Bayuh Oton & Tirta Penglukatan Wayang Sapuh Leger


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

Akhirnya, pada malam hari bertemu dengan seorang dalang yang sedang mengadakan pertunjukan wayang, Rare Kumara masuk ke bumbung (pembuluh bambu) gender wayang (musik wayang) dan Dewa Kala memakan sesajen wayang itu. Oleh karena itu, Mangku Dalang menasehati Dewa Kala agar jangan meneruskan niatnya hendak memakan Dewa Rare Kumara, karena Dewa Kala telah memakan sesajen wayang itu sebagai tebusannya. Dewa Kala tidak lagi berdaya melanjutkan pengejarannya, sehingga Dewa Rare Kumara akhirnya selamat.

Dewa Rare Kumara dalam mitologi, bahwa anak yang lahir pada hari yang bertepatan dengan Wuku Wayang dianggap anak Sukerta dan akan menjadi santapan Bhatara Kala, karena itu anak bersangkutan harus dilukat dengan Tirta Wayang Sapuh Leger.

Dewa Rare Kumara menjadi suatu keyakinan serta kepercayaan bagi orang Bali, bahwa yang mempunyai anak kecil, Dewa Rare Kumaralah yang membantu dan memelihara anak mereka.

Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya Pelangkiran (tempat suci yang terbuat dari kayu) sebagai tempat memuja Dewa Rare Kumara, ditempatkan di kamar tidur si anak. Begitu pula sebaliknya.

Di dalam cerita sapuh leger diungkapkan Betara Kala hanya mampu menebak dari badan fisik Dewa Siwa, seperti kaki beliau, tangan beliau, alat kelamin beliau dan sebagainya. Akan tetapi, Dewa Kala tidak mampu menebak mata ketiga dari Dewa Siwa. Kalau kita analisis kembali cerita sapuh leger bahwa Dewa Kala hanya mampu melihat badan fisik dari Dewa Siwa, tetapi tidak mampu melihat dunia yang ada di luar kekuatan diri manusia atau kekuatan Tuhan. Sama halnya dengan manusia yang dipengaruhi oleh keinginan dan hawa nafsu dia hanya mampu melihat alam sekala tetapi tidak mampu melihat alam niskala.

Lakon Dewa Kala mendapat kedudukan yang istimewa dalam kehidupan masyarakat Bali, karena lakon tersebut termasuk mitos yang diyakini dan dipercayai. Menurut Peursen, mitos adalah sebuah cerita yang memberikan pedoman dan arah tertentu kepada sekelompok orang karena mitos pada hakekatnya adalah cerita yang mengandung berbagai simbol dan berkaitan dengan hal-hal yang bersifat magis dan religius. Sejalan dengan pendapat tersebut diatas, bahwa lakon Dewa Kala dalam pertunjukkan wayang sapuh leger adalah jenis cerita yang mengandung pasemon filosofik dan berkaitan dengan hal-hal yang bersifat magis-religius.

Orang Bali secara mitologis menganggap pertunjukkan wayang berasal dari dewa-dewa di sorga. Mitos asal-usulnya disebutkan dalam dua naskah lontar yaitu lontar Siwagama dan lontar Tantu Panggelaran. Dalam lontar Siwagama menyebutkan sebagai berikut:

sinasa ring lemah, ryyarepaning saluagung, ginaweken pnggung Hyang Trisamaya, kumenaken kelirning awayang Bhatara Iswara hudipan, rinaksa de Sanghyang Brahma Wisnu, ginameling langon-langon, winahyaken lampah Bhatara kalih, Sanghyang Kala Ludra lawan Bhatari Panca Durga, sira purwakaning hana ringgit ring Yawa mandala, tinonton ing wwang akweh”

Dalam terjemahan bebas, artinya:

“Di bumi tepatnya di depan rumah Bale Gede, dibuatkan sebuah panggung atau arena Hyang Trisamaya, digelar pertunjukkan wayang memakai kelir, Bhatara Iswara bertindak sebagai dalang/pembicara, didampingi oleh Sanghyang Brahma dan Sanghyang Wisnu, diiringi gamelan Gender dan kecapi, menyanyikan lagu gula ganti, diikuti dengan gerak tari yang menawan, menceritakan perjalanan kedua dewata, yaitu Sanghyang Kala Ludra/Bhatara Siwa dengan Bhatari Panca Durga/Dewi Uma, demikianlah awal mula adanya wayang (ringgit) di bumi Jawa, orang yang menonton sangat banyak”.

Sementara itu lontar Tantu Panggelaran juga menyebutkan tentang asal mula pertunjukkan wayang yang berasal dari dewa-dewa di sorga. Adapun isinya adalah sebagai berikut:

“…Rep saksana Bhatara Iswara Brahma Wisnu umawara pandah Bhatara Kalarudra: tumurun maring madyapada hawayang sira, umucapaken tattwa Bhatara mwang Bhatari ring bhuwana. Mapanggung maklir sira, walulang inukir maka wayangnira, kinudangan panjang langonlangon. Bhatara Iswara sira hudipan, rinaksa sira de Hyang Brahma Wisnu. Mider sira ring bhuwana masang gina hawayang, tineher habandagina hawayang: mangkana mula kacarita nguni..”

Dalam terjemahan bebas, artinya:

“Para dewa menjadi takut, Siwa yang berwujud Kalarudra berkeinginan akan membinasakan segala isi dunia. Bhatara Iswara, Brahma, dan Wisnu mengetahui hal itu, kemudian turun ke bumi dan mengadakan pertunjukkan wayang. Mereka menceritakan siapa sesungguhnya Kalarudra dan Durga itu. Pertunjukkan itu diadakan di atas panggung dengan kelir, sedangkan wayang-wayangnya dibuat dari kulit binatang yang diukir dan dipahat disertai nyanyian yang menawan. Iswara bertindak sebagai dalang, didampingi oleh Brahma dan Wisnu. Mereka berkelana di bumi ini dengan bermain musik dan memaikan wayang. Dengan ini terciptalah suatu pertunjukkan wayang kulit”.

Naskah lontar Siwagama dan Tantu panggelaran, cukup jelas menyebutkan adanya pertunjukkan wayang lengkap dengan aparatusnya. Walaupun secara ekspilisit disebutkan asal mula pertunjukkan wayang ada di Jawa (Yawa Mandala), namun secara implisit mendekati bentuk pertunjukkan wayang kulit di Bali. Hal itu ditandai dengan digelarnya wayang kulit di tempat khusus (Bale Gede), dalang dibantu 2 orang kanan dan kiri disebut katengkong/tututan, serta menggunakan iringan/gamelan gender. Ketiga dewa (Bhatara Iswara, Brahma, dan Wisnu) sampai sekarang diyakini oleh dalang-dalang Bali membantu mensukseskan pertunjukkan wayang, hal ini jelas sekali tercantum dalam Dharma Pewayangan.

Menurut Lontar Sapuh Leger, Bhatara Siwa memberi ijin kepada Dewa Kala untuk memangsa anak/orang yang dilahirkan pada wuku wayang. Berdasarkan isi lontar tersebut diatas, umat Hindu pada umumnya, apabila diantara anaknya ada yang dilahirkan pada hari itu, demi keselamatannya, orang-orang Bali berusaha mengupacarai-nya dengan mementaskan wayang sapuh leger, walaupun alat-alat perlengkapannya harus dipersiapkan jauh lebih banyak (berat) dari perlengkapan sesajen (banten) jenis wayang lainnya. Sehingga anak-anak yang lahir pada wuku wayang mempunyai keistimewaan tersendiri dalam hal upacara pembersihannya.



Baca Juga

Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan