Jalan Yoga & Penyatuan Siwa-Buddha dalam Lontar Candra Bhairawa


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00
Login

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

Dari berbagai pelaksanaan yang ada dalam agama Hindu pelaksanaanya terjadi perbedaan-perbedaan akan tetapi tidak berdistorsi dengan sumber ajaran aslinya, yaitu Weda. Hindu dikenal dengan sebutan agama universal dan fleksibel. Perbedaan tata cara pelaksanaan kegiatan keagamaan dalam Hindu di masing – masing daerah menjadikan Hindu agama yang unik. Dalam agama Hindu dianut oleh berbagai lapisan masyarakat dan juga Sekte / Paksa Hindu. Berbagai aliran garis perguruan tersebut telah memberikan warna tertentu dalam Hindu, seperti Siwa-Siddhanta, Pasupata, Bhairawa, Wesnawa, Bodddha atau Sogata, Brahmana Rsi, Sora atau penyembah Surya, Ganapatya atau penyembah Ganesha.

Dalam artikel ini kita akan mengulas suatu karya sastra yaitu dari Lontar Candra Bhairawa yang tergolong klasik memiliki banyak pengetahuan. Sumber data yang dipakai bahan kajian merupakan koleksi Gedong Krtya yang disurat dalam lontar berbentuk prosa. Ulasan tentang Candra Bhairawa yang mengandung konsep Karma Marga, Bhakti Marga, Jnana Marga, dan Yoga Marga melahirkan konsep Karma Sanyasa dan Yoga Sanyasa, bentuk pengabdian jalan untuk mendekatkan diri kehadapan Tuhan.

Kisah yang mengungkapkan bagaimana dua maharaja dari dua kerajaan berbeda memberikan ajaran kepada rakyat masing-masing dengan cara berbeda.

Pertama, Maharaja Candra Bhairawa dari Kerajaan Dewantara memberikan ajaran kepada rakyatnya dengan memerintahkan mereka untuk selalu menjalankan nilai-nilai keagamaan di dalam diri tanpa adanya tempat suci dan persembahan yadnya yang ke hadapan Tuhan. Maharaja Candra Bhairawa mengajarkan rakyatnya melakukan Yoga Sanyasa yaitu pencarian Tuhan dalam diri sendiri.

Kedua, Maharaja Yudhistira dari dari Kerajaan Hastinapura mengajarkan kepada rakyatnya untuk selalu mengutamakan pembangunan tempat suci dan persembahan yadnya dan tidak lepas dari pelaksanaan Karma Sanyasa.

Konsep ajaran kedua paham ini pada ajaran tattwa Siwa-Budha. Lontar Candra Bhairawa sebagai karya sastra yang memiliki nilai filsafat yang tinggi dan mampu menjadi tuntunan umat manusia. Akan tetapi, sedikit masyarakat yang paham dan mengerti tentang nilai filsafat yang terkandung dalam Lontar Candra Bhairawa.

Dalam khazanah Bali sinkretisme konsep Siwa-Budha banyak dijumpai dalam keberadaan beberapa aspek diantaranya Hyang Ardesuari, Meru Tumpang Solas, Wayang Lemah dan juga Kain Putih Kuning. Hal inilah yang sangat menarik untuk dibahas untuk mendapatkan pengetahuan yang tinggi tentang Sinkretisme Siwa Budha dalam Lontar Candra Bhairawa.

Sinkretisme dalam beragama Hindu adalah suatu sikap atau pandangan yang tidak mempersoalkan benar salahnya suatu agama, yakni suatu sikap yang tidak mempersoalkan murni atau tidaknya suatu agama. Bagi yang menganut paham ini semua agama dipandang baik dan benar.

Dalam konsep Siwa-Budha terdapat konsep Keutamaan. Dalam Konsep Siwa dikenal dengan istilah Paramasiwa, kemudian dalam konsep Budha dikenal dengan istilah Sri Bajrajnana. Dalam lontar Candra Bhairawa, kedua konsep tersebut dituls demikian:

Sri Bajrajnana ti suddha, ring Budhapaksa linuwih,Yan ring Siwapaksa sira, Hyang Paramasiwa lewih, Dwi tunggal Sira Kalih, Ong Hrih ring aksara mungguh, Huriping Bhur, Bhwah, Swah, Utama ning Sastra Aji, Kaangen suluh, Kastawa ring Madyaphada

Sri Bajranana yang Suci, Budha Tattwa yang Utama, Hyang Siwa Tattwa, Hyang Paramasiwa beliau Keberadaan Beliau Tunggal, Ong dan Hrih Aksara Sucinya, Bertempat di Bhur, Bwah, Swah, Sungguh utama keberadaan beliau, Dijadikan tuntunan hidup, Menjalani kehidupan di muka bumi.
(KCB, I : 1 Gdong Krtya)

Dalam lontar Candra Bhairawa terungkap wacana yang sangat penting yaitu wacana keutamaan dalam konsep Siwa dan Budha. Ada kemiripan konsep seakan sama antara Parama Siwa dalam Siwa Tatwa dengan Adi Budha dalam Budha Tattwa.

Konsep Tunggal atau Satu dijadikan istilah bersatunya konsep Siwa dengan konsep Buddha. Dia merupakan penggabungan antara dua hal yang berbeda menjadi satu, di mana kedua unsur tersebut tidak bisa dibedakan satu dengan lainnya. Dalam paham Siwa dikenal konsep Siwa-Dhurga manunggal-nya kekuatan Durgha sebagai saktinya Siwa, sedangkan dalam paham Buddha dikenal dengan konsep Adhi Budha-Pradnyapharamitha sebagai saktinya. Penggalan teks berikut juga menunjukkan bersatunya Karma Sanyasa ring Yoga Sanyasa sebagai 2 hal yang tidak bisa dipisahkan, seperti kutipan berikut:

Minab suba titah Widhi, Pacepuk Kharma Sanyase, Lawan Yoga Sanyase, Reh mula kapatut tunggal,Tan siddha pacing sampurna, Yan tan sami pada weruh,Kadi Siwa lawan Budha.

Sudah menjadi pesan Tuhan. Bertemunya Karma Sanyasa. Dengan Yoga Sanyasa. Karna mereka sungguhnya satu. Tidak bias dipisahkan. Jika tidak dipelajariri dengan seksama antara Siwa dan Budha.
(KCB, VIII. Gdong Krtya)

Siwa Budha merupakan konsep ajaran yang sama-sama percaya tentang moksa. Hal tersebut tersurat dalam Kakawin Candra Bhairawa. Ceritanya tergambar dalam adegan ketika Ida Sang Bhairawa mengadu ilmu dengan Sang Dharmawangsa. Keduanya sama-sama sakti dan mampu mendatangi alam sorga. Dalam ajaran Budha dipercaya bahwa Yoga Sanyasa mampu melepaskan roh Raja Bhairawa menuju alam sorga, sama halnya dengan Raja Yudistira yang dipercaya mampu juga melepaskan rohnya menuju alam sorga, seperti dalam kutipan berikut:

Sesampune manyingakin indike punika, raris Maharaja Bhairawa malinggih masemadhi lan manunggaling Bayu, Sabha lan Idep Ida. Atman Ida medal macuet lan ngarereh ka Yama Loka, raris kapolihang atman Maharaja Yudhistira. Raris kajuk lan kawaliang malih ka angga sariran Ida, Yudhistira murip malih. Ida raris malinggih saling madepan.
Mojar maharaja Yudhistira, ‘uduh Maharaja Bhairawa, sayuakti jaya kawisesan Ida. Titiang dahat kasub idik kawisesan Ida. Sane mangkin timbalan tyange sane ngalaksanayang indike sane pateh Ring Ida. Raris medal nuju Yama Loka titiang pacang manangkep Ida

Setelah melihat kejadian tersebut, kemudian Raja Bhairawa duduk bersemedi dan memulai melakukan japa mantra. Rohnya kemudian keluar menuju alam lain (nirwana). Bertemulah dia dengan roh Raja Yudistira. Roh Yudistira ditangkap kemudian dikembalikan ke tubuh Yudistira dan duduk saling berhadapan.
Berkatalah raja Yudistira’ wahai Raja Bhairawa, memang sungguh hebat kesaktian anda. Saya sangat kagum melihatnya. Sekarang giliran saya yang melakukan hal yang sama. Silakan Anda menjuju alam nirwana sorga neraka dan saya yang akan menjemput Anda.
(KCB, I : 56 Gdong Krtya)

Kutipan di atas merupakan dialog antara Yudistira dengan Maharaja Bhairawa menggunakan kesaktianya melepaskan diri menuju alam sunia (sorga). Alam yang tidak nyata secara fisik dan dipercaya merupakan tempat bagi orang yang telah meninggal sesuai dengan karma yang diperbuat.



Baca Juga

Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan