Konsep Kepercayaan Agama Hindu Bali


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00
Donasi
Login

Total: Rp100.000,00


Penting :

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email yang aktif untuk Konfirmasi dan Login.
  • Pembayaran : Transfer Bank (VA Account), QRIS (QR scanner seperti BCA Mobile, OVO, Dana, LinkAja, Gopay, Shopee pay, Sakuku, dll).
  • Aktivasi akun : Tidak diperlukan untuk melakukan konfirmasi pembayaran, karena sistem Gateway  akan melakukan verifikasi otomatis jika pembayaran sudah terverifikasi (sukses) oleh penyedia Payment Gateway di iPaymu. Max. 1×24 jam di Hari / Jam Kerja setelah pembayaran diterima.
  • Email Aktivasi : akan dikirimkan ke email. Periksa inbox atau spambox / junkmail folder anda untuk petunjuk Login.
  • Jika ada masalah login silahkan menghubungi disini.
  • Contoh PDF hasil dari download
    Klik disini

Seperti telah diketahui bahwa masyarakat Bali secara mayoritas memeluk agama Hindu, tidak jelas sejak kapan agama Hindu mulai masuk ke Bali. Beberapa sumber mengatakan bahwa yang datang ke Bali pertama adalah Rsi Markadeya, karena dianggap sebagai penyebar Agama Hindu yang datang pertama kali ke daerah Bali sekitar abad keVIII. Sebelum Agama Hindu diperkenalkan, masyarakat Bali telah memiliki kepercayaan yang pada prinsipnya percaya pada tiga hal yakni (1) adanya kepercayaan alam sekala (nyata) dan alam niskala (tidak nyata), (2) adanya reinkarnasi, dan (3) kehidupan setelah mati, serta adanya roh nenek moyang (leluhur) bersemayam di gunung-gunung. Manusia yang masih hidup bisa memohon perlindungan kepada roh-roh leluhur tersebut, dan dengan kekuatan niskala roh-roh leluhur itu juga bisa memberikan keselamatan kepada keturunannya. Jadi pemujaan roh leluhur seperti yang dilakukan masyarakat Hindu di Bali sekarang ini, sudah ada dan dikenal jauh sebelum kedatangan Hindu.

Dengan kepercayaan yang telah dimiliki masyarakat itu, agama Hindu tidak mengalami hambatan masuk dan berkembang di Bali. Ajaran Hindu, agama tertua yang diwahyukan tersebut, telah tercermin dalam unsur-unsur kepercayaan masyarakat Bali sejak zaman prasejarah. Termasuk pula konsep penciptaan makrokosmos maupun mikrokosmos yang percaya dengan adanya unsur positif (bapak) dan unsur negatif (ibu), yang dalam kepercayaan Hindu di lambangkan dengan lingga dan yoni, langit dan bumi, Dewa dan Dewi. Dalam kepercayaan masyarakat Bali prasejarah, hal itu dilambangkan dengan gunung sebagai laki-laki dan laut sebagai perempuan, (lihat Raka Santri dalam Setia Putu (ed), 1992:100).

Ciri khas perkembangan agama Hindu diterimanya budaya lokal untuk memperkuat tumbuhnya inti ajaran Weda. Hal ini pula yang terjadi di Nusantara khususnya di Bali. Menurut informan mengumpamakan ajaran-ajaran Weda seperti air yang mengalir terus sepanjang abad berliku-liku melalui daerah yang amat luas.

Karena panjangnya masa dan luasnya daerah yang dilewati, wajahnya dapat berubah- ubah, namun isinya tetap sama. Ajaran Hindu disebut pula Sanata Dharma, artinya Dharma (kebenaran) yang abadi. Peredaran zaman tidak menjadikannya tua, karena kebenaran yang diturunkan Hyang Widhi (wahyu) memang tidak akan pernah menjadi tua. Tetapi luluhnya agama Hindu ke dalam konsep-konsep budaya lokal, sering menyebabkan orang salah mengerti, mana agama mana pula budaya atau adat.

Para Rsi dan Empu yang datang ke Bali, baik ketika zaman jayanya kerajaan Singhasari di Jawa maupun ketika Bali dikuasai Majapahit lewat perang besar itu, di bawah komando Patih Mangku Bumi Gajah Mada, ibarat membawa air Weda yang menggenamgi danau seni budaya lokal. Rsi Markandeya memperkenalkan panca datu, yang dipakai dasar setiap bangunan pemujaan di Bali sampai sekarang ini. Di samping itu beliau juga merintis adanya subak bagi masyarakat Bali yang bersifat sosial religius, bukan hanya bermanfaat bagi masyarakat Bali, tetapi juga dikagumi oleh masyarakat dunia. Setelah itu datanglah Empu Kuturan ke Bali, lebih memperkuat ikatan budaya lokal, dengan menyempurnakan sistem desa adat, yang juga bersifat sosial religius.

Kedatangan Empu Kuturan dinilai telah membawa perubahan  besar  dalam  tata  keagamaan.  Dalam  prasasti  dan  juga  dalam lontar Rajapurana, dijelaskan bahwa Empu Kuturanlah yang membuat tata tertib desa, membangun tempat-tempat persembahyangan seperti Kahyangan Tiga, Sad Kahyangan, Catur Loka Pala, dan Kahyangan Rwa Bhineda. Sudah barang tentu lengkap beserta aturan-aturan upacaranya, sebagai mana tertulis dalam lontar Usana Bali.

Demikian para Rsi dan Empu yang datang ke Bali tidak pernah memaksakan kehendak menerapkan mentah-mentah apa-apa yang berlaku di Jawa diterapkan di Bali. Mereka memang berpatokan pada beberapa prinsip di Jawa, namun setelah penerapannya di Bali tetap memadukannya dengan budaya lokal. Demikian pula apa yang telah ada di Bali, ditingkatkannya dengan mengambil unsur-unsur yang baik dari luar. Sebagai contoh dalam hal ini yang paling jelas, adalah bangunan tempat persembahyangan, yaitu berupa Padmasana yang diciptakan oleh Rsi Danghyang Nirartha, merupakan penyesuaian dari candi Ampel dari Jawa Timur. Candi-candi ini juga berubah menjadi Meru di Bali, meskipun pembagian bentuk strukturnya tetap berdasarkan pola triloka.

Demikian pula dalam bidang kesenian, yang pada awalnya berbentuk sederhana dan simbolis dan ini sudah berkembang pada zaman prasejarah. Ketika agama Hindu masuk yang ditandai dengan datangnya para Rsi dan para Empu ke Bali, kesenian menjadi lebih berkembang dan kaya, dinamis dan rumit, dengan nilai- nilai idealisme yang juga lebih tinggi dari pada sebelumnya. Bandingkan misalnya arca Datonda dari zaman Megalitikum dari Trunyan, dengan patung setelah pengaruh Hindu seperti arca Durga Kutri, yang merupakan perwujudan personifikasi dalam bentuk yang indah, Gunapriya Dharmapatni, ibunda raja Airlangga. Hal yang sama juga terjadi pada wewantenan (sajen), juga terjadi pula pada seni tari, seni bangunan, seni olah vokal, dan seni rupa. Tradisi kreatif tinggi yang menyebabkan kemudian masyarakat Bali sulit untuk menerima begitu saja segala pengaruh dari luar. Pengaruh dari luar itu terlebih dahulu diolah sedemikian rupa, sehingga muncul suatu karya yang baru bernilai tinggi, setidak-tidaknya lebih cocok dan sesuai dengan alam pikir, gaya, yang bercirikan nuansa Bali.

Keterbukaan dan kreativitas masyarakat Bali, jelas merupakan sumber kekuatan utama masyarakat dalam menggali, mencari, mengembangkan budaya, sehingga muncul konsep-konsep baru yang secara keseluruhan merupakan gabungan kekuatan yang mampu melestarikan agama Hindu di Bali. Berkat adanya desa-desa adat yang berfungsi memelihara kehidupan agama, maka dalam hal ini adat itulah yang dapat diwariskan kepada generasi penerus, seperti apa yang dapat kita lihat sekarang ini, sebagai suatu nilai budaya yang dikagumi seluruh dunia. Bagi masyarakat Bali kesejahteraan lahir dan batin dapat diraih, apabila masyarakat itu dengan konsekuen melaksanakan konsep-konsep utama agama Hindu yang berorientasi kepada sikap batin, perilaku, sikap pikir dalam pergaulan sehari-hari dalam bermasyarakat. Adapun konsep-konsep utama agama Hindu tersebut seperti :

(1) Sekala dan Niskala, (2) Tri Hita Karana, (3) Desa Kala Patra, (4) Karmaphala, dan (5) Taksu dan Jengah.



Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

BUKU TERKAIT
Baca Juga