Bahan Obat-Obatan Untuk Penyembuhan Dalam Usada Bali


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00
Login

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

Usaha menggali dan mengembangkan nilai-nilai budaya daerah Bali yang tertuang dalam naskah pustaka lontar, dalam mewujudkan pelestarian warisan leluhur mempunyai nilai pengobatan/kesehatan. Isi lontar tentang pengetahuan penyembuhan dibagi menjadi dua bagian yaitu “Usada” (peraturan-peraturan, resep-resep dan obat-obatan) dan “Tutur” (ajaran-ajaran dan tafsiran). Perhitungan waktu dalam peramalan suatu penyakit dan penyembuhan tidak didasarkan pada ilmu Falaq; para balian (dukun) menggunakan “oton” yakni suatu jangka waktu yang terdiri dari 210 hari. (Baca selengkapnya tentang cara pengobatan Balian Usada Bali).

Berikut dibawah ini adalah jenis obat-obatan untuk suatu penyakit :

Tidak mempunyai nafsu makan

Apabila seseorang tiada mempunyai nafsu makan, ada­pun cara pengobatannya, kunyit warangan satu takaran, dicam­pur dengan satu takaran daun sembung, adas padas, kemudian dadah secukupnya; lalu pergunakan mengobati.
Ada juga cara lain sarana pengobatannya, yaitu: akar pohon pulai dicampur dengan sulaket harurn, miana hitam, kelapa yang telah dibakar, kemudian bungkus dengan dalin pisang lalu panggang diatas api. Setelah masak selanjutnya diperas, dan air yang keluar dari hasil perasan tersebut berikan minum kepa­da si sakit.

Ada pula cara yang lain untuk pengobatan bagi · sese­orang yang tiada mempunyai nafsu makan, yaitu lempuyang yang telah ditumbuk dengan membuang semua bangketnya lalu dicampur denga!1 isin ireng kemudian peras dan air yang keluar lb dari hasil perasan iju diberikan minum kepada si pende­rita.

1. Penawar untuk kepala pusing

Untuk mengobati kepala pusing dengan mengucapkan mantramny.a sebagai berikut: “OM Ki Taruna Talu, teka campah, cabar 3, tawar 3 sing sarana wenang”. “OM Bakat pikat madi ya”, tawar 3. “OM kang anambanin laran ta waras 3“.
Obat untuk kepala pusing, sarana penyembuhannya, ialah : bunga kamboja campur dengan kemenyan, bawang, kerikan dari kayu candana, ketumbar, lalu pergunakan menyembur.

2. Obat Sakit Panas

A. Panas serta gelisah: puncak nasi aruan sebanyak sejumput, gula aren, air santan yang telah mendidih, mabejek, berikanlah kepada si akit untuk dimakannya. Sedangkan obat minumriya, segenggam. beras, diisi air lalu asabin sepotong kelapa, air dari campur􀀡 ketiganya itu berikan minum kepada si sakit. Untuk menutupi lobang pantatnya, yaitu l1mpoyang, jeruk,. diisi mi­nyak kelapa (Bali: lengis tanusan) kemudian dibungkus dengan daun pisang, lalu dibakar hingga betul-betul masak.

B. Obat untuk sakit panas : isin rong 7 macam ubi-ubian, kulit pohon jiwat, kulit pohon kusam­bi yang muda. Adapun perbandingan campurannya yaitu, kulit dari kedua kayu itu 2/5 dan isin rong 3/5. Obat itulah perguna­J5b kan mendedaki si sakit 3 kali pada waktu siang hari dan 3 kali pada waktu dimalam hari.

C. Obat untuk sakit panas-dingin : sarana pengobatan bagi orang menderita sakit panas􀀷ingin yaitu: lengkuawas, ketum­bar, empelas hari, lalu dadah, kemudian bedakkan kepada si sakit.

D. Panas, gelisah dan pakenyadnyed : Penyakit ini juga disebut penyakit tuju-gni. Adapun sarana pengobatannya bleng lada, air limau purut, datah dengan mempergunakan tempurung kelapa, kemudian urapi seluruh badan si sakit. Setelah diurapi, untuk membuat obat semburnya yaitu: kulit pohon limau, air tawar, lalu pergunakan penyembur si penderita.

E. Badan panas, gelisah dan ingin muntah : Daun ampelas-hari yang telah tua dicampur dengan garam. Apabila disertai mengigau, penyakit ini juga disebut Tiwang Grenang Adapun sarana pengobatannya ialah: akar pohon gelenggang besar, unteng bawang, adas-pedas dan air santan yang telah mendidih. Untuk bedaknya, temu-lawak, kumbek, empelas-hari ketumbar, musi, kelapa yang telah dibakar dan air anis.

F. Panas dingin disertai dengan perut bengkak. Penyakit ini disebut Tuju Emba-emba, untuk membuat obat minumnya, yaitu: kumbek, kelapa, lempoyang dan air pohon derdaru masab. Disamping itu perlu juga menyembur hulu hatinya de- ngan kulit pohon jeruk terong matambus lepah. air cuka yang telah bertahun-tahun disimpan. Sedangkan bedaknya kerikan kayu derdaru, tampar wantu, ketumbar dan musi.

G. Badan panas ngiyap dan maluwang. Apabila badan panas ngiyap disertai dengan mata molo­tot, penyakit ini juga disebut Tuju Sungsang Baru, adapun sarana pengobatannya, yaitu: temu-lawak, temu-tis, kulit kayu kenangci, lengkuas 7 iris, ketumbar, musi, st:pet-sepet, bebolong. Kesemuanya bahan􀀖bahan itu untuk membedaki si sakit. Kesemuanya bahan-bahan itu untuk membedaki si sakit.
Jika badannya panas mesawang enek maluwang dan le­su, penyakit ini juga disebut Tuju Gragrut. Adapun sarana pe­ngobatannya yaitu: pohon menumpang yang ada dipohon kapas akar pohon jambu putih,.bawang, adas-adas, garam uku, dicam­pur dengan jeruk, lalu pergunakan mengobatinya. Juga perutnya J 7b harus disembur dengan pempuyang, Jada 3 biji, cekur dan musi.

H. Badan panas gelisah dan mata melotot. Penyakit ini juga disebut Tiwang Sanganngan. Adapun sarana pengobatannya yaitu: kulit pohon kepuh (Latin: Bomba mabaricum (D.C.), ubi pohon paspasan (Latin; Cocinia cordi­polia Coga), dan air limau. Dan untuk membuat bedaknya, ialah: kulit pohon serai, kulit pohon timbul, daun nangka yang menghadap keatas pada waktu jatuh dari atas -pohonnya, ba­wang putih dibagian bawahnya, lengkuwas kapur, cekur, ketum­bar, musi medadah dicarnpur dengan beberapa tetes minyak kelapa (lengis tanusan).

I. Panas dingin, kepala sakit dan sering pingsan. Apabila menderita penyakit panas dingin, badan meng­gigil, kepala sakit dan sering tiada sadarkan diri, penyakit ini disebut Tiwang Limuh. Untuk membedaki orang yang men­derita penyakit sebagai tersebut diatas, yaitu rumput yang ber­wama biru, ketumbar, dagi.ng kumbek, adas pedas dan katan gajih. Sedangkan obat yang harus disimpannya yaitu daun sembung, ujung pohon pulai, bawang metambus, adas pedas dan beras. Berikanlah minum bangkat-nya kepada si penderi­ta. Kemudian ampas dari ramuan tersebut, pergunakanlah un­tuk menyembur pangkal paha dan tulang belakang si sakit. Kemudian kakinya, bedakilah dengan ramuan serba yang ha­ngat.
Jika tangan, pundak dan jari-hari merasa semutan melu­wang, dan pakadutdut, penyakit ini juga disebut Tiwang dangap, Adapun bahan-bahan bedak untuk menyembuhkan pe­nyakit tersebut, yaitu: jahe pahit, bakau tinggi, lada I biji. Sedangkan untuk dasamya, yaitu paci-paci (Latin: Leucas linife­lia Spr) yang tumbuh ditengah-tengah tanah tegalan dan dimya, ialah air limau.

J. Bayi sakit panas dan tunggah. Jika seorang bayi menderita sakit panas dan tunggah, penyakit ini disebut juga Sawan Terahos. Kalau penyakitnya itu disertai dengan perut omber untuk menyembuh­kannya iaiah : daun sirih yang masih muda, daun tenggulun, daging jambe, pala, Iada, sari lungid. Setelah menjadi hancur, ulet, campur dengan garam (sedikit saja), lalu sembur hulu-hati dan pusarnya, Lalu dilanjutkan dengan pengucapan mantram yang isinya sebagai berikut : “OM Sang Kebo Wora kita, Sang Kebo Lawang-kudong, metua kita mangke, aja sira mangiaranin di joro weteng,. manawa rauh Batara Brahma, Batara Wisnu, wastu pun kita pada rop sirop, muksah ilang manarawang, biar apadang, waras, sidi mantranku“.

Apabila bayi sakit panasnya mem­bara, penyakit ini disebut sawan Malik. Untuk menyembuhkan penyakit tersebut iaiah : daun mina sebanyak 2 helai, air bersih, air limau, pala, derdaru yang kesemuanya telah maasab dan miarna yang teiah mebojok. Kemudian setelah disaring berikanlah minum kepada si bayi disertai dengan mantram yang isinya sebagia berikut : “OM Iara ingisap ing buana’, buana angisap ing paring Iara, teka 49a waras. Om Sanghyang Ibu Pritiwi metu maha mrata ya riamah Siwaya, waras 3, singlor“.

Selanjutnya..



Buku Amrita Kundalini
Meditasi-Yoga menuju Realisasi Diri

Amrita Kundalini

Detail Buku

Sumber:
Terjemahan dan Kajian Usada
I. Gst. Bgs. Sudiasta & I Ketut Suwidja

Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Tahun 1991/ 1992


Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Baca Juga