Kanda Pat (Catur Sanak), Kekuatan Antagonis pada Manusia


 

Kanda Pat di alam semesta dan pada tubuh manusia

No Kandat Pat Bhuana Alit (Mikrokosmos) Bhuana Agung (Makrokosmos)
Tempat Nama Personal Tempat, Warna Nama Dewa
1 Yeh Nyom (air ketuban) Empedu dan bermuara di hidung Banaspati Barat, Kuning Mahadewa
2 Lamas (selubung halus janin) Jantung dan bermuara di mulut Anggapati Timur, Putih Iswara
3 Getih (darah) Hati dan bermuara di mata Mrajapati Selatan, Merah Brahma
4 Ari-ari (placenta) Buah pinggang dan bermuara di telinga Banaspatiraja Utara, Hitam Wisnu

Mengikuti penjelasan bahwa para Dewa pun bisa jatuh dan berubah tabiat menjadi Bhuta, demikian juga halnya dengan Kanda Pat. Dalam Usada Kurunta Bolong dikisahkan bahwa setelah menciptakan para Dewa (Mahadewa, Iswara, Brahma, dan Wisnu), Yang Mahakuasa menyuruh mereka menciptakan dunia. Karena para Dewa ini menolak, mereka pun dikutuk-Nya menjadi Bhuta atau Sang Kala. Dengan kata lain, para Dewa itu dianggap memiliki kemungkinan untuk menjadi baik dan disebut Sang Hyang, atau menjadi jahat dan disebut Sang Kala. Sejalan dengan itu, manusia juga tidak kebal oleh kekuatan-kekuatan Dewa dan Bhuta.

Tabel di bawah ini bermaksud untuk menjelaskan kedua kemungkinan itu.

No Dewa Butha Simbol Makrokosmos Mikrokosmos
1 Mahadewa Banaspati Nagakuning Bhuta Kuning Barat Kidneys
2 Iswara Banaspati Raja
3 Brahma Anggapati Macanmerah Bhut Bang Selatan Liver
4 Wisnu Mrajapati Buayahitam Bhuta Ireng Utara Bile

Penjelasan mengenai bagian-bagian tubuh yang ditempati dan/atau dipengaruhi oleh keempat saudara ini tidak selalu sama.

Hal ini tidak perlu terlalu membingungkan pembaca. Yang penting, selama orang ingat dan selalu berbuat baik kepada keempat saudara itu, selama itu orang akan mendapat perlindungan dari segala bencana yang mengancam. Keempat saudara yang baik (Kanda Pat Dewa) diterjemahkan oleh Hooykaas sebagai ‘guardian spirits’ atau oleh Eiseman sebagai ‘the four spirit guardians’. 

Untuk mendapatkan perlidungannya, keempat saudara ini perlu disebut dengan nama mereka masing-masing: Anggapati, Mrajapati, Banaspati dan Banaspati Raja. Entah pergi tidur atau hendak mandi, orang perlu menyebut mereka untuk melindunginya dari kekuatan-kekuatan jahat yang mencoba mendekat.

Sebaliknya, bila orang melupakannya, orang akan mudah terkena bencana, badan akan jatuh sakit dan orang bisa lupa ingatan.  Keempat  saudara ini (Kanda Pat Bhuta) menjadi musuh yang jahat, yang bisa mendatangkan segala macam ‘bencana dan penyakit’. Mereka bisa menjadi bagian integral dari tubuh manusia dan merusak manusia dari dalam Pada dasarnya, cukup dipahami bahwa Kanda Pat memiliki peran yang amat besar (kalau bukan menentukan) dalam hidup orang perorangan.

Dengan memberi perhatian yang cukup dan korban sajian yang memadai, mengundang mereka turut ambil bagian dalam makan dan minum, meminta mereka menjadi sahabat dalam apa yang dikerjakan atau ke mana bepergian, mereka akan memberikan imbalan dalam wujud kekuatan magis yang dibutuhkan.

Angrangsukin Kanda Pat Dewa Bhuana Agung dalam Bhuana Alit

Termasuk dalam ajaran Kanda Pat Dewa ini. Karena apa yang ada di Buwana agung, akan kita jumpai pula di dalam Buwana alit. Seperti Dewa Nawa Sangga misalnya, ada di Buwana agung, berarti ada juga di Buwana alit. Sebab, pada hakekatnya Buwana agung dan Buwana alit adalah tunggal.

Beginilah cara ngrangsukang para Dewa di Bhuwana alit, ring angga sariranta, mantra:

Untuk menampilkan bagian ini, diperlukan
Login Membership
Bila anda dapat meyakinkan angrangsukin mantra tersebut di atas, maka akan banyak sekali kegunaannya, ‘sakwehing gawenya wenang’. Dan bila anda hanya akan angrasukin Ajaran Kanda Pat Dewa, maka mantra tersebut diatas menjadi lebih singkat sebagai berikut :
Untuk menampilkan bagian ini, diperlukan
Login Membership
Ajaran Siwa Guru dari Siwa adalah pada siapa alam semesta ini “tertidur” setelah pemusnahan dan sebelum siklus penciptaan berikutnya. Semua yang lahir harus mati. Segala yang dihasilkan harus dipisahkan dan dihancurkan. Ini merupakan hukum yang tidak dapat dilanggar. Prinsip yang menyebabkan keterpisahan ini, daya dibalik penghancuran ini adalah Siwa. Tapi Siwa lebih daripada itu.

Keterpisahan alam semesta berakhir pada pengurangan tertinggi, menjadi kekosongan tanpa batas, adalah bagian dari keberadaan, dari mana berulang-ulang muncul alam semesta yang tampaknya tanpa batas. Kekosongan tanpa batas, adalah bagian dari keberadaan, darimana berulang-ulang muncul alam semesta yang tampaknya tanpa batas ini, adalah Siwa. Dengan demikian, walaupun Siwa dilukiskan sebagai yang bertanggung jawab terhadap penciptaan dan pemeliharaan keberadaan ini. Dalam pengertian ini. Brahma dan Wisnu juga adalah Siwa.

Dan dalam pengertian Kanda Pat Dewa ini, Siwa tidak lain adalah Brahman itu sendiri, maka wajarlah kalau semua Dewa lahir dan lebur kembali kepada-Nya. Seperti yang sudah dijelaskan di muka bahwa “Brahman datang kepada pemikiran”, Dia tidak dapat dicapai oleh pemikiran. 

Dia datang pada saat gejolak pemikiran tidak ada lagi. Dia hanya datang dalam situasi yang dikendalikan oleh Siwa. Seperti yang dikatakan oleh Mitologi Hindu, Siwa adalah pengembara di malam hari, Dia dapat dihubungi hanya dalam kegelapan malam. Maka pada malam harilah, dan hanya disitu saja, Siwa menyampaikan isyarat-isyarat, atau ajaran-ajaran rahasia lewat saktinya Uma. Satu diantara arti perkataan Uma adalah malam. Ini juga berarti ketenangan. 

Ketika malam tiba, ada sesuatu yang meresap di dalam kegelapan malam semua kemajemukan telah lenyap. Pikiran yang terbebaskan dari aktivitasnya pasti berhadapan dengan malam yang kosong ini. Manusia harus menemukan sifat Brahman secara langsung dan ini dapat terjadi hanya apabila dalam keadaan pikiran yang terbebaskan dari semua aktivitasnya, kesadaran manusia itu sendiri tanpa bergeming, dihadapan malam yang belap dan hening itu.

Kemudian sang malam (Dewi Uma) menyampaikan pemberiannya atau ajarannya kepada manusia. Pemberian, ajaran, anugrah atau wahyu itu datang tanpa nama dan wujud si pemberi, karena itu manusia tidak tahu siapa yang telah memberinya, mengajarinya tentang rahasia kehidupan ini. Tapi manusia meyakini itulah ajaran dari Sang Hyang Siwa Guru.




Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Baca Juga