Piodalan Alit di Perumahan

Tingkatan Pelaksanaan dan Upakara Banten Piodalan


Dudonan Upacara dan Bebantenan Odalan Rutin

Artikel ini disusun sebagai petunjuk pelaksanaan Odalan Rutin (6 bulanan atau 1 tahunan) di lingkungan Merajan/Sanggah (Perumahan) hingga Pura Dadia/Desa. Fokus utama adalah sinkronisasi antara Waktu (Dudonan) dan Logistik (Paket Banten) agar sesuai dengan tingkatan upacara (Nista/Alit atau Madya).

Klasifikasi Tingkatan Odalan Rutin

Penting untuk membedakan Odalan Rutin dengan Karya Agung (seperti Ngenteg Linggih). Odalan rutin adalah kewajiban siklus waktu, sedangkan Karya adalah upacara insidental.

Kategori Siklus Waktu Skala Umum Ciri Khas Teknis
Odalan Alit (Nista) Rutin 6 Bulan (210 Hari) Merajan / Sanggah Rumah Umumnya Ngubeng (Tanpa ke Beji/Melasti ke laut), durasi 1 hari (pagi-sore).
Odalan Madya Rutin 1 Tahun (Purnama/Sasih) Merajan Gede / Pura Dadia Melibatkan Nedunang Ida Bhatara & Ke Beji (Mendak Tirta), durasi Nyejer (1-3 hari).

 

Berikut adalah rincian bebantenan yang umum digunakan. Anda tidak perlu menghafal setiap jajanan, cukup pastikan komponen paket ini ada.

A. Ayaban Untuk di Pelinggih

Perbedaan utama terletak pada jumlah tumpeng nasi dalam wakul (bakul).

1. Paket Ayaban Tumpeng 5 (Panca Warna/Panca Dewata)

Penggunaan : Standar untuk Odalan Alit/Nista di Sanggah/Merajan biasa.

Isi Paket :

  • Peras : 2 Tumpeng (Simbol sah/resmi).
  • Pengambean : 2 Tumpeng (Simbol memohon kehadiran).
  • Dapetan : 1 Tumpeng (Simbol buah tangan/oleh-oleh).
  • Kelengkapan : Gebogan Alit, Sesayut, Rayunan, Teterag.

Filosofi : Menstanakan Dewa penguasa 5 arah mata angin.

2. Paket Ayaban Tumpeng 7 (Sapta Rsi / Sapta Petala)

Penggunaan : Standar untuk Odalan Madya atau Pura Dadia.

Isi Paket :

  • Semua isi Paket Tumpeng 5 (Peras, Pengambean, Dapetan, dll).
  • TAMBAHAN WAJIB : Banten Guru (1 Tumpeng) dan Banten Pengiring (1 Tumpeng).
  • Pelengkap Utama : Biasanya didampingi oleh Pulagembal (sebagai simbol alam semesta/isinya) dan Sorohan yang lebih besar.

 

B. Caru (Bawah / Penetralisir)

Digunakan untuk menetralkan Bhuta Kala sebelum Dewa turun.

1. Segehan Agung (Pengganti Caru)
  • Level : Nista (Sangat Sederhana).
  • Komponen : 11 atau 33 tanding nasi kepel, iwak bawang jahe, dan tetabuhan (arak/berem).
  • Konteks : Digunakan jika Odalan hanya satu hari (Ngubeng) di perumahan modern. Sering dianggap cukup untuk “mengganti” Caru Ayam Brumbun jika dipuput Pemangku biasa.
2. Caru Eka Sata (Ayam Brumbun)
  • Level : Madya (Standar Merajan).
  • Komponen : 1 Ekor Ayam Brumbun (bulu campur). Diolah menjadi urab 5 warna (Putih, Merah, Kuning, Hitam, Brumbun) dan sate.
  • Konteks : Wajib untuk Odalan yang menggunakan Ayaban Tumpeng 7 atau yang Nedunang Ida Bhatara.
3. Caru Panca Sata (Lima Ayam)
  • Level : Madya Utama (Pura Desa/Kahyangan).
  • Komponen : 5 Ekor Ayam (Putih, Merah, Kuning, Hitam, Brumbun).
  • Konteks : Biasanya setahun sekali atau saat Pujawali.

 

Teknis & Dudonan (Runtutan Acara)

Berikut adalah runtutan teknis di lapangan. Kesalahan urutan sering terjadi pada tahap Mecaru dan Munggah.

A. Odalan Alit  / Ngubeng (Tanpa Ke Beji)

Cocok untuk : Merajan Perumahan, Odalan 6 Bulanan (Tumpeng 5).

 

Pagi (07.00 – 09.00) : Persiapan & Mecaru Alit

  • Pemangku melakukan pembersihan pelinggih (Ngelukat Pelinggih secara simbolis).
  • Mecaru/Masegeh : Menghaturkan Segehan Agung di Nataran (halaman bawah).
  • Teknis : Dihaturkan sebelum banten ayaban di pelinggih munggah katuran. Tujuannya membersihkan area dari gangguan Bhuta.
  • Tetabuhan : Arak Berem dipercikkan ke sor / bawah.

Siang (10.00 – 12.00) : Munggah Banten

  • Menaikkan paket Ayaban Tumpeng 5 ke rong/pelinggih.
  • Menghaturkan Guru Piduka (sebagai permohonan maaf karena upacara dilakukan sederhana/Ngubeng).
  • Nganteb/Puja Pengantar oleh Pemangku.

Sore (13.00 – Selesai) : Persembahyangan & Nyineb

  • Sembahyang Bersama (Panca Sembah).
  • Nunas Tirta & Bija.
  • Nyineb : Karena Ngubeng, Ida Bhatara tidak Nyejer (bermalam). Banten segera diturunkan (Nglungsur) setelah upacara selesai.

 

B. Odalan Madya  / Nedunang (Dengan Ke Beji)

Cocok untuk : Pura Dadia, Merajan Gede, Odalan 1 Tahunan (Tumpeng 7).

 

H-1 (Sore) : Mendak Tirta / Ke Beji

  • Aktivitas : Mendak Ida Bhatara (Menjemput energi Dewa) dan Penyucian Pratima.
  • Lokasi : Menuju Beji (sumber air suci) atau Pura Kahyangan Desa jika tidak ada Beji khusus.
  • Banten di Beji : Membawa Pejati, Canang Pasucian, dan Tumpeng 7 (kecil) untuk di Beji.
  • Prosesi : Pratima/Daksina Linggih diusung ke Beji, disucikan, lalu dibawa kembali ke Pura/Merajan untuk dilinggihkan (distanakan) di Bale Paruman.

Hari H (Pagi 08.00 – 10.00) : Mecaru Eka Sata

  • Penting : Mecaru (Ayam Brumbun) dilakukan sebelum upakara piodalan puncak dimualai.
  • Lokasi : Di pusat halaman (Natar) Pura.
  • Fungsi : Menetralisir area agar suci sebelum Ayaban Utama dihaturkan.

Hari H (Siang 11.00 – 13.00) : Munggah Ayaban Utama

  • Menaikkan Paket Ayaban Tumpeng 7 + Pulagembal di Pelinggih Utama/Padmasana.
  • Menaikkan Suci dan Daksina Gede di Surya/Sanggar Agung.
  • Tari Wali (Rejang/Baris) dipentaskan saat Pemangku / Sulinggih sedang Nganteb (membaca mantra).

Hari H (Sore – Malam) : Sembahyang Puncak

  • Sembahyang bersama seluruh pasemetonan.

H+1 s/d H+2 atau H+3 : Nyejer & Nyineb

  • Ida Bhatara Nyejer (berstana) selama 2-3 hari. Warga melakukan Bhakti Penganyar (sembahyang giliran).
  • Hari ke-2 atau ke-3 : Upacara Nyineb (Penutupan). Pratima dikembalikan ke Gedong Simpen.

 

Bebantenan : Korelasi Simbol dan Fungsi

Bagian ini tidak hanya menyajikan daftar banten, tetapi menganalisis mengapa banten tersebut dipilih berdasarkan tingkatannya. Banten adalah bahasa simbol : tanpa memahami gramatikanya (dudonan), pesannya tidak akan tersampaikan.

 

Konstruksi Dasar : Tumpeng 5 vs. Tumpeng 7

Perbedaan mendasar antara Odalan Nista dan Madya sering kali terlihat pada jenis Ayaban (persembahan di hadapan pelinggih).

Ayaban Tumpeng 5 (Panca Warna/Panca Dewata) :

Digunakan pada Odalan Nista. Angka 5 merepresentasikan Panca Dewata (Iswara, Brahma, Mahadewa, Wisnu, Siwa) yang menguasai lima arah mata angin.

  • Komponen : Terdiri dari 5 tumpeng nasi (putih, merah, kuning, hitam, brumbun/campuran).
  • Filosofi : Permohonan perlindungan dasar dari penguasa arah mata angin untuk lingkup keluarga.

Ayaban Tumpeng 7 (Sapta Rsi / Sapta Petala) :

Digunakan pada Odalan Madya. Penambahan dua tumpeng bukan sekadar penambahan nasi, melainkan perluasan dimensi spiritual.

  • Komponen Tambahan : Selain elemen Tumpeng 5, ditambahkan Banten Guru, Banten Pengiring, dan Teterag.
  • Filosofi : Angka 7 melambangkan Sapta Rsi (tujuh orang suci penerima wahyu) atau Sapta Loka/Sapta Petala (tujuh lapisan alam). Ini menandakan upacara tersebut memohon kesaksian yang lebih luas, melibatkan aspek keguruan (Guru) dan pengikut ilahi (Pengiring).

Kompleksitas Pulagembal dan Bebangkit

Pada tingkatan Madya menuju Utama, kehadiran Pulagembal menjadi indikator teknis yang krusial.

  • Pulagembal : Merupakan representasi mikrokosmos yang lebih detail. Di dalamnya terdapat jajan (kue beras) yang dibentuk menyerupai senjata dewa (Dewata Nawa Sanga), binatang, dan tumbuhan. Secara teologis, mempersembahkan Pulagembal berarti mempersembahkan isi alam semesta kembali kepada penciptanya sebagai ungkapan syukur.
  • Bebangkit : Digunakan pada tingkatan Utama. Ini adalah struktur banten yang sangat rumit, sering kali memerlukan bale (bangunan) khusus. Bebangkit melambangkan rekonstruksi kosmis yang lengkap dan biasanya dipimpin oleh seorang Sulinggih (Pendeta Agung) karena energi yang dikelola sangat besar.

Daksina : Inti dari Segala Banten

Tidak ada Odalan tanpa Daksina. Penelitian menunjukkan bahwa Daksina sering disalahpahami hanya sebagai “biaya” atau “ucapan terima kasih”. Secara teologis, Daksina adalah Tapakan (tempat duduk) Ida Sang Hyang Widhi.

  • Kelapa : Melambangkan alam semesta atau kepala Brahma. Serabutnya adalah elemen pengikat.
  • Telur Itik : Elemen vital dalam Daksina. Dipilihnya telur itik, bukan ayam, memiliki landasan filosofis mendalam. Itik adalah hewan yang wicaksana (bijaksana), mampu hidup di darat dan air, serta selalu hidup bergerombol dengan rukun (netya atut runtut). Ini adalah doa agar umat manusia memiliki kemampuan adaptasi dan kerukunan seperti itik.

 

Bhuta Yadnya : Penetralan Sebelum Penyucian

Salah satu poin kritis yang sering terlewatkan dalam panduan Bebantenan biasa adalah integrasi Caru (kurban penyucian bawah). Odalan adalah upacara Dewa Yadnya (untuk Tuhan), namun mustahil Dewa akan turun jika lokasi belum dibersihkan dari energi negatif (Bhuta) melalui Bhuta Yadnya.

 

Seleksi Caru Berdasarkan Tingkatan Odalan

Kesalahan fatal dalam teknis Odalan adalah ketidakseimbangan antara Caru dan Ayaban utama.

  1. Untuk Odalan Nista : 
    Cukup menggunakan Segehan Agung atau lebih besar lagi dengan Caru Ayam Brumbun (Eka Sata).
    Segehan Agung : Terdiri dari nasi kepel dalam jumlah besar (biasanya 11 atau 33 tanding) dengan lauk bawang jahe dan alkohol (tetabuhan).
    Fungsinya untuk “menyuap” roh-roh penjaga tanah lokal agar tidak mengganggu.
  2. Untuk Odalan Madya :
    Menggunakan Panca Sata (Lima Ayam).
    Spesifikasi : Lima ayam dengan warna bulu spesifik sesuai arah mata angin (Putih-Timur, Merah-Selatan, Kuning-Barat, Hitam-Utara, Brumbun-Tengah).
    Olah-olahan : Daging ayam tidak sekadar dimasak, tetapi diolah menjadi urab dengan warna yang sesuai dengan bulunya. Ini adalah simbol pengembalian elemen alam ke asalnya (Panca Maha Bhuta).

Dalam dudonan pelaksanaan Mecaru memiliki slot waktu yang kaku (rigid). Harus dilakukan sebelum Puncak Karya atau sebelum Ida Bhatara katurang (dipersembahkan) ayaban utama. Jika Mecaru dilakukan setelah persembahyangan utama, secara logika teologis, “tamu agung” (Dewa) sudah datang sebelum “rumah” dibersihkan, yang dianggap cuntaka (tidak suci).



HALAMAN TERKAIT
Baca Juga