Kebijaksanaan dalam Naskah Sanghyang Siksakandang Karesian


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

 

BAB XXV

prasada, lingga linggih, batu gangsa, lemah biningba ginavve wongwongan, sasapuan. Sakitu, saukur lemah kasucikeun, cai kasucikeun, kapawitrakeun. Nya keh janma rahayu, janma rampes, ya janma kreta,

kuil, palinggihan, sanggar hyang (Bali: Sulinggih), batu perunggu. tempat arca, lalu membuat orang-orangan dan membersihkannya. Demikianlah seluruh permukaan tanah terurus, air dapat disucikan, diberkati. Itulah manusia bahagia, manusia sempurna. ya manusia sejahtera.

Nu kangken bijil ti nirmala ning lemah ma ngara(n)na, inget di sanghyang siksa, mikuku(h) talatah ambu bapa aki lawan buyut, nyaho di siksaan mahapandita, mageuhkeun ujar ing kreta. Ini carita baheula nu nanjeurkeun sanghyang sasana kreta: Rahyangtang Dewaraja, Rahyangta Rawunglangit, Rahyangta ti M(e)dang, Rahyangta ri Menir. Ya ta sinangguh catur kreta ngara(n)na.

Yang dianggap muncul dari kesucian tanah yaitu, ingat kepada sanghyang siksa. berpegang teguh kepada ajaran ibu. bapak, kakek, dan buyut. mengetahui peraturan bagi maha pendeta, mengukuhkan kata-kata kesentosaan. Menurut cerita zaman dahulu yang menegakkan sanghyang sasanakreta itu ialah: Rahyangta Dewa Raja, Rahyangta Rawunglangit, Rahyangta di Medang, Rahyangta di Menis. Itulah yang disebut catur kreta.

Nya mana kitu ayeuna na janma inget di sanghyang darma(wi)-sesa, nyaho di karaseyan ning janma. Ya ta sinangguh janma rahaseya ngara(n)na, Lamun pati ma eta atmana manggihkeun sorga rahayu. Manggih rahina tanpa balik peteng, suka tanpa balik duka, sorga tanpa balik papa, enak tanpa balik lara, hayu tanpa balik hala, nohan tanpa balik wogan, mokta tanpa balik byakta, nis tanpa balik hana, hyang tanpa balik dewa. Ya ta sinangguh parama lenyep ngara(n)na.

Oleh karena itu, sekarang manusia ingat kepada sanghyang darmawisesa sebagai cara untuk mengetahui kerahasiaan manusia. Itulah yang disebut manusia (yang paham) rahasia. Orang semacam ini bila mati maka sukmanya akan menemukan sorga kebahagiaan. Mengalami siang tanpa malam, merasakan suka tanpa duka, memperoleh kemulyaan tanpa kenistaan, senang tanpa penderitaan, indah tanpa buruk, gaib tanpa wujud, menjadi hyang tanpa menjadi dewa kembali. Itulah yang disebut parama lenyep (kesadaran utama).

Kitu keh janma ayeuna. Upama urang mandi, cai pitemu urang hengan ta na cai dwa piliheun(a)na; nu keruh deungeun nu herang. Kitu keh twah janma. Dwa nu kapaknakeun: nu goce deungeun nu rampes. Kitu keh janma. mana na kapahayu ku twah nu mahayu inya. Nya mana janma mana hala ku twahna mana hayu ku twahna.

Demikianlah manusia sekarang. Bila kita mandi, air yang kita temukan hanya ada dua pilihan yaitu air yang keruh dan yang jernih. Demikian pula perbuatan manusia. Dua macam yang dilakukan: yang buruk dan yang baik. Begitulah manusia, mendapat susah karena perbuatan yang menyusahkan dirinya sendiri. Begitulah manusia, mendapat ke-bahagiaan karena perbuatan yang membahagiakan dirinya sendiri. Ya manusia itu susah karena ulahnya senang karena ulahnya.

Kitu keh cai mana dipajar dwa piliheun ma. Banyu

Begitulah air itu maka disebut ada dua macam pilihannya. Air

 

BAB XXVI

asrep lawan hening ma inya sanghyang darmawisesa, Nya nu dilakukeun ku mahapandita. Nu banyu ha(ng)ker lawan letuh ma inya na rasa carita nu dilakukeun ku na sang wiku lokika paramar/a/ta kabeh. Nya kadyangga ning centana lawan acentana. Nu centana ma wruh menget tutur tanpa balik lupa; ya ta wwit ning janma rahayu. ya tangkal ning bumi kreta. Nu acentana ma ikang lupa hyang, moha tar kahanan tutur: ya tar.gkal ning sanghara, punun ning kaliyuga, .beuti ning jalir, vvwit ning linyok; ya sangkan janma ka naraka. Ulan eta dipitemen ku nu dek berier ma.

tawar dan bening adalah sanghyang darmawisesa. Itulah yang dilakukan oleh sang maha pendeta. Air suram dan keruh ialah pada rasa dan kelakuan yang dilakukan oleh sang wiku, masyarakat dan orang yang berkedudukan semuanya. Ya ibarat centana (kesadaran) dengan acentana (ketidaksadaran). Yang sadar itu tahu bagaimana cara mengingat nasihat agar tak pernah melupakannya; itulah awal manusia bahagia, pokok dunia yang sejahtera. Yang tidak sadar ialah yang lupa kepada hyang, bingung, tidak ada nasihat yang diingatnya, ya itulah benih pokok kehancuran  zaman akhir. urnbi keingkaran, benih kebohongan: penyebab manusia masuk neraka. Janganlah hal itu dikukuhi oleh mereka yang ingin benar.

Iki ujar sang sadu basana mahayu drebyana. Ini tri-tangtu di bumi. Bayu kita pina/h/ka prebu, sabda kita pina/h/ka rama. h(e)dap kita pina/hka resi. Ya tritangtu di bumi, ya kangken pineguh ning bwana ngara(n)na.

Ini nasihat sang budiman waktu menyentosakan pribadinya. Inilah tiga ketentuan di dunia. Kesentosaan kita ibarat raja, ucapan kita ibarat rama, budi kita ibarat resi. Itulah tiga ketentuan yang berlaku di dunia, tritangtu ini disebut peneguh dunia.

Iki triwarga di lamba. Wisnu kangken prabu, Brahma kangken rama, Isora kangken resi. Nya mana tritan(g)tu pineguh ning bwana. triwarga hurip ning jagat. Ya sinangguh tritan(g)tu di nu reya ngaranya.

Ini triwarga dalam kehidupan. Wisnu ibarat prabu, Brahma ibarat rama, Isora ibarat resi. Karena itulah tritangtu menjadi peneguh dunia, triwarga menjadi kehidupan di dunia. Ya disebut tritangtu (tiga ketentuan atau tiga kepastian) yang namanya akan disebut oleh orang banyak.

Teguhkeun pageuhkeun sahingga ning tuhu, pepet byakta warta manah. Mana kreta na bwana, mana hayu ikang ja(ga)t, kena twah ning janma kapahayu.

Kukuhkan, kuatkan, batas-batas kebenaran, penuhi dengan kenyataan dan sikap baik dalam jiwa. Maka kamu akan menjadi seseorang yang dapat menyentosakan dunia. Bila sudah demikian, maka menjadi sejahtera kehidupan ini, karena perbuatan manusia yang serba baik.

Kitu keh, sang pandita pageuh di kapanditaan(a)na. kreta; sang wiku pageuh di kawikuan(a)na, kreta; sang manguyu pageuh di kamanguyuan(a)na, kreta; sang paliken pageuh di (ka)paliken(a)na. kreta; sang tetega pageuh di katetegaan(a)na, kreta; sang ameng pageuh di kaamengan(a)na, kreta; sang wasi pageuh di kawasian(a)na, kreta; sang ebon pageuh di kaebon(a)na, kreta; maka nguni sang walka pageuh di kawalkaa-

Demikianlah, bila pendeta teguh dalam kependetaannya, maka akan sejahtera; bila wiku teguh dalam kewikuannya, maka akan sejahtera; bila manguyu teguh dengan keahliannya menata gamelan, maka akan sejahtera; .bila paliken teguh pada keahlannya menghasilkan seni rupa, maka akan sejahtera; bila tetega teguh dalam tugasnya sebagai biarawan, maka akan sejahtera; bila ameng teguh dengan tugasnya sebagai pelayan biarawan, maka akan sejahtera; bila wasi teguh dengan tugasnya sebagai catrik (pengikut agama), maka akan sejahtera; bila ebon teguh dengan kewajibannya sebagai biarawati, maka akan sejahtera; Demikian pula bila walka (pertapa yang mengenakan pakaian kulit kayu) teguh dengan kewajibannya sebagai pertapa




Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Blog Terkait