Ala Ayuning Dewasa (Wariga) Dalam Lontar Aji Swamandala


Download Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00
Info Akun

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini


Lontar Aji Swamandala Paragraf ke-56

Ini yang disebut alaning dewasa: wuku tan paguru, sasih tan patumpek, wulan tan pasirah, Erangan, Kala, dangu dan Pasah. Semua hari buruk itu, ada upacara untuk menjadikannya hari baik, sehingga menyebabkan yang punya kerja tidak mendapatkan rintangan. Demikian juga yang menganugrahkan dewasa, (yang menganugrahkan Dewasa) sepatutnya mengetahui kedudukan saudaranya di dalam diri pun di alam makro (juga sifatnya mengetahui) kedudukan matahari dan bulan, serta kedudukan Dewata Nawasanga yang mengganggu orang yang membuat upakara. Ini disuguhkan, upakaranya.

Lontar Aji Swamandala Paragraf ke-62

Ini adalah hukuman Sang Hyang Swamandala dan Sang Hyang Hayu: jika ada orang yang melaksanakan upacara kematian mengubur, menghanyutkan mayat di sungai atau membakar mayat dan yang sejenisnya. Janganlah melaksanakan pada hari Kamis, Wage, Uku Sungsang. Sebab hari itu adalah hari turunnya Ida Bhatàra Amangkurat diiringi oleh semua Dewata Nawasanga, para Resi, Gendarwaraja untuk menyaksikan upacara pemujaan yang dilaksanakan oleh umat manusia di dunia.

Tidak dibenarkan menghaturkan upacara Byakala pada hari Sugian, Kamis Wage dan Jumat Kliwon. (jika itu dilanggar) ia akan menganugrahkan umur pendek. Dan warga desa akan mati setiap lima hari sekali. Maka akibatnya manusia selalu cuntaka, kotor. Ia yang melaksanakan upacara ngaben, leluhurnya akan dimasukkan ke dalam Lumpur blagadabah, demikian akibat buruknya.

Lontar Aji Swamandala Paragraf ke-63

Jika ada pada hari baik ada pujawali Ida Bhatara di Prahyangan, warga dewa tidak boleh melaksanakan upacara kematian. Pahala buruknya adalah ia yang memberi petunjuk maupun yang melaksanakan upacara itu akan mendapatkan kutuk besar. Desa akan selalu mendapatkan celaka.

Pada hari Rabu Kliwon Dungulan dan Selasa Umanis Kuningan juga tidak dibenarkan mengubur mayat dan melakukan upacara ngaben. Pada hari itu para dewa turun dari sorga bestana di kahyangan di dunia. Jika (ketentuan itu) dilanggar, pastilah mendapat kutuk, rohnya menjelma menjadi binatang neraka, cacing, lintah atau ular. Demikianlah prihalnya.

Lontar Aji Swamandala Paragraf ke-84

Inilah ucap-ucap Sang Hyang Aji Swamandala, ialah ajaran Bhatàra Sùrya Candra yang diwarisi oleh para Pendeta dari sejak dahulu kala. Yaitu tatacara orang untuk mendapat hari baik, dewasa ayu, untuk melaksanakan upacara kecil, menengah ataupun besar. Baik upacara menyucikan diri, agunting dan upacara mengangkat anak untuk melanjutkan keturunan.

Inilah hari baik yang mesti didapat yaitu hari: Rebu Umanis Perangbakat Sasih ke 3, 4, 5, tanggal ke 10 adalah hari yang sangat baik, disebut hari Mretabumi. Akibatnya mendapatkan panjang umur anak yang diangkat jarang tertimpa penyakit. Dan orang yang merawat dirinya dengan baik, jaya, bahagian yang didapatnya.

Lontar Aji Swamandala Paragraf ke-85

Sabtu Umanis Tolu Sasih ke 5 tanggal ke 13 disebut hari Mretaresi adalah hari baik untuk membangun tempat suci, sanggar. Pahalanya dikasih para dewa. Para Bhùta menunduk horma, berlimpah kemakmuran.

Lontar Aji Swamandala Paragraf ke-86

Kemis Wage Sasih Karo tanggal ke 5 adalah hari baik untuk melaksanakan upacara Agunting. Pahalanya jarang tertimpa penyakit.

Lontar Aji Swamandala Paragraf ke-87

Rabu Wage Sasih ke 5 disebut hari wrediguna adalah hari baik untuk mengupacarai sanggar. Pahalanya mendapat manfaat (wibawa?) .

Lontar Aji Swamandala Paragraf ke-88

Rabu Paing, nuju Guru, Sasih ke 10, tanggal ke 1 disebut hari Wibuh Mretadewa, adalah hari baik untuk menyucikan diri dan bayi. Tetapi tidak boleh dilaksanakan pada hari Kresnapaksa. Laksanakanlah pada hari suklapaksa. Pahalanya berlimpa kebahagiaan dan kemakmuran.

Lontar Aji Swamandala Paragraf ke-89

Ini adalah tatacara orang menanyakan hari baik kepada sang pendeta mulya. Orang hendaknya menanyakan hari baik untuk melaksanakan upacara yajña sebaiknya sang bertanya menghaturkan, daksina, diantaranya; sreh ampinan, buah bancangan, canang atanding, uang 250, dihaturkan kepada Hyang Saraswati, karena beliau perwujudan dan Bhatàra Trisakti, beliau yang menjaga Khayangan Sang Hyang Saraswati, kalau tidak demikian, nantinya akan menemukan mreta wiûya (makanan menjadi racun) yajña yang dilakukan ditinggalkan oleh Bhagawan Garga.

Lontar Aji Swamandala Paragraf ke-90

Dan janganlah anda bertanya, sastra kebaikan/kebajikan pada sang pendeta, pada waktu Purwani, pahalanya tidak baik, akan disusupi oleh Sang Kala-kali pada akhirnya, prilaku orang yang beryajña, setiap pekerjaan janganlah dilakukan pada Wuku tan Paguru, Sasih tan Patumpek, wulan tan Pasirah, erangan, Kala, Dangu, hati tidak baik untuk menyucikan diri dan mengangkat anak untuk dijadikan anak, pahalanya akan pendek umur.

Lontar Aji Swamandala Paragraf ke-91

Ini adalah Aji Swamandala. Swamandala adalah tempat berwujud matahari dan bintang. Beliau yang menentukan hari-hari semuanya. Baik buruknya hari, didalam kitab Wariga yang dianugrahkan oleh sang pendeta di dunia. Beliaulah yang menjaga (menentukan) hidup matinya seseorang di dunia. Beliau berwujud kata-kata, tenaga dan pikiran, bàyu- sabda – idêp.

Lontar Aji Swamandala Paragraf ke-98

Ini adalah hari atau dewasa tidak boleh dipakai untuk orang mati perinciannya: wuku walang hati namanya, sinta, gumbreg, warigadian, kuningan, Pahang, Medangkungan, Prangbakat, Bala, Wayang, Klawu, Watugunung, kalau dilanggar kena kutukan oleh Bhatàra.

Lontar Aji Swamandala Paragraf ke-99

Ini hari yang tidak boleh dipergunakan untuk mengupacarai orang mati, tidak boleh dilalui diantaranya: pada hari Minggu, Landep, pada hari senin, ukir hari selasa, kamis, jumat, kulantir, merakih hari Rabu, Julungwangi, Langkir, Pahang, Medangkungan, Menail, Watugunung, Senin, Rabu, Jumat, sungsang, Kuningan, Klurut, Selasa, Kamis, Medangsia, Pujut, Matal, Uye, Klawu, Dukut, sabtu, tolu amat buruk, tidak dapat dijalani walaupun melaksanakan kebaikan.

Kalau hal ini dilanggar akibatnya mati karena ayam, sapi, burung, krebayak, disambar petir, dimakan ikan besar (jagul), harimau, dipatuk ulat, mati disawah, mati jauh, mati melahirkan, mati masuk kedalam air, mati dilalap api, menderita penyakit yang tidak disebut-sebut, salah lihat, salah berkata-kata, wabah penyakit meraja lela, menemui keburukan, dikutuk oleh Bhatàra Guru. Demikian tersebut dalam kitab sastra.

Lontar Aji Swamandala Paragraf ke-100

Ini hari baik (dewasa) mengupacarai mayat, abik, sorga, terbuka perinciannya: landep, julungwangi, klurut, perangbakat, pada hari minggu. Pananggal ke 1, ke 6

Lontar Aji Swamandala Paragraf ke-102

Kamis Umanis Sinta, panglong ping 4, baik, Bhatàra Siwa menerima atmanya, senang, kaya/sejahtera, oleh kebaikan namanya, Jumat Umanis, Merakih panglong ping 8, baik, Bhatàra Guru menerima atma, bekal menikmati kerahayuan namanya. Jumat Pahing Matala pananggal ping 11, baik, senang, berhasil. Bhatàra Siwa, Paramasiwa menerima atmanya. Kamis Pon Uye, panglong ping 9, Bhatàra Sinuhun menerima atma, baik, pikiran senang namanya. Senin Pon Ugu, pananggal ping 3 Bhatàra Siwa menerima atmanya, senang, sejahtera rahayu.

Lontar Aji Swamandala Paragraf ke-104

Senin Wage Dukut pananggal ping 11 Bhatàra Siwa jagat yang menerima atmanya, senang, kesucian, kalau lahir kembali senang mempelajari sastra, baik. Senin Pahing, Jumat Pahing namanya Purwaning dina (awalnya hari, apabila pada pananggal ping 1, ping 4, ping 6, ping 8, itu namanya pañca purwani).

Ini namanya Kala Têmah tidak boleh dilanggar pada saat melakukan kegiatan, sangat buruk, mengakibatkan kematian namanya.

Sinta, Landep, Wariga, warigadian, pada hari senin tidak baik; Ukir, Selasa, Kemis, Jumat, Sabtu, sama tidak baik; Kulantir, Dungulan pada hari Rabu, tidak baik, Tolu pada hari Senin, Kamis, Jumat adalah tidak baik.

Julungwangi, Langkir, Pahang, Medangkungan, Menail, watugunung, pada hari senin, Jumat adalah buruk. Medangsia; Pujut Klawu, Dukut pada hari Minggu, sabtu itu semuanya buruk.

Agar selalu diingat oleh yang mengetahui semua hari baik/buruk (dewasa).

lontar aji swamandala paragraf ke-105
Wintang Mangan Bumi namanya; Kalau Sasih Sada, panglong ping 7, Wintang Mangan Bumi namanya; Kalau Sasih Kasa, panglong ping 5, Wintang Mangan Bumi namanya; Kalau Sasih Karo, penanggal ping 8, Wintang Mangan Bumi namanya; Kalau sasih Katiga, penanggal ping 8, Wintang Mangan Bumi namanya; Kalau Sasih Kapat, penanggal ping 9, Wintang Mangan Bumi namanya; Kalau sasih Kalima, penanggal ping 13, Wintang Mangan Bumi namanya; Kalau Sasih Keenem, pananggal ping 8, Wintang Mangan Bumi namanya; Kalau Sasih Kapitu, penanggal ping 5, Wintang Mangan Bumi namanya; Kalau Sasih Kaulu, penanggal ping 4, Wintang Mangan Bumi namanya; Kalau Sasih Kasanga, penanggal ping 7, Wintang Mangan Bumi namanya; Kalau Sasih Kadasa, penanggal ping 10, Wintang Mangan Bumi namanya.
Lontar Aji Swamandala Paragraf ke-106

Ini penjelasan tentang Kala Dangu, tidak boleh dilanggar, tempat atau rumahnya kala-kala, kalau dilawan/dilanggar buruk, mati akibatnya, demikian peredarannya Kala Dangu, apabila mamakuh (mendirikan) rumah dan mulai memasuki karang (angaub karang); dan perkawinan (kawin) semua pekerjaan buruk, apabila dilanggar berakibat sakit, bahaya, gila, mengamuk namanya. Demikian khirnya akibatnya, tidak dapat ditawar (ditebus) karena amat samarnya Kala itu, karena banyak jenis atau bermacammacam jenisnya, sang Kala Dangu namanya.

Lontar Aji Swamandala Paragraf ke-108

Tempatnya Kala itu, mengikuti turunnya, sesuai dengan semua wuku, lima warna tempat pertemuannya, sesuai dengan semua wuku, uraiannya.

Lontar Aji Swamandala Paragraf ke-109

Sinta di Utara tempatnya, sang Kala Dangastra Mangap, sang Kala Mrak, empat buah namanya, diawali dengan ala jatuh, jatuh tanpa sebab, bengkak (beteg bangsel), pingsan dan akhirnya mati.

Landep di Barat Laut, tempatnya pada tanah/pertiwi, sang Kala Sada Guna-guna, empat banyaknya, Sang Kala Timpang dua banyaknya. Dan lagi akhirnya sakit akibat jatuh, picang, patah, pejen, lumpuh namanya, akhirnya menemui kematian.

Lontar Aji Swamandala Paragraf ke-110

Ukir di Tenggara tempatnya Sang Kala Petang bàyu namanya, tiga jumlahnya, Kala Spaksa Pataka, empat jumlahnya, dan cirinya: pusing, bengong, panas dingin, gelisah, sakit pada emua persendian, ngereres (mati pelan-pelan akibat sakit), sesak nafas, batuk, yang menyebabkan kematian.

Lontar Aji Swamandala Paragraf ke-111

Kulantir, pada pertiwi/tanah tempatnya, sang Kala Bhùta Mngasa, tiga banyaknya, dan Sang Kala Sor menjadi empat, serta pada wuku itu tidak boleh melaksanakan upacara mendirikan bangunan dan mencari rumah, mencari desa. Adapun mulainya segala bentuk kerja di pertiwi, dapat berakibat fatal, bahkan menemui ajal.



Buku Amrita Kundalini
Meditasi-Yoga menuju Realisasi Diri

Amrita Kundalini

Detail Buku

Baca Juga

Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

FACEBOOK COMMENT