Teologi Siwa Bhujangga dalam Tutur Batur Kalawasan Petak


Filsafat Aksara dan Konsep Sawa Sagota

Mikrokosmos Aksara dan Anatomi Kehidupan

Sebagai sebuah purana dan pedoman ke-Rsi-an yang luhur bagi aliran Siwa Bhujangga, Lontar Batur Kalawasan Petak menyajikan analisis mistik yang mendalam terhadap kekuatan aksara. Lontar ini tidak melihat huruf semata sebagai representasi fonetik, melainkan menafsirkan deretan aksara Jawa kuno atau silabis Carakan (A, Na, Ca, Ra, Ka, dst.) ke dalam representasi fungsional organ anatomi tubuh manusia (mikrokosmos). Penjabaran ini memperlihatkan konsep deifikasi aksara yang holistik, di mana susunan abjad merupakan replika dari struktur penciptaan tubuh biokimia manusia. Naskah merincikan korelasi tersebut secara etimologis spiritual (kirata basa) sebagai berikut :

Untuk menampilkan bagian ini, diperlukan
Login Membership
Kategorisasi semantik di atas merupakan metode literasi unik dari sekte Siwa Bhujangga untuk menjelaskan anatomi jasmaniah (lingga sarira). Para rsi menggunakan filosofi aksara untuk menyadarkan manusia bahwa tubuhnya hanyalah kumpulan aksara semesta yang disatukan dan pada akhirnya akan dipisahkan kembali. Lebih jauh dari itu, naskah ini menguraikan letak esensi prana melalui Tri Aksara suci umat Hindu (Ang, Ung, Mang) dalam anatomi mistis tata kelola pernapasan (pranayama) :
Untuk menampilkan bagian ini, diperlukan
Login Membership

Sawa Sagota – Penjelasan Tidur dan Kematian

Memasuki penutup lembaran lontarnya, Rsi Wisnawa merangkum seluruh kerangka metafisiknya melalui ajaran rahasia yang disebut Sawa Sagota, yang merupakan penjabaran filsafat tentang batas kabur antara kondisi kesadaran (bangun), istirahat (tidur / bermimpi), dan kematian absolut. Lontar ini memberikan penjelasan bahwa elemen kosmik terproyeksi secara ekuivalen ke dalam rongga tubuh manusia.

Naskah menyebutkan :

Langite tan pajalada, natan pawindu ne munggah ring awak caine, selantum teke caine madan langit ditu nongos urip caine.

Hal ini bermakna bahwa otak dan kepala manusia adalah perwujudan dari hamparan langit (angkasa kosmik) tempat bersemayamnya Urip atau nyawa kesadaran tertinggi.

Napas atau angin di dalam paru-paru diibaratkan sebagai keberadaan bintang dan bulan yang mengatur pasang surut aliran rasa, emosi (lobha, legha), dan nalar keadilan (dharma, patut, salah).

Sedangkan jantung sebagai motor pemompa energi dianalogikan sebagai Surya (matahari) dan api (api kamulan atin caine) yang menghasilkan getaran kehidupan dan hawa panas biologis.

Untuk menampilkan bagian ini, diperlukan
Login Membership

Barulah ketika pusat kesadaran (Budhi) memutuskan untuk mati (mabudhi mati), Sang Hyang Pramana (sang pencipta nyawa) mencabut seluruh daya hidup secara permanen. Tubuh akan mendingin ketika esensi api padam, kembali menjadi bayu (angin kosmik), yang akan kembali menyatu pada wilayah Brahma Lokha kosmik.



HALAMAN TERKAIT
Baca Juga