- 1Filosofi Waktu dan Siklus Ritual (Wariga)
- 2Tingkatan Yadnya : Nista, Madya, Utama
- 3Piodalan di Perumahan Modern - Padmasari & Tugun Karang
- 4Padmasari - Sanghyang Wenang
- 5Tugun Karang - Sanghyang Titah / Tuduh
- 6Hirarki Odalan - Nista, Madya, Utama
- 7A. Tingkatan Nista (Odalan Alit)
- 8B. Tingkatan Madya (Odalan Menengah)
- 9C. Tingkatan Utama (Odalan Ageng)
- 10Dudonan Upacara dan Bebantenan Odalan Rutin
- 11Klasifikasi Tingkatan Odalan Rutin
- 12A. Ayaban Untuk di Pelinggih
- 13B. Caru (Bawah / Penetralisir)
- 14Teknis & Dudonan (Runtutan Acara)
- 15A. Odalan Alit / Ngubeng (Tanpa Ke Beji)
- 16B. Odalan Madya / Nedunang (Dengan Ke Beji)
- 17Bebantenan : Korelasi Simbol dan Fungsi
- 18Konstruksi Dasar : Tumpeng 5 vs. Tumpeng 7
- 19Kompleksitas Pulagembal dan Bebangkit
- 20Daksina : Inti dari Segala Banten
- 21Bhuta Yadnya : Penetralan Sebelum Penyucian
- 22Seleksi Caru Berdasarkan Tingkatan Odalan
- 23Peran Kunci Fungsionaris Ritual Odalan
- 24Runtutan Pelaksanaan Upacara (Dudonan Acara) Piodalan Alit
- 25Bebantenan : Pejati sebagai Poros Utama
- 26Piodalan di Sanggah / Merajan - Penghormatan Genealogis dan Leluhur
- 27Runtutan Pelaksanaan Upacara (Dudonan) Merajan
- 28Persiapan dan Peralatan Upakara
- 29Tetandingan Banten untuk di Merajan
- 30Penutup
Piodalan di Perumahan Modern – Padmasari & Tugun Karang
Transformasi demografi dan pola hunian di Bali telah melahirkan tipologi ruang spiritual baru. Di kompleks perumahan modern (BTN) atau lahan terbatas, struktur Sanggah / Merajan yang kompleks seringkali disederhanakan tanpa mengurangi esensi teologisnya. Dua elemen kunci dalam seting ini adalah Padmasari dan Tugun Karang.
Padmasari – Sanghyang Wenang
Adalah bentuk pelinggih (bangunan suci) tunggal yang berfungsi sebagai stana Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Berbeda dengan Padmasana yang biasanya memiliki ornamen Bedawang Nala (kura-kura raksasa) dan naga sebagai dasar, Padmasari memiliki bentuk yang lebih ramping dan sederhana namun tetap mengikuti pakem Asta Kosala Kosali.
Pemujaan Sanghyang Wenang pada Padmasari (atau Padmasana) merupakan manifestasi pemujaan kepada Sanghyang Tunggal (Hyang Widhi) atau leluhur sebagai manifestasi Hyang Widhi, di mana Sanghyang Wenang adalah Batara Guru, yang kemudian manunggal (bersatu) dengan Sanghyang Tunggal. Padmasari adalah pelinggih utama yang berfungsi sebagai stana bagi Sanghyang Tunggal, mewakili Tuhan sebagai Siwa, menjadi pusat pemujaan di merajan (pura keluarga), seringkali dengan arsitektur berlapis yang melambangkan tingkatan kosmos atau manifestasi-Nya.
Di lingkungan perumahan, Padmasari menjadi pusat orientasi spiritual penghuni, tempat menghaturkan bhakti harian dan pelaksanaan Piodalan setiap 210 hari. Fungsinya mencakup pemujaan umum kepada Siwa Raditya (Surya) yang menerangi kehidupan, pemujaan Bhatara Guru, kawitan / Leluhur maupun tempat pemujaan pada para Sesuhunan.
Tugun Karang – Sanghyang Titah / Tuduh
Atau Penunggun Karang / Sedahan Karang, memiliki peran yang berbeda namun komplementer. Ia adalah manifestasi kekuatan Tuhan sebagai penjaga wilayah (kshetrapala). Pemujaan “Sanghyang Titah/Tuduh” pada Penunggun Karang di Bali adalah bagian penting di mana Penunggun Karang berfungsi sebagai penjaga niskala-sekala rumah, dan pemujaan (piodalan) dilakukan rutin (biasanya tiap 6 bulan) sebagai persembahan dan permohonan perlindungan agar rumah tangga harmonis, tentram, dan rahayu (selamat) secara rohani dan jasmani. Titah / Tuduh merujuk pada perintah atau petunjuk dari yang mendiami pelinggih tersebut.
Dalam kosmologi Bali, setiap jengkal tanah memiliki “penguasa” niskala. Tugun Karang bertugas menjaga aura pekarangan, melindungi penghuni dari gangguan metafisik (desti, teluh, teran), dan menyeleksi energi yang masuk ke dalam rumah untuk menjaga keseimbangan dan memberikan ketentraman,. Nama “Penunggun Karang” sendiri berasal dari kata “tugu” (berpengetahuan) dan “karang” (pekarangan atau tubuh). Secara filosofis, tugu ini melambangkan kesadaran akan tubuh dan lingkungan, yang menjadi kunci kesejahteraan baik secara nyata maupun gaib.
Posisi Tugun Karang biasanya berada di sudut barat laut (kaja-kauh) atau dekat pintu masuk pekarangan.
Hirarki Odalan – Nista, Madya, Utama
Sebelum memasuki teknis pelaksanaan, sangat krusial untuk memetakan hirarki upacara. Klasifikasi ini didasarkan pada konsep Desa (tempat), Kala (waktu), dan Patra (keadaan), yang menentukan kompleksitas dudonan dan volume bebantenan.
Kesalahan umum yang terjadi di masyarakat adalah ketidaksesuaian antara tingkatan upacara dengan jenis banten yang digunakan, misalnya menggunakan prosedur Nista namun memaksakan banten Utama yang justru membingungkan secara liturgi.
A. Tingkatan Nista (Odalan Alit)
Tingkatan ini adalah bentuk yang paling sederhana, biasanya diterapkan pada Sanggah atau Merajan (tempat suci keluarga) pada siklus rutin 6 bulanan (210 hari).
- Karakteristik Operasional : Durasi pelaksanaan sangat singkat, sering kali hanya berlangsung satu hari (pagi hingga selesai).
- Metode Penyucian : Cenderung menggunakan metode Ngubeng (tanpa prosesi ke laut/sumber air), di mana penyucian dilakukan secara simbolis di tempat (Niyasa).
- Implikasi Bebantenan : Fokus pada esensi persembahan inti tanpa ornamen tambahan yang berlebihan. Banten yang digunakan bersifat pokok seperti Pejati, Tumpeng 5, dan Segehan.
B. Tingkatan Madya (Odalan Menengah)
Tingkatan ini lazim dilaksanakan di Pura Dadia (klan besar), Pura Puseh, atau Pura Desa.
- Karakteristik Operasional : Melibatkan durasi Nyejer (Ida Bhatara berstana) selama beberapa hari. Ini memberikan ruang bagi pamedek (umat) dari wilayah yang lebih luas untuk melakukan persembahyangan.
- Metode Penyucian : Mewajibkan prosesi Nedunang Ida Bhatara dan sering kali melibatkan Kebeji, Melasti atau Mekiyis ke sumber air suci untuk membersihkan Pratima (arca suci).
- Implikasi Bebantenan : Terjadi lonjakan kompleksitas dengan penggunaan Pulagembal dan pergeseran dari Tumpeng 5 ke Tumpeng 7 atau 9, serta penggunaan Caru yang lebih spesifik seperti Panca Sata.
C. Tingkatan Utama (Odalan Ageng)
Dilaksanakan pada Kahyangan Jagat atau saat momentum besar seperti Piodalan Jelih (odalan yang tepat di hari Purnama), Ngenteg Linggih (pengukuhan kembali kedudukan dewa).
- Karakteristik Operasional : Durasi Nyejer bisa mencapai 3, 7, 11, hingga 42 hari.
- Metode Penyucian : Melibatkan Tawur Agung (korban suci masif) untuk keseimbangan alam semesta, bukan hanya lingkungan pura.
- Implikasi Bebantenan : Penggunaan Bebangkit, Catur, dan sarana upakara yang melibatkan estetika tinggi serta volume materi yang besar.
Tabel : Matriks Perbandingan Karakteristik Hirarki Odalan
| Komponen Analisis | Tingkatan Nista (Alit) | Tingkatan Madya | Tingkatan Utama (Ageng) |
| Lokasi Dominan | Merajan Keluarga, Sanggah Kemulan | Pura Dadia, Kahyangan Tiga | Pura Kahyangan Jagat |
| Durasi Ritual | 1 Hari (Selesai dalam hitungan jam) | 1-3 Hari | 3-7 Hari atau bahkan lebih. |
| Jenis Caru (Bhuta Yadnya) | Segehan Agung / Ayam Brumbun (Satu) | Panca Sata (5 Ayam) / Rsi Gana | Tawur Balik Sumpah / Panca Kelud |
| Struktur Ayaban | Tumpeng 5 (Panca Dewata) | Tumpeng 7 (Sapta Rsi) + Pulagembal | Bebangkit + Catur + Sorohan Ageng |
| Penyucian Pratima | Ngubeng (Di tempat) | Melasti / Ngabejiang (Ke sumber air) | Melasti Agung (Prosesi masif) |
















