Daksina Linggih – Simbol (Nyasa) Tuhan dalam Tri Angga


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

Konsep Keseimbangan Dalam Daksina Linggih

Pertemuan aktivitas dan simbol-simbol agama Hindu dapat dijumpai pada saat pelaksanaan upacara keagamaan atau upacara piodalan, seperti berbagai bentuk tedung, lelontek, tombak, kober, umbul-umbul dan lain sebagainya, merupakan simbol kebesaran. Dalam bentuk upakara atau banten seperti sesayut sebagai simbol penyambutan dan banten pesucian yang berisi persembahan air untuk basuh kaki, basuh muka, basuh tangan, wangi-wangian, dan kain (wastra). Semua simbol yang dipersembahkan sepada Ida Sang Hyang Widhi diwujudkan layaknya manusia atau dengan kata lain Tuhan yang dimanusiakan.

Pendit dalam Miarta(2004: 112) menyatakan bahwa Agama Hindu bukanlah semata-mata agama yang mengang-agungkan kebenaran, kesucian, dan kebajikan belaka, melainkan agama dengan budi daya manusia yakni kebenaran, kebajikan, dan keindahan yang diformulasikan dengan kata-kata satyam, sivam, dan sundaram. Kebenaran (satyam), tanpa kebajikan (sivam), dan keindahan (sundaram) merupakan benda mati. Kebajikan (sivam) tanpa kebenaran (satyam) dan keindahan (sundaram) adalah histeris. Sedangkan keindahan (sundaram) tanpa kebenaran (satyam) dan kebajikan (sivam) adalah upacara yang sia-sia.

Persembahan dalam agama Hindu bertujuan untuk mencapai keseimbangan Bhuana Agung-Bhuana Alit, atau moksarthan jagadhita ya ca iti dharma. Keseimbangan tersebut dicapai melalui ajaran Tri Hita Karana. Istilah Tri Hita Karana secara etimologi dari bahasa sanskerta berasal dari kata tri, hita dan karana. Tri artinya tiga, hita artinya bahagia dan karana artinya penyebab.

Dengan demikian Tri Hita Karana sebagai istilah berarti tiga penyebab kebahagiaan. Nama Tri Hita Karana inilah yang dijadikan judul untuk menyebutkan ajaran yang mengajarkan agar manusia mengupayakan hubungan yang harmonis dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan dengan alam lingkungannya. Ini artinya materi ajaran sudah ada dalam kitab suci dan kitab sastra Hindu, tetapi nama Tri Hita Karana adalah sebutan baru untuk menamakan ajaran yang sudah ada dalam kitab suci Hindu. Dengan demikian ajaran Tri Hita Karana bukanlah ajaran yang baru bagi agama Hindu.

Hubungan eksistentsi manusia dengan alam sebagai perwujudan nyata kamadhuk itu sifatnya sangat identik dengan hubungan banyi dengan Ibunya, bahwa pada Ibunya telah tersedia susu untuk bahan makanan pokok si banyi yang harus ia hisap sendiri dalam belaian kasih sayang mesra Ibunya itu. Ketiga unsur tersebut, yakni Sang Hayng Widhi, Manusia, dan alam sebagai unsur-unsur Tri Hita Karana merupakan tiga unsur utama dalam konsepsi religius interdependence untuk menciptakan ikllim kehidupan rahayu lahir bathin. Dalam ajaran agama Hindu dijadikan landasan pola dasar falsafah hidup dalam mengukuhkan eksistensi pengaruh keorganisasian Desa Adat yang mengatur kepentingan hidup para anggota masyarakat.
Tri Hita Karana tidak cukup hanya diyakini sebagai tuntunan untuk mencapai kesempurnaan hidup kerohanian, tetapi juga diamalkan dan diwujudkan dalam kehidupan nyata keorganisasian kemsyarakatan tradisional. Ketiga unsur Tri Hita Karana secara langsung atau tidak langsung menyangkut harkat dan martabat serta kwalitas manusia.

Oleh karena itu awig-awig yang merupakan aturan dasar dan aturan kerumah tanggaan Desa Adat pada pokoknya mengatur keserasian hubungan angota karma adat dengan Sang Hyang Widhi, hubungan antar sesama anggota masyarakat guna terbinanya suatu hubungan yang rukun, damai, aman dan nyaman, hubungan msyarakat dengan palemahan (wilayah) Desanya.

Kebudayaan Bali sesungguhnya menjunjung tinggi nilai-nilai keseimbangan dan harmonisasi mengenai hubungan manusia dengan Tuhan(parahyangan), hubungan antara sesama manusia (pawongan), dan hubungan dengan lingkungan (palemahan) yang tercermin dalam ajaran Tri Hita Karana.

Tri Hita Karana yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah tiga hubungan yang terjalin antara manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan dan manusia dengan alam lingkungan. Hubungan antara manusia dengan manusia misalnya dengan cara saling menghormati, saling menghargai ataupun saling kerjasama sama dengan sesama anggomasyarakat. Hubungan antara manusia dengan Tuhan yaitu dengan sujud bhakti dan memuja Tuhan sebagai cetusan rasa terimakasih atas keselamatan dan karunia yang berlimpah. Hubungan antara manusia dengan alam lingkungan termasuk juga segala jenis yang ada di alam ini seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang. 



Blog Terkait



Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan