rwa bhineda

Kajian Lontar Tegesing Warah Rwa Bhineda Tan Pasastra


Pralina Pati – Mencapai Kebebasan

Doktrin tertinggi dari Tegesing Warah Rwa Bhineda Tan Pasastra dirancang khusus sebagai sekoci penyelamat untuk menghadapi pralina pati (kematian fisiologis definitif dan disintegrasi ego). Lontar ini menawarkan pandangan eskatologi yang sangat progresif pada zamannya. Teks menolak pandangan determinisme fatalistis bahwa keselamatan arwah bergantung sepenuhnya pada kemegahan dan durasi ritus Ngaben yang dieksekusi oleh keturunannya di alam sekala. Keselamatan sejati, menurut naskah ini, ditentukan oleh kelihaian sang praktisi dalam melakukan rekayasa spiritual di detik-detik sakaratul maut.

Lontar ini mendeskripsikan secara teknis dan berurutan bagaimana seorang individu mempraktekkan pralina pati :

Pertama, pada saat pernapasan mulai kolaps, praktisi tidak boleh membiarkan kesadarannya dihantui ketakutan, melainkan harus secara proaktif menarik panca indranya. Ia memerintahkan esensi Ibu (mata kiri) untuk menyusup ke dalam diri esensi Ayah (mata kanan) dan memusatkan penyatuan ini di bagian dalam dahi (Ajna). Titik ini merepresentasikan keruntuhan ilusi Rwa Bhineda, di mana dualitas duniawi hancur kembali menjadi singularitas murni.

Kedua, setelah memusat di dahi, dengan menggunakan kekuatan konsentrasi terakhir, Atma dihantarkan mendaki Kuranta Bolong menuju ke kedalaman lobus otak (Bumi Patimah), tempat kediaman Sang Hyang Tunggal.

Ketiga, Sang Hyang Atma dengan sengaja disusupkan dan dilebur ke dalam pilar cahaya intan Bhatara Tunggal. Individu empiris kehilangan identitas karmiknya yang fana dan kini mengenakan jubah universal Sang Pencipta.

Keempat, dari posisi ini, kesadaran didorong keluar secara tegak lurus melesat melewati usehan (ubun-ubun atau mahkota kepala).

Lontar ini juga membongkar anatomi rahasia arah kehidupan, mengklaim bahwa jalur sushumna lurus yang menembus hingga pangkal bawah tubuh (pasta/alat kelamin) adalah jalan turunnya kehidupan yang mengikat pada penjelmaan, sementara jalan yang membumbung ke ubun-ubun adalah gerbang absolut pembebasan (moksha) ke Sunya. Apabila berhasil keluar melalui mahkota, roh tidak akan terseret hukum punarbhawa.

Yang paling revolusioner dari bagian eskatologi ini adalah kritik sosiologis-agamawinya terhadap struktur hierarki wangsa (sistem kasta) dan privilese golongan dalam masyarakat feodal masa lampau. Teks ini dengan berani mengklaim :

“Jika seorang brahmana mengetahui ajaran ini, brahmana tersebut akan kembali mewujud bagaikan pendeta suci yang bebas dari duka (Mpu Dahyang Asoka). Walaupun ia dari kalangan wangsa ksatria atau kalangan istana, jika paham akan ajaran ini, ia pun kembali mewujud bagaikan pendeta suci yang bebas dari duka”.

Penegasan ini membongkar monopoli keselamatan oleh golongan Brahmana kelahiran darah. Menjadi penganut ajaran Tan Pasastra memberikan derajat Mpu Dahyang Asoka (pembebas yang terlepas dari penderitaan ilusi samsara) kepada siapa saja, terlepas dari latar belakang sosialnya, selama ia mampu menata tata letak Rare Cili, menguasai lorong Isadumaya, dan merengkuh Bumi Patimah di dalam raganya.

Teks ini juga menegaskan batas etis dari pengetahuan esoteris tersebut. Pengetahuan tentang cara membuka kunci kematian dan menghentikan reinkarnasi tidak memberikan justifikasi bagi antinomianisme (penolakan terhadap hukum moral yang berlaku di masyarakat empiris).

Lontar memberi peringatan tegas :

“Janganlah berbuat buruk, karena kamu telah mengetahui rahasia keluar masuknya Sang Hyang Atma, serta perumpamaan sarung keris yang masuk ke dalam keris, dan keris yang masuk ke dalam sarungnya”.

Mengetahui jalur ini secara gaib justru mewajibkan sang praktisi memelihara Dharma, karena perilaku menyimpang akan menimbulkan sumbatan karmik yang mencemarkan telaga Windu, yang mengakibatkan keris tidak akan menemukan sarungnya saat ajal menjelang, dan Atma akan gagal mereplikasi proses peleburan, terjebak kembali dalam siklus penderitaan di mercapada.



HALAMAN TERKAIT
Baca Juga