Mengetahui Karang Baik dan Karang Tenget


Pekarangan yang Baik dan Tidak Baik menurut Lontar Wiswakarma

Pekarangan yang baik untuk dijadikan tempat tinggal.
  • Manemu Labha
    Lebih tinggi di Barat/ miring ke timur (dari arah pusat kota atau dari arah jalan raya). Disebut “manemu labha” di mana sinar matahari tidak terhalang sejak pagi sampai sore, membawa keberuntungan dan umur panjang.
  • Paribhoga Wredhi Putra atau Paribhoga Wreddhi,
    Tanah yang miring ke Utara, membawa kemakmuran yang melimpah bagi penghuninya.
  • Palemahan Asah
    Tidak ada keistimewaan artinya biasa-biasa saja, namun dengan syarat: sinar matahari, udara dan air tersedia cukup tidak terhalang apapun.
  • Palemahan Inang Dewa Ngukuhi
    Ketika berada di atas tanah itu perasaan damai, tentram dan hening, walaupun lokasi itu tidak memenuhi persyaratan seperti nomor 1,2,3 di atas, disebut “dewa ngukuhi”, membawa ketentraman bathin dan kedamaian.
  • Mambu lalah-sihing kanti
    Tanah berbau cabe / bumbu dapur ketika dicongkel sedalam 30 Cm, disebut “sihing kanti” sangat baik karena akan mempunyai banyak sahabat, dan dapat menyebabkan kebahagiaan bagi orang yang menempatinya.
Pekarangan yang tidak baik untuk dijadikan tempat tinggal.
  • Karang Numbak Rurung / Karubuhan, pekarangan yang berhadap-hadapan atau berpapasan dengan perempatan atau pertigaan atau persimpangan jalan. Sebagai penetralisirnya, menurut lontar Bhamakertih, pekarangan dengan posisi katumbak bisa diruwat dengan mendirikan pelinggih berbentuk padma alit, stana Sang Hyang Durgamaya. Sementara penghuni rumah melakukan aci (menghaturkan sesaji) pada hari-hari tertentu (rahinan) di padma alit tersebut.
  • Karang Sandanglawe, karang yang punya pintu masuk/angkul-angkul berpapasan dengan pintu masuk rumah yang ada di seberang jalan.
  • Karang Kuta Kabanda, pekarangan yang diapit oleh 2(dua) ruas jalan.
  • Karang Sula Nyupi, pekarangan yang berpapasan dengan jalan raya atau numbak marga atau numbak rurung. Dan ataupun tanah yang berada pada sudut pertigaan jalan/gang, atau setengah dari sisi tanah pekarangannya dilingkari oleh jalan, gang, got atau sungai
  • Karang Gerah, pekarangan yang terletak dihulu Pura/Parahyangan.
  • Karang Tenget, pekarangan bekas pekuburan, bekas pura atau bekas pertapaan.
  • Karang Buta Salah Wetu, pekarangan dimana pernah terjadi kejadian aneh misal: kelahiran babi berkepala gajah, pohon kelapa bercabang, pisang berbuah melalui batangnya. dll
  • Karang Kala Rahu / Boros Wong, pekarangan yang memiliki 2(dua) pintu masuk sama tinggi dan sejajar.
  • Suduk Angga / Tusuk Sate, pekarangan rumah yang posisinya tertusuk (katumbak) jalan, gang, got dan tembok panyengker tanah orang lain. Dan atau pekarangan yang dibatasi oleh pagar hidup(tanaman) dimana akar-akarnya atau tunasnya masuk ke pekarangan orang lain. Posisi tanah katumbak jalan atau gang ini, dalam keyakinan orang Bali, tidak baik dihuni karena bisa menyebabkan bahaya, kesusahan dan sakit-sakitan. Hal ini juga berlaku untuk rumah yang posisinya tertusuk sungai (tumbak tukad). Konon orang yang menempati atau menghuninya akan kerap kena bencana, acap bertengkar lantaran hal-hal sepele, sering kecurian, kena fitnah, diganggu mahluk halus.
  • Karang Kalingkuhan / Sula Nyupi, pekarangan yang dilingkari jalan raya. Atau pekarangan yang dikelilingi tanah atau rumah milik satu orang.
  • Karang Teledu Nginyah, jika karang rumah dihitari oleh jalan melingkar di sekelilingnya.
  • Karang Panes / Gerah, berada di hulu, dekat pura Kahyangan Tiga, Sad Kahyangan atau Dang Kahyangan. Pekarangan rumah yang ngulonin (terletak di bagian hulu) banjar atau pura dikatakan penghuninya akan sering terkena musibah, sakit-sakitan, sering terjadi perselisihan yang menimbulkan terjadinya pertengkaran antar sesama penghuni. Namun, kondisi tersebut bisa dinetralisir dengan jalan memundurkan tembok panyengker (pembatas) rumah. Antara tembok banjar atau pura dengan tembok rumah dibuatkan gang kecil (rurung gantung). Sementara di luar tembok pekarangan agar dibangun pelinggih (bangunan suci) berbentuk padma-capah dan di tanah pekarangan dibuatkan upacara pemahayu pekarangan (pecaruan karang tenget/angker).
  • Karang Amada-mada Bhatara. Jika tanah tempat dibangun rumah itu berseberangan jalan dengan rumah saudara kandung.
  • Karang Manyeleking, Pekarangan yang di dalamnya ada dua jenis tempat merajan/sanggah dari dua jenis keluarga yang berbeda.
  • Karang Mambu bengu alid, panes mlekpek, ocem, mawarni ireng, adalah pekarangan yang tanahnya berbau busuk, amis, kotor, berwarna hitam.
  • Karang Kapurwan, tanahnya tinggi di bagian timur.
  • Karang Nanggu, pekarangan rumah yang berada paling pojok dan di depannya tidak ada rumah lagi.
  • Sandang Lawe / Negen, yakni tanah yang letaknya tepat berhadap-hadapan di antara dua sisi jalan atau gang, dimiliki oleh satu orang atau satu keluarga purusa (garis keturunan ayah/laki-laki).
  • Karang Matalompong, Karena adanya hubungan kekeluargaan yang erat, entah karena berhubungan dengan karang tua, hubungan waris dan sebagainya, pernah ada satu karang yang sudah memiliki sanggah kemulan dan tunggun karang dihubungan oleh sebuah pintu kecil dengan karang lainnya. Banyak yang mempercayai karang seperti ini dapat mendatangkan wabah dan musibah lainnya, khususnya bagi penghuni karang yang memiliki ketinggian natah lebih rendah.
  • Cracapan Ulung Kapisaga, air cucuran atap tetangga jatuh ke pekarangan kita disebutkan dapat memanes dan mengakibatkan hal-hal buruk bagi penghuni karang kedua belah pihak. Ada pula sumber-sumber yang menyebutkan bahwa Cracapan Ulung Kapisaga adalah simbolik sulub kasulubin yang bermakna eratnya senasib sepenanggungan.
  • Obag-obag mapas Surya, jika diperhatikan dengan seksama, hampir sebagian besar obag-obag (pamesuan) pekarangan di Bugbug diupayakan sedemikian rupa agar menghadap ke arah utara atau selatan. Bagi mereka yang mempercayainya sangat dipantangkan untuk membuat pamesuan pekarangan menghadap ke timur maupun ke barat. Entah mengapa mereka menganggap pekarangan seperti inipun dianggapnya memanes.

Ada pekarangan yang khusus yang disebut karang kabaya-baya ini memiliki ciri-ciri :

  • nemu baya (mendapat bahaya),
  • toya baya (ada darah yang tiba-tiba muncul di pekarangan rumah),
  • lulut baya (ada banyak ulat yang muncul),
  • tenget (bekas kuburan, bekas sanggah/pura),
  • kalebon amuk (bekas tempat terjadinya pertumpahan darah),
  • bhuta salah wetu (babi beranak seekor, pohon pisang berbuah pada batangnya, pohon kelapa bercabang),
  • wong baya (tumbuh cendawan pada halaman pekarangan),
  • bumi sayongan atau panca baya (pekarangan yang ditimpa petir, tiba-tiba muncul asap, dihuni tawon atau lebah yang berdiam lama hingga beranak pinak).

Jika orang menemukan tanah yang kurang baik sebagaimana disebutkan di atas, beragam ritual (upacara) menurut agama Hindu bisa dilakukan untuk menangkal timbulnya pengaruh buruk itu, disebut dengan upacara pangupah ayu. Jadi berbagai upaya untuk terwujudnya keseimbangan dan keselarasan secara lahir (fisik) maupun batin (nonfisik) bisa dilakukan dengan mencermati kondisi yang ada dan mengangkat kearifan lokalnya.

Untuk jenis pekarangan yang tergolong ‘panas’ lainnya, disarankan membuat padma capah sebagai stana Sang Hyang Indrablaka/Indraplaka dan pada hari yang tergolong rerahinan (hari suci), penghuninya menghaturkan aci (sesaji) untuk memohon keselamatan dan agar terhindar dari pengaruh buruk pekarangan rumah tersebut.

Segala yang disebut Pamanes Pekarangan, seperti: Kemasukan gelap, dan terbakar, patut membangun palinggih berupa Padma capah, sthana Sang Hyang Indra Blaka. Apabila tidak membangun sthana untuk Sang Hyang Indra Blaka, tidak putus-putusnya menemukan sakit bermacam-macam, walaupun hingga sepuluh kali telah macaru, tak akan bisa selesai oleh caru itu, karena Beliau Sang Hyang Indra telah berubah dari Sang Hyang Indra Blaka, menjadi Kala Maya, menjadi Kala Desti, demikian dinyatakan dalam lontar.

1. Caru Ngamatiang Semer

Pangelemnya:

Daksina 1, mwah nasi wong-wongan ireng iwaknya kakul, Perasnya matumpeng ireng, iwaknya pencok kacang, ay am ireng pinanggang, mwangjijih makaput antuk tapis, kawangen 7, dadi pangelem, maduluran nasi salah warna limang warna, iwaknya saka wenang, alednya klakat sudamala.

Maksudnya :

Caru mematikan/menimbun sumur: Banten untuk upacara menimbunnya terdiri dari: sebuah Daksina dan nasi wong-wongan hitam ulam kakul/sipvit, Banten Perasnya memakai tumpeng hitam ulamnya pencok kacang, seekor ayam berbulu hitam dipanggang dan biji padi dibungkus dengan tapis, 1 buah kwangen, dijadikan sarana penimbunan yang akan ditanam pada sumur, ditambahi nasi sasah salah warna 5 warna, ulamnya apa saja boleh, alasnya memakai klakat sudamala.

Mantram :

Om Nini Pamali Wates, Kaki Pamali Wates, tan hana jurang pangkung, Aku Ibu Pretiwi, anglebur sakalwiring hala. Om Sudha sih, Kala sih, Dewa Teka purna Om Sa Ba Ta A I, Sang, Patang.

2. Karang Panes

“Sakalwiring pamanes pakarangan, Iwirnya : Kapanjingan gelap, mwang puwun, wenang ngadegang palinggih Padma andap, palinggih Sang Hyang Indra Blaka. Yan tan adegang palinggih Sang Hyang Indra Blaka, tan pegat amanggih lara rogha, wiyadin ping dasa carunin, tan sidha purna saking caru ika, apan Sang Hyang Indra dadi Sang Hyang Indra Blaka, dadi Kala Maya, dadi Kala Desti, mangkana kojarannya.

Maksudnya:

Segala yang disebut Pamanes Pekarangan, seperti: Kemasukan gelap, dan terbakar, patut membangun palinggih berupa Padma rendah, sthana Sang Hyang Indra Blaka. Apabila tidak membangun sthana untuk Sang Hyang Indra Blaka, tidak putus-putusnya menemukan sakitbermacam-macam, walaupun hingga sepuluh kali telah macaru, tak akan bisa selesai oleh caru itu, karena Beliau Sang Hyang Indra telah berubah menjadi Sang Hyang Indra Blaka, menjadi Kala Maya, menjadi Kala Desti, demikian dinyatakan.

“Muwahyan hana karang tumbak rurung, tumbakjalan, tumbak tukad, manamping marga, pempatan, namping Pura, namping Bale Banjar, makadinya ngulonin Bale Banjar, panes karang ika”.

Maksudnya:

Dan apabila ada pekarangan berpapasan dengan gang atau jalan kecil, jalan, berpapasan dengan sungai, bersebelahan dengan jalan, perempatan jalan, bersebelahan dengan Pura, bersebelahan dengan Bale Banjar, seperti di hulu Bale Banjar, panas pekarangan itu.

Muwahyan hana bumi sayongan, katiban kuwug-kuwug, panes burnt ika. Yaning pakarangannya metu kukus, panes karang ika.

Maksudnya:

Dan apabila ada sayongan pada pekarangan disertai dengan suara gemuruh dari langit ciri panas bumi itu. Apabila pada pekarangan muncul kukus, ciri panas pekarangan itu.

Yan hana sanggah pungkat, mwang jineng, pawon pungkat, tan pakarana, mwang katiben amuk, kalebon amuk, panca bhaya, ngaran, panes karang ika. Muwah pungkatne tan pakarana, tan wit ginawe pungkat, kewala pungkat, ya tan wenang ingangge lakarnya, wenang pantesin lakare sami.”

Maksudnya:

Apabila ada Sanggah roboh, danjineng/tempai menyimpan padi, dapur roboh tanpa penyebab, dan kedatangan orang berkelahi, terlaksana sebagai tempat perkelahian, Panca Bhaya, disebutkan panas pekarangan itu.

Menurut Lontar “Kaputusan Sanghyang Anala” lokasi yang termasuk “karang panes” tersebut bisa “diteduh” dengan upacara pecaruan. Dalam hal ini caru yang sesuai adalah jenis caru Rsi Gana. Setiap 5 tahun pecaruan itu diulang-ulang lagi, seterusnya.


Untuk Pecaruan dan Upakara Lainnya dapat merujuk pada Lontar Bhama Kertih




Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Baca Juga