taksu pragina penari bali

Taksu Pragina Penari – Esensi Spiritualitas pada Seni Budaya Bali


Taksu Pragina Penari Bali adalah sebuah fenomena yang merangkum esensi spiritualitas Hindu Bali, bahwa manusia, seni, dan Tuhan adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan (Manunggal).

Dalam topografi kebudayaan Bali yang padat akan simbolisme, seni pertunjukan tidak pernah hadir sebagai entitas estetika yang otonom atau sekadar hiburan profan. Taksu teranyam secara intrinsik dalam struktur ritual, bertindak sebagai jembatan metafisik yang menghubungkan sekala (alam nyata/material) dan niskala (alam tak kasat mata/spiritual). Di jantung interseksi antara gerak tubuh, bunyi, dan keilahian ini, bersemayam sebuah konsep yang menjadi “jiwa” dari seluruh praktik kesenian Bali.

Secara permukaan, Taksu sering diterjemahkan oleh pengamat luar sebagai “karisma,” “bakat panggung,” atau presence. Namun, reduksi semantik ini gagal menangkap esensi teologis dan magis yang dipahami oleh masyarakat Hindu Bali.

Taksu merupakan suatu manifestasi energi kosmis dari Sesuhunan kepada pragina yang telah menyerahkan egonya melalui laku Ngayah dan Ngiring.

Dalam Hindu Bali, setiap profesi memiliki dewa pelindung dan sumber energinya sendiri. Bagi seorang penari, pencarian Taksu adalah sebuah yatra (perjalanan ziarah) batin. Ia bukan sesuatu yang dapat dipelajari di konservatori atau dilatih di depan cermin semata; ia adalah “anugrah” yang dapat “diminta” (nunas) melalui ritual spesifik dan dipertahankan melalui kemurnian etika. Keberadaan Taksu mengubah tubuh penari yang fana menjadi wadah (medium) bagi keindahan ilahi (Sundaram), memungkinkan audiens untuk merasakan getaran yang melampaui visual, sebuah sensasi “merinding” yang menandakan kehadiran energi niskala.

Artikel ini menyajikan mengenai anatomi spiritual Taksu, menelusuri akarnya pada teologi Sang Hyang Taksu Agung, mekanisme ritual Nunas Taksu, hingga dialektika antara pelestarian nilai sakral dan tekanan komodifikasi pariwisata modern. 

Untuk memahami bagaimana Taksu bekerja, kita harus terlebih dahulu memetakan posisi teologisnya dalam pantheon Hindu Bali. Taksu bukanlah energi liar atau sihir hitam; ia adalah bagian integral dari sistem ketuhanan yang terstruktur.

Sang Hyang Taksu Agung

Dalam struktur teologi Hindu Bali, Ida Sang Hyang Widhi Wasa bermanifestasi ke dalam berbagai bentuk sesuai dengan fungsinya. Manifestasi yang secara spesifik menaungi kekuatan profesi, kecerdasan artistik, dan daya pikat magis adalah Sang Hyang Taksu Agung.

Para agamawan dan sulinggih (pendeta) mendeskripsikan Sang Hyang Taksu Agung sebagai sumber dari segala kreativitas dan intelektualitas yang “menghidupkan” sebuah karya. Istilah “Hyang” sendiri merujuk pada keberadaan spiritual yang luhur, entitas ilahi yang bercahaya dan memiliki kuasa supranatural, yang dalam konteks Austronesia kuno dan Jawa Kuno sering dikaitkan dengan leluhur atau kekuatan alam tertinggi.

Secara spesifik, Taksu dipercaya sebagai energi yang memberikan “kewibawaan profesional.” Meskipun laporan ini berfokus pada penari, penting untuk dicatat bahwa dalam sosiologi Bali, Taksu adalah elemen universal yang diperlukan oleh sepuluh golongan profesi (Dasa Guna), yang meliputi :

Kategori Guna (Profesi) Manifestasi Fungsi Taksu
Guna Pragina Penari, pemusik, dalang. Taksu memberikan daya pikat panggung dan kemampuan menghipnotis audiens.
Guna Sonteng/Pemangku Pemimpin ritual. Taksu memberikan kekuatan pada mantra yang diucapkan agar sampai ke tujuan.
Guna Balian Pengobat tradisional. Taksu memberikan intuisi diagnostik dan kekuatan penyembuhan (Siddhi).
Guna Sangging Seniman patung/undagi. Taksu memberikan “jiwa” pada benda mati yang dipahat.
Guna Sastra Penulis, pujangga. Taksu memberikan inspirasi dan kejernihan narasi.

Bagi seorang pragina, Sang Hyang Taksu Agung bukan sekadar konsep abstrak, melainkan entitas personal yang dipuja setiap hari. Pelinggih (bangunan suci) untuk Sang Hyang Taksu biasanya terletak di Sanggah atau Merajan (pura keluarga), menandakan bahwa sebelum seorang seniman mencari pengakuan publik, ia harus terlebih dahulu memiliki “restu” domestik dari kekuatan ilahi yang bersemayam di rumahnya sendiri.

Hubungan dengan Anugrah Sesuhunan

Inti dari kekuatan magis penari Bali terletak pada hubungannya dengan Sesuhunan. Istilah Sesuhunan (dari kata suhun, menjunjung di atas kepala) merujuk pada dewa-dewa atau roh suci yang disakralkan dan bersemayam dalam tapakan (simbol fisik) seperti topeng Barong, Rangda, atau Gelungan (mahkota tari) di pura.

Hubungan antara penari dan Sesuhunan bersifat transaksional-spiritual, yang didasari oleh konsep Ngayah. Ngayah adalah pelayanan tulus ikhlas tanpa pamrih material yang dipersembahkan kepada Tuhan dan komunitas.

  • Mekanisme Anugrah : Ketika seorang penari melakukan ngayah — menari di pura bukan untuk bayaran, tetapi sebagai persembahan (Yadnya) — ia secara efektif menyerahkan tubuh dan egonya kepada Sesuhunan.
  • Resiprositas Energetik : Sebagai balasan atas penyerahan diri total ini, Sesuhunan “turun” dan menganugerahkan percikan energi-Nya ke dalam diri penari. Energi inilah yang disebut Taksu.

Tanpa koneksi dengan Sesuhunan, tarian dianggap hanya sebatas gerakan fisik. Sebaliknya, dengan anugrah Sesuhunan, seorang penari yang secara fisik mungkin tua atau tidak sempurna, dapat memancarkan aura yang membuat penonton terpaku, fenomena yang sering dijelaskan sebagai “kecantikan yang bukan berasal dari wajah, tapi dari dalam”.

Wadah bagi Sang Taksu

Sebelum Taksu dapat bersemayam, “wadah” fisiknya harus dipersiapkan. Teologi Hindu Bali mengajarkan bahwa energi suci tidak akan memasuki tempat yang kotor atau tidak siap. Oleh karena itu, pelatihan teknis seorang penari Bali sesungguhnya adalah bentuk disiplin asketis untuk menyiapkan tubuh menerima kehadiran magis.

Trinitas Wiraga, Wirama, Wirasa

Sistem pedagogi tari Bali mengenal tiga pilar utama yang harus dikuasai sebelum seorang penari bisa berharap mendapatkan Taksu. Ketiga aspek ini membangun struktur yang memungkinkan energi Taksu mengalir tanpa hambatan.

  1. Wiraga (Olah Tubuh) : Ini mencakup penguasaan Agem (sikap dasar yang menyiratkan karakter), Tandang (gerakan transisi/berjalan), dan Tangkep (ekspresi wajah). Agem adalah kunci; ia bukan sekadar pose diam, melainkan sikap “siaga energi.” Posisi jari, kelengkungan tulang punggung, dan kuda-kuda kaki dirancang untuk memanipulasi aliran Prana (energi vital) dalam tubuh. Jika Wiraga seorang penari lemah, Taksu tidak memiliki landasan untuk berpijak.
  2. Wirama (Olah Irama) : Hubungan penari dengan gamelan bersifat organik. Wirama bukan sekadar menari sesuai ketukan, tetapi menyatu dengan “napas” gamelan. Dalam konsep Tetekep, penari dan pemusik saling mengunci energi. Ketika sinkronisasi ini mencapai titik sempurna, terciptalah harmoni yang membuka gerbang persepsi audiens.
  3. Wirasa (Olah Rasa) : Ini adalah tingkatan tersulit dan pintu gerbang langsung menuju Taksu. Wirasa adalah kemampuan untuk menjiwai karakter sampai pada titik di mana identitas pribadi penari lebur. Penari tidak lagi “berpura-pura” menjadi Sinta atau Rahwana; ia menjadi karakter tersebut secara emosional dan spiritual.

Seledet dan Pancaran Magis

Salah satu indikator fisik paling jelas dari kehadiran Taksu adalah pada mata (Mata). Dalam teknik tari Bali, gerakan mata yang disebut Seledet (gerakan bola mata yang tajam dan cepat ke sudut) bukan sekadar teknik motorik.

  • Sorot Mata : Para maestro tari menegaskan bahwa Taksu pragina Penari sering kali pertama kali terlihat dari sorot mata penari. Mata seorang penari yang metaksu (memiliki taksu) memiliki kualitas “tajam namun hening,” mampu menangkap dan menahan perhatian ratusan penonton sekaligus.
  • Jendela Jiwa : Mata dianggap sebagai saluran keluar energi. Ketika Sesuhunan memberikan anugrah, energi tersebut memancar keluar melalui mata penari, menciptakan sensasi intimidasi suci atau keindahan yang mengharukan bagi yang memandangnya.

Mekanisme Memperoleh Kekuatan Magis

Mendapatkan Taksu bukanlah proses pasif. Ia menuntut inisiatif spiritual aktif yang disebut Nunas Taksu (memohon Taksu). Proses ini melibatkan serangkaian ritual yang rumit, penggunaan mantra sakral, dan ziarah ke tempat-tempat kekuatan (power spots).

Bagi seorang calon pragina yang serius, langkah pertama dalam perjalanan spiritualnya adalah upacara Mawinten. Ritual ini adalah inisiatif penyucian diri secara lahir dan batin, menandai transisi seseorang dari orang biasa menjadi seorang “pelayan keindahan”.

  • Etimologi dan Makna : Kata Mawinten berasal dari Winten (intan/berlian). Filosofinya adalah memohon agar diri seseorang menjadi “bersinar” dan “bening” layaknya intan, mampu memantulkan cahaya ilahi. Selain itu, Mawinten juga dikaitkan dengan Bhatara Hyang Guru dan Dewi Saraswati (dewi pengetahuan dan seni).
  • Prosesi : Ritual ini biasanya dipimpin oleh seorang Sulinggih (pendeta utama) atau Pemangku. Calon penari akan menjalani proses merajah (penulisan aksara suci) pada bagian tubuh tertentu—lidah (untuk kekuatan suara/mantra), kening (untuk pikiran/imajinasi), dan dada (untuk perasaan). Tujuannya adalah membuka simpul-simpul energi agar reseptif terhadap energi Taksu.
  • Implikasi : Setelah Mawinten, seorang penari terikat pada kode etik spiritual (Sesana). Ia tidak boleh lagi sembarangan menggunakan tubuhnya, karena tubuhnya kini telah disucikan sebagai wadah seni.

Ritual memohon Taksu tidak berhenti pada inisiasi; ia adalah praktik harian. Sebelum pementasan, penari melakukan ritual persiapan seperti :

  • Banten Pejati : Sarana utama dalam memohon Taksu adalah Banten Pejati. Pejati (dari kata Jati = sungguh-sungguh) melambangkan kesungguhan hati penari dalam mempersembahkan karyanya. Banten ini terdiri dari Daksina, Ketipat Kelanan, dan Canang Sari, yang dipersembahkan kepada Sang Hyang Taksu.
  • Mantra Penganugerahan : Teks-teks lontar seperti Mandala Kalangwan memuat mantra spesifik yang diucapkan penari untuk memanggil Taksu. Berikut adalah mantra kuncinya :
Mantra (Transliterasi) Terjemahan Bebas & Makna Teologis

“Om Anugraha manoharam dewadata nugrahakam arcanam sarwa pujanam…”

“Ya Tuhan, anugerahkanlah daya pikat yang mempesona, anugrah dari dewata…” Mantra ini secara spesifik meminta Manohara (daya pikat hati) yang bersifat ilahi, bukan duniawi.
“Om Sri Pasupati hum phat ya namah swaha” Digunakan saat memohon Tirtha Taksu atau Bija. Memanggil energi Dewa Pasupati (aspek Siwa yang menghidupkan) untuk “menghidupkan” aura penari.
“Om Ing Isana ya namah” (Ring Sirah/Kepala) Mantra saat memasang Bija (beras suci) di kening. Memohon agar Dewa Isana menyucikan pikiran dan fokus penari.

 

Pasupati Atribut : Selain tubuh, atribut tari seperti topeng dan gelungan juga harus melalui ritual Pasupati untuk diisi energi. Ketika penari mengenakan topeng yang telah dipasupati, diyakini terjadi penyatuan antara roh topeng dan roh penari, menciptakan entitas baru yang karismatik di panggung.

Sebelum pementasan besar atau ritual sakral, penari melakukan Melukat. Ini adalah mandi ritual di sumber mata air suci (Beji) atau laut.

Fungsi : Membersihkan Mala (kekotoran spiritual) dan aura negatif yang mungkin menempel dari interaksi sosial sehari-hari. Melukat diyakini “menolkan” kembali kondisi batin penari, membuatnya tenang dan jernih, sehingga Taksu dapat masuk dengan leluasa. Penari yang pikirannya “kotor” atau kacau diyakini akan sulit metaksu karena frekuensi energinya tidak selaras dengan Sesuhunan.

Tempat Memohon Taksu

Dalam kepercayaan Hindu Bali, meskipun Tuhan ada di mana-mana, terdapat titik-titik simpul energi tertentu di lanskap pulau Bali yang diyakini memiliki konsentrasi energi Taksu yang lebih padat. Para seniman melakukan perjalanan suci ke pura-pura ini untuk Nunas Taksu.

Pura Dalem 

Setiap Desa Adat memiliki Pura Dalem masing-masing yang memiliki kekuatan magis,  yang menjadi tujuan utama (“kiblat”) bagi mereka yang ingin memohon Taksu khusus.

Pura Dalem bukan sekadar tempat yang menakutkan atau identik dengan kematian. Ia adalah sumber energi transformasi yang luar biasa. Bagi masyarakat Bali, datang ke Pura Dalem untuk nunas taksu adalah wujud kerendahan hati—pengakuan bahwa setinggi apapun kemampuan manusia, “nyawa” dari kemampuan tersebut tetaplah milik Tuhan yang Maha Kuasa.

Pura Luhur Taksu Agung (Jatiluwih)

Salah satu situs bagi pencari Taksu adalah Pura Luhur Taksu Agung yang terletak di kawasan warisan budaya dunia Jatiluwih, Tabanan. Pura ini berada dalam klaster Catur Angga Batukaru, yang menjaga keseimbangan spiritual Bali bagian barat.

Pura ini memiliki sejarah panjang yang terkait dengan perjalanan Rsi masa lampau. Sesuai namanya, pura ini secara spesifik didedikasikan sebagai stana Ida Bhatara yang berwenang membagikan Taksu. Tidak hanya penari, tetapi juga pejabat dan profesional datang ke sini untuk memohon karisma kepemimpinan.

Terletak di kaki Gunung Batukaru dengan alam yang masih asri, suasana hening di pura ini mendukung proses meditasi (Yoga) yang diperlukan untuk menyerap energi Taksu. Ritual di sini sering melibatkan persembahan Pewintenan khusus dan pengambilan air suci (Tirta Taksu) yang kemudian dipercikkan ke tubuh dan alat kesenian.

Pura Ulun Kulkul (Besakih)

Di kompleks Pura Agung Besakih, pura terbesar di Bali, terdapat Pura Ulun Kulkul.

  • Simbolisme Kulkul : Kulkul (kentongan kayu) adalah alat komunikasi tradisional yang suaranya mampu mengumpulkan dan menggerakkan massa. Secara metaforis, Pura Ulun Kulkul adalah tempat memohon Taksu “suara” dan “pengaruh.”
  • Relevansi bagi Pragina : Bagi penari yang juga menggunakan vokal (seperti penari Arja, Prembon, atau Dalang), memohon Taksu di sini sangat penting. Mereka memohon agar suara mereka memiliki gema (kumbang atau getar) yang mampu menyentuh hati pendengar, layaknya suara Kulkul yang memanggil warga.
Pura Taman Beji dan Koneksi Air

Banyak desa adat memiliki Pura Taman Beji (pura mata air) yang spesifik. Contohnya, Pura Taman Beji Cengana, yang dikenal sebagai tempat memohon Tirta Taksu. Air (Tirta) adalah medium penghantar energi paling utama dalam Hindu Bali. Air dari pura-pura ini dibawa pulang, dipercikkan ke pakaian tari, gamelan, dan diminum oleh penari sebagai bentuk internalisasi kekuatan magis secara fisik.

Metaksu vs. Kerauhan

Sering terjadi kesalahpahaman yang menyamakan kondisi Metaksu (berkarisma tinggi) dengan Kerauhan (kerasukan/trance). Meskipun keduanya melibatkan interaksi dengan alam niskala, terdapat perbedaan ontologis dan psikologis yang mendasar yang perlu dipahami secara akademis.

Psikologi Metaksu : Kesadaran yang Meninggi

Seorang penari yang sedang Metaksu tidak kehilangan kesadarannya. Sebaliknya, ia berada dalam kondisi kesadaran yang meluas (heightened awareness).

  • Peniadaan Ego (Self-Abnegation) : Penari “menjatuhkan” topeng kepribadian sehari-harinya dan mengizinkan energi karakter dan dewa untuk mengalir melaluinya. Ini paralel dengan konsep psikologi Barat tentang Flow State, di mana pelaku menyatu sepenuhnya dengan tindakan, namun tetap memegang kendali volisional atas tubuhnya.
  • Pengalaman Internal : Para penari mengungkapkan adanya sensasi perasaan ringan pada tubuh, dan hilangnya rasa lelah. Mereka merasa seolah-olah “ditarikan” oleh musik, bukan menari mengikuti musik. Sorot mata mereka berubah menjadi tajam dan “hidup,” mampu mentransfer emosi tanpa kata-kata.
Kerauhan : Disosiasi Suci

Berbeda dengan Taksu, Kerauhan (berasal dari kata Rauh = datang) adalah kondisi di mana kesadaran penari tergeser atau diambil alih oleh entitas asing (Dewa, Leluhur, atau Bhatara).

  • Hilangnya Kontrol : Dalam kondisi Kerauhan, penari sering kali tidak mengingat apa yang terjadi. Gerakan tubuh mereka mungkin menyimpang dari pakem koreografi standar; bisa menjadi sangat halus atau sangat agresif dan bertenaga di luar kemampuan fisik normal manusia (misalnya, menusuk diri dengan keris tanpa terluka dalam tari Ngurek).
  • Konteks Ritual : Kerauhan biasanya terjadi dalam tarian Wali (sangat sakral) seperti Rangda, Barong, atau Rejang Dewa, yang berfungsi sebagai penyucian wilayah atau penolak bala. Tujuannya bukan estetika pertunjukan, melainkan komunikasi ritual. Sebaliknya, Taksu diperlukan dalam setiap jenis tarian, baik sakral maupun sekuler, untuk menjamin kualitas estetika dan spiritual.
Aspek Metaksu (Berkarisma) Kerauhan (Kerasukan)
Kesadaran Sadar penuh, fokus meningkat (Flow) Disosiatif, sebagian atau total hilang ingatan
Kontrol Tubuh Terkendali sesuai pakem (Wiraga) Dikendalikan entitas, bisa di luar pakem
Sumber Energi Harmoni internal & anugrah Dewa Invasi/kehadiran langsung entitas eksternal
Tujuan Estetika spiritual, memukau audiens Komunikasi magis, pengobatan, netralisasi

 

Komodifikasi dan Pelestarian Taksu

Di era modern, posisi Bali sebagai destinasi pariwisata global membawa tantangan eksistensial bagi pelestarian Taksu. Transformasi seni dari Yadnya (persembahan) menjadi Komoditas wisata menciptakan gesekan nilai yang berpotensi menggerus kekuatan magis ini.

Desakralisasi dan “Wisatawanisasi”

Riset menunjukkan adanya fenomena “pemendekan” dan “penyederhanaan” tari Bali untuk konsumsi turis. Tarian sakral yang tadinya berdurasi berjam-jam dipadatkan menjadi “paket” 30 menit agar sesuai dengan rentang perhatian wisatawan.

  • Erosi Proses : Dalam konteks wisata, ritual Nunas Taksu sering kali ditiadakan atau dilakukan secara tergesa-gesa. Penari “instan” yang mengejar target pertunjukan harian kehilangan waktu untuk melakukan pengendapan batin (Tapa). Akibatnya, tarian menjadi mekanis—indah secara visual (makeup dan kostum), namun “kosong” secara spiritual.
  • Komodifikasi : Ketika tarian dilakukan semata-mata demi uang (transaksi ekonomi), dan bukan sebagai pelayanan (ngayah), ikatan kontrak spiritual dengan Sesuhunan melemah. Dalam jangka panjang, ini dikhawatirkan akan membuat Bali kehilangan “roh”-nya, menyisakan hanya “cangkang” kebudayaan.

Pantangan dan Etika Penari (Sesana)

Untuk menjaga agar Taksu tidak luntur (cemer), komunitas adat dan agama memberlakukan aturan seperti :

  • Larangan Cuntaka : Penari perempuan yang sedang menstruasi dilarang keras menari tarian sakral atau memasuki area Jeroan pura. Darah menstruasi dianggap cuntaka (kotor secara ritual) yang dapat menetralkan kekuatan magis atribut tari dan mengundang kekuatan negatif (Bhuta Kala).
  • Larangan Eksploitasi (Kasus MURI) : Tokoh agama Hindu Bali (PHDI) dan pemerintah telah mengeluarkan larangan pementasan tarian sakral (seperti Sanghyang, Rejang) untuk tujuan pemecahan rekor MURI atau hiburan di hotel. Eksploitasi tarian pingit ini dianggap sebagai pelecehan terhadap Sesuhunan yang dapat berakibat hilangnya Taksu secara permanen dari desa tersebut.
  • Etika Moral : Taksu dipercaya akan meninggalkan penari yang sombong, serakah, atau menggunakan kemampuannya untuk tujuan jahat (Black Magic). Taksu menuntut wadah moral yang bersih.

Peran Pecalang dan Desa Adat

Untuk melindungi kesakralan ritual di mana Taksu bermanifestasi, peran Pecalang (polisi adat) menjadi krusial. Mereka bukan sekadar keamanan, tetapi penjaga tradisi yang memastikan bahwa ruang sakral (Mandala) tidak dilanggar oleh perilaku turis yang tidak pantas atau gangguan eksternal. Dengan menjaga kekhusyukan ritual, Pecalang membantu menciptakan lingkungan kondusif bagi turunnya Taksu kepada para penari.



Baca Juga