Transliterasi Aksara Bali

App berbasis web ini oleh :
Agus Made Krisna
Font Bali Simbar oleh :
I Made Suatjana

Install Huruf Bali Simbar versi B
Download di sini.


"Beryadnya dengan Sharing"

Tak Akan Mengurangi Pengetahuan

 

Dalam lontar-lontar, kakawin dan kitab-kitab Hindu dari zaman Jawa-Bali Kuno banyak ditemukan berbagai aksara wianjana khusus, beserta gantungannya yang istimewa. Penulisan aksara khusus disebut pasang pageh, karena cara penulisannya memang demikian, tidak dapat diubah lagi. Aksara-aksara tersebut juga memiliki nama, misalnya Na rambat, Ta latik, Ga gora, Ba kembang, dan sebagainya. Hal itu disebabkan karena setiap aksara harus diucapkan dengan intonasi yang benar, sesuai dengan nama aksara tersebut. Namun kini ucapan-ucapan untuk setiap aksara tidak seperti dulu.

Aksara mahaprana (hembusan besar) diucapkan sama seperti aksara alpaprana (hembusan kecil). Aksara dirgha (suara panjang) diucapkan sama seperti aksara hrasua (suara pendek). Aksara usma (desis) diucapkan biasa saja. Meskipun cara pengucapan sudah tidak dihiraukan lagi dalam membaca, namun dalam penulisan, pasang pageh harus tetap diperhatikan.

Pangangge tengenan juga tidak dapat berdiri sendiri. Bisah digunakan sebagai pengganti konsonan ha (aksara wianjana) yang telah dimatikan bunyi vokalnya tanpa menggunakan virama sehingga berbunyi hi. Begitu pula dengan surang digtmakan sebagai pengganti konsonan ra berbunyi r dan cecek digunakan sebagai pengganti konsonan nga yang berbunyi ng. Adeg-adeg merupakan tanda yang digunakan untuk membunuh suara vokal konsonan di depannya.

Karena adeg-adeg tidak boleh dipasang di tengah kalimat, maka agar aksara wianjana bisa “mati” (tanpa vokal) di tengah kalimat dipakailah gantungan. Gantungan membuat aksara wianjana yang dilekatinya tidak bisa lagi diucapkan dengan huruf “a”, misalnya aksara Na agar dapat dibaca jadi /n/; huruf Ka dibaca /k/, dan sebagainya. Dengan demikian, tidak ada vokal /a/ pada aksara wianjana seperti semestinya.

Setiap aksara wianjana memiliki gantungan tersendiri. Untuk “mematikan” suatu aksara dengan menggunakan gantungan, aksara yang hendak dimatikan harus dilekatkan dengan gantungan. Misalnya jika menulis kata “Nda“, huruf Na harus dimatikan. Maka, huruf Na dilekatkan dengan gantungan Da. Karena huruf Na dilekati oleh gantungan Da, maka Na diucapkan /n/.

Gantungan dan pangangge diperbolehkan melekat pada satu huruf yang sama, namun bila dua gantungan melekat di bawah huruf yang sama, tidak diperbolehkan. Kondisi dimana ada dua gantungan yang melekat di bawah suatu huruf yang sama disebut tumpuk telu (tiga tumpukan). Untuk menghindari hal tersebut maka penggunaan adeg-adeg di tengah kata diperbolehkan.

Keempat pangangge tengenan ini dapat dilihat pada garnbar di bawah ini.

 

 

Aturan penulisan angka dalarn aksara Bali adalah bahwa angka tersebut harus dituliskan di antara tanda carik yang akan dijelaskan dalam ceciren pepaosan atau tanda baca.

Ceciren pepaosan yang bisa dilihat pada garnbar adalah tanda baca yang digunakan dalam aksara Bali. Tanda-tanda yang digunakan yaitu:

  • Carik siki, kedudukannya sama dengan koma, baik dalarn kalimat maupun dalam kakawin. Di samping itu dipakai juga untuk mengapit aksara anceng dan angka
  • Carik pareren, dipakai pada akhir kalimat, kedudukannya sama dengan titik 
  • Carik pasalinan, dipakai pada penghabisan karangan, surat, dan lain-lainnya. Selain itu juga digunakan sebagai tanda pergantian tembang pada geguritan
  • Panti atau panten, dipakai pada permulaan menulis kalimat atau karangan
  • Pamada, dipergunakan sebagai tanda permulaan menulis dan atau mengakhiri kalimat atau karangan
  • Carik pasalinan dan carik agung, digunakan pada kekawin-kekawin untuk pergantian wirama atau sarga. Ditulis menggunakan tanda baca carik pareren dan windu atau pamada dan windu 
  • Carik pemungkah. Fungsinya sama seperti tanda baca titik dua.

 

 

Setiap konsonan pada aksara Bali memiliki bentuk rupa lain yang digunakan untuk mematikan bunyi vokal konsonan di depannya yang disebut gantungan atau gempelan. Gantungan dituliskan di bawah konsonan sebelumnya (menggantung) sedangkan gempelan dituliskan di samping konsonan sebelumnya (menempel). Berikutnya, gantungan dan gempelan ini akan disebut bentuk gabungan konsonan.

 

Aksara Bali memiliki berbagai bentuk vokal dependen, spasi dan non-spasi yang ditulis pada sebelumnya, berikutnya, sisi atas, atau sisi bawah karakter dasar. Namun kombinasi keduanya juga dimungkinkan.
Standar Unicode menentukan bahwa karakter kombinasi diberi kode setelah karakter dasarnya. Oleh karena itu, ketika urutan karakter berisi vokal dependen, penataan ulang diperlukan dalam memori komputer sebelum ditampilkan di layar. Meskipun aksara Bali ditulis tanpa spasi antara dua kata berturut-turut serta pemecah baris tidak dapat dilakukan di tempat-tempat acak, oleh karena itu, ada dua aturan umum tentang pemecahan garis, yaitu : pemecahan dilakukan antara suku kata dan ke karakter penggabungan berikutnya. Line breaking tidak boleh dilakukan acak sebelum tanda baca.