Lontar Wrhaspati Kalpa

Lontar Wrhaspati Kalpa dalam Tradisi Medis dan Magis Bali


Sistem Tenung dan Diagnosis Penyakit dalam Lontar Wrhaspati Kalpa

Dalam sistem medis Wrhaspati Kalpa, diagnosis penyakit tidak didasarkan pada pemeriksaan fisik semata (seperti detak jantung atau suhu tubuh), melainkan pada analisis waktu dan kebetulan (synchronicity). Bagian ini dikenal sebagai Tenung (Divinasi). Naskah ini mengajarkan bahwa momen ketika seseorang datang bertanya tentang penyakit bukanlah kebetulan, melainkan kunci untuk membuka misteri penyebab penyakit tersebut.

Tenung Saptawara

Naskah menyajikan algoritma diagnostik yang unik : penyebab penyakit ditentukan oleh hari apa keluarga pasien datang berkonsultasi (atanye lare).

  1. Jika Bertanya pada Redite (Minggu) :
    Diagnosisnya adalah gangguan dari Bhuta Ulu Asu. Akar masalah teologisnya adalah kesalahan dalam melakukan persembahan di pura kahyangan atau melanggar sumpah (tan pesaksi dinumitise). Sang Dewa marah karena merasa tidak dihargai.
    Solusi : Diperlukan caru (kurban) di lebuh (pintu gerbang rumah) berupa nasi penek lima tanding dan iwak babi seharga 55 kepeng. Penebusan dosa harus dilakukan di pura kahyangan dengan banten peras penyeneng dan sayut pengambeyan.
  2. Jika Bertanya pada Soma (Senin) :
    Diagnosisnya sangat berat : Danda Pati (hukuman mati) dari Dewa karena kesalahan leluhur yang fatal. Pasien diganggu oleh Bhuta Ulu Koye (Bhuta monyet).
    Solusi : Ritual harus dilakukan di Setra (kuburan), memohon kesaksian dari I Banaspati (roh penjaga kuburan). Diperlukan caru babi rinumbah gile (dicincang mentah) dan uang tebusan sebesar 1100 kepeng.
  3. Jika Bertanya pada Anggara (Selasa) :
    Penyakit disebabkan oleh Bhuta Ulu Kuye dan pasien telah “diserahkan” kepada Dewi Durga. Penyebab sosialnya adalah adanya orang yang iri hati atau perilaku pasien yang curang (corah).
    Solusi : Caru menggunakan babi caleng (babi hutan/hitam) dan banten suci asoroh. Penebusan uang sebesar 1800 kepeng ditujukan kepada Betara Guru untuk membatalkan penyerahan jiwa pasien kepada Durga.
  4. Jika Bertanya pada Buda (Rabu) :
    Gangguan berasal dari Bhuta Ulu Kumbe dan Bhuta Dengen yang menyebabkan sakit perut. Secara sosial, pasien mungkin terlibat pertengkaran atau sengketa.
    Solusi : Caru menggunakan lele yang masih utuh (lele ukudan) dan nasi sesaaan. Ritual dilakukan di lebuh dan sanggah kemulan.
  5. Jika Bertanya pada Wraspati (Kamis) :
    Diagnosisnya adalah Bhuta Ulu Singa. Penyebab utamanya adalah Pemali (pantangan yang dilanggar) atau janji leluhur (sesangi) yang belum dibayar. Dewa membiarkan penyakit ini sebagai cara menagih hutang (bakal mayah utang kawitane).
    Solusi : Tidak bisa sekadar dibayar dengan obat, harus dengan membayar kaul. Caru babi di halaman rumah (natar) dan permohonan air suci (tirtha) di Pura Dalem sebanyak sebelas kali siraman (ayab ping solas).
  6. Jika Bertanya pada Sukra (Jumat) :
    Penyakit disebabkan oleh leluhur (pitara) wanita yang menderita di alam sana karena janji yang tidak ditepati di Sanggah Kemulan atau Kabuyutan. Selain itu, ada indikasi terkena racun (kawisian).
    Solusi : Caru menggunakan ayam hitam dan nasi tujuh tanding. Perlu ritual Mebayuh untuk menenangkan arwah leluhur.
  7. Jika Bertanya pada Saniscara (Sabtu) :
    Gangguan berasal dari pekarangan rumah yang “panas” (panes dadalane) akibat adanya benda tanam-tanaman jahat (tulang penyu, tulang sapi) yang ditanam oleh orang yang iri.
    Solusi : Caru di pasar (acaru ring pasar) menggunakan babi cincang dan nasi penek delapan.

Tenung Catur Cantaka – Divinasi Uang Kepeng

Selain berdasarkan hari, naskah juga mengajarkan metode Tenung Catur Cantaka menggunakan uang kepeng (jinah). Balian akan mengambil segenggam uang secara acak (jinumput), lalu menghitung jumlahnya dengan membagi empat. Sisa koin (satu, dua, tiga, atau empat/habis) menentukan sumber penyakit :

  • Sisa Satu (1) : Sumber penyakit adalah Dewa.
    Artinya, pasien kurang bakti atau melanggar janji spiritual. Penyakit bersifat dinamis, berpindah-pindah (jalan-jalan), kadang sembuh kadang kambuh.
  • Sisa Dua (2) : Sumber penyakit adalah Pitra (Leluhur) atau Dewa di dalam rumah.
    Seringkali berkaitan dengan leluhur wanita atau kuburan yang tidak terurus. Penyakitnya lama sembuh.
  • Sisa Tiga (3) : Sumber penyakit adalah Bhuta/Dengen atau manusia jahat (ilmu hitam).
    Gejala fisiknya adalah tubuh kurus kering (mengareges) dan nyeri menusuk-nusuk.
  • Sisa Empat/Habis (4) : Sumber penyakit adalah Kabuyutan (Tempat suci tua) atau kutukan berat.
    Ini menandakan kondisi yang sangat kritis (katepuk tegah laranie).

Tenung Firasat Tubuh (Polahing Wong)

Diagnosis juga dilakukan dengan mengamati gerakan tak sadar pasien saat berkonsultasi. Ini adalah bentuk semiotika medis :

  • Jika pasien mengusap rambut :
    Tanda gangguan dari Hyang.
    Solusi : Caru sarwa pawitra.
  • Jika pasien mengusap mata :
    Gangguan dari Widyadari Tunjung Biru.
    Solusi : Sajian serba hitam.
  • Jika pasien mengusap hidung :
    Gangguan dari sumpah orang tua (sampali wongatue).
    Solusi : Sate putih.
  • Jika pasien memetik kuku :
    Gangguan Bhuta Siwah dan Agni.
    Solusi : Ayam sakembaran dan anjing merah (asu bang).



HALAMAN TERKAIT
Baca Juga