otomatis oleh pihak iPaymu ke admin web untuk aktivasi akun.
  • Aktivasi Akun oleh Admin : 1×24 jam (paling cepat 2 jam dan paling lama 24 jam hari kerja,  diluar hari libur umum) setelah pembayaran diterima dari iPaymu oleh pihak Blog Bali. Mohon untuk bersabar.
  • Email Aktivasi : akan dikirimkan ke email. Periksa inbox atau spambox / junkmail folder anda untuk petunjuk Login sesuai dengan Link Login yang ada di email.
  • Sebelum anda merima email aktivasi dari Blog Bali, mohon untuk Tidak mengulangi pendaftaran.
  • Lakukan Login sebelum Download.
  • Jika anda lupa password, lakukan Reset Password.
  • Contoh PDF hasil dari download
    Klik disini
  • Jika kurang jelas dapat melihat petunjuk pendaftaran dan login di link ini.
  • Jika ada masalah login silahkan menghubungi disini.

Mengapa status transaksi masih PENDING sedangkan dana saya di Bank sudah berkurang?

​Transaksi VA ini (Virtual Account) melalui ATM/Internet banking/Mobile Banking dilakukan melalui kliring (SKN/LLG) agar dana bisa sampai ke rekening VA tujuan. Dana pelanggan tertahan di sisi bank pengirim dana sampai dilakukan kliring harian. Setelah proses kliring selesai dilakukan maka dana akan masuk ke rekening VA tujuan. Bank akan mengirimkan notifikasi bahwa nomor VA sudah terbayar ke sistem kami untuk melakukan update status.


Pelaksanaan Upacara Patiwangi

Pelaksanaan Upacara Patiwangi ini di Pura Bale Agung dengan tujuan ngutang wangsa demi penyetaraan Wangsa kedua mempelai.

Upacara patiwangi biasanya dilaksanakan sehari sebelum upacara perkawinan (merebu), ada juga beberapa jam sebelum pawiwahan atau pelaksanaannya, ada yang berdasarkan penentuan hari baik (dewasa ayu). Upacara Patiwangi dilaksanakan sebagai rangkaian upacara perkawinan yang dilaksanakan di areal pura Bale agung.

Bale Agung merupakan bale yang berbentuk memanjang yang biasanya dipergunakan untuk melakukan pesangkepan oleh prajuru desa. Bale Agung dipakai tempat untuk melakukan patiwangi, karena bhatara yang bersthana di Pura Bale Agung yaitu bhatara Brahma. Disimbolkan berwujud api, maksudnya adalah untuk menghilangkan keharuman (wangi) dari pihak perempuan yang berkasta lebih tinggi, agar dapat sejajar dengan kasta pihak laki-laki, itu sebabnya patiwangi dilaksanakan di Pura Bale Agung.

Sarana yang dipergunakan dalam upacara Patiwangi meliputi dua bagian yaitu sarana yang berwujud benda dan non material. Adapun sarana yang berwujud benda diantaranya:

Banten pejati adalah nama banten yang sering digunakan sebagai sarana untuk mempermaklumkan tentang kesungguhan hati akan melaksanakan suatu upacara, dipersaksikan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Banten pejati merupakan banten pokok yang senantiasa dipergunakan dalam panca yadnya. Adapun unsur- unsur banten pejati adalah: daksina, banten peras, banten ajuman/sadaan, ketipat kelanan, segehan.

Banten Pejati yang masing-masing memiliki makna sesuai dengan fungsinya, sebagai berikut:

  1. Daksina, alasnya memakai srembeng yang terbuat dari janur yang kemudian di dalamnya diisi tampak, uang, porosan/base tempel, beras secukupnya, sebutir kelapa yang telah dibersihkan diatasnya diisi benang putih, 7 buah kojong yang masing-masing berisi kluwek, kemiri, bumbu-bumbuan, telor itik mentah l biji ratus, memakai sampian pusung, canang sari dan sesari daksina. Daksina merupakan simbol sthana Tuhan dan simbol makrokosmos. Fungsinya sebagai persembahan atau tanda terima kasih yang selalu menyertai banten-banten yang dipakai upacara yajna.
  2. Peras, alasnya tamas/aledan/cemper, berisi aledan peras kemudian disusun di atasnya beras, benang, serta uang. Diisi buah, pisang; kue, tumpeng 2 buah, rerasmen (lauk pauk) yang dialasi tangkih, sampian peras, canang sari. Peras adalah jenis banten permohonan agar upacara tersebut sukses. Untuk menunjukkan upacara telah selesai maka seseorang akan menarik lekukan pada “aledan peras”. Peras adalah melambangkan Hyang Tri Guna Sakti, yang dapat pula diartikan sah atau resmi (Mas Putra, 2001:29).
  3. Ajuman, alasnya tamas berisi buah, pisang, kue dan penek 2 buah, rerasmen yang dialasi tangkih, sampian pelaus/petangas, canang sari. Ajuman dipakai sarana untuk memuliakan, mengagungkan Hyang Widhi dan lambang keteguhan/kokoh.
  4. Ketipat Kelanan, alas lamas, berisi buah, kue dan pisang, ketupat 6 buah, rerasmen dialasi tangkih, ditambah satu butir telor matang, sampian plaus/petangas. Merupakan lambang terkendalinya Sad Ripu sehingga ada
  5. Segehan, alasnya cemper diisi tangkih yang berisi nasi dengan lauk pauk bawang, jahe, garam
  6. Canang Sari, terbuat dari janur yang berisi reringgitan, yang berisi plawa, porosan, dan dihiasi dengan bunga beraneka warna. Bunga atau canang sari simbol dari sarinya bumi atau perwujudan dariGandha yang kita persembahkan kehadapan Hyang Widhi untuk menyampaikan rasa cinta dan kebahagiaan hati serta terima kasih yang tulus ikhlas dan suci.
  7. Banten Suci, adalah terbuat dari 10 lamas yaitu lamas pertama berisi tumbak 4, tamas kedua tumbak 3, lamas ketiga guru, lamas keempat samuan, lamas kelima peras, lamas keenam buah-buahan, lamas ketujuh durna, lamas kedelapan penek, lamas kesembilan kacangkacangan, lamas kesepuluh pisang suci, berisi kelungah nyuh gading, lingga, sate lada, telor bebek dan Banten suci bermakna pemberitahuan agar upacara yang dilaksanakan menjadi suci bersih yang merupakan banten yang pokok digunakan dalam setiap upacara.
  8. Segehan alit, adalah terbuat dari daun ron yang membentuk tri kona, diisi tangkih berjumlah 6 yang masing-masing diisi nasi berlauk bawang jahe dan rerasmen.

 

Upakara Patiwangi

Upacara patiwangi yang dilaksanakan di Pura Baleagung, upakaranya terdiri dari: pejati, parayascita, durmangala, sodan, daksina pejati, rantasan putih kuning, bija, beras kuning, uang kepeng 11 buah dan penganteb.

Adapun unsur-unsur pejati adalah: daksina, banten peras atau ajuman/sodan, ketipat kelanan, segehan alit, banten suci asoroh, salaran pebuat, dan saperadeg. Memakai kuangen dengan uang kepeng yang berjumlah 11 pada saat sembahyang, juga di lengkapi dengan tetabuhan, dupa dan canang sari.

Upacara patiwangi dapat dilaksanakan apabila kedua pasangan pengantin sudah melakukan mesayut pada hari ketiga setelah mulai dari hari pertama dinyatakan kawin lari atau lazim disebut mesayut meketelun.

Karena patiwangi baru bisa dilaksanakan setelah pengantin telah hilang dari sebel selama tiga hari yang disebut sebel kandel, baru nantinya dapat untuk melakukan persembahyangan di merajan atau Pura Kahyangan Tiga. Pada upacara mesayut ini pengantin natab banten byakala, upacara ini diyakini dapat menetralisir kekuatan kala yang bersifat negatif, upacara ini juga bertujuan untuk menghilangkan perasaan kotor kepada kedua pengantin. Prosesi upacara pembersihan berlangsung seperti berikut:

  • Telapak tangan dibersihkan dan kemudian diolesi segau (daun dadap yang dihaluskan) dan tepung tawar,
  • Kemudian dibersihkan lagi dengan air, kemudian tangan diolesi minyak asem dan dibersihkan dengan sabut kelapa, segau, diolesi dengan daun sirih sambung masing-masing tiga kali,
  • Peserta diberi tetebus berupa benang tri datu yang melambangkan triguna yang melekat pada manusia (sattwam, rajas, tamas) yaitu benang putih ditaruh pada sela telinga pada yang laki-laki atau ubunubun yang perempuan, pada jari tangan diberi benang merah untuk dijepit, dan pada jari kaki diberi benang hitam, natab byakala kearah bawah sambil berputar 3 kali ke arah kiri,
  • Tangan peserta merobek ajengan yang membentuk bungkusan nagasari, tangan kiri pengantin memegang atau menekan aledan peras yang berbentuk berlipat (ada lurus dan ada yang menekuk) dan tangan kanan menarik aledan peras yang bengkok dengan maksud dalam kehidupan jika menemukan jalan sesat atau jahat harus bisa diluruskan,
  • Selanjutnya benang jepitan pada jari kaki dibuang pada nyala api Dengan dilaksanakannya upacara ini, berarti sudah bernilai suci untuk keluar rumah dan masuk ke merajan.

Pertama-tama upacara yang dilakukan pemangku dan juga disaksikan oleh kelian banjar dan keluarga, dengan menghaturkan banten suci, dandanan, pejati, kehadapan Sang Hyang Bhatara Brahma yang berstana di Pura Bale Agung. Upacara ini dilakukan bertujuan untuk memohon kepada Tuhan agar nantinya proses putiwangi berjalan lancar.

Sang mempelai wanita dari keturunan Tri Wangsa dengan nyuun rantasan putih-kuning dan yang di belakangnya diikuti oleh suaminya dari keturunan jaba Wangsa. Selanjutnya di ikuti oleh pemangku yang memimpin Upacara Patiwangi, dan dalam Upacara tersebut diantara keluarganya ikut serta dengan nyuun 1 banten Pejati.

Sambil berjalan mengelilingi BaleAgung sebanyak tiga kali putaran, searah dengan jarum jam. Setelah itu semua banten maupun sarana yang di bawa di haturkan di Pure Bale Agung tersebut, sehingga sebagai simbol bahwa Wangsanya sudah disetarakan dengan Wangsa pihak suaminya.

Setelah prosesi Paliwangi selesai kedua pasangan pengantin melakukan persembahyangan di Pura Bale Agung, persembahyangan yang dilakukan untuk menyampaikan rasa terima kasih karena upacara patiwangi berjalan dengan sesuai harapan, dan telah disejajarkannya kasta dari pihak perempuan yang sudah sama dengan pihak laki-laki, demikian pula agar Dewa Brahma senantiasa berkenan memberikan pengampunan kepada pihak laki-laki dengan melakukan upacara patiwangi tersebut, serta untuk memohon keselamatan dalam menjalani kehidupan berumah tangga.

Setelah dilakukannya upacara patiwangi, keesokan harinya barulah kedua pasang pengantin melaksanakan upacara pernikahan (lihat detail disini). Upacara Patiwangi apabila tidak dilaksanakan akan menyebabkan terjadinya dampak yang tidak diinginkan dalam sebuah perkawinan yang akan dijalani oleh kedua mempelai.

Sumber

Upacara Patiwangi

Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M. Si., Prof. Dr. Dra. Relin D.E., M. Ag., Dra. Ni Gusti Ayu Kartika, M. Ag., Jero Ayu Ningrat, S. Ag. M. Ag.



Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Baca Juga