mimpi

Fenomena Mimpi – Teater Jiwa dan Proyeksi Alam Bawah Sadar


Meleluasan di Peteng – Proyeksi Astral dari Pelepasan Jiwa

Selain mimpi biasa, masyarakat Bali dan sains mengenali pengalaman transendental keluarnya kesadaran dari tubuh fisik yang disebut Meleluasan di peteng (berkelana di malam hari) atau Ngluluas.

Bagaimana kesadaran tetap aktif saat keluar dari otak fisik?

Lontar Yama Purwana Tattwa menjelaskan bahwa Suksma Sarira (badan halus) dibentuk dari citta (gudang ingatan), manas (pikiran sensorik), indria (persepsi perasa), dan ahamkara (identitas). Karena memori dan kognisi ini merupakan perangkat dari badan halus, bukan sekadar otak, maka fungsi intelektual terbawa utuh saat Suksma Sarira terlepas dari Stula Sarira. Praktik kebatinan luhur memposisikan ini sebagai lompatan evolusi untuk menavigasi dimensi Niskala.

Siapa Pengendali Jiwa dan Risiko Fatalnya?

Pengemudi utama Suksma Sarira adalah Atman, yang memberikan daya agar Buddhi dan Manas memegang kemudi. Dalam disiplin Dhyanayoga, pengembaraan ini dapat dikontrol sempurna. Namun pada orang awam, kendali sering dibajak oleh gejolak ketakutan di Manas, membuat perjalanan terasa mengerikan.

Risikonya sangat fatal. Saat jiwa keluar, Stula Sarira menjadi cangkang kosong layaknya koma. Jika di alam Niskala jiwa mendapat rintangan ekstrem — seperti diserang ilmu hitam (pangiwa) atau tersesat — maka jiwa gagal kembali berintegrasi ke badan wadag. Akibatnya di dunia nyata bervariasi dari koma, hilangnya kewarasan, hingga sindrom kematian mendadak saat tidur.

Di sinilah Saudara astral dari Kanda Pat yang bersthana di pelangkiran bertindak vital sebagai jangkar dan “mercusuar” untuk menuntun jiwa pulang dengan selamat.

Astral Projection dan Sleep Paralysis

Sebaliknya, psikologi dan neurosains modern mengklasifikasikan fenomena Meleluasan sebagai Astral Projection atau Out-of-Body Experience (OBE).

Sains tidak mengakui bahwa kesadaran benar-benar keluar tubuh, melainkan halusinasi kompleks yang erat kaitannya dengan Sleep Paralysis (ketindihan). Disonansi antara otak yang setengah sadar dan otot tubuh yang sedang lumpuh (atonia REM) menyebabkan gangguan pemrosesan perspektif dan vestibular, memaksa otak menciptakan ilusi mengambang atau melihat diri sendiri dari atas.

Pelepasan Jiwa dalam Tradisi Balian Pangiwa dan Penengen

Bagi masyarakat awam, pelepasan jiwa saat tidur mungkin terjadi secara spontan. Namun, dalam tradisi kebatinan Hindu Bali, pelepasan jiwa adalah sebuah praktik yang dilakukan dengan sengaja dan penuh kesadaran yang dikenal sebagai Meraga Sukma atau Ngluluas. Praktik ini bersinggungan langsung dengan dua kutub ilmu mistik di Bali, yakni ajaran Pangiwa dan Penengen yang berlandaskan pada tradisi Tantrayana dan Bhairawa.

Hubungan Pangiwa, Penengen, dan Perjalanan Astral

  • Jalur Pangiwa (Ilmu Kiri/Pengliakan) :
    Penganut ajaran ini menggunakan metode pelepasan sukma untuk mengumpulkan kekuatan gaib atau melakukan penyerangan. Saat melakukan perjalanan astral, Suksma Sarira praktisi Pangiwa bertransformasi menjadi berbagai bentuk manifestasi yang mengerikan di alam Niskala, seperti wujud hewan mistis atau wujud Rangda.
  • Jalur Penengen (Ilmu Kanan/Usadha) :
    Sebaliknya, para rohaniwan, Jero Balian, atau pengusadha mempraktikkan Meraga Sukma dengan tujuan mulia (Dharma). Berdasarkan panduan dari pustaka suci seperti Lontar Buddha Kecapi dan Lontar Usada, seorang Balian melepaskan suksmanya ke alam Niskala untuk mencari tahu penyebab gaib dari penyakit seorang pasien, memohon petunjuk pengobatan kepada leluhur, atau menetralisir ilmu hitam.

Untuk melakukan perjalanan astral dengan aman dan terarah, seorang penekun spiritual biasanya mengikuti pedoman asketik yang sangat ketat :

  1. Penyucian Fisik dan Batin : Langkah pertama yang mutlak dilakukan adalah membersihkan Stula Sarira dan Suksma Sarira menggunakan air suci atau tirta penawar. Hal ini bertujuan untuk menyingkirkan energi berfrekuensi rendah yang dapat menghambat perjalanan jiwa.
  2. Penyatuan Bayu, Sabda, dan Idep : Penekun akan mengambil posisi meditasi relaksasi penuh. Ia kemudian memusatkan konsentrasi untuk menyatukan kekuatan Bayu (Tenaga/Napas), Sabda (Ucapan batin/Mantra), dan Idep (Pikiran yang fokus).
  3. Pembukaan Pintu Jiwa : Setelah tubuh fisik mengalami kelumpuhan tidur alami (atonia) namun kesadaran tetap terjaga murni, praktisi memindahkan seluruh pusat lubang keluarnya energinya seperti, lubang dubur, pusar, mulut, ajna atau melalui ubun-ubun. Dalam anatomi spiritual Hindu Bali, titik Siwa Dwara (ubun-ubun)  dan Ajna adalah pintu gerbang utama tempat roh dapat keluar dan kembali masuk dengan aman ke dalam tubuh.

Meninggalkan tubuh fisik ibarat meninggalkan rumah dalam keadaan pintu terbuka. Untuk mencegah Stula Sarira dirasuki oleh entitas bhuta atau diserang oleh penganut Pangiwa musuh, penekun melakukan perlindungan :

  • Mantra Pengraksa Jiwa : Praktisi mengucapkan mantra yang ditujukan kepada Sang Hyang Pasupati dan Dewata Nawa Sanga. Mantra ini memohon agar raga fisik dijaga dari segala penjuru mata angin — dari atas (luhur), bawah (sor), dan tengah (madya).
  • Pendelegasian kepada Kanda Pat : Praktisi secara khusus memohon kepada Kanda Pat (empat saudara gaib) agar bersiaga menjaga raga fisiknya yang kosong dari bahaya apa pun selama ia menavigasi dunia Niskala.
  • Permohonan pada Entitas Sesuhunan / Taksu : Sebagai perisai utama, permohonan perlindungan pada Sesuhunan, leluhur atau Dewata pelindung sang praktisi, dilakukan untuk sesantiasa terlindungi dari intrik negatif dan menghilangkan rasa takut yang mungkin muncul saat berhadapan dengan makhluk astral.



HALAMAN TERKAIT
Baca Juga