Etika Suami dan Istri Hamil di Lontar Baberatan Wong Beling


Pada hakikatnya setiap manusia mendambakan apa yang disebut kebahagiaan yang kekal abadi. Tujuan hidup manusia adalah untuk mencapai dan melaksanakan dharma sebagai pengendali artha dan kama yang merupakan sarana untuk mencapai kebahagiaan. Setelah melewati masa Brahmacari, seseorang diwajibkan untuk memasuki masa grhasta. Dalam tingkat hidup grhasta asrama (berumah tangga) ini masalah artha dan kama menjadi tujuan hidup yang cukup penting. Namun dalam mendapatkan artha dan kama tersebut hendaknya berdasarkan dharma.

Seseorang yang telah memasuki grhasta asrama akan mempunyai bermacam-macam kewajiban, baik kewajiban yang berkaitan dengan masalah keagamaan maupun yang berkaitan dengan masalah sosial kemasyarakatan. Di samping mempunyai kewajiban yang telah disebutkan sebelumnya, juga mempunyai kewajiban untuk melanjutkan keturunan. Untuk mendapatkan keturunan, maka seseorang harus menikah.
Hakikat dari dilaksanakan suatu perkawinan sesungguhnya bertujuan untuk mendapatkan keturunan, oleh karena itu keturunan merupakan siklus kehidupan dalam keluarga dan juga sebagai pelita kehidupan. Berdasarkan keturunan juga nantinya akan meneruskan dharma negara, dharma agama, serta menurut ajaran agama Hindu kelahiran anak akan membantu untuk melebur dosa-dosa leluhurnya agar bisa menjelma (menitis) kembali ke dunia.
Kepercayaan orang yang tidak mampu mempunyai keturunan, maka leluhurnya setelah meninggal akan masuk ke jurang neraka, karena tidak ada orang yang akan menghaturkan yajna pitra puja yang berkasiat dapat menebus dosanya dari kesengsaraan, sehingga dapat dikatakan melahirkan anak setelah melaksanakan perkawinan merupakan suatu perintah agama yang sangat dimuliakan.
Banyak susastra Hindu yang membicarakan tentang ajaran yang memuat tentang cara memperoleh anak yang suputra. Salah satu diantaranya adalah Lontar Beberatan Wong Beling. Lontar ini menekankan pesan-pesan moral yang ditujukan kepada suami-istri saat mengandung.

Lontar Babratan Wong Beling berisi lima pokok isi, sebagai berikut :

  1. Etika dan pengendalian diri bagi keluarga dan suami si Ibu hamil.
    Bila keluarga dan suami yang istrinya sedang hamil, sang suami wajib merawat kandungan istrinya dengan mentaati ajaran etika dan mampu mengendalikan diri dari segala perbuatan yang dapat merugikan dirinya, merugikan istri, dan bayinya kelak. Beberapa etika dan pengendalian yang patut ditaati, antara lain 1) tidak boleh membangunkan istri yang sedang tidur nyenyak secara paksa, tidak boleh berkata kotor, tidak boleh selingkuh, jangan sering senggama pada ist ri yang sedang hamil.
  2. Etika dan pengendalian diri bagi ibu yang sedang hamil.
    Etika bagi ibu yang sedang hamil, si ibu harus setia, jujur terhadap suaminya, tidak boleh berselingkuh, tidak boleh melihat orang meninggal karena bunuh diri atau meninggal gantung diri, tidak boleh makan makanan yang pedas, tidak boleh makan lawar dan tidak boleh makan sembarang layudan.
  3. Upacara yang patut dilaksanakan pada saat sang ibu sedang hamil,
    misalnya setiap hari purnama dan tilem, patut nunas panglukatan di sanggah kemulan, disertai dengan matepung tawar, setiap hari sukra wage juga nunas pasucian di sanggah kemulan. Pada saat menjelang kelahiran si bayi juga patut melaksanakan pengampak rare agar bayi tidak kebebeng.
  4. Pengobatan untuk ibu yang hamil.
    Seorang ibu yang sedang hamil perlu dijaga kesehatannya, sebab si bayi sangat tergantung dari kesehatan si ibu. Lontar Babratan Wong Beling sangat menekankan bila si ibu ada tanda-tanda sakit agar segera didiagnosa dan diobati.
  5. Setelah si jabang bayi lahir, maka ada beberapa upacara yang wajib dilaksanakan demi kerahayuan si bayi dan ibunya, sebagai berikut.
    1. Upacara menanam ari-ari.
    2. Upacara kepus pusar.
    3. Upacara nyambutin.

Dalam melaksanakan upacara setelah bayi lahir tidak diuraikan secara berstruktur tentang upacara dan upakara yang patut dilaksanakan, tetapi hanya berupa peringatan akan pentingnya upacara tersebut untuk dilaksanakan, demi keselamatan si bayi.
Lontar Beberatan Wong Beling menceritakan tatacara orang merawat orang hamil.

Orang yang sedang hamil jika sedang tidur pantang dibangunkan dengan paksa, karena dalam dirinya sedang beryoga Sang Hyang Suksma dan Sang Hyang Parama Wisesa. Saat semua beryoga serta Sang Pirata oleh laki dan wanita membuat kehidupan sang bayi. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut.

Yen sira angemban wong beling, Yen sira ring kala sang beling aturu sirep, Aja sira manundun tur mangungkulin, Apan sang beling ri sedeknia pules, Kayoganin antuk Sang Hyang Suksma, Dewa, Mangawenin uripe sang rare.
Artinya :
Jika merawat orang hamil, Kalau orang hamil sedang tidur, Pantang dibangunkan secara paksa dan tidak boleh dilangkahi, Karena orang hamil sedang tidur Sang Hyang Suksma dan Sang Hyang Parama Wisesa sedang beryoga Membuat hidup sang bayi.
(Baberatan Wong Beling hal.1) 

Begitu juga jika orang yang sedang hamil sedang makan (duduk di bawah), janganlah sampai melangkahi nasinya orang hamil, nanti dapat dikutuk oleh Sang Hyang Suksma. Tatkala orang yang hamil sedang makan, sebagai seorang suami serta sanak keluarga jangan berkata kotor terhadap orang hamil, sebab Sang Hyang Suksma tidak suka pada kata-kata yang kotor.

Malih yen sang beling, i rabi muwah sanak sedekan amangan, Aja weh ujar letuh duknia amangan. Irika Sang Hyang Urip maprayoga ring tengahing wong amangan, tan sipi ila palania. Ika ngawe gering mahabara kojarnia, ring wekasan tan kapanggih malih asanak muwah arabi. Sang Hyang Kemit Tuwuh, Sang Hyang Matunggu urip tan suka yan Mangkana tur kesakitan dening rajah tamah.
Artinya :
Lagi kalau orang hamil sedang makan, suami dan keluarga, tidak boleh mengeluarkan kata-kata kotor, karena ada saat itu Sang Hyang Urip beryoga saat orang makan tak terhingga akiba tnya tidak baik. Dapat membuat musibah besar, di kemudian hari tidak akan bertemu lagi dengan anak dan suami/istri. Sang Hyang Kemit Tuwuh, Sang Hyang Matunggu Urip tidak senang dengan hal tersebut sehingga akan kesakitan karena kelicikan dan kemalasan
(Baberatan Wong Beling, hal.1) 

Wanita yang sedang hamil dan suaminya patut melaksanakan brata yaitu dharmabrata yaitu dilaksanakan tatkala jumat wage, hari purnama dan tilem seharusnya membersihkan diri matepung tawar, berdoa dengan kusuk mohon panglukatan, di sanggah Kemulan, begitu pula saat tiba otonan orang yang sedang hamil, juga harus melaksanakan panglukatan (pembersihan diri), menghidupkan manik (benih) serta roh.

Yen sira angamong wong katon beling, rikala. Su., wa,. muwah purnama tilem, mabersih sira sareng wong istri kakung, matepung tawar, mapangening-ening tur nunas panglukatan ring kamulan muwah mangaryanang tamba sarab, panglukat belingan tekaning panubahan oton, pangurip manik muwah atma raksa weda, panawar upas.
Artinya :
Siapa yang memiliki orang yang sedang hamil, pada jumat wage, dan purnama serta tilem dilakukan pembersihan diri, dengan banten tepung tawar menjernihkan pikiran dan memohon penyucian di Mrajan (Betara Hyang Guru) serta membuat obat untuk membersihkan kehamilan datangnya hari otonan menghidupkan janin serta penghilang penyakit.
(Baberatan Wong Beling, hal.2) 

Demikian tata caranya yang bernama darmabrata dan agar semua selamat. Hal itu disebabkan karena diawali nafsu sang suami dan sang istri bertemu menjadi benih. Benih tersebut dilindungi oleh Sang Hyang Suksma, menghidupkan roh menjadi manusia yang memiliki saudara 4 yang disebut dengan catur sanak. Pada catur sanak tersebut dipersembahkan caru yang berupa nasi wong-wongan putih dan segehan manca warna.

Dalam uraian berikutnya dalam lontar Baberatan Wong Beling dijelaskan tentang pentingnya pengendalian diri baik pikiran atau juga disebut dengan manacika parisudha, yaitu berpikir yang baik atau suci. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut.

Malih ana pratitah ngamong wong beling uling bahu ya ngidam sedeng jagain antuk manah pariksa, apang da kasengkala i rabi miwah sanak ira ring weteng.
Artinya :
Ada lagi tingkah laku untuk menjaga istri yang sedang hamil dari sejak ngidam harus dijaga dengan pikiran yang baik dan suci, supaya jangan ada halangan pada janin yang ada dalam kandungan.
(Lontar Baberatan Wong Beling, hal.3) 

Pada saat istri mulai ngidam sudah harus dijaga dengan waspada agar terhindar dari marabahaya. Begitu pula saat istri hamil dibuatkan banten pangancing manik, pangenteg bayu, dan pangenteg atma

Begitu menjelang akan lahir dibuatkan upacara pangampak lawang agar si bayi tidak kabebeng dan apabila orang hamil ada tanda-tanda sakit segeralah diberi obat agar ibu hamil cepat sehat dan bayinya juga sehat, serta obatnya juga harus disesuaikan dengan sakit si ibu. Dalam lontar Baberatan Wong Beling juga dijelaskan tentang kalau orang hamil badannya bengkak, matanya kuning, segeralah diobati. Karena penyakit tersebut dapat membahayakan ibu hamil.

Yen wong beling beteg makaukud rawuh ka sirahnia, matania sebuh tur kuning, pejah pwarania wong mangkana. Gelisang tulung antuk tamba sahananing patulung urip.
Artinya :
Kalau orang hamil badannya bengkak sampai ke kepala, matanya memar dan kuning, dapat mengakibatkan kematian. Segeralah ditolong dan diajak berobat agar tertolong jiwanya.
(Lontar Baberatan Wong Beling, hal.3)

Malih wetun geringe wilang, yan sira putus weruha ring panangkaning gering mwang panakaning tamba, twi sira balian putus. Duk ana kawenang yayi, saparikandane takonakena. Yan sang balian kurang sakolahan, tan weruh ring kalinganing gering muwah kalinganing tamba, dadukun nga., dadu ngaran peteng, kun ngaran belog. Aja ngugonin tataksonan, dahat ila timbang -timbang rasaning nimbang, pineh-pineh rasaning pineh.
Artinya:
Lagi munculnya sakit itu, kalau ada oarang yang pintar dengan penangkal penyakit atau penangkal obat, apalagi dukun. Hendaknya cari tahun tentang silsilah dukun tersebut. Apalagi dukun tersebut tidak pernah bersekolah tidak dan paham tentang penyakit apalagi tentang pengobatan, dadukun namanya. Dadu berarti gelap, sedangkan kun berarti bodoh. Jangan terlalu percaya hendaknya dipertimbangkan serta dipikirkan secara matang.
(Lontar Baberatan Wong Beling, hal.8).

Dan yang perlu diingat bahwa, apabila istri sedang hamil janganlah sembarang senggama. Hal itu dilakukan untuk menghindari agar anak tidak nakal dan angkuh. Istri yang sedang hamil dan suaminya apabila dalam bersenggama ingat pada pasangan selingkuh, maka akibatnya lahir manak salah. Selanjutnya juga diuraikan apabila suami istri sangat setia, kasih mengasihi, rukun dan saling pengertian, maka ia akan dianugrahi kebahagiaan.

Malih ri sedek nia arabi, salah tunggal inget ring petemunia ring pamitra Alania manak salah kojarnia. Baliknia tan panjang insun apitutur sira sang kalih, ne maaran tatakrama rahayu.
Artinya :
Ketika sedang bersenggama, salah satunya ingat pada saat bertemu dengan teman selingkuh, akan menemui halangan yaitu memiliki 􀀂anak salah􀀁. Kembali tanpa panjang lebar memberi nasehat kepada pasangan suami istri, supaya ingat dengan tata krama yang baik.
(Lontar Baberatan Wong Beling, hal.4)

Dalam hubungan perkawinan hendaknya dilandasi oleh cinta sama cinta, saling setia, jujur, diwarnai kasih sayang dan sejenisnya. Perkawinan yang demikian merupakan harapan setiap orang. Dalam lontar Baberatan Wong Beling juga terdapat ajaran tentang kewajiban terhadap pasangan suami istri sehingga memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut:

Duh yayi sira kalih, iki rasa pitutur ingsun. Yen ana wong arabi satia pada satia, tresna pada tresna, rahayu patemuning Sang Hyang Smara-smari, ika wenang manggih luwih, suka sugih sekala niskala. Ika manusa pakertin Dewa ping siu turunia kapanggih.
Artinya :
Hai kalian berdua, ini nasehatku, Kalau ada pasangan suami istri saling setia, sama-sama cinta, Sangat baik pertemuannya antara Sang Hyang Smara dengan Sang Hyang Smari, hal tersebut akan memperoleh kemuliaan, bahagia dan banyak harta benda, itu merupakan manusia yang diharapkan oleh Tuhan, seribu kali menjelma akan tetap bertemu.
(Lontar Baberatan Wong Beling, hal.4)

Selanjutnya pada hari yang baik (dewasa ayu) orang yang sedang hamil dibuatkan pamayuh belingan agar kelahiran bayi sesuai dengan waktunya. Orang yang sedang hamil juga pantang makan layudan panebusan bayu, banten nebah uni, dan layudan pengabenan.

Malih yan ngamong sira wong beling ne nuju dewasa rahayu wenang sira makarya pamayuh belingan. Yen lacur pang da salah wetu sang rare.
Artinya :
Lagi kalau sedang merawat orang yang sedang hamil disaat hari baik patut dibuatkan upacara pemayuh belingan. Hal itu dilakukan agar bayi lahir saat waktu yang tepat.

Kadiang apa malih pariteges kandane yen ngamong wong katon beling, kaget sang dumadi pingit, yan salwiring panganna ne madan cuntaka,tan wenang kapangan antuk sang beling, lwirnia banten matelah-telah, gelah anak sebel, banten nebus baya, banten makaladengen. Ika kabeh tan wenang, yan pingit sang dumadi tan urung kasangkalan.
Artinya :
Masih ada hal yang harus dilaksanakan kalau merawat orang hamil, siapa tahu bayi yang akan lahir pingit, kalau semua makanan yang cuntaka tidak boleh dimakan oleh orang hamil, seperti layudan banten matelah-telah dan sejenisnya itu tidak boleh dimakan. Kalau bayinya pingit dapat menemui halangan. (Lontar

Baberatan Wong Beling, hal.5) 

Di samping itu yang penting juga harus diperhatikan oleh ibu hamil adalah jangan makan makanan yang pedas karena makanan pedas tidak baik untuk bayi. Begitu juga kalau sudah lahir semasih menyusui bayi juga tidak boleh makan makanan yang pedas.

Yan ngemong wong beling, aja amangan madaging papedes, ila kojarnia. Ika papedes magawe gering sang rare, yania sampun lekad sang rare kwela kari masusu, aja amangan, agung pamirusania.
Artinya :
Kalau menjaga kehamilan, hendaknya jangan makan makanan yang pedas, Tidak baik untuk janin. Makan makanan pedas membuat sang janin sakit, Walaupun sudah lahir namun kalau masih menyusui, juga jangan makan makanan yang pedas, sangat besar halangan yang ditemui.
(Lontar Baberatan Wong Beling, hal.6) 

Kalau disimak kutipan di atas, bahwa kalau mau berobat ke dukun hendaknya cari tahu tentang silsilah atau kegiatan tata cara pengobatan yang dilakukan oleh dukun tersebut.  Sebelum berobat ke dukun hendaknya dipertimbangkan terlebih dahulu dan dipikirkan secara matang sehingga mendapatkan cara pengobatan yang benar.

Terdapat beberapa ajaran yang patut ditaati oleh manusia khususnya bagi mereka yang merawat kehamilan. Agama, yaitu untuk menjaga ketertiban dunia, Bhudagama adalah ajaran tentang kesehatan (dadi usadaning gumi), Adhigama adalah ajaran tentang pembersih alam semesta (pratistaning gumi), Purwagama adalah ajaran tentang etika. Ajaran tersebut wajib ditaati oleh orang yang sedang hamil dan dalam menjaga kehamilan.

Dalam uraian berikutnya juga diulas tentang tatacara menanam ari-ari apabila si bayi sudah lahir. Jika bayinya laki-laki, tanamlah ari-ari itu di sebelah kanan pintu rumah dibekali lontar dengan rerajahan aksaranya Ong, Ong, Ang, Ang diucapkan tiga kali, ari-arinya ditanam oleh orang laki-laki. Kalau bayinya wanita, ari-arinya ditanam di sebelah kiri pintu rumah dengan dibekali daun lontar dengan rerajahan aksaranya Ong, Ong, Ung, Ung diucapkan tiga kali dan wanita yang menanam ari-arinya.

Jika bayi sudah lepas tali pusatnya, maka tali pusat tersebut ditaruh dalam ketupat, dan setelah berumur 105 hari wajib dibuatkan upacara tiga bulanan (nyambutin).

Kembali dijelaskan dalam merawat orang hamil, pantang melihat orang meninggal karena bunuh diri, dan juga jangan melihat orang yang sedang mengamuk. Suatu hal yang penting juga dilakukan adalah doa terhadap sang catur sanak untuk ikut menjaga saudaranya. Untuk menjaga si bayi dan ibunya dianjurkan untuk memuja Dewata Nawa Sanga dengan mengucapkan mantra Ong Sa, Ba,Ta, A, I, Na, Ma, Si, Wa, Ya.


Sumber

Dr. Dra. Ni Nengah Selasih, M. Pd.
Dra. Ni Wayan Arini, M. Ag.
I Gusti Ngurah Agung Wijaya Mahardika, S.Pd., M.Pd.



Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Baca Juga