- 1Filosofi Waktu dan Siklus Ritual (Wariga)
- 2Tingkatan Yadnya : Nista, Madya, Utama
- 3Piodalan di Perumahan Modern - Padmasari & Tugun Karang
- 4Padmasari - Sanghyang Wenang
- 5Tugun Karang - Sanghyang Titah / Tuduh
- 6Hirarki Odalan - Nista, Madya, Utama
- 7A. Tingkatan Nista (Odalan Alit)
- 8B. Tingkatan Madya (Odalan Menengah)
- 9C. Tingkatan Utama (Odalan Ageng)
- 10Dudonan Upacara dan Bebantenan Odalan Rutin
- 11Klasifikasi Tingkatan Odalan Rutin
- 12A. Ayaban Untuk di Pelinggih
- 13B. Caru (Bawah / Penetralisir)
- 14Teknis & Dudonan (Runtutan Acara)
- 15A. Odalan Alit / Ngubeng (Tanpa Ke Beji)
- 16B. Odalan Madya / Nedunang (Dengan Ke Beji)
- 17Bebantenan : Korelasi Simbol dan Fungsi
- 18Konstruksi Dasar : Tumpeng 5 vs. Tumpeng 7
- 19Kompleksitas Pulagembal dan Bebangkit
- 20Daksina : Inti dari Segala Banten
- 21Bhuta Yadnya : Penetralan Sebelum Penyucian
- 22Seleksi Caru Berdasarkan Tingkatan Odalan
- 23Peran Kunci Fungsionaris Ritual Odalan
- 24Runtutan Pelaksanaan Upacara (Dudonan Acara) Piodalan Alit
- 25Bebantenan : Pejati sebagai Poros Utama
- 26Piodalan di Sanggah / Merajan - Penghormatan Genealogis dan Leluhur
- 27Runtutan Pelaksanaan Upacara (Dudonan) Merajan
- 28Persiapan dan Peralatan Upakara
- 29Tetandingan Banten untuk di Merajan
- 30Penutup
Peran Kunci Fungsionaris Ritual Odalan
Keberhasilan integrasi Bebantenan dan Dudonan bergantung pada pelaksana teknis.
Pemangku (Pinandita) :
- Bertanggung jawab atas Puja Pengastawa.
- Pemangku harus memastikan urutan : Mecaru -> Penyucian -> Ayaban. Kesalahan urutan (misal : Ayaban dulu baru Mecaru) adalah pelanggaran Tattwa.
- Mantra yang digunakan meliputi : Puja Sesontengan (bahasa lokal halus) untuk Nista, dan Puja Weda (bahasa Kawi/Sanskerta) jika dipimpin Sulinggih.
Serati (Tukang Banten) :
- Bertanggung jawab atas akurasi anatomi banten. Serati harus memastikan bahwa Pulagembal lengkap elemennya.
- Serati harus berkoordinasi dengan Pemangku mengenai kapan banten tertentu harus dinaikkan (munggah).
Penelitian lapangan menunjukkan adanya fenomena adaptasi yang perlu dicatat dalam panduan ini.
- Fleksibilitas “Gugon Tuwon” : Di beberapa desa (seperti Batubulan atau desa tua lainnya), terdapat tradisi Gugon Tuwon (kepercayaan turun-temurun) yang mungkin sedikit berbeda dengan pakem standar literatur. Misalnya, penggunaan jenis jajan tertentu atau larangan menggunakan sarana tertentu. Panduan ini menyarankan agar Dresta (aturan lokal) tetap dihormati di atas panduan umum.
- Efisiensi Ekonomi vs. Kualitas Ritual : Terdapat tren penyederhanaan upacara menjadi Nista (Odalan Alit) namun dengan kualitas bhatin yang ditingkatkan. Riset menunjukkan bahwa penggunaan Segehan Agung sebagai pengganti Caru ayam pada Odalan rutin semakin diterima secara teologis asalkan mantra dan niat (Sankalpa) kuat.
Berdasarkan analisis komprehensif yang memadukan kritik pengguna, data penelitian, dan literatur teologis, laporan ini menyimpulkan bahwa panduan Odalan yang valid harus bersifat integratif.
Rekomendasi Teknis Pelaksanaan (Checklist Terpadu) :
- Identifikasi Tingkatan : Tentukan apakah Odalan kali ini jatuh pada siklus 6 bulan (biasanya Nista/Alit) atau 1 tahun (biasanya Madya).
- Sinkronisasi Banten & Dudonan :
- Jika Nista : Siapkan Tumpeng 5 dan Segehan Agung. Laksanakan dengan metode Ngubeng.
- Jika Madya : Siapkan Tumpeng 7, Pulagembal, dan Caru Ayam Brumbun/Panca Sata. Laksanakan Melasti dan Nedunang.
- Manajemen Waktu : Pastikan Mecaru selesai minimal 1 jam sebelum persembahyangan utama dimulai untuk memberi jeda transisi energi dari Bhuta ke Dewa.
- Koordinasi : Pertemukan Pemangku dan Serati H-3 untuk mencocokkan daftar banten dengan urutan acara yang direncanakan.
Dengan memadukan Panduan Teknis Odalan Rutin dengan Bebantenan sebagai satu kesatuan, kerancuan pelaksanaan dapat diminimalisir, dan tujuan utama Odalan—yaitu keseimbangan kosmis dan kesejahteraan umat—dapat tercapai secara optimal.
Runtutan Pelaksanaan Upacara (Dudonan Acara) Piodalan Alit
Meskipun berskala Alit (kecil) dan bersifat domestik, Piodalan di perumahan tetap mengikuti struktur liturgi yang baku. Berikut adalah narasi detail runtutan acaranya :
- Tahap Persiapan (Pembersihan dan Nanceb) : Sehari sebelum hari H (Penampahan), penghuni rumah melakukan pembersihan fisik (mareresik) di area pelinggih. Pelinggih Padmasari dan Tugun Karang dihias dengan wastra (kain). Padmasari biasanya menggunakan wastra putih atau kuning (simbol kesucian dan kebijaksanaan), sedangkan Tugun Karang menggunakan kain Poleng (kotak-kotak hitam putih) atau kombinasi putih-hitam, menyimbolkan keseimbangan Rwa Bhineda (dua sifat alam) yang dijaganya. Pemasangan tedung (payung) kecil dan umbul-umbul juga dilakukan jika memungkinkan.
- Tahap Munggah Banten (Menata Persembahan) : Pada pagi hari piodalan, banten-banten dinaikkan. Tata letaknya harus presisi : banten utama diletakkan di rong (ruang) pelinggih, sementara banten sor (bawah) diletakkan di kaki pelinggih. Penghuni memastikan dupa dan pasepan (bara api) telah siap.
- Tahap Penyucian (Ngulapin/Ngambe) : Upacara biasanya dipimpin oleh seorang Pemangku lokal atau kepala keluarga yang paham tata cara (Sang Yajamana). Dimulai dengan memercikkan Tirta Pabersihan ke seluruh banten dan bangunan pelinggih untuk menyucikan sarana dari kekotoran tak terlihat.
- Tahap Nganteb (Persembahan Utama) : Pemangku melantunkan mantra Pengastawa untuk memohon kehadiran Ida Bhatara.
- Mantra Padmasari : Ditujukan kepada Siwa Raditya, memohon sinar suci dan tuntunan hidup.
- Mantra Tugun Karang : Ditujukan kepada Sedahan Karang, memohon perlindungan dan keamanan rumah. Prosesi ini diiringi dengan ayaban (gerakan tangan mengarahkan esensi sari banten ke pelinggih) sebanyak tiga kali.
- Persembahyangan (Muspa) : Seluruh anggota keluarga melakukan persembahyangan bersama (Panca Sembah). Ini adalah inti dari piodalan, momen kontemplasi dan penyerahan diri (Bhakti Marga). Doa khusus dipanjatkan agar keluarga diberi kerahayuan dan pekerjaan lancar.
- Nunas Tirta dan Bija : Setelah sembahyang, umat memohon Tirta (air suci) yang dipercikkan di kepala, diminum, dan dibasuhkan ke wajah, serta Bija (beras) yang ditempelkan di dahi. Ini simbol anugerah amerta (kehidupan) dari Tuhan.
- Nyineb (Penutupan) : Pada sore hari, dilakukan upacara Nyineb atau Ngeluhur. Banten diturunkan (lungsur), menandakan bahwa para Dewa telah kembali ke alam sunya. Sari-sari makanan dari banten kemudian dinikmati bersama oleh keluarga (Nunas Surudan) sebagai berkah.
Bebantenan : Pejati sebagai Poros Utama
Untuk Piodalan Alit di perumahan, jenis banten yang digunakan mengacu pada prinsip efisiensi namun sarat makna. Banten Pejati adalah “raja” dari banten tingkat ini.
Komponen Detail Banten Pejati 9 :
Pejati bermakna “sungguh-sungguh” (jati). Terdiri dari empat pilar utama :
- Daksina : Ini adalah simbol alam semesta (Bhuana Agung) dan stana Hyang Widhi. Komponennya meliputi :
- Kelapa dikupas serabutnya : Simbol Brahma atau benih kehidupan.12
- Telur Itik : Simbol Sattwam (kebijaksanaan) dan kesucian karena itik hidup di lumpur tapi tidak kotor.12
- Beras : Simbol kemakmuran (Wisnu).
- Benang Tukelan : Simbol napas kehidupan (Prana).
- Pis Bolong (Uang Kepeng) : Simbol roda kehidupan (Cakra) dan nilai ekonomi.
- Banten Peras : Menggunakan Kulit Peras dan benang, melambangkan keberhasilan dan doa agar segala usaha sukses (Prasidha). Ditujukan kepada Hyang Iswara.
- Ketupat Kelanan : Terdiri dari enam (kelan) ketupat, melambangkan pengendalian enam musuh dalam diri (Sad Ripu). Ditujukan kepada Hyang Wisnu untuk keseimbangan.
- Ajuman (Sodaan) : Berupa nasi dan lauk pauk, simbol kegembiraan dan kenikmatan duniawi yang dipersembahkan kembali kepada Tuhan (Hyang Mahadewa).
Tetandingan Khusus :
- Di Padmasari : Dihaturkan 1 paket Pejati lengkap, ditambah Canang Sari dan Kwangen (simbol Ongkara).
- Di Tugun Karang :
- 1 paket Pejati (bisa diganti dengan Tipat Gong atau Tipat Dampulan untuk versi lebih sederhana).
- Segehan : Wajib ada di bagian bawah (sor). Biasanya Segehan Panca Warna (5 warna : Putih, Merah, Kuning, Hitam, Brumbun) atau minimal Segehan Putih Kuning. Segehan ini disertai tetabuhan Tuak dan Arak untuk menetralisir energi Bhuta Kala agar tidak mengganggu fungsi penjagaan Tugun Karang.
















