Kisah Lengkap Rangda Jirah Dan Penyucian Calon Arang Oleh Mpu Baradah


Konon tersebutlah sebuah kerajaan yang sangat besar, Daha namanya. Rajanya bernama Raja Airlangga, seorang raja yang sangat adil. Pada suatu pagi saat kabut masih tebal, raja setengah tua itu keluar dari istana. Rambutnya mulai memutih dan jenggotnya panjang. Meskipun sudah kelihatan tua, ia masih kelihatan perkasa.

Raja Airlangga terkenal sebagai raja yang bijaksana dan adil, tidak hanya di negerinya, Daha. Daerah kekuasaannya sangat luas dan semuanya dapat diawasi dengan baik. Para patih setiap minggu pergi ke desa mengiriringinya meninjau desa. Ada kerja sama yang baik antara rakyat, para patih, dan pihak kerajaan, terutama Raja Airlangga.

Rakyat Daha adalah penganut agama Hindu yang kuat. Mereka selalu meng dakan berbagai upacara keagamaan. Di amping itu, setiap hari mereka juga rajin pergi ke pura menghadap Sang Hyang Widi Wasa. Mereka percaya bahwa ketentraman dan kedamaian yang mereka rasakan selama ini adalah rahmat dan berkah dari Sang Hyang Danendra, Dewa Kekayaan.

Perbedaan antar kasta, baik kasta Sudra, Waisya, Satria, maupun kasta Brahmana, bukan penghalang bagi rakyat Daha untuk saling menghormati. Mereka tahu menempatkan diri. Masing-masing berada dalam lapisan masyarakat mereka. Semua berjalan seperti adanya, sesuai dengan aturan, tanpa pernah ada perselisihan dan pertengkaran.

Saat matahari sudah menampakkan wajahnya dan cuaca sangat cerah, Kedua putra mahkota, Jayabaya dan Jayasaba sudah siap di halaman istana dengan kuda masing-masing. Kedua putra raja itu seperti pinang dibelah dua, gagah dan perkasa bagai sang surya.
Raja Airlangga dengan mahkota di kepala dan berkain bercorak perada, warna emas, Raja duduk gagah di atas kuda. Para hulubalang, Ken Demung, Ken Tumenggung, dan Ken Patih, sudah siap mengiringi perjalanan resmi ini. Para hulubalang istana sudah berbaris mengiringi perjalanan Raja Airlangga. Ketika gerbang istana dibuka, suara genderang, gamelan, dan gong bersahutan merestui keberangkatan Sang Ratu.

Kerajaan Daha sudah cukup jauh mereka tinggalkan, raja itu berthenti sejenak memandang ke belakang, menatap kerajaannya dari jauh. “Betapa indahnya kerajaan kita, Anakku! Lihatlah tangga kerajaan yang empat puluh empat itu seperti ular, melingkar menuju pintu kerajaan,” katanya kepada kedua putranya.
Kedua anak muda yang diajak bicara turut memperhatikan kerajaan itu dari jauh.
“Ya, Ayah, memang sangat indah. Betapa kukuhnya kerajaan itu, tinggi seperti di awan,” sahut Jayasaba menimpali ucapan ayahnya. Kerajaan Daha memang terletak di atas bukit, tinggi menjulang. Tangga menuju kerajaan meliak-liuk sampai di gerbang kerajaan dan di kiri kanan berhiaskan aneka bunga.

Rombongan terus berjalan menyusuri hari yang mulai gelap. Kedamaian dan rasa syukur tersimpan jauh di dalam lubuk hati mereka.

KEDAMAIAN YANG TERUSIK

Desa Jirah yang dikunjungi rombongan Raja memang cukup jauh dari Daha, tetapi desa itu masih mendapat perhatian dari kerajaan. Desa ini pun terkenal sebagai desa yang sangat subur, tanahnya bagus ditanami padi. Di ujung desa itu, ada sebuah rumah yang agak terpencil, jauh dari para tetangga. Pondok tua itu dikelilingi hutan jati sehingga di sekelilingnya kelihatan gelap meskipun pada siang hari.

Di tengah hutan itulah tinggal sebuah keluarga yang hanya dihuni oleh seorang janda, yaitu Ki Rangda dan anak gadisnya, Ratna Manggali. Ki Rangda oleh penduduk setempat dijuluki sebagai Calon Arang.

Tidak terlalu aneh kalau penduduk sekitar tempat itu takut bertandang ke rumah Ki Rangda karena wanita itu tidak ramah penampilannya. la selalu mencurigai setiap tamu dan tetangga yang mendekat. Ketidakramahan Ki Rangda sangat terlihat dari raut wajahnya yang sinis. Wanita tua itu badannya mulai bongkok dan pakaiannya lusuh. Tubuh tidak tinggi dan kurus, mukanya lebar dan pucat, kedua matanya sipit, hidungnya panjang, dan tulang pipinya menonjol, tanda kekerasan. Ram­butnya yang panjang selalu digerai sehingga menambah kusam wajahnya. Jika berjalan, kedua tangannya selalu ke belakang, dan jarinya saling menggenggam.

Dari kejauhan terlihat wanita tua itu sedang mencari sesuatu, bolak-balik dari samping rumah ke depan. Karena tidak menemukan apa yang dicari, wanita itu berteriak memanggil anaknya, “Ratna Manggali, cepatlah kemari. Di mana sesajen yang kemarin sore aku ramu.

Ratna Manggali ke luar rumah mencari suara ibunya, Bukankah saji-sajian itu sudah lbu letakkan di kamar suci, sahutnya dengan suara pelan. Gadis yang dipanggil Ratna Manggali itu masih remaja, berumur 17 tahun, sangat cantik, jauh berbeda dengan ibunya. Kalau lbu ingin membakar dupa nanti aku ambilkan api, tambahnya tanpa disuruh.

Mendengar sahutan anaknya, wanita tua itu sangat senang dan tertawa terkekeh-kekeh, Kau memang anak baik, Ratna Manggali, tidak sia-sia hidupku mempunyai anak secantik kamu, tapi sayang, nasibmu belum mujur,” kata Ki Rangda sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
Ratna Manggali, anaknya, menatap kepergian ibunya dengan pandangan sedih, penuh penyesalan.

Ratna Manggali dan Ki Rangda memang anak beranak yang hidup nya terasing, hanya mereka berdua di sekitar penduduk itu juga kurang suka dengan penampilan Ki Rangda yang selalu curiga dan berprasangka kematian suaminya, yang meninggal karena terkena ilmu hitam, Ki Rangda menuntut ilmu sesat kepada Hyang Bagawati, Dewi Durga, Dewi Kesesatan. Ada dendam bergelora di dadanya. Ia tidak tahu kepada siapa dendam itu harus dilampiaskan karena pembunuh suaminya tidak pemah dapat dilacak. Memang, sejak Dendam kesumat terus menghantui Ki Rangda. Ratna Manggali, anaknyalah yang menanggung derita karena mereka jadi terasing. Gadis remaja itu sangat kesepian dan menderita. Masa remajanya yang penuh keceriaan lenyap, hilang, dan terbang dari waktu ke waktu. Banyak pemuda kampung yang mencintainya takut mendekat dan terkena ilmu sihir Ki Rangda. Wanita tua itu sebenarnya menyadari kesalahannya, tetapi ia tidak peduli. Kadang-kadang kalau hatinya sedang baik, ia memanggil anaknya, Ratna Manggali, dan mengajaknya bercakap-cakap tentang masa depannya, “lbu turut prihatin akan nasibmu, anakku, tak seorang pemuda pun yang berani mendekatimu. Kalau begini terus, kapan jodohmu akan tiba,” kata Ki Rangda dengan suara pelan dan sedih, penuh penyesalan.
Ratna Manggali tidak tega kalau melihat ibunya bersedih. Ia akan menghibur ibunya dengan kata-kata manis, seolah-olah ia tidak menderita dengan keadaannya. Untuk menghilangkan rasa sepi, Ratna Manggali memelihara seekor anjing. Anjing itulah sahabatnya sehari-hari, “Kaulah teman setiaku, Warde,” kata Ratna Manggali kepada anjing kesayangannya.

Sekali waktu ada seorang pemuda dari desa sebelah barat ingin mencoba kesaktian ilmunya kepada Ki Rangda, pemuda itu bernama Widiasta. Ia penganut ilmu dari aliran hitam juga yang ingin mengadu kekuatan ilmunya kepada Ki Rangda. Untuk itu, ia sengaja mendekati Ratna Manggali lebih dahulu. Sudah beberapa kali ia mengintip gadis itu sedang mencuci. Akhimya, pada suatu siang ia mencegat Ratna Manggali ketika pulang dari kali.

“Wahai gadis ayu, di manakah rumah Ki Rangda. Aku ingin menyampaikan amanat guruku,” sapa pemuda itu sehalus mungkin.
Pipi Ratna Manggali bersemu merah ketika tahu pemuda itu bertanya kepadanya. “Rumah itu ada di tengah hutan jati, kebetulan saya juga pulang kc sana,” sahut Ratna Manggali dengan suara pelan.
Mendapat jawaban dari gadis itu, Widiasta seperti mendapat bulan. Ia sengaja membuka percakapan agar mendengar suara Ratna Manggali yang serak basah. “Gadis ini sangat cantik, tapi ada kesepian yang tersimpan dalam sorot matanya,” pikir pemuda itu. “Ah, kesempatan baik nih,” pikimya lagi.
Dengan malu-malu Ratna Manggali berjalan di belakang Widiasta, tetapi pemuda itu beberapa kali menyejajarkan jalanya. Sepanjang jalan Ratna Manggali tidak berbicara kalau tidak ditanya dan Widiasta berusaha terus membuka percakapan. Tanpa mereka sadari rumah Ki Rangda sudah ada di hadapan mereka.

“Silakan duduk, saya panggilkan lbu,” kata Ratna Manggali kepada tamunya dan ia berjalan ke kamar suci, tempat Ki Rangda bersemedi. “lbu, ada utusan Dewi Durga yang ingin menyampaikan pesan, suara halus Ratna Manggali membuyarkan semedi ibunya.
Dengan kening berkerut dan pandangan penuh tanda tanya Ki Rangda keluar. Ketika melihat di hadapannya ada seorang pemuda sealiran dengan dirinya, timbul harapan di lubuk hatinya. Inilah calon menantuku, pikirnya.

Widiasta berusaha bersikap semanis mungkin. “Dewi menyampaikan jimat ini untuk lbu,” kata Widiasta sambil menyerahkan benda segi empat panjang yang dibungkus dengan kain putih. Ki Rangda langsung paham apa isi jimat itu sebenamya. Wanita tua itu memandang pemuda di hadapannya dari ujung rambut sampai ke kaki berkali-kali. Setelah itu, Widiasta diminta tinggal beberapa hari di situ karena pemuda itu sudah mendapat perhatian Ki Rangda.
Pucuk dicinta ulam tiba, pikir Widiasta. Sejak saat itu Widiasta dan Ratna Manggali semakin akrab. Ki Rangda tertawa terkekeh-kekeh melihat keintiman kedua muda-mudi itu. Akhimya impianku menjadi nyata, pikir Ki Rangda.

Suatu hari ada berita baru di antara pemuda penduduk Jirah, “He … So bat, aku dengar Ratna Manggali akan kawin dengan Widiasta. ltu … pemuda yang sering menggoda anak gadis kampung ini,” kata Oka kepada kedua pemuda di sampmgnya.
Pemuda-pemuda kampung di desa itu akhir-akhir ini memang sering memperhatikan pemuda yang tinggal di rumah Ki Rangda.
“Wah kurang ajar sekali! Rambut Ratna Manggali yang begitu lebat dan hitam dielus-elus pemuda kotor. Lebih baik aku daripada dia. Lihat nih orang paling ganteng,” ujar Sela dengan nada sombong.
“Harus diberi pelajaran si brengsek itu, tak tahu sopan dia. Ayo kita gagalkan perkawinan itu,” sahut Bagas.

Ketiga pemuda itu tidak suka dengan hubungan Ratna Manggali dan Widiasta karena mereka takut perkawinan itu akan menurunkan anak yang jahat pula, seperti Ki Rangda, si Calon Arang, dan Widiasta, calon menantunya. Mereka ingin Ratna Manggali mendapat suami seorang pemuda baik-baik, bukan dari aliran sesat.
“Ayo panggil teman-teman, kita tunggu Widiasta di pasar!” ajak Bagas bersemangat.
Pasar yang dituju pemuda-pemuda itu letaknya di tengah kampung. Tempat itu sangat ramai karena dibuka hanya pada hari-hari tertentu saja.
Tidak lama kemudian anak-anak muda itu sudah bergerombol di sebuah warung di pasar. Dugaan mereka tidak salah. Beberapa detik kemudian Widiasta berjalan terhuyung­huyung, pakaiannya hitam-hitam. Ketika ia bertemu dengan Ayu Mas, tangan gadis itu dipegang dan dipeluknya. “Wahai adik manis, kemari sayang, aku kangeeen sekali!” kata Widiasta dengan suara penuh nafsu.
Gadis yang berada dalam pelukan itu meronta-ronta dan berteriak, “To long … toloooong. Lepaskan … ! ” teriak gadis yang tidak berdaya itu sambil meronta-ronta dalam dekapan pemuda yang beringas itu.
Mendengar teriakan itu, pemuda yang sedang dilanda amarah itu bergerak serentak. Pemuda itu dikurung lalu dipukuli. Widiasta tidak tinggal diam. la melawan dengan gerakan yang tidak terkontrol lalu berteriak, “Kalau kalian satria, lawan aku satu per satu ! ”
Mendengar tantangan itu, Bagas maju paling dahulu. Pemuda itu pernah menuntut ilmu pada Pendeta Agung Mpu Baradah, tetapi tidak sampai tamat. Tanpa banyak bicara pemuda itu maju menantang Widiasta yang sudah berdarah mulutnya. Widiasta memang terkenal pemuda ganas, pemarah, dan pemabuk. Dengan cepat sekali ia memasang kuda-kuda dan gerakan yang dilakukannya adalah kuda-kuda ilmu setan, tangan mengeluarkan api, matanya merah membara, dan dari jari kaki dan tangannya keluar kuku yang sangat panjang. Bagas gentar terlihat melihat Widiasta dalam keadaan seperti itu.
Dengan sekali sentak, tubuh Bagas hangus terbakar. Melihat temannya berguling-guling, tidak berdaya, terkapar di tanah, gerombolan pemuda itu marah. Mereka menggerebek Widiasta yang beringas. Meskipun Widiasta berilmu tinggi, ia tidak kuasa melawan orang banyak. Ia akhimya terkapar tidak berdaya. Anehnya, setelah terkapar di tanah, tubuh itu kembali seperti semula, menyeramkan. Para pemuda banyak yang bergidik bulu kudunya menyaksikan kejadian itu.
“Kita buang manusia iblis ini ke luar kampung.”
“Mengapa?”
“Iya, jangan sampai Ki Rangda tahu. Bisa gawat!”
“Wah, bisa hancur seluruh kampung!” seru yang lainnya. “Ayo, cepat kita gotong!” ajak seorang pemuda yang gemuk pendek dan masih membetulkan letak kainnya yang kedodoran.

Setelah beberapa hari, berita perkelahian itu sampai juga ke telinga Ki Rangda. Berita itu diperoleh Ki Rangda dari murid­muridnya. Ki Rangda sebenarnya banyak mempunyai murid yang belajar ilmu hitam. Muridnya tidak hanya datang dari Jirah, tetapi juga dari kampung-kampung lain. Ia menggeram ketika tahu Widiasta telah diusir dari desa Jirah. “Awas, tunggu pembalasanku! tidak tahu diri! Rasakan ganasnya ilmuku, rasakan dendam Calon Arang! Ha .. . ha … ha … ! ” kata Ki Rangda dengan suara geram, dalam, dingin, dan datar. Lalu ia bersujud di bawah patung sesembahannya di kamar suci, memohon restu Dewi Durga.

“Sabar Bu! lbu jangan mengeluarkan ilmu sihir itu. Habislah kampung ini kalau Ibu marah. Tahanlah Bu!” seru Ratna Manggali merayu ibunya. Gadis itu sadar bahwa ia tidak dapat menahan kemarahan ibunya lagi. la serba salah. Ratna Manggali sebenarnya tidak menyalahi pemuda kampung yang marah kepada Widiasta karena pemuda itu memang brengsek. Secara diam-diam, Ratna Manggali sering mengikuti pacamya kalau ke luar rumah. Ia mengintip semua kelakuan calon suamioya, tetapi ia takut mengecewakan ibunya. Di samping itu, tidak ada Jagi pemuda lain yang mau dengan dirinya, anak tukang sihir. Oleh sebab itu, dengan hati berat diterima juga kehadiran Widiasta sebagai pendamping. Sekali lagi Ratna Manggali berusaha mencegah ibunya membakar jimat itu. Ketika meredam kemarahan ibunya, ia bahkan terpelanting dan sarung yang dipakainya terlepas. Ki Rangda yang sudah berwujud Calon Arang sempat melirik.
Ratna Manggali akhimya hanya dapat menangis. Dalam matanya yang bening terbayang korban berjatuhan, berge­limpangan, tanpa daya.

Ia tidak rela hal itu terjadi. Hatinya menjerit.
“Ibu hentikan … Bu! Tidak perlu jimat itu dibakar di atas dupa!” seru Ratna Manggali dengan suara putus asa karena ia tidak juga dapat menahan amarah ibunya. Ratna Manggali tahu betapa jahatnya jimat itu jika dibakar di atas dupa. Jeritan anaknya sudah tidak terdengar lagi oleh Ki Rangda, nenek itu sudah menjadi Calon Arang yang sesungguhnya. Ia ingin meledakkan seluruh dendamnya pada penduduk di Daha saat ini juga.
Semerbak wangi dupa menyelubungi kamar, rumah, halaman, kebun, dan seluruh kampung, di empat juru desa Jirah, kemudian menyebar ke seluruh Daha. Perlahan-lahan tubuh manusia Ki Rangda berubah wujudnya. Mukanya yang buruk semakin menyeramkan, matanya besar dan merah, melotot. Biji matanya hampir keluar. Sinar matanya panas. Dari mulutnya keluar dua taring yang sangat panjang. Lidahnya menjulur-julur dan keluar api. Kuku kaki dan tangannya panjang, melilit-lilit. Dari hidungnya yang besar keluar napas bunyinya seperti deru kereta api. Melihat wujud ibunya seperti raksasa, Ratna Manggali mundur beberapa langkah, berlutut di pojok kamar.

Sementara itu, di Daha hari masih petang ketika Ken Demung dan Ken Tumenggung dengan tergopoh-gopoh masuk ke dalam istana menghadap Raja, “Tuanku, pagi buta tadi, hamba menerima laporan desa Jirah, yang kemarin kita kunjungi, diserang wabah,” lapor Ken Demung sambil bersujud.

Raja mengerutkan dahi sambil memiringkan kepalanya, “Apa aku tidak bermimpi Ken Demung,” kata Raja sambil merapikan duduknya di atas kursi kerajaan dan berkata Iagi, “Kemarin desa itu aman-aman saja, sawah-sawah akan panen, dan rakyat dalam keadaan damai, Ken Demung tahu kan!” lanjutnya Iagi.
“Benar Tuan, wabah itu datang seperti halilintar. Bahkan, wabah itu menyerang semua tanaman dan juga menjangkiti penyakit aneh pada bayi,” kata Ken Tumenggung dengan suara sedih.

Mendengar berita kedua patihnya, Raja Airlangga langsung menyiapkan diri pergi menuju Jirah. Sebelum itu, Raja memerintahkan Jayabaya dan Jayasaba ikut serta. Saat inilah kesempatan ia melihat keperkasaan kedua putranya, pikir Raja.
Matahari belum terbit ketika Raja dan rombongannya pergi menuju Jirah melihat malapetaka yang menimpa negerinya.

Di tempat lain, di Jirah, desa yang dahulunya tenang dan damai, tiba-tiba terserang wabah. Wabah itu datang bagai hantu, tanpa sosok, menjalar ke seluruh pelosok desa. Dalam waktu sehari, padi yang merunduk dan kuning itu, tiba-tiba kering dan kosong. Hamparan hijau yang sejuk itu berubah menjadi coklat dan gersang. Palawija yang siap petik sekonyong-konyong pun ikut layu, sumur-sumur kering, rakyat banyak yang menderita busung lapar. Semua menanggung derita.

Rakyat sungguh panik menghadapi malapetaka ini, Patih Sidura Wacana memukul kentongan, mengundang seluruh rakyat desa berkumpul. “Para Bapak dan ibu, malapetaka datang tanpa diundang, panen kita gagal total tahun ini. Kita harus mencari jalan keluar dari kesengsaraan ini ! ” serunya dengan suara tinggi dan sedih.

Semua rakyat yang hadir berwajah murung. “Apakah ada tumbuhan lain yang dapat di tanam menggantikan padi dan palawija. Dewi Sri marah kepada kita dan kita harus mengadakan upacara!” kata Patih Sidura Wacana lagi.

Kerumunan penduduk di aula desa itu semakin kalut ketika bayi yang dipegang istri Patih Ki Jaya kesuma tiba-tiba merejang dan tidak bernapas lagi. “ Oh anakku anakku …. apa yang terjadi … oh tak bernapas lagi …. Hah”! T’olong : .. tolong anakku ! ” wanita itu berteriak sejadi-jadinya lalu ia menyeruak kerumunan menuju ke depan menyusul suaminya. Patih Ki Jayakesuma kaget, ia bengong, tak tahu apa yang harus diperbuatnya karena bayinya sudah tidak bernyawa lagi.

Beberapa detik kemudian kegaduhan semakin memuncak ketika rombongan Raja Daha tiba, Semua rakyat yang panik menyongsong Raja.
Dengan gagah Jayasaba naik keatas mimbar dan menenangkan kegaduban itu, ; ‘Rakyatku sermua, tenanglah! Jangan gusar dan panik. Malapetaka ini memang datang tiba-tiba sekali, tapi pasti semua ini ada sebabnya. Untuk itu, mari kita musyawarahkan dengan Yang Mulia.”

Mendengar suara Jayasaba yang berwibawa, kegaduhan terhenti sebentar. Beberapa menit kemudian suasana menjadi gaduh kembali. Bahkan ada yang berteriak, “Bagaimana bisa tenang kalau perut lapar …. Sawah saya jadi lapangan, Tuan!”

Melihat kegaduhan itu Jayasaba dan Jayabaya meminta ayahnya cepat menanggulangi keadaan. Dulu jika ada keributan, Raja dengan tangkas akan maju ke depan, tetapi sekarang Raja sudah tua, geraknya tidak lincah lagi. Raja mengakui kelambatannya karena ia sudah berumur. Semua ini tanda ketuaannya, dirinya mulai uzur. Jayasaba dan Jayabaya menolong Raja Airlangga, ayahnya, naik ke atas mimbar.

Dengan wajah muram dan sedih, Raja membuka pertemuan itu, suaranya berat, pelan, dan penuh kesedihan, tapi berwibawa.
Sekarang saya mint a Patih Ki Jayakesuma ke depan, menjelaskan semua masalah ini. Patih Ki Jayakesuma dipanggil berkali-kali, tapi tidak muncul juga karena Patih itu sudah lama pingsan ketika melihat bayinya meninggal, begitu juga istrinya.

Akhirnya Raja meminta wakil Patih Ki Jayakesuma yang berbicara. Saat itu juga muncul Patih Sidura Wacana. Patih inilah yang menjelaskan kepada Raja bahwa petaka ini datang bukan karena kemarahan Dewi Sri, tetapi kemarahan Ki Rangda, si Calon Arang, Kita tidak perlu mengadakan upacara untuk Dewi Sri karena wabah ini adalah petaka dari Calon Arang, janda tua yang bernama Ki Rangda,” katanya dengan penuh semangat.

Raja menggeleng-gelengkan kepala dan berbicara serius dengan Patih Sidura Wacana. Kemudian Raja mengajak pula beberapa wakil rakyat bekerja sama mengatasi masalah ini. Oleh sebab itu, musyawarah pun diadakan di dalam ruangan lain dan semua rakyat diminta bubar.

KEGANASAN Kl RANGDA, SI CALON ARANG

Setelah musyawarah diadakan, seluruh rakyat Daha mengambil keputusan bahwa Ki Rangda harus dipanggil dan akan dihadapkan ke depan sidang. Patih Ki Jayasuara dan Patih Sidura Wacana ditugasi memanggil Ki Rangda untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di kerajaan Daha. Menanggapi keputusan itu, rakyat masih dapat bersorak-sorai gembira di sela-sela penderitaan mereka. Dalam benak mereka bencana yang menimpa mereka akan segera berakhir.

Ketika mcmasuki ruangan, Ki Rangda sangat sombong. Wanita yang buruk rupa itu terus mendongakkan wajahnya. Sebaliknya, Ratna Manggali, anaknya yang berjalan di sisinya tertunduk terus. Gadis itu kelihatan malu. Mereka berdua duduk bersimpuh di hadapan Raja.

Melihat kedua orang itu sudah masuk, Raja membuka perbincangan. “Ki Rangda mengapa Anda berbuat keji, rela membuat rakyatku menderita seperti sekarang? Ilmu hitam dapat saja Anda miliki, tetapi jangan sampai Anda gunakan untuk membunuh seluruh rakyatku,” kata Raja dengan wajah serius dan dengan suara yang tegas kepada Ki Rangda.

Ki Rangda menanggapi sinis pertanyaan Raja dengan ucapan, “Perbuatan mereka juga kejam terhadap hamba dan anak hamba, Ratna Manggali. calon suaminya diusir dari desa dengan jalan kekerasan.

Raja memanggil seorang pemuda dari desa Jirah untuk membuktikan kebenaran perkataan Ki Rangda. Sesesorang penduduk menghadap dan menceritakan apa yang pernah terjadi. Ki Rangda dengan kasar membantah laporan pemuda itu. “Bohong … Widiasta pemuda yang baik, ia tidak akan mengganggu gadis­-gadis desa karena ia sudah rnempunyai Ratna Manggali. Dasar pemuda biadab. Kamu iri hati tidak dapat mendekati anak saya.
Akan saya santet kalau kauberani … ” kata Ki Rangda dengan suara bernafsu dan muka bersemu merah, marah.

Untuk membenarkan berita ini, Raja akhirnya menanyakan langsung pada Ratna Manggali yang selama ini hanya duduk berdiam diri.
Jayabaya sempat tertegun melihat gadis cantik anak Rangda memperhatikan gadis itu dengan pandangan penuh kagum. Ratna Manggali sempat melirik pandangan pangeran itu.

Di luar dugaan, Ratna Manggali justru membenarkan tuduhan bahwa Widiasta, calon suaminya, memang sering mengganggu para gadis.

Betapa kecewanya Ki Rangda. Dengan penuh emosi dipandagnya penduduk pemuda itu. Tiba-tiba seluruh tubuh pemuda itu memerah dan berguling-guling di tanah. Semua terkejut terutama Raja. Kemudian dengan kasar Ki Rangda menyeret Ratna Manggali meninggalkan kerajaan. Sepanjang jalan menuruni tangga, Ki Rangda mengeluarkan sumpah serapah dan ancaman yang mengerikan.

Menghadapi peristiwa ini Raja termenung. Rupanya benar orang tua itu memiliki ilmu hitam yang sangat ganas, pikir Raja.

Kemudian Raja kembali memusyawarahkan apa yang harus dilakukan untuk menghukum wanita ganas itu. Akhirnya, diambil kata sepakat bahwa wanita itu akan dihukum dengan jalan membunuhnya ketika wanita itu sedang tidur. Pertimbangan itu diambil karena hanya pada saat tidur itulah ilmu sihir Ki Rangda tidak bekerja.
Raja mengutus pasukan terlatih untuk menangani kasus ini, yaitu Patih Sidura Wacana, Patih Ki Jayasuara, Ken Demung, dan Ken Tumenggung serta beberapa hulubalang yang terlatih.

Ketika tengah malam, saat seluruh penduduk tertidur pulas, pasukan itu diam-diam mengurung rumah Ki Rangda. Keempat patih itu mengendap-endap masuk ke dalam rumah Ki Rangda. Rupanya Ki Rangda sudah tahu bahwa dirinya sedang terancam bahaya. Ia tidak tidur, ia sedang bersemedi di kamar suci.

Baru saja keempat patih itu memegang pintu kamar suci untuk memeriksa keadaan di dalam ruangan itu, tiba-tiba Ki Rangda keluar dengan wujud yang lain, wujud Calon Arang, raksasa yang jahat. Tubuh Ki Rangda jadi begitu menyeramkan, mulutnya menganga, air liurnya jatuh menetes. Matanya terbelalak, biji matanya besar, sinar matanya berapi-api, rambutnya ikal terurai panjang. Lidahnya yang panjang menjulur-julur. Tubuh raksasa itu semakin berat jalannya karena susunya yang sebesar bakul tergantung. Dari semua jarinya keluar kuku yang panjang dan melilit-lilit.

Keempat patih itu mundur beberapa langkah. Karena terkejutnya, Patih Ki Jayasuara jatuh terlentang. Melihat tamunya ketakutan, Ki Rangda tertawa terkekeh-kekeh, menyeramkan. Suaranya yang menakutkan itu terdengar membelah malam. Ia terus terkekeh-kekeh. Angin yang berembus dan sunyinya malam membawa suara itu ke seluruh penjuru negeri. Penduduk ketakutan, mereka berlindung di bawah tempat tidur.
Patih Sidura Wacana dan Ken Demung mundur beberapa langkah, sedangkan Ki Rangda terus maju mendesak musuhnya tanpa ampun. Dengan satu gerakan yang sangat cepat Ki Rangda dapat menjatuhkan keempat patih itu dan dilempar ke luar.

“Aku tidak terkalahkan … tidak terkalahkan, ha … ha … Aku- lah murid teladan Dewi Durga! He … he … he … pulanglah kalian semua. Katakan pada rajamu, ia sendiri yang harus mengalahkan aku”, Ki Rangda terdengar memecahkan malam.
Burung hantu yang sedang bemyanyi tiba-tiba berhenti, angin pun bertiup semakin kencang, dan rembulan yang sedang tertawa turut berduka. “Aku akan terus mengganggu ketentraman hidup kalian, seluruh rakyat Daha, karena kalian sudah menyiksaku sepanjang hidup. Aku diasingkan, suamiku dibunuh, dan anakku diasingkan, tanpa teman! Kalian memang patut disiksa. Sekarang rasakan pembalasanku, ha .. . ha .. . ha … ! ” tambah Ki Rangda dengan suara seperti halilintar.

Penduduk yang mendengar ancaman itu semakin takut dan menarik anak mereka ke dalam pelukan mereka. Malam semakin senyap!
Esok siangnya tersebarlah berita bahwa Ki Rangda sudah membunuh para hulubalang, andalan Raja Airlangga. Rakyat semakin ketakutan mendengar berita itu. Berarti siapa lagi yang akan membantu mereka melepaskan penderitaan.
“Anakku … kita akan kelaparan, lumbung yang kita miliki sudah kosong, tak satu pun padi di sana, tak ada makanan yang tersisa,” kata salah satu penduduk pada anaknya yang duduk memegang perutnya yang kosong.
“Pak, kita pindah saja dari desa ini. Mungkin desa sebelah barat masih memiliki makanan,” kata istrinya, sambil mendiamkan anaknya yang berumur dua tahun yang terus menangis di pangkuannya.
Mereka lalu berkemas dan meninggalkan desa itu. Sepanjang perjalanan mereka mendengar teriakan kelaparan di sepanjang jalan. Bahkan ada rakyat yang mulai terjatuh dan meregang.
Beberapa saat kemudian, bukan hanya padi dan tumbuh­-tumbuhan lain saja yang mati. Bahkan, air pun mulai mengering. Tanah-tanah retak, debu bertebaran, dan kuman penyakit mulai berkerumun. Kini, rakyat bukan hanya menderita kelaparan, tetapi juga dihinggapi penyakit. Banyak rakyat yang mengungsi ke dekat pantai. Mereka tidak merasakan lagi asinnya air laut. Yang penting mereka dapat minum. Negeri Daha benar-benar gersang!
Raja Airlangga sudah memberikan berton-ton makanan yang ada di gudang kerajaan membantu rakyatnya yang kelaparan. Bahkan, bagian belakang kerajaan yang selama ini kosong digunakan untuk menampung rakyat yang kelaparan. Lama-lama tempat itu semakin penuh orang sehingga persediaan semakin menipis dan mata air satu-satunya yang berada di taman sari mulai kering.

Melihat peristiwa naas itu, Raja Airlangga sangat sedih. Semua patih unggulannya tidak dapat mengalahkan ilmu Ki Rangda. Akhirnya, Raja memanggil sisa-sisa patih yang masih hidup.

“Aku harap hari ini adalah musyawarah yang terakhir. Aku ingin kekejaman Ki Rangda cepat teratasi,” kata raja dengan penuh semangat. “Apakah ada ide gemilang yang dapat mengatasi bencana ini?” tanya Raja.

Di luar dugaan Jayabaya mengacungkan tangan dan berkata, “Ayah, aku baru saja membaca lontar yang tersimpan di perpustakaan kerajaan. Dalam lontar itu dinyatakan bahwa ilmu hitam Ki Rangda hanya dapat dilawan oleh seorang pendeta, yaitu Pendeta Agung Lemah Tulis. Pendeta itu tinggal jauh di atas bukit di daerah Lemah Tulis. Pendeta agung itu bemama Mpu Baradah.”
“Apakah Ananda dapat membawa lontar itu kemari. Mari kita baca bersama,” pinta Raja dengan penuh semangat.

Setelah mereka membaca bersama lontar itu, mereka mengambil kata sepakat bahwa yang pertama mereka lakukan adalah menemui Pendeta Agung Mpu Baradah. Akhimya, Raja memerintahkan Patih Kanuruhun, Patih Arya Daksa, Jayabaya, dan Jayasaba, menemui Pendeta Agung Mpu Baradah. Perjalanan mereka kali ini tanpa upacara resmi karena semua rakyat sedang berduka cita. Keempat orang itu hanya membawa perbekalan yang sangat terbatas. Gunung demi gunung mereka lewati, masuk hutan keluar hutan, beberapa celuk dan pantai terlewati, Lemah Tulis belum juga terlihat. Yang ada di hadapan mereka hanyalah korban-korban keganasan Ki Rangda.

KEAGUNGAN MPU BARADAH, PENDETA LEMAH TULIS

Pada hari kesepuluh, barulah Jayabaya, Jayasaba, dan kedua patihnya sampai di kaki gunung Lemah Tulis. Karena desa ini merupakan tempat suci yang didiami oleh seorang pendeta sakti dan sangat jauh jaraknya, mantra jahat Ki Rangda tidak sampai ke situ. Pemandangan tampak sangat berbeda antara desa di kerajaan Daha dan desa Lemah Tulis. Di sini hutan masih lebat, pohon karet tinggi dan lebat dan tumbuh merapat, mahoni dan pinus sangat rimbun. Kicau burung ramai bernyanyi menyambut pagi dan matahari mulai menampakkan wajahnya, kuning.

Sebenarnya Mpu Baradah adalah perwujudan Hakya Singha, pendeta sakti. Oleh sebab itu, ia tahu bahwa ia akan kedatangan tamu dari jauh. Akan tetapi, ia terkejut juga ketika tahu bahwa yang ada di hadapannya adalah dua putra mahkota kerajaan Daha.

Dengan ramah, Mpu Baradah mempersilakan para tamunya masuk. Jayasaba memperhatikan pendeta itu. Meskipun sudah berumur 80 tahun, pendeta itu masih gagah dan kuat. Wajahnya sangat cerah, bersih, dan alim. Rambutnya putih bagai awan, kulitnya hitam, tapi bersih, kumisnya lebat dan hitam, janggutnya panjang sampai di dada, dan tatapan matanya tajam. Sosoknya sangat berwibawa sepadan dengan seorang pendeta. Apalagi, ia mengenakan baju putih panjang, pendeta itu kelihatan semakin suci.
“Terima kasih, Eyang. Sejuk sekali di sini,” kata Jayasaba. Ia masih memperhatikan pemandangan di sekelilingnya melalui jendela. Karena rumah pendeta di atas bukit, pemandangan di bawah kelihatan luas membentang. Hamparan hutan dan rumput yang menghijau terbentang luas bagai permadani. Kabut masih tebal menyelimuti hutan itu, air danau yang hijau tenang menyimpan misteri, dan bersihnya udara membuat jernih pikiran. Ketika melihat sebuah balai di bawah pohon beringin yang rindang, Jayabaya mengkhayal, ia seakan melihat Mpu Baradah yang suci itu duduk di atas balai dengan murid­-muridnya. Mereka bersimpuh di hadapan guru mereka, bercakap-cakap mengemukakan keinginan hati. Semua khidmat dalam suasana pengajaran ilmu. Apalagi di dekat situ ada sebidang tanah pekuburan.

Lamunan Jayabaya buyar ketika mendengar sapaan pendeta suci itu, “Berita apakah yang membawa langkah anakku, putra mahkota, kemari?” tanya Mpu Baradah dengan suara tenang, tetapi dalam dan penuh wibawa.
Jayabaya dan Jayasaba tersenyum mendapat pertanyaan seperti itu. Suara bagai air sungai yang segar menyejukkan jiwanya yang sedang dilanda keresahan.

“Negeri kami, Daha, sedang dilanda musibah yang menyedihkan, Eyang. Ki Rangda, seorang Calon Arang, sedang dilanda dendam. Ia menyebarkan penderitaan yang berkepan­jangan di negeri kami. Seluruh rakyat kelaparan, tanah kehabisan air. Ternak mati bergelimpangan,” jawab Jayasaba dengan lemah lembut.”

“Kedatangan kami ke sini meminta bantuan kepada Eyang untuk mengatasi bencana yang menimpa kami,” kata Jayasaba menambahkan.

Mpu Baradah tidak langsung menjawab. la berpikir sebentar, lalu berkata dengan suara pelan dan napas yang panjang, “Ki Rangda itu memang sangat tinggi ilmunya. Ia belajar langsung dari Betari Hyang Bagewati, Dewi yang angat jahat. la bahkan memuja Dewi itu setiap saat. Patung Dewi itu diletakkan di sebuah kamarnya. Disitulah ia memperdalam ilmu bantinnya dengan beryoga, bersemedi, dan memuja. Jadi, tidak sembarang orang yang dapat melawannya.”

Mendengar penjelasan itu, keempat utusan itu menjadi kecil hati. Akan tetapi mereka juga yakin bahwa perjalanan mereka ke desa ini tidak sia-sia. “Oleh sebab itu, kami tidak dapat melawannya. Hanya Eyanglah yang dapat menolong kami,” pinta Jayabaya dengan penuh iba.
“Sebenarnya permusuhan apa yanag terjadi antara kerajaan Daha dan Ki Rangda. Sampai ia mengeluarkan seluruh kesaktiannya?” tanya Mpu Baradah kepada keempat orang itu.
Kemudian Patih Kanuruhun menjelaskan duduk persoalan sebenarnya. Ia menceritakan semuanya dari awal hingga penggerebekan ke rumah Ki Rangda. Pendeta itu beberapa kali mengangguk-anggukkan kepala.
“Ya, aku pun kenal Widiasta, salah seorang murid dari aliran sesat yang sangat ingin menguasai dunia. Sekarang kalian ikut aku ke sebuah kampung, tempat murid-muridku belajar,” pinta Mpu Baradah.

Lalu keempat orang itu mengikuti dari belakang. Perjalanan mereka cukup jauh, menuruni bukit dan masuk ke sebuah gua. Di situlah semua murid Mpu Baradah belajar bermacam-macam ilmu, baik ilmu batin maupun ilmu lahir.
Pendeta itu berhenti sesaat dan memperhatikan murid-muridnya yang sedang berlatih dari jauh. la tersenyum penuh kebanggaan. “Inilah singgasana kami!” katanya tenang. Lalu pendeta itu berjalan kembali diikuti oleh para tamunya.

“Bawula, kemari ! ” serunya pada seorang pemuda yang sedang memimpin latihan, “lni Jayabaya, Jayasaba, Patih Ki Kanuruhun, dan Arya Daksa. Mereka datang ke sini mengadukan kejahatan Ki Rangda.”
“Ki Rangda, Eyang?” kata Bawula dengan kening berkerut.
“Iya, wanita yang pernah Eyang ceritakan. Ia pemah jadi murid Eyang juga dulu,” sahut Mpu Baradah.
“Lalu apa yang dapat saya bantu, Eyang?” kata Bawula lagi memohon petunjuk.
“Aku sudah menemukan jalan dan keputusan sudah kuambil, kita akan membantunya,” kata Mpu Baradah. “Baik Eyang! Aku akan membantu Eyang,” sahut Bawula dengan sopan sambil berjabatan tangan dengan para tamunya.

Pemuda yang bernama Bawula masih sangat muda. Jika dilihat dari tugasnya memimpin murid-murid di tempat itu, ia pasti orang penting, tangan kanan Mpu Baradah. Keperkasaan Bawula dapat dilihat dari ototnya yang padat dan gempal, otot yang terlatih. Gerakannya tangkas, dan pandangan matanya seperti mata elang. Dengan pakaian seragam putih-putih, pemuda itu tampak gagah, tampan, dan suci.

“Kami akan memusyawarahkan dahulu dengan orang-orang kami, apa sebaiknya yang akan kami lakukan,” kata Mpu Baradah dengan suara bijak. “Kalian pulang saja lebih dahulu, nanti akan kami kabari dan beritahu kepada Raja Airlangga agar mengadakan Upacara Panca Wali Kerasa, upacara betas kasih,” lanjutnya.

Tidak lama kemudian utusan Raja Daha pulang. Saat itu pula Mpu Baradah mengajak Bawula duduk dan membicarakan langkah yang harus mereka ambil.
“Kita harus membantu rakyat keluar dari penderitaan,” kata Mpu Baradah kepada Bawula dengan tegas.
“Ya, Eyang. Aku akan melaksanakan tugas ini sebisaku, asal Eyang memberi petunjuk. Apalah artinya Ananda tanpa bantuan Eyang,” kata Bawula dengan suara pelan dan sopan. “Sebenarnya, Ki Rangda itu dulunya orang baik dan taat beragama sama seperti kita, tapi setelah suaminya terbunuh ia jadi putus asa. Dituntutnya ilmu hitam dari Betari Hyang Bagewati, Dewi Setan. Sejak saat itu, ia diasingkan penduduk. Apalagi, ia sekarang mempunyai banyak murid yang menurunkan ilmu hitamnya,” tutur Mpu Baradah.

Bawula mendengarkan keterangan gurunya dengan penuh perhatian.
“Satu hal yang ada di balik kekecewaan Ki Rangda yang orang lain tak tahu, ia sangat mengkhawatirkan anak perempuannya. Anaknya itu sampai saat ini belum ada yang meminang._ Pernuda-pemuda di situ tidak mau menyuntingnya karena takut dengan Ki Rangda. Selain itu, agama mereka berbeda. Penduduk setempat beragama Hindu dan Ki Rangda sendiri beragama Budha,” Mpu Baradah menghentikan ucapannya. Pandangan pendeta itu melayang jauh.

Bawula mencoba menerka apa yang sedang dipikirkan gurunya, tapi teka-teki itu tidak dapat dijawabnya.
Dengan agak sedikit ragu-ragu, pendeta itu melanjutkan, “Oleh sebab itu, kamu harus mengawini anaknya jika ingin membantu rakyat dari petaka ini. Eyang yakin kalau anaknya sudah disunting, Ki Rangda akan menarik kembali mantra-mantra yang sudah diucapkannya.”

Ucapan terakhir pendeta itu membuat Bawula kaget, tetapi ia berusaha menyembunyikan perasaannya, “Karena ini tugas dari Eyang, aku akan melaksanakannya walau seberat apa pun,” jawab Bawula dengan suara tegas.

“Eyang punya sebuah cincin sebagai mas kawin untuk meminang anaknya,” kata pendeta itu kemudian menyerahkan sebentuk cincin emas berpermata. Permata itu bersinar saat diserahkan kepada Bawula. Bawula menyimpannya dalam sebuah kotak. “Sebelum berangkat ada ilmu-ilmu tertentu yang akan Eyang ajarkan kepadamu malam ini. Ilmu itu khusus untuk menaklukkan hati Ki Rangda,” kata pendeta itu lagi sambil menepuk-nepuk bahu muridnya.

Semalaman penuh Mpu Baradah dan Bawula bersemedi di tengah hutan, di bawah derasnya air terjun. Saat penurunan ilmu itu berlangsung guru dan murid itu sama-sama terdiam, khusyuk, mata mereka terpejam rapat. Beberapa saat kemudian, kedua tubuh itu diselubungi oleh sinar putih yang menyala. Setelah penurunan ilmu itu selesai, barulah Bawula direstui kepergiannya.

Mpu Baradah sangat sayang pada Bawula. Ia mengantarkan kepergian muridnya sampai batas desa. Mpu Baradah menggeleng-gelengkan kepala ketika melihat suasana desa yang sangat gersang. Tenak bergelimpangan tinggal tulang belulang. Sawah kering. Sungai kering. Tanah kering. Beberapa korban tergeletak di jalan. Mpu Baradah mendekati korban itu. Tenyata lelaki itu masih bemapas lalu diberikannya setetes air. Dalam sekejap orang itu dapat duduk kembali dan berjalan mencari keluarganya. Melihat keampuhan Mpu Baradah, Bawula semakin kagum pada gurunya. Sadarlah ia bahwa air yang diberikan gurunya itu adalah air kehidupan.

Akhirnya, Mpu Baradah berhenti di seberang sebuah pematang. “Anakku, aku lepas kepergianmu di sini. Jagalah dirimu baik-baik dan jalanilah tugas mulia ini dengan lapang dada, jangan lupa memberi kabar Eyang,” kata Mpu Baradah sambil mencium kening Bawula. Mendapat ciuman itu, seluruh tubuh Bawula bagai tersiram air dingin, sejuk. Ia tidak merasakan lagi terik panas yang menyengat.
Dengan membawa sebuah kantong, Bawula melangkah meninggalkan Lemah Tulis. Karena pematang yang dilaluinya sudah sangat panjang dan jauh, sosok Mpu Baradah semakin lama semakin kecil dan akhinya menghilang.

Meskipun ia sudah berjanji pada Mpu Baradah bahwa ia akan menjalani tugasnya dengan baik, berkidik juga bulu romanya ketika sadar bahwa ia harus mengawini anak tukang sihir, si Calon Arang. Diredamnya rasa khawatimya itu dengan harapan gurunya tidak akan menjebloskannya ke dalam penderitaan.

Sementara itu, kerajaan Daha sedang mengadakan persiapan Upacara Panca Wali Kerasa. Rakyat sibuk menyiapkan segala perlengkapan upacara. Saji-sajian ditata dan dilengkapi di sebuah tempat, genta mulai dipukul orang, bunyinya menyebar ke penjuru desa dan asap dupa semerbak menyebar di angkasa. Raja Airlangga sudah semedi sehari penuh, tidak tidur semalaman. Semua rakyat berharap agar Sang Hyang Widi menurunkan belas kasihnya, menganugerahkan berkah.
Esok harinya berduyun-duyun rakyat berdatangan, sangat ramai. Segala perlengkapan termasuk saji-sajian sudah disiap­kan, teratur rapi, bunyi genta semakin cepat dipukul orang dan suaranya sangat nyaring. Upacara mantra Weda dan Semetri pun diucapkan, Sang Hyang Widi dipuja dengan khusyuk dan khidmat, semua menarik napas panjang dan lembut.
Raja Airlangga tiba-tiba berteriak disertai dengan semerbak wangi dupa dan kobaran api. “Oh Bapak yang dipuja, hilangkan penyakit yang mewabah dari negeri ini! Oh, wabah yang menjangkit, pergilah. Oh, Sang penguasa bumi, beri kami kedamaian !
Teriakan Raja semakin lama semakin keras seiring dengan kobaran api yang juga semakin tinggi.

Tiba tiba Ki Rangda melompat dari duduknya. Ia tersentak, tubuhnya terasa panas bagai dibakar kobaran api, hatinya gelisah bagai disengat lebah, tidak menentu.
Kepekaannya sebagai orang yang memiliki ilmu batin, langsung tahu dan dapat membaca situasi. Mantra Weda dan Semrti sedang dibaca, pikir Ki Rangda. Merasakan gelagat yang kurang baik, ia cepat-cepat masuk ke dalam kamar sucinya. Wajah janda itu memerah, “heeeemmm … awas!”

Pada saat itu juga, api pemujaan yang ada di hadapan Raja tiba saja berubah menjadi wujud Hyang Siwa. Dewa itu ada di tengah-tengah api. Dengan suara lembut dan pelan, Dewa itu menyampaikan pesan bahwa wabah yang menyebar di desa ini memang kiriman Calon Arang atau Ki Rangda, janda dari Jirah. Janda itu tidak dapat dikalahkan oleh siapa pun kecuali oleh Pendeta Agung Mpu Baradah.

Setelah meninggalkan pesan, api pemujaan kembali meredup dan kobaran api pun hilang, yang ada tinggal gumpalan asap yang menebal, membubung tinggi.
Raja Airlangga lega hatinya mendapat pesan itu. Ia merasa tidak sia-sia mengutus anaknya ke Lemah Tulis. Doanya kepada Sang Hyang Widi semakin khusyuk. Sernoga anaknya berhasil membawa pendeta itu.

Di lain tempat, Bawula yang telah berjalan berhari-hari masuk keluar hutan, menyeberangi lautan, menuruni tebing, dan lembah, sampailah di desa Jirah. Tujuannya hanya satu mencari rumah Ki Rangda, si Calon Arang.

Ketika melewati sebuah kali, ia melihat seorang gadis cantik sedang mencuci. Diperhatikannya gadis itu dari jauh. Alangkah senang hatinya kalau ia dapat berdampingan dengan gadis itu, tapi sayang, nasib rnenentukan lain. la harus berdampingan dengan seorang anak Calon Arang. Pasti wajahnya menakutkan. Membayangkan tugas beratnya itu bulu roma Bawula kembali berdiri.
Dengan suara yang lembut, dihampirinya gadis itu, “Apakah Adik dapat menunjukkan jalan menuju Jirah?”

Gadis yang sedang memasukkan pakaian basah itu ke bakul terkejut. la tidak langsung menjawab, tetapi memandangnya penuh curiga.
Melihat tingkah laku gadis itu, Bawula cepat-cepat melanjutkan pertanyaannya, “Jangan takut, Dik. Saya ingin ke desa Jirah, apakah Adik tahu!”
Gadis itu kembali memperhatikan pemuda di depannya. Hati kecilnya mengatakan bahwa ia orang baik. Sambil mengangkat bakulnya, gadis itu menjawab, “Desa ini bemama Jirah, saya tinggal di Jirah.”
Melihat gadis itu sudah tidak takut lagi, pemuda itu rnemperkenalkan diri, “Bawula, murid Pendeta Agung Mpu Baradah.”
Mendengar nama Mpu Baradah disebut oleh pemuda itu, gadis itu terkejut sebentar, lalu menyambut tangan Bawula yang disodorkan kepadanya, “Ratna Manggali,” kata Ratna Manggali dengan suara pelan.

Dalam perjalanan itulah Ratna Manggali terdiam terus, tetapi diam-diam ia rnemperhatikannya, ia sebentar-sebentar melirik pemuda di sampingnya. “Pasti pemuda ini orang baik-baik. Aku dapat merasakannya,” suara batin Ratna Manggali.
Bawula pun sedang asyik dengan pikirannya sendiri. Ia melamun jauh memikirkan nasibnya. Ia tidak sadar kalau dirinya diperhatikan oleh gadis belia di sebelahnya.

PERKAWINAN BAWULA DAN RATNA MANGGALI

Hari sudah sore, matahari hampir tenggelam ketika Bawula berdiri memandangi sebuah rumah. la belum mengetuk pintu karena hatinya masih ragu apakah benar rumah yang ada di hadapannya itu rumah Ki Rangda, ia masih tertarik dengan suasana sekelilingnya. Pada saat itu ia hampir saja melompat karena tiba-tiba dari dalam rumah itu muncul seorang wanita tua. Tidak salah lagi, pasti ini Calon Arang, tepat seperti gambaran yang dikatakan guruku, pikirnya.

Dengan suara dingin dan tanpa senyuman sedikit pun, wanita itu berkata, “Apa maumu, Anak Muda?”
Bawula kaget mendapat pertanyaan seperti itu. Dengan sopan pemuda itu berkata, “Ananda, Bawula, murid Mpu Baradah, yang tinggal di Lemah Tulis.”

Wanita itu tercengang mendengar pemuda di hadapannya berkata sangat lembut dan dengan budi bahasa yang manis. Padahal, ia sendiri sudah bersikap sinis dan judes. Pantas pemuda ini lain dari pemuda kampung ini yang biasanya selalu takut berhadapan dengan saya, pikir Ki Rangda. Ia jadi tertawa terkekeh-kekeh.

Bawula sempat merinding mendengar suara itu. “Akhirnya Mpu Baradah mengirim juga anak buahnya, selamat datang di gubuk ini, Anakku,” kata Ki Rangda sambil memandang tajam kepada Bawula. Ia berusaha bersikap manis kepada pemuda itu karena ia anak bekas gurunya dulu.
Bawula jadi salah tingkah diperhatikan wanita tua yang menyeramkan itu. Apalagi ketika hidungnya mulai disergap bau dupa yang sangat menyengat.
Bawula merasa tidak nyaman ketika duduk di kursi di dalam rumah Ki Rangda. Ruangan itu sangat luas, kira-kira lima puluh meter. Kok ruangan ini seperti lapangan sih, tidak ada penyekat ruangan satu pun, pikir Bawula sambil matanya terus memandangi ruangan sekitarnya. Di depan ruangan itu hanya terdapat sebuah kamar yang pintunya terkunci. Mungkin itulah kamar suci, tempat Ki Rangda bersemedi, pikir Bawula lagi.
Udara sangat pengap dan sumpek, ditambah lagi dengan warna dindingnya yang sudah kumal, tidak cerah lagi. Penerangan hanya ada dari sebuah obor di dekat pintu. Dipandanginya seluruh ruangan, semua kosong, hanya di pinggir kamar yang terkunci itu saja tergantung sepasang gambar barong yang besar.

“Bibi, Eyang meminta Ananda datang ke sini melamar anak Bibi. Apakah Bibi berkenan?” tanya Bawuia dengan hati-hati dan penuh keraguan.
“Aha . . . aha . . . ha, kau akan melamar anakku, apa benar? Kau jangan main-main denganku, Anak Muda!” kata Ki Rangda dengan suara keras.

Rumah kuno yang kotor itu hampir runtuh tergetar suara Ki Rangda.
Bawula yang tadinya sudah memberanikan diri, bergidik juga mendengar tantangan Ki Rangda. Akan tetapi, ia tidak dapat mundur. Ia harus mematuhi perintah gurunya. Dengan mantap Bawula berkata lagi, “Iya, Bi, Ananda akan melamar anak Bibi.”

Mendengar jawaban yang pasti dari pemuda itu, Ki Rangda lagi-lagi tertawa. Kali ini tawanya bukan lagi tawa ejekan, tetapi tawa kebahagiaan: “Ha .. ha.. ha· .. akhimya dating juga jodoh anakku. Ah, betapa leganya dadaku ini ! Kau memang seorang ksatria Bawula karena kauberani melamar anakku ! seru Ki Rangda kegirangan.

Karena bahagia wanita itu menari nari sambil mengelilingi ruangan. Tiba tiba wanita itu berhenti menari dan dengan sebuah lompatan kecil ia menghapiri Bawula yang masih memandangnya dengan tercengang.

“Ya, ya ,, kalau kau serius, bibi akan terima. Tentu! Ya, Bibi akan terima.
Melihat tingkah Ki Rangda seperti itu, tahulah ia bahwa lamarannya diterima.
Bawula diajak bicara oleh Ki Rangda cukup lama, pemuda itu ditanyai berbagai haI, mulai dari keturunan sampai pada pekerjaannya. Melihat kenyataan itu, Bawula mengerti sekali bahwa Ki Rangda sangat sayang pada anaknya. Temyata Ki Rangda juga memikirkan bibit, bebet, dan bobot dalam mencari jodoh anaknya, kata Bawula dalam hatinya. Ia juga jadi teringat pada perkataan gurunya, rupanya benar dugaan Mpu Baradah, Ki Rangda sangat khawatir pada nasib anaknya, kata batin Bawula lagi.

Ketika petang mulai turun, barulah Bawula akan diperkenalkan kepada anak gadis Ki Rangda.
Dengan satu teriakan, Ki Rangda memanggil anaknya, Ratna Manggali. Suara Ki Rangda sangat keras dan melengking.

Bawula meredam denyut nadinya yang semakin keras dan mengatur denyut jantungnya yang berlari kencang ketika ia mendengar langkah dari belakang. Wanita seseram apakah yang akan menjadi istriku, pikirnya. Ia memejamkan mata, memanjatkan doa pada Yang Mahakuasa.
“lnilah calon istrimu, anakku. Semoga kalian berbahagia. Bibi akan ke kamar suci,” kata Ki Rangda dengan berlagak acuh.

Bawula belum berani membuka matanya, ia hanya menyambut tangan calon istrinya. Ah, halus juga pikirya. Akan tetapi, betapa terkejut hatinya ketika ia membuka matanya pelan-­pelan di hadapannya sudah berdiri seorang gadis yang sangat ayu, cantik bagai bidadari.

Untung saja ruangan itu remang-­remang hingga wajah Bawula yang memerah tidak diketahui gadis di depannya itu. Dalam sekejap bayangan wanita menyeramkan itu hilang terhapus malam diganti oleh gadis yang cantik bagai Dewi Sinta.
Naluri Bawula sebagai lelaki datang secepat kilat. Ruangan itu mendadak semerbak wangi bunga setaman, nyanyian malam bagai kidung, dan dinginnya malam bagai sinar mentari karena gadis yang kini di sisinya adalah gadis yang sedang mencuci di kali.

Ratna Manggali tersenyum tersipu ketika berkenalan dengan Bawula. Gadis itu pun pada mulanya merasa berat hati ketika ibunya memanggil dan berkata, “Anakku, sudah waktunya kau berkeluarga. Janganlah bersedih hati, kasihan kecantikanmu tak pernah dihisap lebah. Ibu punya calon untukmu.”
Ratna Manggali sudah tahu arah pembicaraan ibunya karena pada waktu Widiasta akan meminangnya, ibunya pun berkata seperti itu. Gadis itu hanya pasrah saja menerima nasib. Akan tetapi, jauh dalam lubuk hatinya ia takut pemuda yang akan meminangnya kali ini pun tidak berbeda dengan Widiasta. Bayangannya kembali menerawang saat ia berpacaran dengan Widiasta, calon suami yang senang mengganggu wanita.

Akan tetapi, ketika tahu pemuda yang akan melamarnya kali ini adalah pemuda yang ditemuinya di pinggir kali, hatinya senang. Wah, kalau yang ini sih, aku mau. Apalagi tampangnya seperti Sri Rama, tampan sekali,” katanya dalam hati. Dadanya yang semula sesak pun lalu bermekaran.

Kebahagiaan mewarnai hari­-harinya. Gadis itu tersenyum cerah sekali.
Ki Rangda sangat bahagia melihat kedua anak muda itu begitu serasi. Wajahnya yang sinis dan bengis, mulai berubah sedikit. Di wajah itu mulai ada kecerahan dan harapan. Oleh sebab itu, ia mematikan dupa untuk sementara dan menghentikan kutukan yang dikenakan kepada penduduk Daha. Ia kembali masuk ke dalam kamar sucinya dan bersemedi di sana, mengucapkan rasa syukur pada Dewi Durga karena anaknya sudah diberi jodoh.

Ki Rangda benar-benar bahagia. Kebahagiaan yang datang pada dirinya benar-benar bagai manik kestuba muncul dari laut, betul-betul tidak ada tandingannya, ia senang memiliki menantu.
Tingkah laku wanita penyihir itu tidak lagi seperti setan, semua sifat buruknya lenyap, hilang semua. Ia benar-benar ingin menikmati kebahagiaan yang selama ini dinantikannya. la tidak peduli lagi dengan kutukan yang dijatuhkannya pada penduduk Daha. Dendamnya sedikit berkurang, penderitaannya yang selalu memikirkan nasib anak wanitanya telah berakhir karena anak itu sudah disunting. Beban hidupnya menjadi ringan. Begitu bahagianya Ki Rangda hingga dari sudut matanya turun tetes air bening di pipinya, air mata kebahagiaan.

Ruangan yang selama ini digunakan Ki Rangda untuk latihan ilmu silat bersama murid-muridnya, kali ini sudah dihiasi dengan beragam bunga, menyambut hari perkawinan Ratna Manggali dan Bawula. Segala macam peralatan pesta disiapkan oleh murid Ki Rangda. Pesta semalam suntuk pun terlaksana meriah.
Setelah pesta berakhir, Ratna Manggali mengajak suaminya mengenali seluk beluk rumahnya dan juga desa Jirah. Saat Ki Rangda sedang keluar, Ratna Manggali mengajak Bawula menengok kamar suci yang terletak di depan rumah.

Ratna Manggali tidak sadar bahwa ia sudah melanggar janji. Ibunya pernah berpesan bahwa tidak seorang pun boleh melihat kamar suci itu, kecuali Ratna Manggali dan jika hal itu terjadi, keampuhan ilmu sihir ibunya akan hilang.

Ratna Manggali melakukan semua itu karena ia terlalu bahagia berdampingan dengan suaminya. Ia ingin calon suaminya mengetahui semua tentang dirinya.
Bawula pun sangat terkesan melihat kamar itu, kamar pemujaan.
Kamar suci itu tidak terlalu luas, hanya sembilan meter luasnya. Ruangan itu tidak bersih bahkan terlihat muram, semua warna dindingnya menguning. Suasananya sangat redup dan pengap karena tidak satu pun ventilasi tempat pergantian udara. Tepat di tengah ruangan berdiri patung Dewi Durga yang besar dan tingginya hampir mencapai langit-langit. Di depan patung itu ada api pemujaan yang di sekelilingnya dipenuhi beraneka macam bunga, ada bunga nusa indah, bunga melati, bunga ros, dan bunga sedap malam. Di tungku pemujaan itu masih terlihat bekas-bekas nyala api dan di atasnya masih tertelentang sebuah benda persegi empat panjang yang dibungkus kain pu.tih. Di keempat sudut ruangan itu terdapat beberapa bungkus bunga­-bungaan beraneka ragam sebagai sajen.

Ketika melihat benda putih itu terpanggang di atas tungku, Bawula tertegun, “Ah, dari sinilah petaka itu berasal. Aku harus memindahkannya,” kata Bawula.

Melihat reaksi suaminya, Ratna Manggali berkata, “Itulah yang selama ini ibu lakukan, ia membalas dendam pada penduduk dengan cara itu.”

Sambil berkata Ratna Manggali menunjuk pada benda putih yang ada di atas tungku. “Saya sudah berusaha mencegahnya, Raka, tapi Ibu tak dapat dilarang. Dendamnya begitu membara,” lanjut Ratna Manggali.

Mendengar perkataan istrinya, Bawula mempererat genggaman tangannya dan berkata, “Kita harus mencegahnya lagi, Dik, sudah terlalu banyak rakyat menderita.”
Mendengar perkataan itu, Ratna Manggali memeluk suaminya erat sekali.

Setelah itu, mereka menuju ke luar, menapaki jalan kecil menuju kali. Banyak mata penduduk yang melihat pasangan itu berjalan. Hati mereka bahagia karena akhimya Ratna Manggali, anak tukang sihir mendapat suami yang baik, yaitu anak Pendeta Mpu Baradah. Mereka terkagum­kagum pada pasangan itu, pasangan yang sangat serasi bagai bintang dan rembulan. Karena kagumnya seorang ibu berkebaya, lupa ia bahwa ia sedang menggoreng ikan. Ia baru sadar dan berlari masuk ke rumah ketika hidungnya mencium bau angus. Begitu juga yang lain, ada yang sedang mengayun anaknya, lalu berhenti. Ia baru sadar ketika anaknya sudah menjerit-jerit.
Pasangan yang seperti Rama dan Sinta itu terus berjalan sambil berpegangan tangan.

Pasangan pengantin baru itu sadar kembali akan kekejaman ibu mereka ketika mereka sampai di sebuah pematang. Di tengah pematang yang kering itu bergelimpangan mayat. Karena kagetnya, Ratna Manggali lari ke pelukan suaminya. Bawula pun memeluk istrinya dengan erat sambil bertanya lirih, Mengapa sampai terjadi kekejaman seperti ini, adikku?”
Ratna Manggali belum dapat menjawab pertanyaan suaminya, ia masih menutup mukanya di dada suaminya. Dengan hati terenyuh dan air mata berlinang ia berkata, “ltulah kekejaman ibuku, Raka. Semua akibat kemarahan Ibu!” Suara itu terdengar berat penuh penyesalan. Ratna Manggali seolah­-olah sangat menyesal karena dirinya tidak dapat mencegah perbuatan kejam ibunya.

Melihat Ratna Manggali begitu tersiksa menyaksikan penderitaan itu, Bawula menarik tangan istrinya dan berbalik, kembali ke jalan setapak menuju rumah mereka.
Dalam perjalanan itulah Ratna Manggali bercerita banyak tentang ibunya dan berbagai ilmu sihir yang dimilikinya.
Di tengah kebahagiaannya mendapat istri cantik dan menikrnati bulan madunya, Bawula tidak lupa pada janjinya, yakni memberi kabar kepada Mpu Baradah, gurunya, bahwa usahanya telah berhasil. la sekarang sudah menjadi menantu Ki Rangda, suami Ratna Manggali, ia bukan seorang bujangan lagi.
Betapa bahagia hati Mpu Baradah ketika menerima kabar dari Bawula. Pagi-pagi sekali Mpu Baradah sudah menyiapkan diri mengunjungi sepasang pengantin muda itu. Sebelum berangkat, ia meminta muridnya yang bemama Nyoman Pendit untuk menggantikannya sementara ia tidak ada. Pada saat fajar mulai menyingsing, kabut mulai menebal, dan embun masih basah, Mpu Baradah keluar rumah mengendarai kuda menuju Jirah. Ringkikan dan derap kaki kuda yang ditunggangi pendeta itu membelah pagi.
Sambil menghirup udara pagi yang segar, pendeta itu memandangi alam sekitamya yang menghijau. Ia menaikkan kerah bajunya karena udara yang masih dingin meniup-niup lehernya. Beberapa bukit sudah dilalui dan tepi pantai pun sudah disusuri, dan matahari pun mulai bersinar. Saat itulah pemandangan yang dilihatnya sudah jauh berbeda dengan pemandangan desa Lemah Tulis. Di sepanjang perjalanan menuju Jirah jalan-jalan masih sepi. Burung tidak satu pun yang terbang, manusia hidup tidak satu pun ditemui. Padahal, matahari sudah tergantung tepat di tengah langit. Pemandangan yang terlihat hanya mayat-mayat bergelimpangan, berhamburan di jalan, menjadi korban keganasan Ki Rangda. Mereka mati dalam kelaparan. Bau busuk menebar ke mana-mana, udara sudah tidak sedap lagi.
Pemandangan itu membuat hati pendeta itu terenyuh dan sedih. Mpu Baradah menyesali perbuatan kotor Ki Rangda. Betapa besar dosa wanita itu. Aku harus menghentikan perbuatan itu. Mudah-mudahan Bawula dapat membasminya, pikir Mpu Baradah.
Baru saja pendeta itu membelok di sebuah tikungan, ia melihat seorang lelaki tua sedang sekarat. Di sampingnya ada istri dan dua anaknya yang sedang menangis meraung-raung. Mpu Baradah turun dari kuda dan memegang kepala orang tua itu. Dari mulutnya keluar darah. Beberapa kali pendeta itu mengusap-usap mata lelaki itu dan memberinya tiga tetes air yang dibawanya. Belum lama berselang, lelaki itu diam. Kedua anak lelaki itu mengira bapaknya sudah meninggal, mereka semakin keras meraung.
Mpu Baradah berkata pelan, Bapakmu belum meninggal, ia sedang tertidur pulas. Bawalah pulang dan biarkan ia istirahat.

Saat fajar menyingsing, esok harinya, barulah Mpu Baradah sampai di tengah desa Jirah. Karena pendeta itu orang sakti, perjalanan jauh itu dapat ditempuh dalam waktu satu hari. Ketika tiba di desa itu pun, Mpu Baradah masih melihat mayat bergelimpangan di jalan, anjing dan burung gagak sedang berpesta pora. Baru beberapa langkah lelaki tua itu berjalan, dilihatnya seorang lelaki sedang tersedu-sedu di sisi istrinya yang tubuhnya tertutup kain. Mpu Baradah sangat kasihan, lalu menghampirinya. Lelaki itu diminta membuka kain penutup tubuh itu. Beberapa saat kemudian, pendeta itu mengheningkan cipta, memusatkan pikiran. Sunyi sekali. Akan tetapi, tubuh perempuan itu tidak bergerak sedikit pun. Karena usahanya tidak berhasil, Mpu Baradah berkata, “Maaf Pak, saya tidak dapat membantu. Istri Bapak sudah dipanggil oleh Sang Hyang Widi.”
Ketika mendengar ucapan pendeta itu, keluarga itu menangis, suaranya mengiris hati.

PENYUCIAN RANGDA JIRAH

Sepanjang perjalanan pendeta itu masih melihat sisa-sisa keganasan Ki Rangda. Pada malam harinya, saat rembulan bersinar sampailah Mpu Baradah di rumah Ki Rangda.

Ki Rangda, Ratna Manggali, dan Bawula sudah menanti di depan rumah, menyambut tamu agung mereka.
Pendeta itu sangat tercengang ketika melihat Ratna Manggali, wanita yang sangat cantik, kulitnya halus dan putih, tubuhnya semampai, rambutnya ikal mayang, dan dagunya bagai lebah bergantung. Aduh, sorot matanya meruntuhkan jiwa lelaki yang memandangnya, kata Mpu baradah dalam hati. Tak kusangka anak Ki Rangda secantik ini. Aku pikir anaknya buruk seperti ibunya. Betapa beruntungnya Bawula mendapat pendamping hidup seperti wanita itu, katanya dalam hati.

Mpu Baradah turun dari kuda dan Bawula dengan cepat mengambil tali pelana dari tangan gurunya dan mencium tangan itu. Kuda itu ditambatkannya di samping rumah di pohon akasia, kemudian mereka bersama-sama masuk ke dalam rumah.

Mpu Baradah merasa senang ketika melihat menantunya datang membawa minuman. “Ah, cantik sekali kau Nak, cocok sekali kamu dengan Bawula!” terucap juga perkataan yang dari tadi disimpan dalam hatinya. “Semoga kecantikanmu juga ada dalam hatimu, anakku,” lanjut Mpu Baradah.

Ratna Manggali hanya tersipu-sipu dipuji oleh pendeta itu. Tidak lama kemudian berempat mereka mengobrol hingga jauh malam. Beberapa kali terdengar tawa mereka membelah malam. Makanan tidak henti-hentinya dikeluarkan oleh Ratna Manggali untuk mertuanya. Mereka kelihatan sangat rukun dan bahagia.

Kehadiran Mpu Baradah di tengah keluarga itu membawa hikmah bagi Ratna Manggali karena Ki Rangda secara diam­-diam selalu mengikuti petuah-petuah yang disampaikan Mpu Baradah. Perempuan tua itu sudah jarang ke kamar sucinya mengucapkan mantra-mantra jahatnya. Selain itu, murid­-muridnya pun sudah jarang diundang ke rumahnya. kalau pun mereka akan melakukan latihan mereka adakan di luar.

Di samping itu, Mpu Baradah, Bawula, dan Ratna Manggali sedang menyusun rencana untuk melawan ilmu sihir Ki Rangda. Mereka sepakat akan menolong rakyat Daha keluar dari penderitaan. Mereka mengambil dua cara, pertama dengan jalan halus, yaitu dengan nasihat dan petuah. Jika cara itu gagal, mereka terpaksa akan melakukan cara kedua, yaitu melawannya dengan kekerasan. Sebenarnya, rencana kedua sangat berat bagi Ratna Manggali karena walau bagaimana pun jahatnya, Ki Rangda tetap ibunya.

Mpu Baradah sebagai guru memperhatikan perkembangan rencana mereka. Ratna Manggali sering membujuk ibunya agar kembali ke jalan yang benar. “Untuk apa Ibu masih berlaku seperti itu. Bukankah lbu sudah bahagia melihat aku berumah tangga dan akan mempersembahkan seorang cucu” kata Ratna Manggali saat dilihat ibunya mulai mengambil api untuk membakar dupa yang disimpan di kamar suci.

Mendengar ucapan anaknya Ki Rangda diam sebentar, tetapi ia tetap berjalan ke kamar suci. Wanita itu masih tetap bersujud di depan Dewi Durga, tetapi api itu sudah tidak dinyalakannya.

Ratna Manggali mengurut-urut dadanya sambil mengucap syukur kepada Sang Hyang Widi.
Mpu Baradah pun sering membacakan ajaran-ajaran Budha yang sudah dilupakan Ki Rangda. Rupanya ajaran-ajaran itu mulai menembus sedikit-sedikit ke hati Ki Rangda.

Pada suatu malam Ki Rangda merasa kurang sehat. Ia merasa seakan-akan ajal akan menjemputnya. Seluruh badannya panas, kepalanya pusing, dan dari seluruh tubuhnya keluar bintik-bintik merah. Melihat penyakitnya, Ki Rangda sangat takut dan kalut. la memanggil Ratna Manggali dan berkata, “Ratna Manggali, tolong panggil Mpu Baradah kemari” pinta Ki Rangda.

Ratna Manggali kasihan melihat ibunya berbaring tanpa daya. Ia cepat-cepat memanggil mertuanya dan mempersilakan orang tua itu bertemu dengan ibunya, lalu gadis itu keluar.
Baradah, aku ingin menghilangkan dosaku. Aku ingin disucikan, berkahilah aku” pinta Ki Rangda dengan nada sedih.

Mpu Baradah merasa senang dan berkata manis, “Apakah kau benar-benar hendak bertobat, melenyapkan dosa besarmu?”

Membunuh rakyat yang tak berdosa adalah dosa besar, Baradah. Aku seharusnya berada dalam neraka seribu seratus tahun sebagai hukuman” katanya dengan mata penuh air mata.

Selama ini aku hidup diperbudak dendamku sendiri. Aku menyesal sekali” katanya lagi.

Mpu Baradah mendengarkan pengakuan Ki Rangda dengan penuh perhatian.

Suatu malam saat Ki Rangda sedang keluar rumah, Mpu Baradah memanggil Ratna Manggali dan Bawula. “Ada kabar gembira, Anakku. lbumu tadi memanggil Eyang, ia mengaku dosa dan ingin menebusnya,” kata Mpu Baradah sambil memperhatikan Ratna Manggali yang hamilnya mulai membesar.

Mendengar ucapan pendeta itu, Ratna Manggali terisak-isak di pelukan suaminya. “Aku bahagia sekali hari ini karena ibu telah insyaf,” kata Ratna Manggali sambil menghapus air matanya.

Keesokan harinya Mpu Baradah dan Ki Rangda sudah berada di kuburan. Di situlah Ki Rangda akan disucikan dari segala dosanya.

Mpu Baradah duduk bersila di sisi kuburan memakai baju serba putih. Mulutnya mulai komat-kamit membaca doa dan mantra. Matanya terpejam rapat dan napasnya turun naik semakin cepat.
Di sisi lain di kuburan itu juga duduk pula Ki Rangda, yang ingin disucikan dari dosanya. Wanita tua itu sudah kelihatan sangat lemah dan loyo. Mukanya pucat dan bibirnya memutih. Wanita itu pun memejamkan mata dan duduk bersila, sangat khusyuk.

Pada saat penyucian akan dilakukan Mpu Baradah mengangkat tangan dan membaca doa yang semakin lama semakin keras. Beberapa saat kemudian, tubuh Ki Rangda terguncang-guncang.

Semakin lama guncangan itu semakin keras. Tubuh yang tadinya sudah lemah tanpa tenaga itu tiba saja melompat terpental. Ketika menginjakkan kaki di bumi lagi, tubuh itu sudah berubah bentuk. Bukan lagi tubuh Ki Rangda, wanita tua yang sedang sakit, tetapi tubuh raksasa si Calon Arang.

Kesaktian dari Calon Arang tidak rela kalau tubuh yang dihuninya itu akan disucikan. Wajah raksasa itu sangat beringas. Rambutnya yang keriting dan panjang itu tergerai-gerai ditiup angin. Matanya melotot dan sangat marah. Dari hidungnya yang sebesar semprong keluar suara yang menderu-deru. Air liurnya terns menetes dari mulutnya. Lidahnya panjang selalu menjulur-julur. Melihat tubuh raksasa itu, Mpu Baradah semakin keras membacakan doa dan mantra.

Mendengar doa dan mantra itu, Calon Arang semakin beringas. Ia meloncat ke depan dan dari jarinya yang sebesar pisang raja itu keluar api.

Api menyelimuti seluruh tubuh Mpu Baradah, tetapi anehnya tidak sedikit pun tubuh pendeta itu terbakar. Tidak lama kemudian dari tubuh pendeta itu memancarkan cahaya putih dan mendorong api yang membakamya.

Calon Arang semakin geram melihat serangannya tidak mempan membakar musuhnya. Raksasa itu kemudian melompat menjauh. Kedua buah dadanya yang sebesar bakul itu berayun-ayun ketika ia melompat. Dari jarak jauh raksasa itu menyerang kembali Mpu Baradah. Kali ini bukan hanya api yang diarahkan kepada pendeta itu, tetapi juga kilat dan guntur. Serangan itu begitu gencar.
Mendapat serangan yang bertubi-tubi itu, tubuh Mpu Baradah yang masih tetap bersila dan mengheningkan cipta itu terguncang beberapa kali. Akan tetapi, tubuh pendeta suci itu tidak hangus. Bahkan dari tubuh itu kembali keluar sinar putih yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Malah tubuh itu terangkat perlahan-lahan ke atas dan menuju tempat Calon Arang berdiri.

Calon Arang semakin ganas saat melihat musuhnya maju. Teriakannya sangat keras membelah bumi, kilat dan guntur yang dilemparkan ke arah lelaki itu lenyap ditelan sinar yang keluar dari tubuh Mpu Baradah. Jarak keduanya makin lama makin dekat. Ketika tinggal satu meter lagi tiba-tiba terdengar ledakan yang dahsyat sekali, blaaaaaar! blaaaaar! Bunyi yang menggelegar itu mengejutkan penduduk. Mereka pikir ada gempa bumi. Saat itu Calon Arang terpental jauh dan tubuhnya terjungkir, kepalanya mencium tanah, dan dari mulut raksasa itu keluar darah segar. Tubuh Mpu Baradah pun terpental, tetapi posisinya masih duduk bersila dan mulutnya terus membacakan mantra.
Calon Arang bertambah sangar, wajahnya semakin ganas. Matanya melotot menatap Mpu Baradah, “Mati kaupendeta busuk!” serunya, suaranya berteriak keras sambil menyerang dengan gumpalan api bertubi-tubi.
Orang tua itu menghindar, gumpalan api itu mengenai pohon beringin, saat itu juga pohon itu hangus. Serangan selanjutnya mengenai gunung gunung runtuh menjadi batu. Seluruh binatang, anjing, kijang, kera, berlari berhamburan. Pohon­pohon jatuh saling bertindihan.

Melihat Calon Arang semakin ganas, akhimya Mpu Baradah tidak dapat tinggal diam lagi. Diserangnya Calon Arang dengan aji-ajinya yang sangat ampuh. Pendeta itu kembali beryoga, membacakan mantra. Setelah itu, pandangan Mpu Baradah pun mengeluarkan api. Api bertemu api, mengadu kekuatan. Tubuh Mpu Baradah bergetar menahan kekuatan yang dilancarkan Calon Arang. Raksasa itu pun mulai oleng menahan kekuatan yang dikeluarkan Mpu Baradah. Kekuatan putih bertemu dengan kekuatan hitam, saling bertahan. Bumi kembali berguncang dan terdengar bunyi yang menggelegar, blaaaaar, blaaaar, blaaaaar.

Rakyat berteriak mendengar suara itu, mereka berhamburan, lari menjauhi tempat pertempuran. Ketika bunyi menggelegar yang paling dahsyat terdengar lagi, Calon Arang kalah.

Raksasa itu pun hangus terbakar, mati tanpa mayat, menjadi abu.
Abu yang masih menumpuk itu diambil Mpu Baradah dan diletakkan di kain putih. Kemudian abu itu dihidupkan kembali oleh Mpu Baradah. Dari abu itu keluarlah tubuh Ki Rangda.

Ki Rangda masih kelihatan pucat, sama seperti saat ingin menebus dosa.
Dengan suara lirih, Ki Ragda minta dimusnahkan “Aku malu masih hidup , teruskan Bunuhlah aku!” seru Ki Rangda. “Aku malu, aku harus menebus dosaku” lanjutnya dengan tubuhnya semakin lunglai dari mulutnya keluar darah segar.

Aku tidak tega Rangda, kau adalah besanku ” kata Mpu Baradah dengan lembut.
Kalau kamu tidak membunuhku berarti kamu tidak membantu aku menuju kesucian!” seru Ki Rangda lagi.

Melihat wanita itu ingin menuj kesucian, Mpu Baradah membacakan doa dan mantra kembali. Mulutnya komat-kamit dan matanya kembali terpejam. Beberapa saat kemudian pendeta itu berkata, “Demi ketentramanmu dan ketentraman rakyat semua akan kulakukan juga penyucian ini” kata pendeta itu.

Setelah berkata begitu kembali tubuh Mpu Baradah mengeluarkan cahaya dan cahaya itu terus melebar dan meraih tubuh Ki Rangda yang sudah tidak berdaya. Hanya beberapa saat, terdengar kembali bunyi menggelegar. Saat itu pula, tubuh Ki Rangda melemas dan jatuh ke tanah.

Sernua penduduk bersorak gembira menyambut kematian Ki Rangda alias si Calon Arang, orang yang membuat hidup mereka menderita.
Meninggalnya Ki Rangda berarti hilang pula kutukannya pada seluruh penduduk.

Pada saat itu juga tanah yang gersang tiba-tiba kembali subur. Hujan turun menyirami tanah yang gersang. Padi-padi kem ali menghijau, dan rumput terhampar bagai permadani. penyakit pun lenyap seketika seakan ditelan bumi.

Ratna Manggali masih bermuram durja mengingat kematian ibunya meskipun ia bahagia juga melihat rakyat kembali hidup dalam kemakmuran.
“Anakku sayang, Ketahuilah ibumu dibunuh atas perintah sang Prabu karena ia berbuat jahat, merusak negara. Pasrahkanlah kepergiannya dan tenangkanlah pikiranmu Nak, kata Mpu Baradah menghibur menantunya.

Meskipun Ratna Manggali sadar bahwa ibunya berdosa besar, tetapi ia tidak tega juga ibunya meninggal. Apalagi meninggalnya dengan cara yang tidak wajar.
Bawula pun turut menghibur junjungan hatinya. “Sadarlah Adinda, aku tak tega melihatmu sedih. Kamu tahukan lbu mati dalam penyucian. Ia pasti masuk surga,” lalu Bawula mendiamkan istrinya yang sedang terisak-isak. Air mata Ratna Manggali bercucuran tidak berhenti.
“Kasihan anak kita kalau Adik bersedih terus!” katanya lagi sambil memegangi perut istrinya.”
“Ya, Raka, aku akan berusaha menghilangkan kepedihan hatiku,” sahut Ratna Manggali.
Mpu Baradah pun menambahkan nasihatnya, “Tidakkah anakku senang melihat Daha telah bebas dari malapetaka. tidak perlu disesali lagi kematian ibumu. Ia sudah aman di surga,” lalu pendeta itu berkata lagi, “Kalau dosa ibumu tidak besar, ia tidak akan meninggal dalam penyucian, tetapi ibumu menanggung dosa yang sangat besar. ltulah sebabnya, Sang Hyang Widi memanggilnya. Relakanlah. Ia sekarang sudah ada di sisi Yang Mahakuasa.”

Mendengar nasihat dari kedua orang yang sangat disayanginya, Ratna Manggali cukup terhibur, “Ya, aku rela, aku serahkan lbu pada yang maha adil,” katanya dalam isak tangisnya dan ditariknya napas yang agak panjang terasa ia ingin melepaskan beban yang berat yang menindihnya selama ini.

Setelah tahu Ki Rangda mengadakan penyucian, banyak murid Ki Rangda yang tersebar di desa-desa datang kepada Mpu Baradah untuk disucikan. Menghadapi penebusan dosa ini, Mpu Baradah sangat bahagia. Ia mengajak semua murid Ki Rangda ke kuburan dan di situlah mereka disucikan bersama-sama dengan menato lidah mereka. Tato itu dipercaya dapat menangkal ilmu sihir yang pemah mereka miliki.

Matinya Calon Arang dan seluruh muridnya insaf, kembali ke jalan yang benar dan Jirah, desa di Daha kembali aman dan tenteram.

Raja Daha mendengar pula tentang penyucian diri Ki Rangda dan kematiannya. la juga mendapat laporan bahwa murid-murid raksasa itu telah menyucikan diri. Sebagai raja, ia sangat gembira mendengar semua kabar itu. Negerinya akan kembali aman, damai, dan makmur seperti dulu. Bersama dengan Jayabaya, Jayasaba, dan Patih Widura Wacana, mereka menuju Jirah berbelasungkawa atas kematian Ki Rangda.
Hari masih remang-remang karena kabut masih tebal ketika rombongan Raja keluar dari pintu gerbang istana. Sepanjang perjalanan, Raja Daha diberi penghormatan, semua rakyat menundukkan kepala ketika berpapasan dengan rombongan itu.
Desa-desa yang dilalui rombongan Raja sudah kelihatan hijau kembali. padahal, kemarin masih gersang, tandus, dan korban di mana-mana. Akan tetapi, di beberapa tempat masih terlihat beberapa kerusakan di sana-sini. Aku harus cepat membangun kembali negeri ini. Rakyatku harus sejahtera kembali tanpa suatu penderitaan, pikir Raja.

Sesampai di Jirah rombongan Raja Daha disambut oleh Mpu Badarah. Beliau mengundang Mpu Badarah, Bawula, dan Ratna Manggali ke istana. “Suatu kehormatan bagi kerajaan Daha jika Eyang, Bawula, dan Ratna Manggali datang ke istana,” pinta Raja.
Mpu Badarah menyambut kebaikan hati raja itu. Begitu juga Bawula dan Ratna Manggali. “Kami pasti akan berkunjung ke istana, Tuanku,” kata Bawula dengan suara sopan. Akhimya mereka berjabatan tangan.
Sebelum pulang Mpu Baradah meminta kembali agar Raja Daha mengadakan upacara puja wali kembali. Raja itu sangat senang mendengar saran pendeta itu. Raja mengundang ketiga orang itu menghadiri upacara keagamaan itu dan melaksanakannya bersama-sama mereka di istana.
Raja menarik napas panjang. Dadanya sudah lega kembali. Itu pertanda penderitaan yang selama ini menghantuinya sudah hilang, terbang.

Setelah bercakap-cakap sebentar, rombongan kembali ke Daha. Sesudah rombongan Raja Daha sampai kembali di pintu gerbang istana, gamelan pun kembali terdengar, gong dan genta bersahut-sahutan menyambut rombongan berkuda masuk kembali ke dalam istana.
Jayabaya dan Jayasaba mengumpulkan rakyat yang mengungsi di kerajaan beberapa hari. “Wahai rakyatku yang budiman. Sekarang kembalilah ke rumah kalian masing-masing. Negeri kita sudah aman lagi. Wabah penyakit sudah punah dan kemarau pun sudah pergi,” kata anak raja itu dengan suara Ian tang.
“Lusa kita akan mengadakan upacara puja wali, kami mengharapkan seluruh rakyat mengikutinya,” kata Jayasaba lagi.

Mendengar berita baik itu seluruh rakyat bersorak-sorak. Mereka menari-nari. Setelah itu mereka pulang menuju rumah mereka masing-masing.
Raja Airlangga memerintahkan seluruh hulubalang istana bekerja bakti membersihkan sebagian ruang kerajaan yang digunakan sebaga1 tempat pengungsian.

Sebagai tanda terima kasih kepada Yang Mahakuasa, raja itu juga menyuruh patihnya membuat pengumuman ke seluruh negeri, mengajak seluruh rakyatnya mengadakan kembali upacara keagamaan, yaitu upacara puja wali, upacara persembahyangan sebagai tanda terima kasih kepada Sang Hyang Widi. Mereka mengharap berkah. Pada hari itu juga seluruh pura, tempat suci, di Daha dibersihkan.
Dalam upacara puja wali, Raja Airlangga dan rakyat sudah menyediakan saji-sajian, berbagai macam janur dirangkai, buah­buahan disusun menjadi gunungan, berbagai aneka sesembahan lain sudah tersaji rapi. Balai pemujaan, tempat upacara akan berlangasung sudah diukir dengan halus.
Para wanita seisi istana berdandan, lalu berkumpul di tempat itu. Mereka semua cantik, berpakaian sutra bertepikan emas perada, bercincin mutiara, berkalung emas, bersubang daun lontar putih, bibir mereka bercahaya, menyenangkan hati.
Rakyat pun tidak mau kalah dengan penghuni istana, laki, perempuan, pemuda, gadis, dan anak-anak turut serta. Mereka pun memakai baju yang paling indah yang mereka miliki.
Suara orang bergemuruh, terdengar di balai pemujaan, berjejal-jejal. Latu umbul-umbul dan payung panjang, suara gending mulai berbunyi nyaring, melagukan wargasari. Dupa pun mulai berasap. Bunyi gamelan pun tidak kalah bagusnya, bersahut-sahutan, gong, kendang, kemong, dan tabuh-tabuhan bernyanyi.

Tidak lama kemudian iring-iringan itu berjalan bersama berduyun-duyun menuju pantai, melemparkan saji-sajian ke air. Mpu Beradah memimpin upacara itu dengan membaca doa kepada Sang Hyang Widi. Upacara berjalan sangat khidmat dan khusyuk. Setelah pembacaan doa selesai, seluruh penduduk Daha yang mengikuti upacara itu berpesta pora di pantai, bersuka-sukaan, bergembira ria.



SUMBER BUKU

CALON ARANG DARI JIRAH

(Di ceritakan kembali oleh Mu'jizah)
Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan 1995
ISBN 979-459-557-8

Baca Juga

Bhagavad Gita

"Tiada Yadnya Yang Lebih Tinggi Dari Pengetahuan"

Beryadnya dengan Share dan Komentar

FACEBOOK COMMENT