lontar sasih

Lontar Aji Sasih – Hukum Alam, Astronomi dan Spiritualitas


Naskah Lontar Aji Sasih dibuka dengan penegasan bahwa hukum perputaran bulan (Aji Sasih) bersumber dari Sang Hyang Kala Tattwa dan pertemuan antara Sang Hyang Surya (Matahari) serta Sang Hyang Candra (Bulan). Sasih dipandang sebagai “Atma” (Jiwa) bagi alam semesta, sedangkan Wuku adalah “Raga” (Tubuh). Jika keduanya tidak sinkron, maka harmoni dunia akan rusak. Menjadi pedoman agar manusia tidak menyimpang dari ketetapan Sang Hyang Widhi dalam melaksanakan ritual (Piodalan) sesauai Kalender Bali.

Klasifikasi 12 Sasih dan Korelasi Zodiak (Rasi)

Sasih dihitung berdasarkan orbit bulan, dan setiap Sasih memiliki padanan dengan sistem perbintangan (Rasi/Zodiak) :

No Nama Sasih Nama Rasi (Zodiak) Dewata Penguasa
1 Kasa Rekata (Cancer) Bhatara Wisnu
2 Karo Singa (Leo) Bhatara Brahma
3 Katiga Kanya (Virgo) Bhatara Iswara
4 Kapat Tula (Libra) Bhatara Sri
5 Kalima Mercika (Scorpio) Bhatara Gana
6 Kanem Dhanu (Sagittarius) Bhatara Rudra
7 Kapitu Makara (Capricorn) Bhatara Sambhu
8 Kaulu Kumbha (Aquarius) Bhatara Maheswara
9 Kasanga Mina (Pisces) Bhatara Sangkara
10 Kedasa Mesa (Aries) Bhatara Siwa
11 Jiyestha Wresaba (Taurus) Bhatara Sadha Siwa
12 Sada Mithuna (Gemini) Bhatara Parama Siwa

 

Fondasi Matematis : Sinkronisasi Surya-Candra

Lontar ini menjelaskan perbedaan durasi tahun matahari dan bulan yang menjadi dasar perlunya koreksi kalender :

  • Tahun Candra : 354 Hari.
  • Tahun Surya : 365 Hari.
  • Selisih : 11 Hari per tahun.
  • Solusi (Sasih Nampih) : Selisih ini dikompensasi melalui mekanisme bulan ganda yang disebut Mala Sasih atau Sasih Nampih agar musim tidak bergeser (rered).

Hukum Sasih Nampih (Interkalasi)

Tidak semua sasih boleh digandakan. Lontar ini menetapkan aturan ketat :

  • Sasih yang Boleh Nampih : Hanya Sasih Kasa, Karo, Katiga, dan Sada.
  • Sasih Utama (Dilarang Nampih) : Sasih Kapat hingga Kasanga dilarang keras untuk digandakan karena dianggap sebagai sasih suci/utama pemberian Dewata.
  • Kriteria : Tergantung angka tahun Saka (ganjil/genap) dan posisi astronomis bulan.
  • Aturan Ritual : Untuk pura besar, piodalan dilakukan pada sasih nampih kedua (Sasih Bersih). Untuk pura kecil, dilakukan pada sasih nampih pertama (Sasih Pangawit).

Kondisi Alam dan Siklus Musim (Ritu)

Naskah mendeskripsikan 6 musim (Ritu) yang masing-masing berlangsung selama dua sasih :

  1. Wasanta Ritu (Kasa-Karo) : Alam murni, air terbit, bunga mulai tumbuh.
  2. Grisma Ritu (Katiga-Kapat) : Terang benderang, angin berisik, puncak keindahan bunga (Amerta).
  3. Sarsar Ritu (Kalima-Kanem) : Musim hujan lebat, bhuta kala mulai aktif.
  4. Hemanta Ritu (Kapitu-Kaulu) : Musim dingin yang menusuk, air besar/banjir.
  5. Sisira Ritu (Kasanga-Kedasa) : Angin kencang, masa transisi/peralihan.
  6. Sarad Ritu (Jiyestha-Sada) : Musim panas, alam menyusut (Rereh Amerta).

Pedoman Pertanian dan Astronomi Visual

Lontar ini memberikan panduan bagi petani (Amacul) berdasarkan kemunculan bintang :

  • Bintang Kartika (Pleiades) : Muncul di Sasih Kasa (Timur), puncaknya di Karo, surut di Katiga (Barat).
  • Bintang Waluku (Orion) : Muncul di Sasih Katiga, puncaknya di Kapat (tengah langit). Ini adalah sinyal utama untuk mulai menanam padi karena energi kehidupan (Amerta Sari) sedang meluap dari bumi.

Larangan Membangun (Larangan Wewangunan)

Setiap sasih memiliki pantangan spesifik untuk konstruksi guna menghindari kesialan :

  • Sasih Kasa : Dilarang membangun dapur/perapian.
  • Sasih Karo : Dilarang membangun dapur (api sedang berkobar).
  • Sasih Kanem : Dilarang membangun tembok (karena hujan lebat merusak struktur).
  • Sasih Kapat : Waktu terbaik untuk membangun segala jenis bangunan, baik untuk manusia maupun tempat suci.

Peringatan dan Konsekuensi (Bisama)

Lontar ini ditutup dengan peringatan keras :

  • Kesalahan Hitung : Jika salah menghitung sasih, maka piodalan tidak akan disaksikan oleh Dewata. Akibatnya, dunia tertimpa wabah (grubug) dan ketidakharmonisan.
  • Etika Penyusun : Penyusun kalender (Pangripta) harus memahami “Suksmaning Sasih” (hakikat spiritual), bukan sekadar angka di atas kertas.

Lontar Aji Sasih bukan sekadar naskah astronomi kuno; ia adalah kristalisasi kearifan lokal Bali yang memahami bahwa setiap detik perputaran bulan memiliki resonansi langsung terhadap energi bumi dan psikologi manusia. Naskah ini merupakan peta jalan bagi masyarakat Bali untuk mencapai harmoni antara Bhuwana Alit (diri sendiri) dan Bhuwana Agung (alam semesta).

Ontologi Waktu : Sasih sebagai Napas Jagat (Lempir 1a – 3a)

Dalam naskah ini, waktu tidak dipandang sebagai garis linear yang mati, melainkan sebagai entitas hidup.

  • Penyatuan Surya-Candra : Waktu lahir dari dialog antara Matahari (Surya) sebagai simbol maskulin/energi dan Bulan (Candra) sebagai simbol feminin/ukuran.
  • Jiwa dan Raga : Lontar ini menegaskan sebuah metafora fundamental : Sasih adalah Atma (Jiwa) dan Wuku adalah Raga (Tubuh). Wuku mengatur ritme sosial-ritual singkat (7 hari), sementara Sasih mengatur ritme biologis dan ekologis yang lebih besar (30 hari).
  • Visi Ketuhanan : Perhitungan sasih adalah bentuk ketaatan kepada Sang Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Sang Hyang Kala (Sang Penguasa Waktu).

Teologi Sasih : 12 Dewata dan Manifestasi Alam (Lempir 4a – 4b)

Setiap sasih dipercayai dijaga oleh dewata tertentu yang memberikan karakter spesifik pada bulan tersebut :

Sasih Dewata Penguasa Karakteristik Alam & Gejala Fisik
Kasa Bhatara Wisnu Air mulai terbit/mumbul, alam dalam rupa nirmala (murni).
Karo Bhatara Brahma Suhu bumi meningkat (panas), bunga-bunga mulai bertunas.
Katiga Bhatara Iswara Angin mulai berisik, pandangan alam menjadi nrawang (bening).
Kapat Bhatara Sri Puncak Amerta. Bunga mekar sempurna, udara sejuk.
Kalima Bhatara Gana Mulai turun hujan (banyupinarah), buah-buahan mulai masak.
Kanem Bhatara Rudra Hujan lebat, kondisi durgama (berbahaya/rawan penyakit).
Kapitu Bhatara Sambhu Puncak musim dingin, angin kencang bertiup.
Kaulu Bhatara Maheswara Air meluap (banjir), kondisi cuaca tidak menentu (baur).
Kasanga Bhatara Sangkara Kondisi gora (dahsyat), transisi besar, pembersihan bhuta.
Kedasa Bhatara Siwa Puncak Kesucian. Alam terang benderang, transisi ke musim kemarau.
Jiyestha Bhatara Sadha Siwa Penyusutan energi bumi (Rereh), air mulai surut.
Sada Bhatara Parama Siwa Puncak kekeringan dan panas, alam bersiap untuk siklus baru.

 

Mekanisme Sinkronisasi : Sasih Nampih (Lempir 5a – 6b)

Salah satu bagian paling teknis adalah pengaturan Sasih Nampih (Interkalasi). Karena satu tahun bulan (Candra) lebih pendek 11 hari dari tahun matahari (Surya), maka terjadi penumpukan selisih waktu.

  1. Sasih Mamadu (Bulan Ganda) : Untuk menetralisir selisih hari, dilakukan penggandaan bulan.
  2. Sasih Utama vs Sasih Mala : Naskah melarang keras penggandaan pada Sasih Kapat hingga Kasanga. Mengapa? Karena bulan-bulan ini adalah masa krusial bagi ekosistem dan ritual suci. Penggandaan hanya boleh dilakukan pada bulan-bulan transisi seperti Sada, Kasa, Karo, atau Katiga.
  3. Sifat Mala : “Mala” dalam Sasih Nampih bukan berarti kotor dalam arti fisik, melainkan “sisa” atau “kelebihan” hitungan yang harus disucikan kembali melalui piodalan di sasih kedua (Sasih Bersih).

Fenologi dan Astronomi Terapan (Lempir 8a – 9a)

Lontar Aji Sasih berfungsi sebagai buku panduan bagi kaum agraris Bali kuno :

  • Siklus Rasi Bintang : Pengamatan terhadap gugus bintang Kartika (Pleiades) dan Waluku (Orion) digunakan untuk menentukan masa tanam yang tepat. Saat Waluku berada di tengah langit pada Sasih Kapat, energi bumi (Amerta) sedang berada pada titik tertingginya, menjamin kesuburan tanaman.
  • Pergeseran Dauh (Jam) : Naskah ini menyadari fenomena Uttarayana dan Daksinayana (gerak semu matahari ke utara dan selatan), yang menyebabkan perbedaan panjang siang dan malam. Hal ini sangat berpengaruh pada penentuan waktu ritual (Dauh Ayuning Karya).

Arsitektur dan Larangan Etis (Lempir 10a – 13a)

Sasih juga mengatur tata cara pembangunan fisik (Wewangunan) :

  • Pantangan Konstruksi : Membangun pada sasih yang salah dipercayai membawa bencana. Contohnya, membangun dapur di Sasih Karo dilarang karena dominasi unsur api Bhatara Brahma dapat memicu kebakaran.
  • Geraha (Gerhana) : Munculnya gerhana dianggap sebagai “sakitnya” alam semesta. Jika terjadi pada sasih utama (Kapat/Kedasa), hal tersebut dianggap sebagai sinyal ketidakseimbangan politik atau kesehatan pemimpin (Sang Natha Ratu), yang menuntut ritual pembersihan jagat secara masif.

Simpulan Filosofis : Suksmaning Sasih (Lempir 14b – 15a)

Artikel ini menyimpulkan bahwa Lontar Aji Sasih mengajarkan manusia untuk tidak menjadi “buta sastra” atau buta terhadap tanda-tanda alam.

  • Waktu adalah Pengabdian : Memahami sasih berarti memahami irama Tuhan.
  • Keseimbangan : Pengetahuan ini memastikan bahwa piodalan (hari raya) tetap jatuh pada musim yang tepat, sehingga esensi ritual selaras dengan kondisi atmosfer bumi.

Naskah ini ditutup dengan doa agar Aji Sasih tetap menjadi “Suluh Jagat”—obor yang menerangi peradaban, memastikan manusia tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman, selama matahari dan bulan masih bersinar di angkasa.


Sumber

Gedong Kirtya (Singaraja) :

Nomor 1047
Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali :

Nomor III/335 atau III/337


HALAMAN TERKAIT
Baca Juga