Konsep Kosmologi & Jejak Seni Rupa Bali Dari Masa Lampau


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00
Donasi

Total: Rp100.000,00


Penting :

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email yang aktif untuk Konfirmasi dan Login.
  • Pembayaran : Transfer Bank (VA Account), QRIS (QR scanner seperti BCA Mobile, OVO, Dana, LinkAja, Gopay, Shopee pay, Sakuku, dll).
  • Tidak diperlukan untuk melakukan konfirmasi pembayaran, karena sistem Gateway  akan melakukan verifikasi otomatis jika pembayaran sudah terverifikasi (sukses) oleh penyedia Payment Gateway kami di iPaymu.
  • Aktivasi akun 1×24 jam di Hari / Jam Kerja setelah pembayaran diterima.
  • Contoh PDF hasil dari download
    Klik disini

Jejak-jejak Seni Rupa Bali dari Masa Lampau

Melajak jejak kehadiran seni rupa dari masa lalu di Bali, dapat ditelisik dari peninggalan-peninggalan kerajaan Bali Kuno atau kerajaan Bali pra Majapahit. Berdasarkan dari lokasi, jejak kerajaan Bali pra Majapahit sebagian besar memilih dataran tinggi. Lokasi tersebut adalah perbukitan Bali tengah sebagai lokasi yang disucikan, seperti di Kintamani Pura Puncak Penulisan, dan di sepanjang daerah Das (pinggiran) sungai Pakerisan serta sungai Petanu di sisi Barat. Meliputi daerah Tampaksiring, Pejeng hingga Bedulu. Di daerah itu banyak sekali ditemukan bangunan suci berupa pura, candi dan petirtaan, seperti pura dan taman air suci Tirta Empul, Candi Gunung Kawi di daerah
Tampaksiring.

Peninggalan di pura-pura di tempat tersebut tersebut menunjukkan adanya aspek kesenian yang cukup tinggi, dapat dilihat dari jejak artefak seni pahat batu paras berupa ukiran ornamen, relief dan patung (arca). Hadirnya kesenian yang berkualitas tak lepas dari adanya keprofesian tertentu yang bertugas melahirkan karya seni untuk kepentingan kerajaan dan kepentingan religi.

Keprofesian tersebut dikenal dengan istilah undagi, dapat dipadankan dengan arsitek-tradisional, pande pembuat peralatan dari logam. Berikutnya juga dikenal istilah sangging untuk kegiatan menggambar atau melukis wayang, mengukir dan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan upacara.

Berdasarkan data dari prasasti, istilah undagi sudah ada sejak tahun 800an M. Terdapat dalam prasasti Bebetin yang berangka tahun isaka 818 (tahun 896 Masehi) dicatat R. Goris, 1954 dalam bahasa Jawa Kuno dinyatakan;

kuta, tathapi tani kasidan dudukyan anak ditu dipakaya, undagi lancang, undagi batu, undagi pengarung, me anada tu anak musirang ya marumah pande mas, pande besi

kota tidak boleh diambil oleh penduduk yang ada di sana seperti tukang perahu, tukang batu, tukang terowongan, dan kalau ada orang mengungsi tinggal berumah di sana seperti pande mas, pande besi

Berdasarkan angka tahunnya Prasasti tersebut diterbitkan pada masa pemerintahan raja Udayana. Kemudian dalam Prasasti Batuan tahun Saka 994 (1022 masehi) yang diterbitkan pada masa pemerintahan raja Dharmawangsa Wardhana Marakata (1022-1025 masehi) yang merupakan anak dari raja Udayana juga memuat istilah undagi, beserta istilah lain yaitu citrakara yang dapat disejajarkan dengan pelukis (juru gambar), serta istilah sulvika untuk pemahat (pematung).

Berikutnya pada pemerintahan Raja Anak Wungsu (1045-1077) yang merupakan saudara Marakata dan Airlangga mengeluarkan sebuah prasasti yang dikenal sebagai Prasasti Pandak Gede yang di dalamnya menyebutkan istilah aringit yang merujuk pada wayang. Prasasti ini pun berlapiskan hiasan berbentuk wayang yang ditatahkan pada relief logam yang menggambarkan Samara Ratih berangka tahun 1071 masehi. Selanjutnya juga ada sebuah prasasti yang terdapat di Pura Kehen Bangli berangka tahun 1204 masehi berbahan logam yang berisikan pahatan mirip wayang (ibid). Ditemukan juga sebuah pahatan wayang pada sangku Sudamala di pura Pusering Jagat Pejeng yang diduga dari masa Bali Kuno.

Data dari prasasti-prasasti pada masa kerajaan Bali Kuno tersebut dapat memberikan sedikit gambaran mengenai keprofesian yang berhubungan dengan seni rupa di Bali. Namun sangat sulit untuk membuktikan karya-karya seni lukis atau seni gambar yang lahir dari sosok citrakara seperti yang telah disebutkan. Hal ini dapat dipahami karena material untuk menggambar umumnya lebih ringkih dari material seni pahat yaitu batu padas. Karya-karya ukiran para undagi dari batu padas yang tersimpan di pura-pura tua di Bali pun masih belum jelas pembuktiannya apakah material tersebut benar-benar berasal dari berabad-abad yang lalu. Kajian terhadap relief dan patung (Arca) umumnya mengkaji pada aspek ikonografinya.

Ada sebuah kajian menarik dari Ni Ketut Puji Astiti Laksmi ketika mengkaji Kehidupan Ekonomi pada Masa Udayana dalam serangkaian pembahasan Raja Udayana Warmadewa yang diterbitkan Pemerintah Kabupaten Gianyar bersama Pusat Kajian Bali Unud 2014.

Didalam pembahasan Puji Astiti mengetengahkan ilustrasi yang diambil dari adegan-adegan Relief Yeh Pulu. Seperti fragmen seseorang yang dengan memanggul barang sebagai ilustrasi pembahasan perdagangan pada masa Udayana. Fragmen orang yang tengah memanggul cangkul dalam ilustrasi pembahasan tentang pertanian, serta fragmen dua orang tengah menggendong Babi pada pembahasan tentang peternakan.

Walaupun fragmen relief Yeh Pulu hanya dipakai sebatas ilustrasi tanpa ada pembahasan mengenai keterkaitannya dengan artefak visual tersebut. Penempatan tersebut dapat membantu memberikan titik terang perihal apa dan untuk apa relief Yeh Pulu itu dibuat di masa lampau, dan dari zaman apa dibuatnya.

Seni Rupa Dari Ekspansi Majapahit dan Kehadiran Seni Lukis Wayang

Kemudian ketika Majapahit menundukkan Bali dan mendirikan pusat pemerintahan baru di Samprangan, kemudian pindah ke Gelgel dan terakhir dipindahkan lagi ke Klungkung. Dikenal istilah sangging, dan menjadi nama banjar tepatnya desa Kamasan Klungkung daerah yang terkenal dengan seni lukis wayang. Dalam perkembangannya istilah ini identik dengan profesi mengukir dan melukis terutama wayang.

Menimbang seni lukis wayang Bali pertama kali memang lahir dari Klungkung. Sebagai bagian dari kekuasaan Majapahit di Bali, kerajaan Klungkung mencapai masa keemasan pada saat pemerintahan Dalem Waturenggong (abad 14-15 masehi) dengan pusat kerajaan berada di Keraton Gelgel. Meskipun belum ada sumber yang secara jelas menyatakan, konon masa inilah seni lukis (gambar) wayang Kamasan mulai mendapat perhatian, sebagai penghias kebesaran Puri. Ada beberapa pendapat yang menjelaskan mengenai keberadaan seni lukis wayang Kamasan ini, menurut Ida Bagus Kautra “berdasarkan tema dan bentuk, lukisan wayang diperkirakan merupakan perkembangan dari seni gambar Prasi”. Sementara Wayan Putra (Kamasan) “seni lukis ini berasal dari perkembangan wayang kulit. Berdasarkan ciri-ciri teknik pembuatan, aturan-aturan bentuk, penampilan wajah (wanda) tak jauh berbeda dari wayang kulit”. Hal ini dapat dikaitkan dengan cerita pada Babad Dalem diceritakan bahwa di Gelgel Sri Dalam Semara Kepakisan pernah pergi ke Majapahit dan pulangnya membawa beberapa pusaka termasuk sekeropak wayang kulit (Suartha, 1993).

Sumber:
Seni Rupa Bali Sebagai Aset Pusaka Budaya
I Ketut Budiana & I Wayan Seriyoga Parta
Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar 2015



Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Blog Terkait