taksu pragina penari bali

Taksu Pragina Penari – Esensi Spiritualitas pada Seni Budaya Bali


Fenomena Ngiring, dan Beban Kosmologis Penari Sakral Bali

Pada artikel bagian ini akan membahas secara mendalam mengenai interseksi antara teologi, estetika, dan sosiologi dalam seni pertunjukan sakral Hindu Bali. Fokus utamanya adalah fenomena Ngiring yang dialami oleh seorang Pragina (penari), sebuah kondisi penghambaan spiritual yang melampaui batasan artistik sekuler. Artikel ini mengeksplorasi ontologi Taksu sebagai entitas energi eksternal yang menuntut pemeliharaan ritualistik ketat melalui Pawintenan dan Pasupati.

Artikel ini untuk mendudukkan perbedaan fungsional dan fenomenologis antara Pragina yang mengalami kerauhan (trance) dengan Balian Ketakson (medium penyembuh), menyoroti perbedaan antara wahyu visual-kinestetik dan wahyu verbal. Selanjutnya, menginvestigasi kewajiban Lintas Wilayah melalui mekanisme Nuur dan Ngayah, di mana penari (Pragina) terikat oleh kontrak metafisika untuk melayani kebutuhan ritual antar-desa, dengan ancaman Sanksi Niskala (penyakit spiritual) bagi yang menolak. Temuan menunjukkan bahwa tubuh Pragina bukan sekadar instrumen seni, melainkan “tanah jajahan” bagi kekuatan ilahi yang berfungsi menjaga keseimbangan kosmos (Tolak Bala).

Melampaui Estetika Sekuler

Dalam pandangan dunia Bali, istilah Pragina (yang secara etimologis sering dikaitkan dengan kata ina yang berarti kecantikan, atau orang yang menghadirkan keindahan) memiliki dimensi ganda. Di satu sisi, ia adalah seniman teknis; di sisi lain, ia adalah Tapakan atau wadah bagi kehadiran kekuatan Niskala (tak kasat mata). Penelitian ini menegaskan bahwa Pragina yang memiliki Taksu beroperasi dalam domain yang berbeda secara fundamental dari hiburan modern.

Taksu sering kali disalahartikan oleh pengamat luar sebagai sekadar “karisma” atau bakat alami. Namun, data lapangan dan kajian pustaka menunjukkan bahwa Taksu adalah sebuah “entitas konsep estetika” yang independen. Ia adalah kekuatan spiritual yang hinggap atau membayangi penari, bukan sesuatu yang inheren sejak lahir.

Taksu vs. Pangus

Penting untuk membedakan antara Taksu dan Pangus :

  • Pangus : Merujuk pada kualitas teknis tarian yang sempurna—ketepatan Agem (sikap dasar), Tandang (gerakan), dan Tangkep (ekspresi). Seorang penari bisa menari dengan Pangus tanpa memiliki Taksu.
  • Taksu : Adalah energi yang menghidupkan Pangus. Tanpa Taksu, tarian yang secara teknis sempurna akan terasa “kosong” atau hambar di mata audiens dan, yang lebih penting, tidak efektif secara ritual. Taksu memberikan “daya getar” yang mampu menembus batas psikologis penonton dan batas metafisika alam roh.

Mekanisme Ritual Akuisisi : Nunas Taksu

Karena Taksu adalah entitas eksternal, ia harus diundang melalui ritual Nunas Taksu (memohon Taksu). Proses ini tidak bisa dilakukan sembarangan, melainkan memerlukan ziarah ke pura-pura khusus yang dianggap sebagai pusat energi kesenian dan militer (karena tari sakral sering dianggap sebagai senjata melawan kekuatan jahat).

Sebelum seorang Pragina diizinkan untuk mewadahi Taksu yang berenergi tinggi (“panas”), tubuhnya harus disiapkan melalui inisiasi Pawintenan. Ini adalah mekanisme perlindungan spiritual agar penari tidak “terbakar” atau menjadi gila (Bebanan) akibat intensitas energi yang masuk.

Ritual ini memiliki spesifikasi berdasarkan fungsi seniman dalam masyarakat :

Jenis Pawintenan Target Penerima Tujuan Spesifik
Pawintenan Saraswati Pelajar, Sastrawan

Memohon kelancaran dalam mempelajari ilmu pengetahuan (Aji) dan aksara suci.

Pawintenan Gong Penabuh (Musisi Gamelan)

Memberikan karisma musikal dan memastikan keahlian digunakan untuk tujuan mulia, bukan pamer ego.

Pawintenan Pragina Penari (Pragina)

Melindungi tubuh fisik dan eterik dari gangguan Niskala saat menari, serta menanamkan Taksu agar tidak cepat lupa pada pakem tari.

 

Inti dari Pawintenan Pragina melibatkan penulisan aksara suci (Rajah) secara magis pada bagian tubuh tertentu : lidah, wajah, dan dada. Sulinggih (pendeta) menggunakan media madu, air suci, atau minyak untuk “menulis” simbol-simbol ini. Tujuannya adalah menyucikan Tri Kaya Parisudha (pikiran, perkataan, perbuatan) sang penari. Dengan rajah di lidah, misalnya, vokal atau teriakan yang dikeluarkan penari saat kerauhan akan memiliki kekuatan mantra, bukan sekadar teriakan histeris. Tanpa Pawintenan, seorang penari dianggap “kotor” dan rentan disusupi roh jahat (Bhutakala) alih-alih dewa (Bhatara) saat menari.

Fenomena Ngiring : Penghambaan Total pada Sesuhunan

Konsep Ngiring bagi seorang Pragina jauh melampaui definisi sederhana “mengikuti”. Dalam konteks teologis, Ngiring Sesuhunan berarti menyerahkan otonomi diri untuk menjadi instrumen kehendak ilahi.

Ngiring sebagai Jalan Bhakti vs. Stigma Deviasi

Dalam diskursus kontemporer, fenomena Ngiring mengalami polarisasi makna.

Ngiring adalah puncak dari Bhakti Marga (jalan pelayanan). Seorang penari yang Ngiring mendedikasikan hidupnya untuk ngayah (pelayanan tulus ikhlas) di pura. Tubuhnya bukan miliknya lagi saat gamelan berbunyi; ia adalah milik Sesuhunan.

Di era globalisasi, muncul skeptisisme di mana Ngiring kadang dianggap sebagai “deviasi” atau gejala gangguan psikologis (skizofrenia kultural). Ada fenomena di mana individu mengklaim Ngiring untuk menaikkan status sosial atau ekonomi (menjadi Balian dadakan), meskipun secara ekonomi banyak pelaku Ngiring justru berada di strata bawah. Namun, bagi Pragina sakral sejati, motif ekonomi ini diredam oleh ketakutan akan sanksi niskala.

Kerauhan (Trance) dalam Tari

Manifestasi paling nyata dari Ngiring pada penari adalah Kerauhan (kedatangan roh). Berbeda dengan kesurupan massal yang kacau, kerauhan pada Pragina memiliki pola yang terstruktur oleh ritual.

Pemicu : Bunyi gamelan tertentu (seperti Gong Beri atau Gambelan Selonding) dan asap dupa (Pasepan) bertindak sebagai “kunci” pembuka gerbang kesadaran.

Transmutasi Fisik : Tubuh penari mengalami perubahan kemampuan drastis.

  • Kekebalan Api : Dalam tarian Sanghyang Janger Maborbor atau Sanghyang Jaran, penari menginjak bara api menyala tanpa luka bakar. Ini diyakini karena roh yang masuk melindungi jaringan kulit penari.
  • Invulnabilitas Senjata : Pada tari Rangda dan Barong, penari menusukkan keris tajam ke dada, leher, bahkan mata (ngurek) tanpa menembus kulit. Fenomena menusuk mata ini sangat spesifik dan menunjukkan tingkat Taksu yang ekstrem, di mana logika biologi ditangguhkan sementara.

Sebuah fenomena menarik tercatat pada penari Baris Cina di Sanur dan sekitarnya. Saat kerauhan, penari yang sehari-harinya hanya berbahasa Bali/Indonesia tiba-tiba fasih berbicara dalam bahasa asing.

  • Baris Cina (Hitam) : Penari yang dirasuki entitas “Ida Ratu Kobar Api” dapat berbicara dalam bahasa yang menyerupai bahasa Arab.
  • Baris Cina (Putih) : Penari yang dirasuki “Ida Gusti Berto” berbicara dalam dialek Cina/Mandarin kuno. Hal ini menunjukkan bahwa Ngiring melibatkan akses ke “memori arsip” entitas yang merasuki, melintasi batas budaya dan linguistik penari.

Pragina vs. Balian Ketakson

Meskipun Pragina dan Balian Ketakson sama-sama Ngiring dan mengalami Kerauhan, peran sosial dan mekanisme spiritual mereka berbeda secara fundamental. Tabel berikut merangkum perbedaan esensial tersebut :

Dimensi Komparasi Pragina (Penari Sakral) Balian Ketakson (Medium Penyembuh)
Fungsi Utama Estetika-Ritual & Penyucian Wilayah. Fokus pada pemulihan keseimbangan makrokosmos desa (Tolak Bala).

Diagnostik & Kuratif Personal. Fokus pada penyembuhan penyakit individu, pencarian barang hilang, atau komunikasi leluhur.

Media Komunikasi Visual-Kinestetik. Pesan disampaikan melalui gerak tari, simbolisasi kostum (Tapakan), dan interaksi fisik (misal : menebas udara dengan pedang).

Verbal-Auditori. Pesan disampaikan melalui kata-kata, wejangan (Baos), resep obat, atau instruksi ritual spesifik.

Pemicu Trance Terikat pada konteks pementasan (gamelan, panggung, kostum). Jarang terjadi di ruang privat tanpa atribut tari. Fleksibel, bisa terjadi di Merajan (pura rumah) saat ada pasien (pemedek) yang memohon petunjuk.
Interaksi dengan Audiens Audiens adalah penonton pasif atau partisipan ritual massal. Penari tidak melayani konsultasi tanya-jawab individu saat menari.

Audiens adalah klien aktif yang bertanya dan berdialog. Interaksi bersifat dua arah (tanya-jawab).

Bentuk Taksu Taksu Aeng/Alit. Memancarkan aura kewibawaan yang menakutkan atau kehalusan yang memukau untuk mengusir Buta Kala.

Taksu Waskita. Kemampuan kewaskitaan (clairvoyance) untuk melihat penyebab penyakit non-medis.

 

Pragina adalah wahyu yang dilihat (teofani visual), sedangkan Balian adalah wahyu yang didengar (teofani verbal). Seorang penari Rangda yang sedang kerauhan tidak perlu berbicara untuk menyampaikan pesan; kehadirannya yang mengerikan sudah cukup untuk menetralisir energi negatif di kuburan (Setra). Sebaliknya, Balian mengungkapkan dengan berbicara untuk menjelaskan solusinya.

Kewajiban Menari Lintas Wilayah : Nuur dan Diplomasi Niskala

Bagi penari yang telah memiliki Taksu, otonomi geografis mereka hilang. Mereka terikat oleh konsep Nuur (mengundang/menjemput secara hormat) yang mewajibkan mereka melayani kebutuhan ritual di luar desa asal mereka (Lintas Wilayah).

Diplomasi Spiritual Antar-Desa

Istilah Nuur (Bahasa Bali Alus untuk menjemput) merujuk pada prosedur formal mengundang Tapakan atau penari sakral dari desa lain untuk pentas dalam upacara besar.

Konteks Kebutuhan : Desa A mungkin sedang menyelenggarakan Karya Agung (upacara besar) namun tidak memiliki Topeng Sidakarya atau Barong dengan tingkat Taksu yang memadai. Maka, mereka mengirim utusan ke Desa B untuk “Nuur” penari dan Tapakan mereka.

Prosedur : Ini bukan transaksi komersial. Utusan membawa Pejati (sesajen permohonan) dan melakukan Matur Piuning (izin spiritual) di pura asal penari. Jika Sesuhunan (dewa di pura asal) memberi izin (biasanya melalui tanda-tanda niskala atau keputusan Pemangku), maka penari wajib berangkat.

Istilah “Nuwur Kukuwung Ranu” : Dalam sebuah dokumen seni, istilah Nuwur juga dimaknai sebagai “mendatangkan kesadaran” atau “menjemput keindahan pelangi”, yang menegaskan bahwa proses ini adalah upaya menarik energi keindahan ilahi ke lokasi upacara.

Kewajiban ini menciptakan jaringan solidaritas ritual (Pasemetonan) di seluruh Bali.

Contoh paling kolosal adalah di Pura Luhur Natar Sari. Saat Pujawali, puluhan Barong dan Rangda dari berbagai kabupaten “turun” (tedun) dan berkumpul. Penari-penari dari Gianyar, Badung, dan Tabanan hadir dan menari bersama. Ini bukan festival seni, melainkan seperti “Rapat Para Dewa” (Paruman) untuk menjaga paku-paku spiritual pulau Bali. Penolakan untuk hadir dalam rapat ini dianggap sebagai desersi kosmis.

Di Trunyan, tradisi Ngusaba Gede Lanang Kapat melibatkan penggunaan simbol-simbol Barong Brutuk yang sakral. Partisipasi elemen-elemen dari desa tetangga atau “Banua” (aliansi desa kuno) sangat krusial. Penari adalah duta spiritual yang merekatkan ikatan kuno ini.

Pentingnya Nuur dan penerimaannya juga terlihat dalam mitologi Topeng Sidakarya.

Saat ini, pementasan Topeng Sidakarya adalah wajib di akhir setiap upacara besar untuk memastikan upacara itu “Sida” (berhasil) dan “Karya” (selesai). Penari Topeng Sidakarya sering kali di-Nuur dari jarak jauh. Jika seorang penari Sidakarya yang metaksu menolak ngayah karena alasan sepele (misal : capek atau alasan lainnya), ia mengulang kesalahan historis menolak Brahmana Keling, yang berisiko mendatangkan ketidaksuksesan pada upacara tersebut.

Sanksi Niskala : Konsekuensi Penolakan Tugas

Hubungan antara penari dan Sesuhunan bukanlah hubungan sukarela yang bisa diputus sewaktu-waktu. Ini adalah kontrak seumur hidup dengan konsekuensi berat jika dilanggar.

Jika seorang Pragina menolak panggilan Ngiring atau menolak permintaan Nuur tanpa alasan yang dibenarkan secara agama (seperti Cuntaka atau kematian keluarga inti), mereka rentan terkena Bebanan.

Gejala : Bebanan bermanifestasi sebagai penyakit fisik yang tidak terdeteksi medis (misal : kelumpuhan mendadak, sakit kepala kronis), atau gangguan mental seperti kecemasan berlebihan dan halusinasi mengerikan.

Penyembuhan : Satu-satunya obat (“Tambanya”) adalah Ngayah. Begitu sang penari setuju untuk menari kembali dan memohon ampun di Pura, gejala penyakit sering kali hilang seketika.

Sebuah studi kasus kontemporer tentang penari bernama Rina menunjukkan betapa totalitas diperlukan untuk menghindari sanksi dan mencapai Taksu.

Pengorbanan Fisik : Dalam pementasan yang melibatkan api, rambutnya terbakar dan kakinya melepuh, namun ia tidak merasakan sakit saat trance.

Penolakan Artifisial : Ia menolak menggunakan makeup atau rambut palsu, bersikeras pada keaslian tubuh sebagai persembahan. Ia meyakini bahwa aksesoris palsu menghambat aliran energi. “Sakit” yang dialami saat latihan atau pentas dianggap sebagai purifikasi, namun menolak pentas (“mogok”) diyakini akan membawa “sakit” yang jauh lebih parah dan bersifat destruktif.

Penolakan menari juga membahayakan komunitas. Tarian seperti Sanghyang Janger Maborbor atau Sanghyang Dedari berfungsi spesifik sebagai Tolak Bala (pengusir wabah).

Mekanisme : Penari yang kerauhan menyerap energi negatif desa.

Risiko : Jika penari menolak pentas, energi negatif (Gerubug) tetap tertahan di desa, berpotensi menyebabkan gagal panen atau wabah penyakit menular.

Oleh karena itu, tekanan sosial dari masyarakat (Krama Desa) terhadap penari Ngiring sangat besar. Mereka diawasi oleh dua hukum : hukum adat (sosial) dan hukum karma (spiritual).

Penari sebagai Martir Kebudayaan

Dari sumber-sumber yang ada, dapat disimpulkan bahwa Pragina yang melakoni jalan Ngiring berada dalam posisi yang unik sekaligus rentan.

  1. Transformasi Identitas : Mereka bukan lagi individu otonom, melainkan aset komunal dan kosmis. Identitas ego mereka disublimasikan di bawah identitas Tapakan (Barong/Rangda/Bidadari) yang mereka tarikan.
  2. Beban Ganda : Mereka memikul beban fisik (menari teknik tinggi, menahan api/keris) dan beban metafisika (menjadi saluran energi Taksu yang “panas”). Ritual Pawintenan adalah tameng satu-satunya yang memisahkan mereka dari kegilaan atau kematian.
  3. Mandat Lintas Batas : Konsep Nuur menghapus batas administratif desa. Taksu tidak mengenal KTP; ia mengalir ke mana pun Pasemetonan dan kebutuhan ritual memanggilnya.

Artikel ini menggarisbawahi bahwa dalam ekosistem spiritual Bali, seni tari adalah teknologi pertahanan diri. Penari adalah garda terdepan yang, melalui tubuh dan sukma mereka, menjaga agar pulau Bali tidak runtuh di bawah beratnya energi negatif, sebuah tugas yang menuntut pengabdian total tanpa syarat (Tanpa Pamrih).



Baca Juga