- 1Kosmologi Kekuasaan, Hubris Mayadanawa dan Anomie Sosial
- 2Hubris, Avidya dan Krisis Anomie Spiritual
- 3Peperangan Kosmik - Intervensi Dewata dan Mpu Sangkulputih
- 4Teologi Yeh Cetik dan Penciptaan Tirta Empul
- 5Kematian Mayadanawa dan Ekologi Kutukan Petanu
- 6Hari Suci Galungan - Monumen Triumfalisme Dharma
- 7Rekonstruksi Kesenian Melalui Kakawin Mayantaka Carita
- 8Transformasi Politik, Hegemoni Majapahit dan Legitimasi Babad
- 9Konstruksi Babad Dalem dan Re-Legitimasi Wangsa Gelgel
- 10Peran Mpu Kuturan dan Sentimen Identitas
- 11Terjemahan Naskah Lontar Tutur Uśana Bali
Transformasi Politik, Hegemoni Majapahit dan Legitimasi Babad
Jika versi Kawi dari Uśana Bali berfokus pada epos kosmis Mayadanawa dan pertahanan moral (dharma), maka evolusi naskah selanjutnya dalam format prosa — khususnya varian bernama Babad Uśana Bali Pulina dan kaitannya dengan Babad Dalem — bermetamorfosis menjadi salah satu mesin hegemoni literatur politik tingkat tinggi. Naskah-naskah narasi genealogi ini diformulasikan dalam rangka menjustifikasi, merekayasa, dan merasionalkan penaklukan Pulau Bali secara sepihak oleh Kerajaan Majapahit pada abad ke-14, sekaligus menghapuskan ingatan atas kebesaran mandiri pemerintahan agraris Bali Aga.
Temuan Prasasti Blanjong (bertarikh 913 M/835 Saka) membuktikan sebuah fakta materialistis bahwa sebelum ekspansi militer Majapahit (sekitar tahun 1333–1343 M), Bali telah menopang sebuah dinasti kerajaan Hindu-Buddha yang berdaulat, otonom, dan gilang-gemilang selama lebih dari 600 tahun, mulai dari Dinasti Warmadewa hingga wangsa Bedahulu akhir. Sayangnya, untuk mendirikan keabsahan politik yang baru, sejarah masa lalu harus didiskreditkan, dan budaya murni kerajaan lama ini secara peyoratif disimplifikasi sebagai sisa-sisa peradaban pagan Polinesia kuno atau direduksi sekadar sebagai masyarakat Bali Aga yang “kacau”. Tokoh Sri Mayadanawa yang anti-dewa dalam naskah sering kali diam-diam disejajarkan sebagai alegori bagi penguasa Bali Aga purba yang keras kepala menolak asimilasi ajaran Jawa.
Klimaks tragedi penaklukan politik ini dipotret dengan sangat eksplisit dalam lontar Uśana Bali Pulina. Di ujung masa pemerintahan dinasti Bali Kuna, di bawah penguasaan Sri Bedahulu (Astasura Ratna Bhumi Banten), kekuatan militer lokal dikomandoi oleh seorang panglima militer bertubuh kolosal dengan kekuatan fisikal di luar batas kewajaran manusia, bernama Kebo Iwa didampingi patih taktis Pasung Grigis. Kekuatan Kebo Iwa menjadi dinding penghalang yang kokoh; berulang kali armada perang Majapahit harus mundur dari perbatasan Bali karena hancur lebur dihempaskan oleh kekuatan gaib sang jenderal bertubuh raksasa ini.
Perdana Menteri Majapahit yang ulung secara strategis, Patih Gajah Mada, mempraktikkan siasat penipuan diplomasi pada tahun 1343 M. Delegasi kenegaraan Majapahit dikirim ke Bedahulu, membujuk Kebo Iwa agar secara personal menyeberang ke Pulau Jawa di bawah janji manis akan dinikahkan dengan seorang putri bangsawan Jawa yang bertubuh setara dengannya, sebagai simbol persahabatan abadi (sign of friendship) antara kerajaan Bali dan Majapahit.
Naskah menggambarkan bagaimana Kebo Iwa yang ksatria dan polos dengan gembira berangkat ke istana Majapahit. Setibanya di sana, bukannya upacara pernikahan yang ia dapati, Kebo Iwa diasingkan, dijebak, dan dengan licik dibunuh oleh Gajah Mada.
Tanpa pelindung militernya, benteng pertahanan Bali runtuh. Ekspedisi militer Majapahit membanjiri selat Bali di bawah formasi panglima Jawa dari dinasti keturunan Arya, termasuk Arya Damar, Arya Kenceng, Arya Kutawaringin, Arya Sentong, Arya Belog, hingga Arya Kanuruhan.
Meskipun orang-orang Bali Aga (wong Bali) memberikan perlawanan yang mengerikan — seperti insiden di Ularan, di mana Arya Damar dengan terpaksa membantai penguasa lokal Pasunggiri setelah pertempuran berdarah yang melanggar instruksi penangkapan hidup-hidup dari Raja Majapahit — akhirnya pulau dewata tersebut tunduk sepenuhnya, dilanda kehancuran teritorial.
















