Kanda Pat (Catur Sanak), Kekuatan Antagonis pada Manusia


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00
Donasi

Total: Rp100.000,00


Penting :

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email yang aktif untuk Konfirmasi dan Login.
  • Pembayaran : Transfer Bank (VA Account), QRIS (QR scanner seperti BCA Mobile, OVO, Dana, LinkAja, Gopay, Shopee pay, Sakuku, dll).
  • Aktivasi akun : Tidak diperlukan untuk melakukan konfirmasi pembayaran, karena sistem Gateway  akan melakukan verifikasi otomatis jika pembayaran sudah terverifikasi (sukses) oleh penyedia Payment Gateway di iPaymu. Max. 1×24 jam di Hari / Jam Kerja setelah pembayaran diterima.
  • Email Aktivasi : akan dikirimkan ke email. Periksa inbox atau spambox / junkmail folder anda untuk petunjuk Login.
  • Jika ada masalah login silahkan menghubungi disini.
  • Contoh PDF hasil dari download
    Klik disini

Ketegangan antara kekuatan kebaikan dan kejahatan dijelaskan dalam Catur Sanak atau Kanda Pat (kanda mpat). Kanda Pat adalah ‘keempat saudara’ yang menyertai setiap orang sejak dalam kandungan atau, lebih tepat, sejak lahir sampai mati . Mereka disebut juga catur nyama atau sanak catur.
Keempat saudara yang dimaksudkan itu adalah yeh nyom (air ketuban), getih, rah (darah), lamas (selubung halus janin), dan ari-ari (placenta), yang oleh Eiseman disebut sebagai ‘the four spirit guardians’. menengarai bahwa tidak satu tempat pun di Indonesia, kecuali di Bali, yang memiliki kepercayaan begitu kuat akan  catur sanak.

Keempat saudara asral kita bisa menolong orang sejauh mereka diberi perhatian semestinya. Sebaliknya, mereka bisa menyebabkan kesulitan bahkan penyakit, bila mereka dilalaikan oleh manusia.
Meskipun Kandapat dipercayai sebagai kekuatan-kekuatan magis yang menyertai setiap orang, mereka juga bisa masuk dan menjadi bagian dalam tubuh manusia itu sendiri. Secara implisit, semua ini mau menggarisbawahi satu hal ini, yakni setiap orang terbuka ke alam kedewaan (Niskala) dan sekaligus vulnerable akan pengaruh buta kala. Lewat hidung, telinga, mulut, dan mata pengaruh buruk Kanda Pat bisa menguasai manusia sedemikian rupa sehingga ia memiliki sifat-sifat Bhuta.

Mengenal Konsep Dasar Kanda Pat / Catur Sanak

Leluhur bali menyelaminya lebih dalam yang kemudian melahirkan konsep ajaran Kanda Pat atau Catur Sanak. secara umum, inti Kosep Dasar Kanda Pat ini adalah “manusa ye, butha ye, dewa ye” (dia itu manusia, sebagai butha dan juga sebagai dewata), sehingga penekanan awal dari konsep kanda pat ada di kandapat bhuta, kanda pat manusa dan kanda pat dewa. berikut ini penjabaran konsep kanda pat tersebut:

Kanda Pat Tri Hitakarana Tri Kona Tri Guna Tri kaya parisudha
Bhuta Palemahan Utpeti Tamas Perbuatan
Manusa Pawongan Stiti Rajas Perkataan
Dewa Parhyangan Pralina Satwam Pikiran

1. Konsep Kanda Pat Bhuta

Memberikan pemahaman penciptaan yaitu panca maha bhuta menekankan konsep palemahan (lingkungan) ajaran yang menyadarkan kita bahwa lingkungan adalah milik kita yang wajib dan harus dijaga/diperhatikan cara untuk dekat dengan alam hanyalah dengan perbuatan saja mempelajari saudara kita yang masih berupa butha kala yang sangat kuat enerjik dan dipenuhi oleh aura panas (semangat). Apabila kurang memahami, biasanya akan condong pada sisi tamas-nya.

Fisik Sanak Bhuta Sang pengabih Arah Mahabhuta Kekuasaannya
Yeh Nyom Anggapati Suratma Timur Pertiwi tubuh mahluk
Getih Prajapati Jogormanik Selatan Apah kuburan dan jalan
Lamas Banaspati Dorakala Barat Teja sungai dan bebatuan
Ari-ari Banaspati raja Mahakala Utara bayu pepohonan
Rare Bhuta Dengen Yamadipati Tengah Akasa Badannya

2. Konsep Kanda Pat Manusa

Ajaran ini merupakan implementasi dari konsep pawongan, yang menitik beratkan pada ajaran untuk menjaga hubungan dengan sesama manusia. dengan terjaganya hubungan baik ini, maka tujuan duniawi kita (jagadhita) akan lebih mudah diperoleh.
Didalam menjaga hubungan sosial ini, disamping perbuatan yang menjadi pusat perhatian adalah ucapan/perkataan yang kemudian menjadi sumber kekuatannya, memahami saudara kita yang sudah berkultivasi menjadi manusia, yang sifatnya sangat mirip dengan manusia. Konsep ini lebih dekat dengan sifat rajas. Identik dengan Manusa Yadnya, Pitra Yadnya dan Rsi Yadnya.

Nama (I Ratu) Letak Kekuasannya Linggih
Ngurah Tangkeb Langit Bhagawan Penyarikan Timur hewan dan binatang Ulun Sui
Wayan Teba Bhagawan Mercukunda Selatan Jalan dan Pegunungan Pura Desa
Made Jelawung Bhagawan Sindhu Barat sungai dan bebatuan Pura Puseh
Nyoman Sakti Pengadangan Bhagawan Tatul Utara Pepohonan Pura Dalem
Ketut Petung nama dwijati kita Tengah Diri sendiri Telengin Hati

3. Konsep Kanda Pat Dewa

Seperti halnya kanda pat diatas, ajaran kanda pat dewa merupakan pengejawantahan dari konsep parhyangan, dimana setiap menusia menjaga hubungannya dengan tuhan dalam manifestasinya sebagai dewata. Sehingga upacara Dewa Yadnya sangat dekat dengan ajaran kanda pat dewa ini.

Sanak Bhuta Sanak Manusa Sanak Dewata Arah
Anggapati Ratu Ngurah Tangkeb Langit Bhatara Iswara Purwa
Prajapati Ratu Wayan Teba Bhatara Brahma Daksina
Banaspati Ratu Made Jelawung Bhatara Mahadewa Pascima
Banaspati Raja Ratu Nyoman Sakti Pengadangan Bhatara Wisnu Uttara
Bhuta Dengen Ratu Ketut Petung Bhatara Siwa Madya

Dalam Kanda Pat Dewa, simbolis dan kebenaran, esoteris adalah suatu permainan kecerdasan yang sangat indah dan mempesona. Pelajaran tentang Kanda Pat Dewa mempunyai kesulitan yang sama seperti pesonanya. Mempesona karena beragam keberadaannya. Sulit karena ia merupakan lambang atau symbol. Inilah ajaran Kanda Pat Dewa yang bermula dari ajaran Kanda Dewa, yang disebut sebagai

“sanak Dewa, ne melingga ring Gedong Kusuma, Ida meraga Sang Hyang Siwa”

Dari Sang Hyang Siwa inilah, kemudian lahir Dewa-Dewa yang lainnya. Seperti, Sang Hyang Rwa Bineda, Sang Hyang Tiga Sakti, Sang Hyang Panca Dewa, Dewa Nawa Sangga dan sebagainya. Semua itu adalah merupakan pamurtian atau manifestasi dari Siwa sendiri.

Pada waktu kita lahir ke Dunia ini, maka pada saat yang sama lahir pula Sang Hyang Tiga Sakti. Beliau Sang Hyang Tiga Sakti, amor ring Buwana Agung, kemudian dipuja oleh semua makhluk di Dunia. Beliau bersthana di Pura Desa, Pura Puseh dan Pura Dalem, dalam konsep Tri Kahyangan Desa. Yang tidak lain adalah Siwa sendiri dalam trinitasnya sebagai Brahma, Wisnu dan Siwa. Bila melayang-layang di ambara beliau berwujud Sang Hyang Agni atau Brahma, dan yan sira amarga ring soring pretiwi, beliau berwujud Sang Hyang Wisnu. Di dalam angga sariranta beliau melingga ring bayu, sabda lan idep.

Kanda Pat dalam alam semesta dan dalam tubuh manusia

No Kandat Pat Bhuana Alit (Mikrokosmos) Bhuana Agung (Makrokosmos)
Tempat Nama Personal Tempat, Warna Nama Dewa
1 Yeh Nyom (air ketuban) Empedu dan bermuara di hidung Banaspati Barat, Kuning Mahadewa
2 Lamas (selubung halus janin) Jantung dan bermuara di mulut Anggapati Timur, Putih Iswara
3 Getih (darah) Hati dan bermuara di mata Mrajapati Selatan, Merah Brahma
4 Ari-ari (placenta) Buah pinggang dan bermuara di telinga Banaspatiraja Utara, Hitam Wisnu

Mengikuti penjelasan bahwa para Dewa pun bisa jatuh dan berubah tabiat menjadi Bhuta, demikian juga halnya dengan Kanda Pat. Dalam Usada Kurunta Bolong dikisahkan bahwa setelah menciptakan para Dewa (Mahadewa, Iswara, Brahma, dan Wisnu), Yang Mahakuasa menyuruh mereka menciptakan dunia. Karena para Dewa ini menolak, mereka pun dikutuk-Nya menjadi Bhuta atau Sang Kala. Dengan kata lain, para Dewa itu dianggap memiliki kemungkinan untuk menjadi baik dan disebut Sang Hyang, atau menjadi jahat dan disebut Sang Kala. Sejalan dengan itu, manusia juga tidak kebal oleh kekuatan-kekuatan Dewa dan Bhuta.

Tabel di bawah ini bermaksud untuk menjelaskan kedua kemungkinan itu.

No Dewa Butha Simbol Makrokosmos Mikrokosmos
1 Mahadewa Banaspati Nagakuning Bhuta Kuning Barat Kidneys
2 Iswara Banaspati Raja
3 Brahma Anggapati Macanmerah Bhut Bang Selatan Liver
4 Wisnu Mrajapati Buayahitam Bhuta Ireng Utara Bile

Penjelasan mengenai bagian-bagian tubuh yang ditempati dan/atau dipengaruhi oleh keempat saudara ini tidak selalu sama.

Hal ini tidak perlu terlalu membingungkan pembaca. Yang penting, selama orang ingat dan selalu berbuat baik kepada keempat saudara itu, selama itu orang akan mendapat perlindungan dari segala bencana yang mengancam. Keempat saudara yang baik (Kanda Pat Dewa) diterjemahkan oleh Hooykaas sebagai ‘guardian spirits’ atau oleh Eiseman sebagai ‘the four spirit guardians’. 

Untuk mendapatkan perlidungannya, keempat saudara ini perlu disebut dengan nama mereka masing-masing: Anggapati, Mrajapati, Banaspati dan Banaspati Raja. Entah pergi tidur atau hendak mandi, orang perlu menyebut mereka untuk melindunginya dari kekuatan-kekuatan jahat yang mencoba mendekat.

Sebaliknya, bila orang melupakannya, orang akan mudah terkena bencana, badan akan jatuh sakit dan orang bisa lupa ingatan.  Keempat  saudara ini (Kanda Pat Bhuta) menjadi musuh yang jahat, yang bisa mendatangkan segala macam ‘bencana dan penyakit’. Mereka bisa menjadi bagian integral dari tubuh manusia dan merusak manusia dari dalam Pada dasarnya, cukup dipahami bahwa Kanda Pat memiliki peran yang amat besar (kalau bukan menentukan) dalam hidup orang perorangan.

Dengan memberi perhatian yang cukup dan korban sajian yang memadai, mengundang mereka turut ambil bagian dalam makan dan minum, meminta mereka menjadi sahabat dalam apa yang dikerjakan atau ke mana bepergian, mereka akan memberikan imbalan dalam wujud kekuatan magis yang dibutuhkan.



Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Baca Juga