Asal-usul Pertunjukan serta Topeng Barong dan Rangda


Download Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00
Login

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini


Sumber yang banyak menyebutkan keberadaan Barong adalah sumber yang tertulis dalam lontar, cerita rakyat dan asumsi yang didasarkan pada kepercayaan umat Hindu di Bali, bahwa para dewa diyakini mempunyai binatang peliharaan semacam lingga sthana atau wahana, seperti; lembu, singa, dan lain-lain. Kepercayaan ini pun sangat kuat pengaruhnya dalam kehidupan beragama, sehingga apabila suatu saat orang Bali melihat binatang-binatang seperti itu di sekitar Pura atau tempat suci lain pada hari-hari tertentu, tepatnya pada pk.12.00 siang atau pada tengah malam, mereka serta merta mengaitkannya dengan unen-unen, ancangan atau wahana, yaitu binatang tunggangan atau peliharaan dewa-dewa yang berstana di pura tersebut.

Ketika manusia mengalami situasi yang gawat sebagai akibat wabah seperti gering (demam), gerubug (muntaber), desti (penyakit yang disebarkan oleh leak) dan penyakit sejenisnya, orang-orang pun mencari jalan pemecahannya. Kemampuan rasio dirasa belum cukup mampu mengatasi kekuatan jahat tersebut. Untuk itu manusia mengalihkan perhatiannya kepada dewa-dewa.

Untuk mengikutsertakan dewa-dewa dalam urusan ini maka manusia mewujudkan dewa yang berbentuk menyeramkan dan menakutkan, sehingga  dapat  mengimbangi kekuatan  jahat  ini.  Dewa  yang  seram ini kemudian mereka wujudkan dalam bentuk sebuah Barong.

Dalam kaitannya dengan Barong dan Rangda, dalam buku Ensiklopedi Tari Bali (Bandem, I Made, 1982) disebutkan bahwa Barong Ket merupakan binatang mitologi berkaki empat yang mempunyai kekuatan gaib dan diyakini sebagai pelindung masyarakat. Apabila dilihat dari bentuk Punggalan Barong atau Topeng Barong yang ada di Bali, tampak adanya suatu perpaduan antara kebudayaan Hindu dengan kebudayaan Bali kuno, khususnya kebudayaan Hindu yang bercorak Budha, karena topeng Barong seperti itu juga terdapat di negara-negara penganut Budha seperti Jepang dan Cina.

Rangda, berarti janda yaitu nama lain Calonarang, seorang janda dari desa Girah (Dirah) yang mempraktikkan ilmu hitam (pengeleakan). Ia juga disebut Randaning Dirah dan wujud mukanya berupa sebuah topeng yang sangat menakutkan. Taringnya mencuat ke luar, mata melotot, lidah menjulur ke bawah, dan rambutnya lebat memanjang. Topeng Rangda ini dapat dipakai untuk menokohkan watak yang angker, sakti, dan jahat (lihat de Zoete and Walter Spies.1973:178).

Sehubungan dengan asal usul Barong dan Rangda menurut lontar ”Barong swari “,milik pustaka lontar I Dewa Ketut Artha , jero Grya Dhaton Batununggul Nusa Penida, yang dituturkan kembali lewat wawancara pada hari selasa tanggal 9 Nopember 2004 (Anggara, Kliwon,Wuku Prangbakat, Sasih Kelima, Caka 1926) sebagai berikut :

Tersebutlah Bhtari Uma merasa kesakitan ketika sedang menyusui putranya yang masih bayi yaitu Ganesa. Manakala putranya ini meminta atau menyusu  kepada  ibunda,  selalu  ditolak  karena  bila  menyusui  Ganesa    ibunya merasakan kesakitan yang luar biasa, sampai-sampai puting susu Bhatari Uma terkoyak-koyak hingga berdarah. Berhubung Ganesa minta susu selalu ditolak oleh ibunda, maka Bhatara Ghana kecil menangis sejadi-jadinya. Hal ini terdengar sampai ke telinga Bhatara Siwa Mahadewa dan yang langsung menghampiri Bhatari Uma seraya bertanya :

” Dewi Bhatari, mengapa adinda tidak mau menyusui putramu ?, sedangkan menyusui adalah tugas dan kewajiban yang mulia bagi seorang ibu !”

Mendengar pertanyaan Paduka Bhatara Siwa Mahadewa, maka Bhatari Uma langsung menjawab dengan keras :

”pokoknya aku tidak mau menyusuinya lagi, susuku terkoyak-koyak, terasa perih dan sakit luar biasa!”

Mendengar jawaban yang sangat meremehkan itu, pada hal menyusui itu adalah kewajiban yang mulia yang harus dilakukan oleh seorang ibu dalam membesarkan putranya, maka itu langsung saja Bhatara Siwa Mahadewa menjatuhkan kutukan terhadap Bhatari Uma, sehingga Dewi Uma berubah wujud menjadi seorang Raksasi yang galak dan bengis, buruk rupa serta menakutkan, kemudian di lempar ke marcapada atau dunia sebagai penunggu setra (kuburan).

Setelah sampai di dunia Bhatari Uma yang telah berubah menjadi Raksasi atau Dewi Durga tersebut, berstana di setra, dengan membawa ilmu Pengiwan, Desti atau Aji wegig yang kemudian lebih terkenal dengan sebutan ilmu pengeleakan (black magic). Aji wegig inilah kemudian disebarkan kepada umat manusia yang ingin mempelajarinya, sebagai tandingan terhadap ilmu putih atau ilmu agama.

Suatu saat Bhatari Durga melakukan angranasika atau melakukan yoga ketika yoganya menghadap ke utara beliau menciptakan “gring lumintu” (wabah penyakit), ketika yoganya menghadap ke barat beliau menciptakan “gring hamancuh”, ketika yoganya menghadap ke selatan, beliau menciptakan “gring rugbuana” (hancur dunia), dan ketika yoganya menghadap ke timur, menciptakan “gring utah bayar” (muntah-mencret).

Dengan timbulnya berbagai bentuk penyakit yang diciptakan oleh Bhatari Durga, maka makhluk hidup yang mendiami dunia ini terancam kepunahan. Melihat ancaman seperti itu, maka segeralah Sang Hyang Tri Murti turun ke marcapada atau ke dunia untuk menyelamatkan alam semesta ini dari kehancuran. Bhatara Brahma turun menjadi “topeng Bang, Bhatara Wisnu menjelma sebagai “Topeng Telek” , dan Bhatara Siwa menjelma menjadi Barong. Demikian pula Bathara Brahma menjadi topeng bang (jauk), Bathara Wisnu menjadi Sandaran (Telek), dan Bathara Siwa menjadi Barong Ket.

Pada setiap kesempatan Barong menari untuk mengusir atau menghalau Bhutakala dan wabah penyakit tersebut, sehingga manusia terhindar dari mara bahaya.

Selanjutnya dalam lontar babad Barong dan Rangda, oleh Ida Pedanda Made Sidemen (dalam sasana budaya Bali, 1975-1976:11), diceritakan bahwa Rangda adalah anak Bhatara Siwa yang bernama Dewi Krisna. Dewi Krisna ini menguasai tentang ilmu desti atau ngeleak (black magic). Oleh karena Dewi Krisna ini menguasai ilmu pengeleakan yang mengancam ketenteraman kayangan/surga maka, beliau di titahkan turun ke dunia fana di tanah Jawa dan kawin dengan adik raja Erlangga yang kebetulan menjadi pendeta di Pesraman Dirah dan dipesani pula oleh Bhatara Siwa ; “jikalau nanti Dewi Krisna sudah  mempunyai anak,  maka suamimu akan    moksa /meninggal sesuai dengan takdirnya”. Dewi Krisna ini dikenal juga dengan nama  Dayu Pucak Manik.

Hasil  perkawinan antara Dayu Pucak Manik dengan pendeta adik Prabu Erlangga melahirkan seorang putri yang sangat cantik jelita, bernama “Ratnamangali”. Tidak berselang lama setelah kelahiran Ratnamangali, maka ayahanda pun minta pamit moksa/meninggal sesuai dengan pesan takdir yang telah disampaikan oleh Bhatara Siwa. Dayu Pucak Wangi menjadi janda (Randha bhs.Jawa dan Rangda bhs.Bali). Karena Dayu Pucak Wangi mengikuti perintah Bhatara Siwa, maka oleh Bhatari Dhurga (sakti Siwa) ia dianugrahi lagi sebuah lontar “Pengeleakan”, sehingga akhirnya ilmu leaknya semakin ampuh dan mandraguna sehingga menjadi ratu leak yang memiliki sisia (murid) antara lain : I Rarung, Ilenda, Ilendi, Waksirsa, Jaran Guyang dan lain sebagainya.

Setelah Ratnamanggali menjadi dewasa tidak ada seorang pun pemuda yang berani mendekati, apalagi meminangnya sebagai istri karena masyarakat atau kalangan istana sudah mengetahui secara luas, bahwa ibunda Ratu Diah Pucak Wangi merupakan raja dari para leak, yang sungguh mempunyai kesaktian yang luar biasa seolah-olah tidak ada tandingannya. Putra Raja Erlangga yaitu Jaya Sabha pun tidak berani melamarnya. Melihat putrinya yang sudah menginjak dewasa, tidak ada yang berani mendekat atau meminang, maka Diah Pucak Wangi atau Walunateng Dirah atau Randhaning Dirah menjadi marah. Karena raja Erlangga pun tidak peduli dengan putrinya, lalu ia melakukan yoga atau angranasika tepat pada waktu tengah malam, bulan tilem, Anggara Kliwon, memohon di hadapan Bhatari Durga penguasa Pura Kuburan, untuk dapat membuat gerubug (wabah) di piggiran kota raja.

Oleh karena Randhaning Dirah amat sakti dan dengan mudah      dapat      berkomunikasi      dengan      Bhatari      Durga,   maka permohonannyapun mendapat restu. Setelah itu, merajarelalah wabah yang sungguh sangat ganas dan mematikan di seputar daerah pinggiran kota raja. Wabah yang menyerang daerah wilayah kerajaan Erlangga mengakibatkan para petinggi kerajaan mengadakan paruman agung untuk membahas mengenai persoalan grubug dahsyat yang baru melanda daerah wilayah kerajaan Erlangga tersebut.

Dalam paruman para petinggi dan Pendeta tersebut memutuskan menugasi para kaum Brahmana untuk menangani persoalan wabah yang menyerang penduduk itu. Dari paruman para sulinggih atau kaum Brahmana seperti; para Empu, Resi, dan Begawan, maka sepakat menunjuk Sri Empu Bradah untuk dapat memusnahkan wabah itu. Sri Empu Bradah sendiri menugasi putranya yang bernama Sri Empu Bhahula untuk menyelidiki rontal pengeleakan, dengan cara mengawini putri Randhaning Dirah yaitu Ratnamanggali agar ditemukan rahasia kesaktian ibunya. Setelah terjadi perkawinan antara Sri Empu Bhahula dengan Ratnamangali, ibunya sedikit pun tidak menaruh curiga atas menantunya itu yang mengemban misi menyelidiki ilmu pengeleakan tersebut. Pada suatu malam Anggara Kliwon bulan tilem (mati) ibunda Ratu Randhaning Dirah pada tengah malam tidak ada di kamar, lalu Sri Empu Bhahula bertanya kepada istrinya:

”adinda kenapa ibunda Ratu setiap malam Anggara (Selasa) Kliwon tidak ada di rumah?”.

Ratnamanggali langsung menjawab:”kakanda tercinta, ibunda Ratu setiap malam Selasa Kliwon bulan mati, selalu pergi ke setra sembahyang atau melakukan yoga di Pura Dalem (kuburan). Ibunda Ratu mendapat panugrahan lontar pengeleakan dari     Bhatari     Durga.     Setelah     mendengar  jawaban Ratnamanggali, Sri Empu Bhahula tercengang dan langsung lagi bertanya :

“di mana lontar pengeleakan itu di tempatkan? Langsung saja dengan senang hati Ratnamangali menunjukkan dan mengambilkan lontar tersebut dan menyerahkannya kepada Sri Empu Bhahula. Setelah lontar itu berada di tangan Sri Empu Bhahula pada malam itu juga ia menghadap kepada ayahanda Sri Empu Bradah. Lontar pengeleakan ini dipelajari baris demi baris dan kata demi kata, lalu ia temukan dalam bait tertentu bahwa, ada petunjuk dan cara untuk menangkal atau menghalau wabah yang sedang berjangkit di masyarakat.

Dengan ditemukannya bait penangkal itu, maka para Brahmana itu langsung mengambil tindakan dengan melakukan upacara sesuai dengan petunjuk lontar tersebut dan akhirnya wabah itu pun dengan seketika sirna dan menghilang.

Selanjutnya mengenai asal mula pembuatan topeng dan pertunjukan barong di Bali, tampaknya belum ada titik terang dari sejak kapan topeng-topeng tersebut dibuat dan kapan mulai dipakai dalam pertunjukan. Berkaitan dengan itu maka, perlu kita menengok sumber informasi dengan melihat kembali peninggalan-peninggalan masa lalu, baik tercatat lewat pustaka lontar maupun dalam prasasti-prasasti yang sudah ada.

Prasasti Jaha berangka tahun 840 Masehi di Jawa Tengah mengungkapkan tentang seni pertunjukan yang menggunakan topeng. Prasasti ini dikeluarkan atas nama Maharaja Sri Lokapala sebagai tanda bukti penguasa daerah Kuti yang menyebutkan beberapa jenis pertunjukan sebagai berikut : juru jalir berarti petugas yang mengatur prostitusi, dagang, berarti petugas yang mengurusi tentang badut, atapukan   berarti   seni   pertunjukan   yang   memakai   topeng,   aringgit merupakan pertunjukan wayang kulit, haluwarak berarti keluarga bangsawan yang memimpin gamelan wayang dan topeng, winingle berarti penabuh, dan pawindu berarti dalang atau penari yang memakai dialog (Holt, 1967: 281).

Dalam prasasti Bebetin yang ditemukan di Bali berangka tahun 896 M pada pemerintahan Ugrasena di Bali antara lain disebutkan: pamukul (juru tabuh), pagending (penyanyi), pabunying(penari), papadaha (pengendang), pabangsi (juru rebab), partapukan (topeng), perbhayang (wayang). Demikian pula pada prasasti Gurun Pai di Desa Pandak Denpasar berangka tahun 1045 Masehi, juga menyebutkan kata atapukan yang berarti pertunjukan topeng (Simpen A.B.Wayan.1974:3).

Berdasarkan uraian dari prasasti-prasasti tersebut di atas, maka kita telah mendapat gambaran bahwa pertunjukan topeng pada masa itu sudah ada namun bentuk pengerjaan maupun pewarnaannya amat sederhana dan niscaya belum memakai lakon. Kemudian setelah menerima paham atau ajaran veda pada awal zaman Hindu barulah pertunjukan topeng tersebut memakai lakon, dan lakon yang biasanya dipakai adalah mengambil wira carita epos Mahabharata maupun Ramayana. Topeng juga digunakan untuk untuk meperagakan wayang atau wayang wong. Di samping itu dalam perkembangan selanjutnya juga mengambil lakon dari babad-babad tanah Jawa maupun babad Bali, sehingga dalam pementasan topeng tersebut, dianggap sudah menggunakan beberapa bentuk ekspresi topeng. Hal ini sesuai pula dengan apa yang telah diceritrakan dalam lontar Ularan Prasraya ketika Dalem Watu Renggong  Mengutus Ki Patih  Ularan yang ditemani oleh I Gusti Jelantik Pesimpangan untuk menggempur Sri Dalem Juru raja Blambangan. Sri Dalem Juru dapat ditaklukkan, dan mereka pulang membawa sekotak topeng, yang sekarang masih tersimpan baik di Pura Blahbatuh Gianyar Bali.

Topeng Barong Keket dan Rangda mempunyai ciri khas, baik bentuk maupun warnanya, yang diwariskan oleh nenek moyang secara turun temurun. Sampai sekarang, topeng Barong Keket dan Rangda dilestarikan di kalangan masyarakat Bali. Topeng Barong merupakan tiruan wajah binatang dan manusia. Di samping topeng Barong Keket di Bali ada beberapa bentuk topeng barong seperti; Barong Macan (Harimau), Barong Bangkal (Babi), Barong Asu, Barong Gajah, Barong Lembu (Sapi) dan Barong Landung.

  1. Barong Macan adalah bentuk sosok barong dengan kepala topeng punggalan macan yang terdapat di hutan tropis. Macan merupakan binatang mitos yang terkenal bagi masyarakat Bali, khususnya di dalam ceritra Tantri. Badan dan pakaian barong macan ini menggunakan kain beludru, dengan beberapa hiasan yang terbuat dari kulit sapi ditatah dengan motif patra punggel yang diselang-selingi kaca dan dilapisi dengan prada mas.
  2. Barong Bangkal adalah babi jantan yang usianya sudah lanjut atau tua. Bangkal juga merupakan binatang mitos yang mempunyai kekuatan gaib. Badan barong menggunakan kain beludru yang berwarna hitam atau merah. Hiasannya pun pada umumnya menggunakan kulit sapi, ditatah dengan sedemikian rumitnya dilapisi dengan prada mas ditempatkan pada bagian-bagian tertentu sebagai hiasan seperti pada leher, kaki depan, sepanjang punggung, kaki belakang dan pada ekor. Barong Bangkal juga dimainkan oleh dua orang, depan sebagai kepala dan bagian belakang sebagai ekor. Pertunjukan barong bangkal diiringi oleh seperangkat gamelan bebatelan yang terdiri dari instrumen seperti; kendang, cengceng, kelenang, kempur, tawa-tawa dan suling.
  3. Barong Asu adalah sebuah barong anjing yang sangat angker dan dikeramatkan, terutama di daerah Baturiti Tabanan. Barong Asu hanya dipertontonkan mana kala ada piodaran di Pura Pacung. Barong ini juga tiap-tiap hari Raya Galungan dibawa keliling desa atau ngelawang. Setiap desa yang dikunjungi, masyarakat setempat menghaturkan sesajen untuk memohon keselamatan masyarakat.
  4. Barong Gajah, bentuk punggalan dan badannya menyerupai seekor gajah. Barong gajah ini juga amat dikramatkan dan disucikan oleh pendukungnya. Barong gajah juga memiliki mitos yakni sebagai wahana atau tunggangan Bathara Indra. Setiap hari raya Galungan juga ngelawang keliling desa, untuk melindungai masyarakat dari mara bahaya.
  5. Barong Landung, merupakan barong yang sangat unik, tidak seperti barong dari binatang dimainkan oleh dua orang, tetapi dimainkan hanya satu orang. Barong Landung merupakan boneka raksasa, laki dan perempuan, hampir menyerupai ondel- ondel dari Batawi. Boneka laki-laki bernama Jero Gede, warna topengnya coklat tua dan yang perempuan bernama Jero Luh dengan topeng menggambarkan seorang wanita cantik berwarna putih kekuning-kuningan. Menurut hasil pengamatan, barong ini tampaknya merupakan perpaduan dua budaya yaitu, budaya Cina dan budaya Bali atau lokal. Pada Jero Gede, bentuk postur tubuh dan warna topengnya sangat identik dengan orang Bali, sedangkan Jero Luh memiliki ciri mata sipit, pustur tubuh dan warna topengnya putih kekuning-kuningan, identik dengan warga keturunan  Cina.

Dan ini sangat memungkinkan karena orang Jawa Majapahit maupun Raja-raja Bali di ketuhui sudah lama menjalin hubungan dagang, maupun kerjasama dibidang agama Budha dengan Cina.

Semua Barong tersebut di atas bagi masyarakat Bali amat disakralkan dan disucikan, karena masyarakat mempunyai keyakinan atau kepercayaan bahwa Barong yang telah disakralkan diyakini dapat memberi perlindungan kepada umat manusia maupun masyarakat luas. Barong Keket atau lebih populer masyarakat menyebutnya Barong Ket merupakan tiruan binatang berkaki empat yang wujudnya unik. Sesungguhnya binatang ini tidak ada, namun oleh seniman/sangging Bali, digambarkan sebagai seekor binatang raksasa mitologi yang dianggap sebagai raja dari segala binatang, oleh sebab itu Barong Ket juga disebut Banaspati Raja, diyakini sebagai penunggu kuburan.

Selanjutnya jika kita menelusuri masyarakat Bali, ternyata memiliki beraneka ragam bentuk seni seperti seni rupa, seni tari, seni kerajinan, seni kerawitan, dan sebagainya yang selalu berkaitan dengan kegiatan upacara agama Hindu Dharma. Untuk mengetahui latar belakang budayaannya dapat dilihat kembali sejarah hubungan antara Jawa dan Bali jaman dahulu. Dalam abad ke-10 terjadi perkawinan antara pangeran Bali yaitu Udayana dengan seorang putri kerajaan Kahuripan di Jawa Timur (Mahendradata). Perkawinan ini melahirkan Erlangga yang dinobatkan sebagai raja Kahuripan pada tahun 1010 Masehi.

Berawal dari peristiwa ini maka kebudayaan Jawa Hindu mengalir mempengaruhi kebudayaan Bali. Kemudian semakin mantap lagi setelah raja Bali Aga ditaklukkan menjadi wilayah Majapahit dan pada masa jayanya kerajaan Majapahit abad ke-14 dan 15, akhirnya Majapahit jatuh setelah masuknya pengaruh Islam pada awal abad ke-16. Para bangsawan dan pengikutnya yang masih tetap berpegang teguh pada agama Hindu lari dan menetap di Bali.

Kehadiran orang Hindu Jawa di Bali sangat berpengaruh terhadap kehidupan kesenian seperti halnya seni bangunan, seni sastra, seni tari, seni rupa, dan sebagainya. Segala macam bentuk kesenian menjadi lebih mapan karena agama Hindu dalam pelaksanaan upacaranya memerlukan kehadiran seni. Sejak itu terjadilah akulturasi antar budaya yang dibawa orang Hindu Jawa dengan budaya Hindu Bali. Berhubung agama Hindu di Jawa terdapat perpaduan antara Hindu dengan Budha, maka di Bali pun semacam ini terjadi, yakni manunggalnya agama Hindu dan Budha dikenal dengan sebutan Siwabudha, dan sekarang ini dikenal dengan sebutan Hindu Dharma.

Berdasarkan data sejarah, pada abad ke 16, terutama pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong seni budaya Bali mencapai puncak keemasannya. Adanya relief karang Boma (wujud topeng Barong Ket) di Bali dan juga hasil dari penelitian secara filologi terhadap data yang berupa kata-kata Banaspati, Calonarang, atau kemungkinan Barong mulai ada di Bali bersamaan dengan masuknya agama Budha, ataukah barangkali Barong memang asli lahir di Bali, hanya sekadar mengambil anasir-anasir dari luar, seperti bentuk Barong Sae dari Cina yang dipadukan dengan citarasa artistik dan estetika Bali oleh para sangging.

Dalam abad ke-16 masa kerajaan dinasti Gelgel Klungkung Bali, pada pemerintahan Dalem Waturenggong, orang Jawa berbondong-bondong datang ke Bali termasuk para budiman, kesatria, pendeta, dukun, dan para seniman. Kelompok seniman seperti perajin besi (pande), perajin emas dan perak, sangging, penari, dan sebagainya, diperkirakan pada abad itu sudah menciptakan beberapa bentuk topeng seperti topeng Gajahmada, topeng Barong Ket, topeng Rangda, topeng Jauk, Telek dan sebagainya. Diperkirakan pula bahwa topeng Barong Ket merupakan hasil imajinasi perpaduan seniman (sangging) Jawa dan Bali pada jaman pemerintahan Dalem Waturenggong di kerajaan Gelgel Klungkung, Bali. Memang bentuk topeng Barong dan Rangda sejak dahulu hingga sekarang bentuknya sama, ada kecenderungan bahwa bentuknya tidak berubah sejak awal diciptakan.



Baca Juga

Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

FACEBOOK COMMENT