Tutur Atma Prasangsa


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

Teks Atma Prasangsa ini merupakan salinan lontar yang memuat ajaran Sivaistik sesuai dengan penjelasannya bahwa tujuan akhir adalah menuju ke Siva Lokha.

Tokoh utama dalam Teks Atma Prasangsa yang paling menonjol yaitu “Bhagawan Penyarikan”.

Sang Bhagawan Penyarikan ini dilukiskan sebagai seorang Brahmana yang mengetahui tentang ajaran Veda salah satunya mengenai perjalanan sang roh dan menegetahui apa penyebab para roh berada di “Tegal Penangsaran” tersebut.

Seperti yang termuat dalam kutipan teks berikut:

Purusāh Pañarikan ca, masastrāh ratna trayajnāh, likitāh kāpalangkānah, prākretih kārah gatināh. Artānya, Bhagawan Pañarikan sirā mangāji ring Sang Hyang Ratna-trayajnāh sirā, tumākwanakenā prawretini janmā saka sowing-sowang, ri denya yā tinuduh de Bhātarā maring naraka, ana tinuduh maring swarga gātinya, telas pwā de Bhagawan Pañarikan manghaji yuga sengkor

Atma Prasangsa

Terjemahan : 

Awal mulanya, diceritakan ada seorang Bhagawan Penyarikan sedang berguru atau belajar kepada Sang Ratna Traya. Beliau mempelajari dan menanyakan perjalan atau perputaran manusia masing-masing. Pada waktu Bhagawan Penyarikan menamatkan segala ilmu yang dituntutnya sampai kebatas-batasnya yang ditentukan, Beliau diperintahkan oleh Bhatara menuju ke neraka dan juga ke Swarga.

kāruna manāh Bhagawan Pañarikan tuminggal ing sarwa papā samuhā, tan pakecāp sire teher mālintang, anan manguwuh-uwuh, anan masyangi rawongnya, anan mamapagi lāmpah Bhagawan Pañarikan, tan iyan pāngucap nikāng ātma samuha

Atma Prasangsa

Terjemahan :

Tak kuasa Bhagawan Penyarikan menahan rasa kasih sayang dan belas kasihannya, tetapi beliau lewat begitu saja tanpa mengeluarkan sepatah katapun dari bibirnya. Kepiluan hatinya semakin bertambah tatkala menyaksikan para atman ada yang merintih menahan rasa sakit, ada yang mengajak sesama berkumpul disuatu tempat, dan nada yang mengikuti kemana perginya Bhagawan Penyarikan. Semuanya berharap agar diberikan bantuan dan kesejukan untuk meringankan penderitaannya.

Māngke harep weruha ri wasananya, manke ta kamung ātma, padā kita kari /hariwasana ing kene, angāntiha ring wasāna ing ātma, padā atadāh tangan ikāng ātman lānang wadon, sinungān bubur pirāta adakara sāsuru mas turte sowing, watrā den irā dum

Atma Prasangsa

Terjemahan :

Dan sekarang tengadahkanlah tanganmu baik para atma laki-laki maupun perempuan, akan ku berikan bubur pirate sekedar untuk makananmu tetapi kandungan amertanya luar biasa, kepada para atman dibagikan secara merata.

Dari kutipan tersebut di atas sangat jelas dikatakan bahwa Bhagawan Penyarikan adalah seorang yang berhati mulia, penuh dengan kasih sayang dan memiliki pengetahuan yang tinggi mengenai perjalanan para atman atau roh di alam kehidupan setelah mati.

Tokoh pendamping dalam Teks Atma Prasangsa ini yaitu Bhagawan Mercukunda

dan Sang Hyang Narada. Bhagawan Mercukunda adalah seorang pendeta yang betemu dengan Bhagawan Penyarikan di tengah perjalan menuju ke sebuah pertapaan di dekat kuburan tersebut, seperti yang termuat dalam kutipan berikut: 

Mānolih Sāng Bhagawan Pañarikan, kāncit samānta jing hawān, dātang Bhagawan Marcukunda, samā araryān sirā ring heb ning kayu tejā, prāsama sirā

Atma Prasangsa

Terjemahan :

Hal itu diketahui oleh Bhagawan Penyarikan. Tiba-tiba ditengah perjalan, datang Bhagawan Marcukunda, bersama berdiri ditengah jalan dengan Bhagawan Penyarikan. Bersama-sama juga beliau beristirahat dan berteduh dibawah pohon teja.

Bhagawan Mercukunda memiliki sifat seperti Bhagawan Penyarikan, kasih sayang dan sangat peduli dengan semua makhluk, namun beliau tidak muncul dari awal cerita hinggga akhir, hanya muncul dipertengahan cerita saja. Beliau menanyakan dan membicarakan mengapa para atman mendapatkan penderitaan yang sangat berlebihan, seperti kutipan berikut:

Māwuwus Bhagawan Marcukunda ring Bhagawan Pañarikan, mangkanā ling nirā, uduh Bhagawan Pañarikan kamākara denā ikāng atma māngamasi pāncāgati sāngsarā, padā sinekitān den ikāng Yamābalā. Samāngkāna tan kahān kawes ikāng manusā kāng kari ring madyāpadā ikāng angulahākena kādursilān ri denya ngāmbekāken drembā mohā, sāhasa cāpala, hāngkarā banggā porakā, ikā kāng ginerek ing selāmātekep

Atma Prasangsa

Terjemahan : 

Lantas berkata Bhagawan Mercukunda kepada Bhagawan Penyarikan, uduh Bhagawan Penyarikan, sangat berlebihan para atma mendapatkan penyiksaan walaupun itu sudah merupakan buah karmanya yang harus diterima dari Yama Bala. Walaupun demikan tidak juga manusia di manusia loka mau dan sadar sehinga mengurangi perbuuatan dursila dan keangkara murkaannya. Malah semakin meraja lela, seolah-olah tak memikirkan pahit getirnya siksaan dan kesengsaraan di neraka seperti ini.

Dari kutipan tersebut sangat jelas dikatakan bahwa Bhagawan Mercukunda memiliki sifat yang peduli terhadap sesama makhluk dan sifat kasih sayang. Beliau hanya muncul dalam pertengahan cerita untuk memperjelas isi dari cerita ini. Setelah demikian beliau kembali ke pertapaannya. Dan tidak muncul lagi dalam lanjutan cerita berikutnya.

Tokoh pendamping selanjutnya yaitu Sang Hyang Narada. Beliau adalah utusan dari Bhatara Iswara untuk melihat keadaan di madyapada. Hal ini desebutkan dalam kutipan berikut:

Dādi tā Sāng Narada inutus de Bhātara Iswāra, atilikā ikāng rāt ring Madyapada, angādeg Sāng Narada ring madyān ikāng āwyāti, ring luhur Sāng Narada Mānglāyang ring Ambārakāsa, kātinggalān den irā sāng Narada ing sor ikāng akāsa ambāra, nga. Pating kredāp, pating kredep, pati gurilap, pating ing sārwa katon

Atma Prasangsa

Terjemahan :

Pada saat itu Ida Sang Narada diutus oleh Bhatara Iswara, menyelidiki keadaan dunia. Ditengah – tengah Biomantara Sang Narada berdiri tetapi sudah jelas terlihat segala sesuatu yang ada di permukaan bumi ini. Di angkasa raya beliau terbang kesana – kemari, terlihat oleh beliau di bawah (dipermukaan bumi) ada cahya warna warni pati gurilap itulah yang pertama dilihat dari angkasa.

Sang Narada yang merupakan utusan dari Bhatara Iswara, turun ke dunia yaitu memeriksa bagaimana keadaan manusia di dunia. Di dunia beliau menemukan lebih banyak cahaya yang tak sedap di lihat di bandingkan cahaya yang sedap dipandang.



Baca Juga

Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan