Kebijaksanaan dalam Naskah Sanghyang Siksakandang Karesian


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

 

BAB V

dang karesian. Jaga rang dek luput ing na pancaga/n/ti, sangsara. Mulah carut mulah sarereh, mulah nyangcarutkeun maneh. Kalingana nyangcarutkeun maneh ma ngaranya: nu aya dipajar hanteu, nu hanteu dipajar waya, nu inya dipajar lain, nu lain dipajar inya. Nya karah (he)dapna ma kira-kira. Budi-budi ngajerum, mijaheutan, eta byaktana nyangcarutkeun maneh ngara(n)na.

dang karesian. Waspadalah agar kita terluput dari pancagati (lima penyakit : serakah, kebodohan, kejahatan, takabur dan keangkuhan) agar tidak sengsara. Jangan khianat jangan culas, jangan mengkhianati diri sendiri. Yang disebut dengan mengkhianati diri sendiri yaitu: yang ada dikatakan bukan, yang bukan dikatakan benar. Ya begitulah, tekadnya penuh dengan muslihat. Perbuatan memfitnah, menyakiti hati (orang lain), itulah kenyataannya yang disebut mengkhianati diri sendiri.

Nyangcarutkeun sakalih ma ngara(n)na: mipit mo amit, ngala mo menta, ngajuput mo sadu. Maka nguni tu: tunumpu, maling, ngetal, ngabegal; sing sawatek cekap carut, ya nyangcarutkeun sakalih ngara(n)na.

Yang disebut mengkhianati orang lain adalah: memetik (milik orang) tanpa izin, mengambil tanpa meminta, memungut tanpa memberi tahu. Demikian pula: merampas, mencuri, merampok, menodong; segala macam perbuatan khianat. ya mengkhianati orang lain namanya.

Sanguni tu: meor, ngodok, nyepet, ngarebut, ngarorogoh, papan jingan. Maka nguni ngotok ngowo di pamajikan, di panghulu tandang. Maka nguni di tohaan di maneh, Itu leuwih mulah dipiguna dipitwah ku urang hulun. Ulah mo pake na sabda atong teuang guru basa, bakti susila di pada janma, di kula kandang baraya.

Demikian pula: merangkum (mengambil barang milik orang dengan kedua telapak tangan), memasukkan tangan (untuk mengambil barang milik orang), mencomot, merebut, merogoh, menggerayangi rumah orang, Begitu juga terus menerus tinggal di rumah majikan, rumah penguasa atau pada raja. Hal demikian lebih-lebih jangan dilakukan, tidak boleh diperbuat oleh seorang abdi. Jangan lupa menggunakan ucap yang hormat, sopan dan mantap, bakti dan susila kepada sesama manusia, kepada sanak keluarga.

Maka nguni di tohaan urang. Suku ma pake disila, leungeun ma pake umum, Jaga rang pacarek deung menak deung gu(s)ti deung bu-haya ing kalih deung estri larangan maka nguni deung tohaan urang. Jaga rang dipiguhakeun mulah surah di tineung urang, sanguni salah tembal, kajeueung semu mo suka ku tohaan urang. Ulah, pamali; bisi urug beunang ditapa, hilang beunang cakal bakal, bisi leungit batri hese, kapangguh ku sanghyang jagat sangsara, batigra-

Demikianlah adab yang seharusnya kita lakukan kepada raja kita. Kaki itu untuk bersila dan tangan untuk menyembah. Hati-hatilah kita berbincang dengan bangsawan, dengan majikan pemilik tanah, dengan kedua orang tua, dengan wanita larangan (wanita yang telah bertunangan dan telah menerima tanda pinangan). Begitu pula dengan raja kita. Bila kepada kita diberikan kepercayaan untuk memegang suatu rahasia, jangan munafik pikiran kita, demikian pula (jangan) salah dalam menjawab, jika raja sedang tidak senang maka kita dapat melihatnya dari roman mukanya. Jangan, pemali! (jika hal itu dilakukan, maka) nanti gugur hasil kita bertapa, hilang pula jasa nenek moyang, vegitu pula hasil jerih payah kita akan lenyap, kalau hal itu sampai terjadi, maka kita akan tertimpa kesengsaraan, (dan) diusir

 

BAB VI

han ku sang dewa ratu. Lamun hamo satya di tohaan urang, a(ng)geus ma jaga rang waya di kagering, jaga rang palay, jaga rang ireug, duga-duga majar maneh teu(ng)teuing amat. Mana dipajar satya dikahulunan; hengan jaga rang ceta ma mulah luhya, mulah kuciwa, mulah ng(n)tong dipiwarang, mulah hiri mulah dengki deung deungeun sakahulunan. Maka nguni nyeueung nu meunang pudyan, meunang parekan, nyeueung nu dineneh ku tohaan, teka dek nyetnyot tineung urang. Haywa, pamali !. Kapamalyanna karah: jadi neluh bareuh hate. Hamo beunang gitambaan, jampe mo matih, paksa mo mretyaksa, ja hanteu kturutan ku sanghyang siksakandang karesian.

oleh sang raja. Kalau kita tak setia kepada raja, bila suatu saat kemudian kita menderita sakit, tubuh menjadi lemah karena tak bertenaga atau merasa bingung (sedangkan raja tidak memperhatikan karena kita berbuat salah) kita akan terang-terangan mengatakan bahwa (raja) itu keterlaluan. Karena itu belajarlah setia kepada raja, tetapi bila kita bertindak, jangan mengeluh, jangan kecewa, jangan enggan diperintah, jangan iri, jangan dengki kepada kawan semajikan. Demikianlah pula bila melihat orang yang mendapat pujian, mendapat selir, melihat yang dikasihi oleh raja, (semua itu janganlah kemudian) hendak menggoyahkan kesetiaan kita. Jangan, pemali! Akibat buruknya ialah kita menjadi murung dan sakit hati. (hal semacam ini) tak akan dapat diobati, jampi tak akan mempan, dan niat tak akan terlaksana karena tidak dibenarkan oleh sanghyang siksakandang karesian.

Kitu jaga rang nangganan, mulah kira-kira digelangan. Jaga rang kagelangan, mulah mo bakti di nu nangganan kena itu tanda sang dewa ratu.

Demikianlah bila kita menjadi anggota pasukan, janganlah sampai mendapat marah. Kalaupun kita mendapat marah jangan sampai tidak berbakti kepada yang memerintah karena (pemimpin pasukan adalah) pejabat tinggi negara (yang ditugaskan oleh) sang raja.

Jaga rang keuna panyuruhan, mulah mo raksa sanghyang siksakandang karesian, pakeun urang satya di piwarangan. Hengan lamur. nu ngalor ngidul ngulon ngetan, geus ma mulah siwok ca(n)te, mulah simur cante, mulah simar cante, mulah darma cante. Ya ta sinangguh sanghyang catur yatna ngaranya.

Bila kita mendapat perintah (dari atasan), jangan melupakan sanghyang siksakandang karesian. Agar kita tetap setia kepada tugas. Namun kalau ada yang (diperintah untuk pergi) ke utara, selatan, barat dan timur, janganlah siwok cante, jangan simur cante, jangan simar cante, jangan darma cante. Ya itulah yang disebut catur yatna (empat kewaspadaan).

Iki kalingana. Siwok cante ma ngara(n)na kawujukan ku hakan inum. Simur cante ma ngara(n)na salima hamilu ngaramakeun nu maling, nu ngarebut, nu meor. Ya salah dongdonan ngaranya. Simar cante ma ngara(n)na ngala dagangan mas pirak lalambaran hanteu di-

Inilah keterangannya. Yang disebut dengan siwok cante adalah tergoda oleh makan-minum. Yang disebut simur cante adalah ikut perbuatan orang yang mencuri, merebut dan merangkum. Itulah yang dinamakan salah langkah, yang disebut simar cante adalah mengambil dagangan mas dan perak berlembar-lembar tanpa di-




Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Blog Terkait