Sastra Tattwa Brahma Wangsa

Sastra Tattwa Brahma Wangsa – Panduan Menjaga Tatanan Suci Bali


Sastra Tatwa Brahma Wangsa adalah panduan agar masyarakat Bali (dan manusia pada umumnya) tetap menjaga tatanan suci. Brahmana dikatakan harus tetap suci dengan sastranya, Ksatriya harus tegas dengan kepemimpinannya, dan semua golongan harus waspada terhadap godaan zaman Kaliyuga yang merusak moral dan alam.

Sastra Tattwa Brahma Wangsa kitab yang sangat mendalam karena mencakup teologi (ketuhanan), sosiologi (tatanan kasta/wangsa), hukum (dharma), hingga eskatologi (prediksi masa depan/Kaliyuga).

Berikut adalah translasi dan penjabaran lengkap poin-demi-poin sesuai dengan urutan naskah tersebut :

Asal-Usul Penciptaan (Brahmana & Ksatriya)

Diceritakan bahwa Bhatara Brahma melakukan yoga semadi yang utama untuk menciptakan putra yang akan menjadi pemimpin (mangala) di dunia dan menjadi dasar pemujaan kepada Sang Hyang Widhi.

  • Putra Pertama (Brahmana) : Lahir dari asap dan api yang keluar dari raga Brahma, menuju Telaga Noja, menjelma menjadi sebuah bejana manik (Jun Manik) berisi air suci Tirtha Amandalu. Melalui kekuatan aksara suci Ong Kara Sandi, lahirlah seorang anak yang diberi gelar Bhatara Dwijendra. Beliau bertugas menyucikan dunia.
  • Putra Kedua (Ksatriya) : Lahir melalui yoga Brahma yang menghasilkan api dari tangannya, juga menuju Telaga Noja. Dari sana lahir sepasang putra-putri sakti yang diberi gelar Ida Bhagawan Ratna Bumi atau Bhagawan Indraloka. Mereka bertugas memerintah dunia (ngambel jagat).
  • Pesan Moral : Brahmana dan Ksatriya adalah saudara yang tidak boleh terpecah (paras-poros). Jika mereka bersatu, jagat akan rahayu (selamat).

 

Pembagian Siwa-Buda (Gagak Aking & Bubuksah)

Bhatara Dwijendra memiliki dua keturunan sakti yang melakukan tapa berat di Gunung Rengga Ratna Maya :

  • Sang Gagak Aking : Bertapa di puncak gunung (memuja langit/Akasa). Beliau dianugerahi sebagai Brahma Siwa.
  • Sang Bubuksah : Bertapa di kaki gunung (memuja bumi/Pertiwi). Beliau dianugerahi sebagai Brahma Wangsa Buda.
  • Inilah asal mula tradisi Siwa-Buda di tanah Jawa (Keling) dan Majapahit yang menjadi pilar spiritual.

Hukum Tatanan Wangsa (Varnashrama)

Sastra ini menjelaskan aturan ketat mengenai status sosial :

  • Perkawinan Naik/Turun Status :
    • Seorang Ksatriya yang menikahi wanita Brahmana, jika keturunannya terus melakukan hal yang sama selama 5 generasi, maka mereka kembali menjadi Brahmana.
    • Seorang Brahmana yang menikahi wanita Ksatriya selama 7 generasi berturut-turut akan turun statusnya menjadi Ksatriya.
  • Kehilangan Wangsa : Jika seorang Brahmana “menjual diri” atau dibeli oleh kasta Sudra, atau menjadi pelayan, maka secara spiritual ia dianggap “mati” dan status Brahmananya dicabut.
  • Syarat Menjadi Wiku (Pendeta) : Seseorang tidak boleh menjadi pendeta jika memiliki cacat tubuh (kusta, lumpuh, buta, dll) atau cacat mental (loba, pemarah, iri hati). Jika Wiku cacat memimpin upacara, maka upacara tersebut tidak sah dan tidak dapat menyucikan atma.
  • Pantangan Walaka (Brahmana belum dikukuhkan) : Seorang keturunan Brahmana dilarang melakukan pekerjaan kasar seperti menjadi tukang emas, tukang bangunan, atau jagal hewan. Jika dilakukan, ia dianggap “mati” meskipun masih bernapas.

Tanda-Tanda Zaman Kaliyuga (Zaman Kerusakan)

Kitab ini memberikan nubuat tentang masa depan yang gelap :

  • Inversi Peran : Orang Sudra berlagak jadi raja, orang awam yang tidak paham sastra berlagak jadi pendeta.
  • Alam Rusak : Suhu bumi menjadi panas, hama tikus merajalela merusak padi, banjir besar di mana-mana.
  • Moralitas Runtuh : Saudara saling bermusuhan, mantra dan doa kehilangan kesaktiannya, para Dewa kembali ke kahyangan karena dunia terlalu kotor oleh perilaku manusia yang corah (jahat).
  • Solusi : Dalam kondisi ini, pemimpin dunia (Raja/Pemerintah) wajib melakukan pemujaan Suryasewana (pemujaan matahari) dan melakukan upacara Bhumisudha untuk meredam bencana.

Ritual Homa Raja Wisesa

Diceritakan Raja Sri Banoraja dan Sri Dharma Wikrama menjalankan ritual Homa Raja Wisesa. Ini adalah ritual pembersihan skala besar yang melibatkan tiga unsur : Brahmana Siwa, Brahmana Buda, dan Ksatriya Putus.

  • Ritual ini menggunakan api suci untuk membakar segala kotoran dunia (mala). Hasilnya, segala penyakit (edan, lumpuh, busung lapar, dll) sembuh seketika tanpa obat, karena kekuatan yoga dari ketiga pemimpin spiritual tersebut.

Pelanggaran dan Hukuman (Hukum Karma)

  • Penghinaan terhadap Pendeta : Jika ada seorang Sudra yang memfitnah atau menghina asal-usul seorang Brahmana/Wiku, orang tersebut harus dihukum berat (diasingkan atau dihukum mati dalam hukum kuno). Jika pemimpin tidak menghukumnya, maka pemimpin tersebut akan dikutuk oleh Dewa.
  • Penyalahgunaan Jabatan : Wiku yang hanya mengejar harta, menyombongkan kepintaran, atau meminjam uang tapi tidak membayar, disebut Wiku Abrata Baka (Pendeta Gadungan). Di akhirat, atma mereka akan disiksa di kawah neraka.

Pantangan Makanan bagi Kaum Suci

Seorang pendeta atau orang yang sedang menempuh jalan spiritual dilarang :

  • Memakan makanan sisa atau makanan yang dimasak oleh wanita yang sedang menstruasi.
  • Memakan daging babi rumahan atau binatang yang dianggap kotor.
  • Meminum minuman keras (arak/tuak) dan menghisap candu (narkotika), karena hal itu akan menghancurkan seluruh ilmu sastra dan kesucian yang ada dalam dirinya.

Kisah Sri Walkanaya (Pelajaran tentang Keangkuhan)

Terdapat sisipan cerita tentang Raja Sri Walkanaya yang sangat sakti namun sombong. Ia ingin melamar Dewi Puspa Arum, namun karena sombong, ia justru kalah oleh kekuatan panah sakti sang Dewi yang diberkati oleh Dewa Semara dan Dewa Bayu. Ini adalah peringatan bagi para pemimpin agar tidak menyalahgunakan kekuasaan.


Teks Oleh :

Ida Bagus Bajra
Griya Gunung, Payangan, Gianyar


Baca Juga