- 1Asal-Usul Penciptaan (Brahmana & Ksatriya)
- 2Pembagian Siwa-Buda (Gagak Aking & Bubuksah)
- 3Hukum Tatanan Wangsa (Varnashrama)
- 4Tanda-Tanda Zaman Kaliyuga (Zaman Kerusakan)
- 5Ritual Homa Raja Wisesa
- 6Pelanggaran dan Hukuman (Hukum Karma)
- 7Pantangan Makanan bagi Kaum Suci
- 8Kisah Sri Walkanaya (Pelajaran tentang Keangkuhan)
- 9Ringkasan dari Sastra Brahma Wangsa Tatwa
- 101. Aturan Perubahan Status Wangsa (Kasta)
- 112. Pelanggaran Hukum dan Sanksi (Danda)
- 123. Kriteria Cacat Wiku (Diskualifikasi Pendeta)
- 134. Pantangan Makanan dan Kesucian (Aharasuddhi)
- 145. Prediksi Kondisi Zaman Kaliyuga
- 15Teks Sastra Tatwa Brahma Wangsa
- 16Translasi Tatwa Brahma Wangsa Sastra
Ringkasan dari Sastra Brahma Wangsa Tatwa
1. Aturan Perubahan Status Wangsa (Kasta)
Teks ini menjelaskan bahwa status seseorang tidaklah absolut selamanya, namun bisa berubah melalui proses perkawinan yang konsisten selama beberapa generasi.
| Kondisi Perkawinan | Durasi/Syarat | Hasil Akhir |
| Ksatriya mengambil istri Brahmani | Konsisten selama 5 generasi | Keturunannya kembali menjadi Brahmana (Brahmana Wangsa Predana). |
| Brahmana mengambil istri Ksatriya | Konsisten selama 7 generasi | Status kebrahmanannya hilang, menjadi Ksatriya Wangsa. |
| Brahmana/Ksatriya dijual/dibeli oleh Sudra | Seketika | Status wangsa luhurnya putus, menjadi keturunan Sudra selamanya. |
| Sudra mengambil istri Ksatriya | Secara sah & disetujui raja | Anaknya disebut Becici atau Sang Gede. |
| Brahmana mengambil istri Sudra | – | Anaknya disebut Bujangga. |
2. Pelanggaran Hukum dan Sanksi (Danda)
Hukum dalam sastra ini sangat ketat, bertujuan untuk menjaga kesucian tatanan sosial (Varnashrama).
| Jenis Pelanggaran | Pelaku | Sanksi / Hukuman |
| Menghina/Memfitnah Brahmana | Sudra | Hukuman mati (Danda Pati) atau lidahnya dipotong. |
| Zinah/Meniduri Istri Raja | Brahmana Walaka | Dihanyutkan ke samudra (Kakelemang). |
| Meniduri Wanita Brahmana | Sudra | Hukuman mati, mayatnya dihanyutkan ke laut (tidak boleh diupacarai). |
| Meniduri Wanita Brahmana | Ksatriya (tanpa pasukan) | Dibuang/diasingkan dari wilayah negara. |
| Membela Sudra yang Bersalah | Raja/Pemimpin | Negara akan rusak, tertimpa kutukan (Pastu) dari Dewa. |
| Pendeta Palsu/Ingkar Janji | Wiku | Atma-nya disiksa di neraka, diikat di pohon Curiga (keris). |
3. Kriteria Cacat Wiku (Diskualifikasi Pendeta)
Seorang pendeta (Wiku/Sadhaka) haruslah sempurna secara fisik, mental, dan spiritual. Jika tetap memaksakan diri memimpin upacara dalam kondisi cacat, dunia akan tertimpa bencana.
Cacat Fisik & Penyakit :
- Kusta (Mala/Ila), Lumpuh (Rumpuh), Gondok, atau Buta sebelah/Peceng.
- Penyakit ingatan (Gila/Edan) atau Ayan (Epilepsi).
- Cacat bawaan seperti cebol atau bungkuk.
Cacat Moral & Perilaku :
- Loba : Serakah terhadap harta benda.
- Brangti : Pemarah dan tidak bisa mengendalikan emosi.
- Iri Hati : Selalu mendengki kesuksesan orang lain.
- Corah : Melakukan tindakan asusila (berhubungan dengan wanita walaka).
4. Pantangan Makanan dan Kesucian (Aharasuddhi)
Kesaktian seorang Brahmana sangat bergantung pada apa yang ia konsumsi.
- Dilarang Keras : Memakan daging babi rumahan, meminum arak/minuman keras, menghisap candu (narkotika), dan memakan daging binatang yang dianggap kotor.
- Larangan Sosial : Memakan makanan yang dimasak oleh wanita yang sedang menstruasi (Ngeraja Sewala).
- Konsekuensi : Melanggar pantangan ini akan menghancurkan seluruh ilmu sastra dan mantra yang telah dipelajari (Weda Mantra tan malih sidi).
5. Prediksi Kondisi Zaman Kaliyuga
Sastra ini memberikan peringatan tentang masa di mana tatanan dunia terbalik (Alikan Jagat).
- Inversi Sosial : Kaum Sudra berlagak menjadi penguasa, orang awam merasa lebih pintar dari pendeta suci.
- Bencana Alam : Matahari terasa sangat panas, muncul wabah penyakit aneh yang menyebar melalui udara, makanan, dan minuman.
- Krisis Spiritual : Doa dan mantra tidak lagi manjur karena orang yang mengucapkannya tidak memiliki kesucian hati.
- Kekacauan Politik : Para raja/pemimpin saling bermusuhan, peperangan terjadi di mana-mana karena sifat angkara murka.
Teks ini ditutup dengan pesan bahwa Brahmana dan Ksatriya adalah dua pilar yang harus menjaga dunia. Brahmana menjaga dengan doa dan sastra, Ksatriya menjaga dengan hukum dan pedang. Jika keduanya melenceng dari ajaran Brahma Wangsa Tatwa ini, maka jagat raya akan mengalami kehancuran (Rogha Sanghara Bhumi).













