Implemantasi Tri Hita Karana untuk Harmonisasi dan Kedamaian


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

 

Harminisasi dengan Konsep Sanga Mandala

Konsep sanga mandala membagi area rumah tinggal masyarakat tradisional Bali menjadi sembilan bagian. Pembagian sembilan area ini menghasilkan tiga area diagonal dari arah tenggara menuju barat laut. Tiga area ini dalam aplikasinya adalah ruang kosong yang memiliki fungsi masing-masing. Area sudut tenggara dipergunakan untuk berkebun atau beternak. Area tengah disebut dengan natah dipergunakan untuk kegiatan sakral dan profan.

Area pada sudut barat laut adalah tempat sakral untuk memohon keselamatan lingkungan rumah tinggal.  Pola ruang kosong diagonal dari konsep ruang Sanga mandala ini memiliki hubungan terhadap ekologi aliran udara. Berdasarkan posisi geografis pulau Bali, aliran udara pada musim kemarau dan hujan saling berlawanan, yaitu dari tenggara menuju barat laut dan begitu pula sebaliknya. Hal ini membuktikan bahwa masyarkat tradisional Bali sangat mempertimbangkan ekologi. Selain ruang kosong tersebut, konsep sanga mandala juga mampu memberikan penghawaan dan pencahayaan ke masing-masing bangunan.

Konsep pembangunan yang tidak terencana menjadi salah satu faktor kerusakan alam.  Hal ini dapat dilihat dari pola pembangunan perumahan yang tidak memperhatikan sona hijau  seperti daerah aliran sungai dan pertanian. Kondisi ini semakin parah dengan pola dan bentuk rumah tinggal yang tidak memperhitungkan ekologi. Keluasan area yang dimiliki seluruhnya dipergunakan sebagai bangunan tanpa memperhatikan ruang terbuka dan area resapan air. Bentuk bangunan juga tidak memperhatikan bukaan ruang sehingga mengakibatkan sirkulasi udara yang tidak baik. Beberapa contoh tersebut membuktikan bahwa Alam tidak lagi dipertimbangkan oleh manusia dalam sebuah perencanaan pembangunan.

Manusia saat ini sudah tidak mempertimbangkan ekologi dalam memenuhi keinginannya. Berdasarkan pemahaman interaksi manusia dengan lingkungan, manusia memiliki kemampuan untuk mengubah lingkungannya sesuai dengan standar yang diinginkan(iskandar,2012). Hal tersebut dapat dipahami bahwa sesuai sifat manusia yang tidak terbatas, ekologi akan semakin parah sampai keingginan manusia terpenuhi. Pemahaman tersebut sangat bertentangan dengan pemahaman yang dimiliki oleh manusia tradisional yang selalu ingin selaras dengan alam.

Ekologi merupakan sebuah hubungan timbal balik antara maklhuk hidup dengan lingkungan sekitarnya(frick,2011). Sebuah siklus yang mengajarkan manusia untuk selalu menghargai semua maklhuk hidup dan alam semesta. Hal tersebut sejalan dengan konsep yang selalu dianut oleh masyarakat tradisional Bali yang selalu mempertimbangkan alam dalam setiap aktivitas kehidupan. Masyarakat tradisional Bali mengenal tiga konsep yang selalu mempertimbangkan dan menghargai alam dalam melaksanakan aktivitas hidup. Konsep Tri Hita Karana adalah konsep dasar universal yang dimiliki masyarakat tradisional Bali. Konsep ini mengajarkan manusia untuk selalu selaras dengan Tuhan(prahyangan), manusia(pawongan) dan lingkungan(palemahan).

Hulu-Teben adalah konsep yang dipergunakan masyarakat tradisional Bali untuk menata pola penukiman atau desa. Pola pemukiman terencana yang membagi sona menjadi tiga bagian yaitu utama (tempat suci), madya (pemukiman) dan nista (kuburan). Pola pemukiman ini juga selalu menempatkan area tertinggi sebagai sumbu kosmologis (hulu)menuju area terendah (teben). Pola ini dimaksudkan selalu mengikuti arah aliran sungai dengan tujuan menghindari luapan air sungai atau banjir (Parwata,2009). Berdasarkan rasa menghargai alam semesta, masyarakat tradisional Bali mengembangkan konsep dasar tersebut dengan menggabungkan antara sumbu kosmologis (hulu-teben) dengan sumbu religius (timur-barat).

Penggabungan tersebut menghasilkan konsep sanga mandala yaitu sebuah konsep yang membagi area menjadi sembilan sona. Konsep ini diaplikasikan pada lingkungan rumah tinggal masyarakat tradisional Bali. Pembagian sembilan area ini menggunakan tiga sona dasar seperti pada konsep hulu-teben yaitu utama, madya dan nista. 

Konsep sanga mandala diciptakan berdasarkan pertimbangan terhadap alam sehingga sangat memperhatikan ekologi. Tulisan ini membahas tentang hubungan konsep sanga mandala terhadap ekologi. Hal ini didasari oleh banyaknya rumah tinggal saat ini yang tidak mempertimbangkan alam dalam perencanaannya. Keterbatasan lahan secara tidak langsung memaksa untuk memanfaatkan seluruh lahan menjadi bangunan. permasalahan tersebut jangan sampai menjadi penghalang untuk tetap mempertimbangkan ekologi. Seperti masyarakat tradisional Bali, keterbatasan dalam segala hal tidak menjadi penghalang mereka untuk tetap mempertimbangkan alam dalam menata pemukiman dan rumah tinggal. Bergesernya pemahaman terkait rumah tinggal dikhawatirkan akan memberikan dampak negatif terhadap alam.

Konsep sanga mandala memiliki beberapa hal yang dapat dijadikan pengetahuan dalam menciptakan ekologi pada lingkungan rumah tinggal. Pola ruang yang dimiliki oleh konsep sanga mandala sudah mempertimbangkan arah aliran angin yang menjadi penghawaan alami. Pola penataan tersebut juga sangat memperhatikan pencahayaan alami yang dapat dimanfaatkan oleh bangunan. Berdasarkan pemahaman tersebut diharapkan konsep sanga mandala yang diwariskan oleh masyarakat tradisonal diadaptasi ke dalam rumah tinggal masyarakat modern sehingga ekologi dapat tetap terjaga.

Memepertimbangkan ekologi berarti menghargai warisan budaya masyarakat tradisional Bali sekaligus menyelaraskan diri dengan alam. Konsep sanga mandala yang dalam aplikasinya adalah pola pembagian sona lingkungan rumah tinggal menjadi sembilan bagian merupakan sebuah pemikiran yang sangat bijaksana. Manusia sebagai maklhuk tertinggi dengan anugrah kamampuan berfikir sudah seharusnya melindungi maklhuk yang lebih lemah yaitu hewan dan tanaman. Pemikiran terhadap pola konsep sanga mandala ini memperlihatkan bahwa masyarakat tradisional Bali mampu memahami bagaimana sistem alam semesta.

Pola ini mampu menerapkan prinsip-prinsip ekologis ke dalam lingkungan rumah tinggal. Terdapat dua unsur ekologis yang mampu didapatkan oleh lingkungan rumah tinggal dengan menggunnakan pola konsep sanga mandala yaitu penghawaan dan pencahayaan. Pola yang membagi area menjadi sembilan bagian ini mampu memahami sirkulasi udara sesuai dengan letak geografis. Sumbu religius timur-barat yang menjadi dasar pola penataan konsep sanga mandala mampu memaksimalkan potensi pencahayaan. Dua unsur ini didukung oleh unsur lainnya yang terdapat pada rumah tinggal yaitu arsitektur dan tanaman.

Berdasarkan iklim di negara Indonesia yaitu tropis, pergerakan angin pada musim kearau dan hujan memiliki arah yang berlawanan(frick,2011). Lintasan pergerakan angin di wilayah pulau Bali pada pada dua musim tersebut adalah dari arah tenggara menuju barat laut dan sebaliknya. Pergerakan angin tersebut sangat mendukung sirkulasi udara dari pola dari konsep sanga mandala. Konsep sanga mandala yang membagi area menjadi sembilan sona dalam aplikasinya memiliki ruang kosong yang membentuk garis diagonal dari tenggara menuju barat laut.

Tiga sona ruang kosong ini dalam konsep sanga mandala masing-masing bernama nistaning utama, madyaning madya dan utamaning nista(Glebet, 1985). Masing-masing sona ruang kosong ini memiliki fungsi yang berbeda. Sona pada arah tenggara(nistaning utama) difungsikan untuk bercocok tanam atau memlihara hewan ternak. Pada sona ini juga biasanya ditempatkan sebuah lumbung yang berfungsi menyimpan hasil kebun dan pertanian.

Sona ini dalam perkembangannya oleh masyarakat saat ini biasanya disungsikan sebagai taman atau penempatan hewan peliharaan berupa burung, anjing atau hewan peliharaan lainnya. Sona ruang kosong pada bagian tengah(madyaning madya) oleh masyarakat tradisional Bali diberikan nama natah. Sona ruang kosong ini merupakan pusat dari seluruh sona pada konsep sanga mandala.

Sona ini hanya ruang kosong dengan aktivitas yang bersifat sementara seperti upacara atau penerimaan tamu. Natah dalam aktivitas upacara dipergunakan sebagai tempat menanam persembahan(caru) yang dipercaya mampu menetralisir kekuatan alam. Sona ruang kosong pada bagian barat laut(utamaning nista) difungsikan sebagai tempat mendirikan bangunan suci(tugu karang) yang dipercaya dapat melindungi lingkungan rumah tinggal dari kekuatan negatif.
Adanya tiga ruang kosong ini membuktikan bahwa masyarakat tradisional Bali sangat memahami dan mempertimbangkan alam dalam menata rumah tinggal. sirkulasi udara dari arah tenggara masuk menuju ke sona ruang kosong pada bagian tengah(natah) kemudian menyebar dan mengalir ke arah barat laut.

Sirkulasi ini berbalik ketika pergantian musim sehingga menghasilkan sirkulasi udara silang. Hal ini sangat sesuai dengan ilmu fisika bangunan yang menyarankan adanya sirkulasi udara silang pada ruang(Latifah,2015). Pola ruang konsep sanga mandala ini juga mendukung pergerakan udara ke masing-masing bangunan. Adanya ruang kosong pada bagian tengah(natah) dan orientasi bangunan terpusat memungkinkan udara masuk ke masing-masing bangunan.
Posisi geografis Bali terletak dekat dengan garis khatulistiwa sehingga menjadikan cahaya matahari bersifat merata sepanjang tahun. Masyarakat tradisional Bali memanfaatkan pencahayaan alami untuk mendukung aktivitas. Keterbatasan teknologi menjadikan pencahayaan alami sebagai faktor penting dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari. Pola pembagian sona pada konsep sanga mandala menempatkan sona tengah(natah) sebagai pusat orientasi dari seluruh bangunan.

Orientasi ini ditunjukkan dengan bentuk bangunan tradisional Bali yang memiliki ciri khas terbuka dengan akses utama ke arah tengah (natah). Ruang terbuka berupa teras ini dimiliki oleh seluruh bangunan pada rumah tinggal masyarakat tradisional Bali. Adanya ruang teras ini memiliki fungsinya masing-masing pada setiap bangunan. Pada bangunan dapur, ruang terbuka difungsikan sebagai aktivitas persiapan memasak. Bangunan lainnya yang masing-masing terletak pada bagian utara, timur dan barat mempergunakan teras sebagai area menerima tamu, rapat dan bersantai. 

Pola penataan bangunan pada konsep sanga mandala yang berorientasi pada bagian tengah mampu mamantulkan cahaya ke seluruh bangunan. Berdasarkan cara tersebut setiap bangunan dilengkapi dengan teras yang menghadap ke area tengah. Desain bangunan yang dilengkapi dengan teras pada bagian depan memiliki fungsi penting dalam pemanfaatan pencahayaan alami. Aktivitas yang dilaksanakan pada area teras tidak menerima cahaya secara langsung sehingga memberikan kenyamanan pada mata(Manurung, 2012). Pemantulan pencahayaan alami ini juga memperhatikan lingkungan rumah tinggal.

Pemakaian material alami berupa tanah atau rumput mampu menyerap intensitas cahaya yang tinggi. Selain teras, bukaan ruang seperti pintu dan jendela juga berorientasi ke bagian tengah(natah). Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan pencahayaan alami terhadap bagian tengah bangunan. Konsep pemanfaatan pencahayaan dan penghawaan alami sangat sesuai diaplikasikan saat ini. Masyarakat modern yang cenderung konsumtif dapat melakukan manipulasi kondisi lingkungan untuk kenyamanan fisik manusia dan ruangsekaligus menghemat energi(Karyono,2014).

Selain memperhatikan penghawaan dan pencahayaan alami, pola konsep sanga mandala memberikan area yang luas untuk penempatan tanaman. Penataan tanaman yang tepat akan memberikan manfaat bagi penghuni dan bangunan yang terdapat di area rumah tinggal. Tanaman dapat menghasilkan oksigen yang sangat dibutuhkan oleh manusia Pembuatan taman dan kolam ikan selain mendukung penghawaan alami juga dapat dimanfaatkan sebagai daya tarik ruang dan lingkungan sekitar. Penempatan pohon dapat melindungi bangunan dari terpaan angin kencang dan intensitas caahaya tinggi. Berdasarkan hal diatas membuktikan bahwa masyarakat tradisional bali sangat mempertimbangkan alam dalam setiap aktivitas.

Terciptanya konsep sanga mandala yang memiliki pembagian sembilan pola ruang sangat memperhatikan ekologi. pada prinsipnya, konsep penataan ruang yang diciptakan oleh masyarakat tradisional Bali tidak hanya dapat diaplikasikan pada lingkungan pemukiman dan rumah tinggal. seperti halnya dasar terbentuknya konsep sanga mandala, pengembangan dapat dilakukan lebih detail dan fokus yaitu pada desain interior. Objek desain interior tidak hanya pada rumah tinggal melainkan pada desain interior komersil seperti kantor, perpustakaan, museum, restoran, gedung olehraga bahkan pusat perbelanjaan.

Konsep sanga mandala merupakan hasil budaya masyarakat tradisional Bali yang dihasilkan dari kolaborasi alam dan religi. Konsep budaya yang memperhatikan alam dan riligi ini tidak hanya sesuai untuk kehidupan masyarakat tradisional namun juga pada masyarakat moder serta sekaligus menjaga keberlangsungan sistem alam semesta. Pelestarian warisan leluhur berupa konsep khususnya penataan pemukiman dan rumah tinggal dapat dilakukan dengan catatan tetap mempertahankan prinsip-prinsip yang terkandung di dalamnya.  

 



Blog Terkait



Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan