Piodalan Alit di Perumahan

Tingkatan Pelaksanaan dan Upakara Banten Piodalan


Piodalan di Sanggah / Merajan – Penghormatan Genealogis dan Leluhur

Meningkat ke struktur sosial yang lebih luas, Sanggah atau Merajan adalah tempat suci bagi klan atau garis keturunan (Dadia). Di sini, Piodalan berfungsi memperkuat ikatan kekerabatan (menyama braya) dan penghormatan kepada roh leluhur (Hyang Pitara) yang telah menyatu dengan Tuhan (Hyang Widhi).

Merajan memiliki kompleksitas arsitektur yang mencerminkan hierarki spiritual keluarga.

  • Pelinggih Kemulan (Rong Tiga) : Struktur beruang tiga yang menjadi pusat Merajan.
    • Rong Kanan (Selatan) : Stana Hyang Brahma (Pencipta/Leluhur Laki-laki).
    • Rong Kiri (Utara) : Stana Hyang Wisnu (Pemelihara/Leluhur Perempuan).
    • Rong Tengah (Timur) : Stana Hyang Siwa (Pelebur/Penyatuan Roh Leluhur).
  • Taksu : Pelinggih untuk memohon kharisma dan kekuatan magis profesi.
  • Pengaruman/Piyasan : Balai tempat meletakkan banten-banten besar.

Runtutan Pelaksanaan Upacara (Dudonan) Merajan

Piodalan Alit di Merajan melibatkan partisipasi keluarga besar (Semeton Dadia), sehingga manajemen waktu dan logistik menjadi krusial.

  1. Matur Piuning dan Nanceb : 3-5 hari sebelum puncak acara, perwakilan keluarga melakukan matur piuning (pemberitahuan) di Merajan. Dilanjutkan dengan Nanceb (memasang atribut). Penjor dipasang di depan pintu masuk merajan sebagai simbol Gunung Agung dan naga (kemakmuran).
  2. Upacara Mecaru (Penyucian Bhuta Kala) : Sebelum banten utama dinaikkan, wajib dilakukan upacara Mecaru di halaman (natah) Merajan. Tingkatan yang umum untuk Odalan Alit adalah Caru Eka Sata (Satu Ayam) atau Caru Panca Sata (Lima Ayam) jika kotoran niskala dirasa berat.
    • Fungsi : “Menyogok” atau memberi makan kekuatan negatif agar berubah sifat menjadi positif (Somya) dan membantu jalannya upacara.
  3. Nuwer/Mendak Ida Bhatara : Prosesi memohon kehadiran roh suci leluhur untuk “turun” dan menempati Daksina Linggih (simbol fisik berupa susunan janur, kelapa, dan bunga) yang telah disiapkan di Pelinggih Pengaruman.
  4. Puncak Upacara (Nganteb) : Dipimpin oleh Pemangku Merajan atau Pinandita.
    • Ngastawa Surya : Memuja Dewa Matahari sebagai saksi upacara (Surya Upasaksi).
    • Ngayab ke Luhur : Mempersembahkan banten suci kepada leluhur di Kemulan.
    • Persembahyangan Bersama : Seluruh Semeton Dadia bersembahyang bergiliran. Momen ini sering dimanfaatkan untuk Dharma Tula (diskusi agama) atau rapat keluarga.16
  5. Nyejer dan Nyineb : Jika upacara mengambil tingkat Madya, Ida Bhatara mungkin Nyejer (berdiam) selama 1-3 hari. Namun untuk Odalan Alit, seringkali langsung Nyineb pada sore harinya. Prosesi Nyineb diiringi kidung-kidung suci (Wargasari) yang menciptakan suasana hening dan sakral.

Persiapan dan Peralatan Upakara

Persiapan di Merajan menuntut gotong royong (ngayah).

  • Bahan Material : Janur (daun kelapa muda) dalam jumlah banyak untuk Sampian dan Penjor. Buah-buahan lokal (pisang, jeruk, salak) dan impor diatur dalam Gebogan (susunan buah menara) yang estetis.
  • Peralatan : Bokor (tempat banten dari perak/alpaka), Sangkus (tempat tirta), dan Genta (lonceng pemangku) adalah peralatan wajib bagi pemimpin upacara.

Tetandingan Banten untuk di Merajan

Banten di Merajan lebih variatif dibandingkan perumahan karena adanya aspek Caru dan Suci.

  • Banten Suci : Banten ini adalah simbol kesucian tertinggi.
    • Komponen : Terdiri dari tepung tawar, minyak wangi, Payuk berisi air anyar, Lis (alat pemercik dari janur), dan Padma dari janur. Banten Suci berfungsi menyucikan mikrokosmos (banten lain) dan makrokosmos (area merajan).
  • Caru Eka Sata (Ayam Brumbun) : Tetandingan ini sangat spesifik.
    • Pusat : Menggunakan satu ekor Ayam Brumbun (bulu campur lima warna). Ayam ini disembelih, darahnya ditabur di tanah, dagingnya diolah menjadi urutan (sosis), sate, dan kawar.
    • Tata Letak : Dihaturkan di tengah halaman (natah) menghadap ke segala arah. Disertai Tetabuhan (arak berem) yang dituangkan ke tanah (Pertiwi).
  • Banten Kemulan :
    • Rong Tengah : Dihaturkan Pejati, Suci, dan Daksina Gede.
    • Rong Kanan/Kiri : Dihaturkan Ayaban Tumpeng Pitu (7 tumpeng nasi kecil) atau Tumpeng Lima. Angka tumpeng melambangkan tingkatan alam atau chakra.
  • Banten Taksu : Biasanya menggunakan Pejati dan Peras khusus untuk memohon kekuatan spiritual.

 

Penutup

Upacara Piodalan di Bali bukan sekadar ritual statis, melainkan sistem dinamis yang adaptif terhadap ruang (Perumahan vs Desa) dan struktur sosial (Keluarga vs Komunitas).

 

Tabel berikut merangkum perbandingan elemen kunci di ketiga tingkatan :

Komponen Analisis Odalan Alit (Perumahan) Odalan Alit (Merajan) Odalan Kahyangan Tiga
Fokus Teologis Personal & Proteksi Rumah (Padmasari/Tugun Karang) Genealogis & Leluhur (Kemulan/Kawitan) Komunal & Kosmologis (Tri Murti)
Pemimpin Upacara Pemangku / Juru Sapuh / Anggota Keluarga Pemangku Merajan / Pinandita Sulinggih (Pedanda/Pandita)
Banten Utama Pejati, Tipat Gong, Sodaan Suci, Peras, Ayaban Tumpeng 7 Bebangkit, Pulagembal, Catur Rebah
Jenis Caru Segehan Panca Warna / Putih Kuning Eka Sata (Ayam Brumbun) Panca Sata / Panca Kelud / Resi Gana
Durasi Ritual 1/2 Hari (Pagi-Sore) 1-3 Hari (bisa Nyejer singkat) 3-11 Hari (Nyejer + Penganyar)
Partisipasi Sosial Keluarga Inti (Batih) Keluarga Besar (Dadia) Seluruh Warga Desa (Banjar)

 

Secara keseluruhan, Piodalan adalah manifestasi nyata dari teologi Hindu Bali yang membumi. Dari Canang Sari sederhana di Padmasari hingga Bebangkit megah di Pura Desa, benang merahnya adalah konsistensi simbolisme : penggunaan unsur alam (Mataya, Maharya, Mantiga) untuk memuja Pencipta, menghormati leluhur, dan mengharmoniskan alam.

Bagi masyarakat Bali, Piodalan adalah pengingat abadi bahwa manusia adalah bagian kecil dari jaring kehidupan semesta yang agung, yang harus terus dijaga keseimbangannya melalui Yadnya yang tulus ikhlas.

 



HALAMAN TERKAIT
Baca Juga