- 1Tiga Jenis atau Gegelaran Sulinggih (Tri Sadhaka)
- 1.11. Pandita Siwa
- 1.22. Pandita Budha
- 1.33. Pandita Bhujangga Waisnawa
- 2Perangkat Pemujaan Pandita Bali
- 2.1A. Fungsi dan Makna Perangkat Siwa Paksa (Siwopakarana)
- 2.1B. Fungsi dan Makna Perangkat Budha Paksa (Budha Pakarana)
- 2.1C. Fungsi dan Makna Perangkat Waisnawa Paksa
C. Fungsi dan Makna Perangkat Waisnawa Paksa
C.1. Fungsi dan Makna Genta Padma
Genta padma merupakan alat utama seorang sadhaka atau pandita di dalam melaksanakan loka pala sraya. Terkait dengan uraian tentang genta padma seorang Pandita Bhujangga Waisanawa Paksa sama dengan keterangan atau penjelasan detail makna genta padma yang dipakai oleh seorang pandita, baik golongan Siwa Paksa (Saiwa) maupun Budha Paksa (Baudha).
C.2. Fungsi dan Makna Genta Uter
Dalam proses pemujaan atau muput upacara genta uter hanya boleh dilakukan atau digunakan oleh Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Istri, yaitu berfungsi untuk “nuhur” atau menurunkan Dewata Nawa Sanga untuk menyaksikan bhuta-bhuti menerima “labaan” atau “caru”.
Suara yang ditimbulkan genta uter memiliki makna magis tersendiri dan hanya dapat didengar dan disenangi oleh para bhuta-bhuti. Oleh karena itu, pada saat upacara caru berlangsung, untuk memanggil bhuta-bhuti dan disaksikan Dewata Nawa Sanga, hanya dengan genta uter. Perangkat pemujaan berupa genta uter ini menjadi salah satu ciri khusus seorang sadhaka atau pandita dari golongan Bhujangga Waisnawa.
C.3. Fungsi dan Makna Genta Orag
Genta orag atau sering disebut lebih singkat dengan istilah gentorag adalah genta kecil-kecil dalam satu rangkaian. Pada saat dibunyikan dengan cara digoyang-goyangkan menimbulkan suara gemerincing secara bersama-sama. Suara yang ditimbulkan ini menjadi menarik dan berfungsi untuk mengundang dan menghadirkan bhuta-bhuti yang menyebarkan bisa, racun, penyakit gatal, dan sebagainya. Kehadiran para Bhuta-Bhuti ini untuk diberikan labaan caru sehingga tidak mengganggu umat yang sedang melaksanakan sebuah upacara.
Hal ini memberikan makna bahwa alam yang terdiri atas berbagai makhluk ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, baik di dunia sekala maupun niskala, semuanya memerlukan keseimbangan. Untuk terjadi keseimbangan diperlukan pengorbanan atau yadnya suci. Termasuk memberikan pengorbanan kepada bhuta-bhuti, sebagai makhluk alam niskala.
Artinya, dalam sebuah upacara pasti juga dilakukan pecaru-an yang bermakna untuk memberikan labaan kepada bhuta-bhuti sehingga pada akhirnya tidak mengganggu umat manusia di dalam menjalankan kehidupannya. Dari situlah tercipta keseimbangan dalam menjalani proses hidup dan kehidupan di alam ini.
C.4. Fungsi dan Makna Sungu/Sangka
Sungu adalah sebuah terompet dari kerang laut atau disebut juga sangka, yaitu alat yang dipakai pada saat memimpin upacara oleh sadhaka atau pandita Bhujangga Waisnawa. Alat ini berfungsi untuk memanggil atau mengundang bhuta-bhuti, Kala Dengen, tonyan alas, tonyan jurang, bhuta-bhuti di perempatan dan di setra atau kuburan.
Terompet berupa sungu atau sangka ini juga merupakan terompet yang dipakai oleh Krisna (Awatara Wisnu) pada saat perang Mahabharata berlangsung. Dengan alat terompet ini Krisna memberikan tanda bahwa perang dimulai dan diakhiri.
Demikian halnya bahwa terompet sungu atau sangka ini bila dibunyikan pada saat upacara berlangsung oleh pandita Bhujangga Waisnawa, sebagai pertanda untuk memanggil makhluk-makhluk alam gaib untuk diberikan labaan agar tidak mengganggu umat manusia di sekitarnya.
Segala keburukan dan aura negatif yang dimunculkan di rubah menjadi hal-hal bersifat baik atau menjadi kekuatan positif sehingga keberlangsungan hidup menusia dan makhluk hidup lainnya mengalami keseimbangan.










