usada pamali

Lontar Usada Pamali (Pemali) – Pengobatan Sekala dan Niskala


Lontar Usada Pamali adalah naskah pengobatan tradisional Bali yang sangat krusial dalam memahami hubungan antara kesehatan manusia dengan harmoni lingkungannya. Berbeda dengan penyakit medis murni, Pamali diyakini muncul akibat pelanggaran etika terhadap alam dan ruang. 

Lontar Usada Pamali (Pemali) merupakan salah satu naskah pengobatan tradisional Bali yang sangat spesifik. Berbeda dengan Usada Rare (anak-anak) atau Usada Netra (mata), Usada Pamali berfokus pada penyakit yang disebabkan oleh ketidakseimbangan hubungan antara manusia dengan lingkungannya, baik secara fisik maupun spiritual. 

Dilihat dari sisi modern, pengobatan Pemali ini sebenarnya mengajarkan kita tentang Psikosomatik, bagaimana rasa bersalah karena melanggar aturan adat atau kecemasan terhadap lingkungan dapat bermanifestasi menjadi rasa sakit fisik.

Dalam terminologi Usada Bali, kata Pamali berasal dari akar kata “Pali” yang berarti batas atau aturan. Secara filosofis, penyakit Pamali dianggap sebagai akibat dari pelanggaran batas (sengker) atau pelanggaran etika ruang dan waktu (desa, kala, patra).

Penyakit ini muncul karena manusia melakukan kesalahan dalam penataan ruang (arsitektur), perilaku yang tidak patut di tempat sakral, atau gangguan pada keseimbangan elemen alam (Panca Maha Bhuta). Dalam pandangan Usada, Pamali adalah bentuk “reaksi alam” terhadap gangguan keseimbangan tersebut.

Lontar ini biasanya mengelompokkan Pamali berdasarkan sumber gangguannya. Beberapa jenis yang paling umum ditemukan adalah:

  • Pemali Tanah : Disebabkan oleh kesalahan dalam pengolahan tanah atau membangun rumah di atas tanah yang dianggap “angker” atau memiliki posisi yang salah (misalnya tanah miring ke barat/selatan tanpa upacara pembersihan).
  • Pemali Air : Muncul akibat pencemaran sumber mata air atau menutup aliran air (got/sungai) yang secara spiritual dianggap sebagai jalan energi.
  • Pemali Wangunan (Bangunan) : Disebabkan oleh pelanggaran aturan Asta Kosala Kosali (arsitektur tradisional Bali), seperti salah menempatkan pintu atau dapur.
  • Pemali Sapi/Sato : Berkaitan dengan perlakuan buruk terhadap hewan ternak atau melanggar pantangan yang berkaitan dengan hewan tertentu.

Ciri khas penyakit Pamali adalah sifatnya yang mendadak dan tidak wajar. Gejala yang sering disebutkan antara lain :

  1. Nyeri Menusuk : Pasien merasa seperti ditusuk-tusuk jarum di bagian tubuh tertentu tanpa sebab medis yang jelas.
  2. Pembengkakan (Mokan/Barah) : Muncul bengkak secara tiba-tiba di persendian atau bagian otot.
  3. Rasa Panas-Dingin : Suhu tubuh yang berubah drastis dan tidak stabil.
  4. Gangguan Psikosomatik : Perasaan gelisah yang berlebihan, mimpi buruk, atau rasa takut yang tidak beralasan.

Penyakit Pamali berpijak pada konsep Tri Hita Karana, khususnya hubungan manusia dengan alam (Palemahan).

  • Sekala (Fisik) : Terlihat melalui gejala tubuh seperti bengkak, nyeri, atau demam.
  • Niskala (Spiritual) : Diyakini sebagai “reaksi” dari energi alam (Bhuta Kala) karena manusia melewati batas (sengker) atau mengganggu keseimbangan elemen Panca Maha Bhuta.

Dalam Tabel ini, Pamali dikelompokkan berdasarkan sumber gangguannya:

Jenis Pamali

Sumber Gangguan

Gejala Umum

Pemali Tanah

Kesalahan pada lahan, pembangunan tanpa upacara.

Kaki/tangan berat, kaku, sulit digerakkan.

Pemali Air

Pencemaran sumber air, menutup aliran air alami.

Perut kembung, diare, rasa dingin menusuk tulang.

Pemali Wangunan

Pelanggaran arsitektur Asta Kosala Kosali.

Nyeri berpindah-pindah, gelisah, mimpi buruk.

Pemali Sato

Perlakuan buruk terhadap hewan atau ternak.

Gatal-gatal hebat atau ruam kulit mendadak.

Seorang Pangusada (healer) biasanya melihat tanda-tanda tidak wajar :

  • Rasa sakit yang muncul tepat pada waktu Sandikala (senja).
  • Pembengkakan yang tidak merespons obat luar biasa.
  • Pasien merasa “ditusuk” namun tidak ada luka fisik.

Metode Pengobatan (Terapi)

Pengobatan dalam Usada Pamali bersifat holistik, menggabungkan unsur fisik (sekala) dan spiritual (niskala).

A. Ramuan Obat (Aushadha)

Bahan-bahan yang sering digunakan biasanya bersifat menghangatkan atau menetralkan energi negatif:

  • Tri Katuka: Campuran dari Bawang Merah (Kesuna), Jangu (Acorus calamus), dan Mesui. Ini adalah “resep dasar” hampir di setiap pengobatan Pamali.
  • Bahan Penghangat: Jahe, lempuyang, dan kencur sering digunakan untuk mengobati nyeri otot akibat Pamali.
  • Sarana Sembar: Ramuan dikunyah oleh sang pengusada (Balian) lalu disemburkan ke bagian yang sakit untuk mentransfer energi penyembuhan.

B. Teknik Pengobatan

  • Boreh: Lulur herbal yang dibalurkan ke bagian yang bengkak.
  • Loloh: Jamu herbal yang diminum untuk membersihkan racun dari dalam tubuh.
  • Simbuh/Sembar: Menggunakan kekuatan napas dan mantra melalui media ramuan.

C. Unsur Spiritual (Mantra & Upakara)

Karena penyebabnya adalah pelanggaran “batas”, maka penyembuhan tidak dianggap tuntas tanpa Upakara (Banten).

  • Banten Pengulapan/Pembersihan: Digunakan untuk memohon maaf kepada penjaga alam (Bhuta Kala) atas pelanggaran yang dilakukan.
  • Mantra Penawar: Digunakan untuk menetralisir energi negatif yang menempel pada tubuh pasien.

Lontar Usada Pamali menunjukkan betapa masyarakat Bali sangat menghargai etika lingkungan. Penyakit Pamali berfungsi sebagai “kontrol sosial” agar manusia:

  • Tidak sembarangan merusak alam (tanah dan air).
  • Menghormati aturan tata ruang.
  • Menjaga kesopanan di tempat-tempat umum maupun sakral.

Penggunaan ramuan dalam Lontar Usada sebaiknya didampingi oleh ahli (Pangusada/Balian) karena beberapa bahan memerlukan dosis dan perlakuan khusus agar tidak menimbulkan efek samping.

Resep Obat-Obatan

Berikut adalah rincian resep obat (ramuan) dan tata cara penanganan spesifik untuk beberapa jenis Pamali sebagaimana yang kerap tersurat dalam teks Lontar Usada Pamali.

1. Ramuan Pamali Tanah (Gangguan Unsur Tanah)

Biasanya menyerang otot dan persendian, membuat penderita merasa berat untuk melangkah atau anggota tubuh terasa kaku.

Bahan:

  • Lempuyang Gajah (1 rimpang)
  • Bawang Merah (3 siung)
  • Jangu (Acorus calamus) secukupnya
  • Garam dapur (sedikit)

Cara Pembuatan : Semua bahan diparut atau dihaluskan.

Aplikasi : Digunakan sebagai Boreh (lulur) pada bagian kaki dan tangan yang terasa kaku atau berat.

Fungsi : Menghangatkan sirkulasi darah dan menetralisir energi “berat” dari tanah.

2. Ramuan Pamali Air (Gangguan Unsur Air)

Gejalanya biasanya berupa perut kembung, sering buang air, atau rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang (katisan).

Bahan:

  • Jahe Pahit (diiris tipis)
  • Cengkeh (7 butir)
  • Mesui (kayu manis hutan) secukupnya
  • Air jeruk nipis

Cara Pembuatan : Bahan direbus dengan dua gelas air hingga tersisa satu gelas.

Aplikasi : Diminum sebagai Loloh (jamu) selagi hangat.

Fungsi : Mengembalikan api dalam tubuh (Agni) untuk melawan energi dingin yang berlebihan.

3. Ramuan Pamali Wangunan / Sengker (Kesalahan Tata Ruang)

Gejalanya unik, yakni rasa sakit yang berpindah-pindah (seperti ditusuk jarum) dan sering muncul pada waktu-waktu tertentu (misal: tepat saat sandikala atau jam 12 malam).

Bahan (Simbuh) :

  • Kunyit (warangan)
  • Isen (lengkuas)
  • Sindrong Wayah (campuran rempah lengkap Bali)

Cara Pembuatan : Bahan dikunyah oleh sang pengusada/balian bersama dengan sedikit sirih.

Aplikasi : Disemburkan (Simbuh) ke arah punggung dan ulu hati pasien.

Fungsi : Memecah “sumbatan” energi yang masuk ke tubuh akibat pelanggaran batas-batas ruang (sengker).

4. Ramuan “Tri Katuka” (Penawar Umum Pamali)

Dalam hampir setiap jenis pengobatan Pamali, komposisi Tri Katuka adalah dasarnya. Jika Anda membaca naskah aslinya, Anda akan sering menemukan kalimat: “Iki pangaradan Pamali, saranya Tri Katuka…”

Komponen Tri Katuka :

  1. Bawang Merah (Kesuna) : Simbol energi pelindung.
  2. Jangu (Acorus Calamus) : Sangat ditakuti oleh mahluk halus/energi negatif.
  3. Mesui : Sebagai penyelaras rasa dan aroma.

5. Mantram Umum Usada Pamali

Dalam penggunaannya, ramuan di atas tidak dianggap “hidup” tanpa mantram. Salah satu mantram pendek yang sering digunakan dalam proses pengobatan Pamali adalah:

Om Sang Hyang Tiga Jnana, Sang Hyang Purusa Sunya, Bhatara Brahma ring dada, Bhatara Wisnu ring ampru, Bhatara Iswara ring hati, amunah sakwehing gering pamali, tawar, tawar, tawar.

Artinya: Memohon kepada manifestasi Tuhan (Tri Murti) di dalam organ tubuh manusia untuk menetralkan (menawarkan) segala jenis penyakit Pamali.

6. Tindakan Lanjutan (Niskala)

Lontar Usada Pamali selalu menekankan bahwa obat hanya menyembuhkan fisik. Untuk mencegah penyakit datang kembali, dilakukan ritual Panyapuh atau Pangulapan :

  1. Jika penyebabnya Pemali Tanah, maka dilakukan upacara kecil (seperti Banten Pangulapan) di area tanah yang dianggap bermasalah.
  2. Jika penyebabnya Pemali Wangunan, maka dipasang sanggah cucuk atau dilakukan pemelaspasan ulang pada bagian bangunan yang salah.



Baca Juga