Lontar Wrhaspati Kalpa

Lontar Wrhaspati Kalpa dalam Tradisi Medis dan Magis Bali


Terjemahan Naskah Lontar Wrhaspati Kalpa

Bagian Kelahiran Saptawara (Tujuh Hari)

Mantra Pembuka :

Ong Awigenan mastu nama sidem. semoga tidak ada halangan, hormat kepada kesempurnaan. Inilah ajaran Wrhaspati Kalpa, yang aturannya mengikuti siklus tujuh hari (Saptawara) :

1. Kelahiran Hari Redite (Minggu)

Jika ada kelahiran pada hari Minggu, Dewa pelindungnya adalah Sang Hyang Indra. Kekuatan waktu (Kala)-nya adalah Kala Dore, dan unsur alam (Bhuta)-nya adalah Bhuta Catus Pati (Hantu Perempatan).

  • Simbol : Kayunya adalah Kayu Putih, burungnya Siyung, wayangnya Panji, dan bintangnya Tendas Marereng.
  • Sifat & Penyakit : Kelahiran ini bersifat “panas”. Penyakit yang sering diderita meliputi sakit kepala hebat (puruh), pusing (langu), badan terasa membara (gerrah merapah), panas dingin, lesu, gelisah, tidak nafsu makan, hingga penyakit borok. Secara psikologis bisa mengarah pada kegilaan (edan), menunda-nunda pekerjaan, dan jika perempuan berisiko mati saat melahirkan. Jika laki-laki, berisiko mati saat mengamuk.
  • Ritual Penawar : Membutuhkan Caru (kurban) di Sanggah Kemulan dan banten Suci Asoroh. Hewan kurbannya adalah bebek yang memiliki tanda tapak di paruh/kaki (tampak taluh). Karena kelahiran ini panas, wajib diruwat dengan sarana serba lima : beras lima catu, uang kepeng 555, benang lima tukel, telur lima butir, pisang lima sisir, dan kelapa lima butir.
  • Sesayut : Sesayut Kusuma Jati dengan nasi putih. Lauknya ayam putih tulus yang dipanggang, dibumbui merica, disertai lima batang bunga putih. Dipersembahkan di Kemulan. Air suci (tirtha) dari lima wadah. Wajib diruwat (malukat) oleh Pendeta Sulinggih.

2. Kelahiran Hari Soma (Senin)

Dewa pelindungnya adalah Betara Wisnu, Kalanya Kala Jereng, dan Bhutanya Wulu Kumbe.

  • Simbol : Kayunya Pule, burungnya Jangkung, wayangnya Togog, bayangannya Bulan, bintangnya Jangkung.
  • Penyakit : Penyakit yang mengintai adalah parang (luka), borok, koreng, anyang-anyangan, sakit perut melilit, ayan, dan nyeri seluruh tubuh.
  • Firasat Kematian : Merasa sedih (ibuk), mati dalam mimpi, atau mati saat tidur. Bagi wanita, berisiko mati akibat kejang (tiwang) atau karena perilaku keras.
  • Ritual Penawar : Membutuhkan Caru di Sanggah Kemulan dengan sarana serba empat : beras empat catu, kelapa empat, telur empat, benang empat tukel, pisang empat sisir, dan uang kepeng 444.
  • Sesayut : Sesayut Sipte Rengge dengan nasi jernih (ineng) dan bunga teleng biru (warna Wisnu). Lauknya ayam berumbun (warna-warni) dipanggang dan digoreng. Disertai abu hitam dan empat batang bunga hitam. Perlu Suci Asoroh dipersembahkan ke arah Surya, dan bebek tampak taluh. Wajib diruwat oleh Sulinggih.

3. Kelahiran Hari Anggara (Selasa)

Dewa pelindungnya Betara Ludra (Rudra), Kalanya Durga, Bhutanya Banaspati Raja.

  • Simbol : Bayangannya Luang, wayangnya Cupak (rakus/keras), bintangnya Sidemalung.
  • Sifat & Penyakit : Sering sakit persendian (sarwa sandi), batuk, sakit perut, bengkak (bengke), kedinginan, cacat mata (peceng), dan lumpuh. Sifatnya suka berjudi (bebotoh).
  • Firasat Kematian : Risiko mati jatuh (labuh), atau bunuh diri dengan menusuk diri (nyuduk awak).
  • Ritual Penawar : Membutuhkan Caru di Kemulan dengan sarana serba tiga : beras tiga catu, uang 333, benang tiga tukel, telur tiga, kelapa tiga, pisang tiga sisir.
  • Sesayut : Sesayut Wirekesume dengan nasi merah dicampur kuning. Lauknya ayam biying (merah) dipanggang. Banten Suci Asoroh dipersembahkan ke Surya.

4. Kelahiran Hari Buda (Rabu)

Dewa pelindungnya Betari Uma, Kalanya Anggapati, Bhutanya Wulu Kumbe.

  • Simbol : Wayangnya Wirun, bayangannya Pertiwi, kayunya Bunut, burungnya Dara, hewannya Lembu, bintangnya Keris.
  • Sifat & Penyakit : Tubuhnya mudah terluka (sering kanin), disukai oleh ilmu hitam (esti) dan makhluk halus (pemali), sering sakit koreng. Namun, ia cerdas dan bijaksana.
  • Firasat Kematian : Mati di medan perang atau mati jatuh di tebing (mapereng).
  • Ritual Penawar : Caru di Kemulan dengan sarana serba tujuh : beras tujuh catu, uang 777, kelapa tujuh, telur tujuh, pisang tujuh sisir.
  • Sesayut : Sesayut Sudemale dengan nasi kuning dan tebu ratu, serta tujuh bunga putih. Lauknya ayam putih-kuning panggang. Bebek tampak taluh. Perlu ruwatan dengan tujuh periuk air.

5. Kelahiran Hari Wraspati (Kamis)

Dewa pelindungnya Betara Guru, Kalanya Anggapati, Bhutanya Wulu Singa.

  • Simbol : Kayunya Beringin, burungnya Merak, wayangnya Semar.
  • Penyakit : Sakit perut, reumatik (tuju), lesu, pusing (ngelempuyeng), bengkak (perot), lumpuh, atau gila.
  • Firasat Kematian : Mati karena ayan, hanyut di sungai (anyud), atau tertimpa benda (tepen embidan).
  • Ritual Penawar : Caru dengan sarana serba delapan : beras delapan catu, kelapa delapan, telur delapan, pisang delapan, uang 888.
  • Sesayut : Sesayut Pengambiyan Adulang. Lauknya ayam berumbun. Perlu ruwatan dengan delapan periuk air. Kurban bebek tampak taluh. Jika tidak diruwat, penyakitnya tidak akan putus.

6. Kelahiran Hari Sukra (Jumat)

Dewa pelindungnya Betari Sri, Kalanya Kalajerang, Bhutanya Wulu Asu.

  • Simbol : Kayunya Ancak, burungnya Titiran (Perkutut), wayangnya Sangut.
  • Penyakit : Sering sakit menusuk-nusuk, polor, sakit seluruh badan, kesemutan, kurus kering (ngereges). Sangat disukai leyak dan rentan racun.
  • Firasat Kematian : Mati diseruduk sapi (engkot sampi) atau dimakan ilmu hitam.
  • Ritual Penawar : Caru di Kemulan dengan sarana serba enam : beras enam catu, uang 666, benang enam tukel, pisang enam, telur enam, kelapa enam.
  • Sesayut : Sesayut Liwet Raje Kiru dengan nasi beraroma cendana dan bunga teleng biru. Lauknya ayam kelawu (abu-abu) panggang. Ruwatan oleh Sulinggih dengan enam periuk air.

7. Kelahiran Hari Saniscara (Sabtu)

Dewa pelindungnya Betari Durga, Kalanya Barong, Bhutanya Raksasa.

  • Simbol : Kayunya Kepuh (pohon kuburan), burungnya Celepuk (hantu), wayangnya Delem.
  • Penyakit : Sering sakit badan, pusing, sakit perut, terkena pemali (pantangan), kedinginan, dan penyakit naik-turun (kambuhan).
  • Ritual Penawar : Caru di Kemulan dengan sarana serba sembilan : beras sembilan catu, kelapa sembilan, telur sembilan, benang sembilan tukel, uang 999.
  • Sesayut : Sesayut Kesume Yude dengan nasi merah campur kuning. Lauknya ayam merah panggang. Kurban bebek tampak taluh. Ruwatan wajib oleh Sulinggih dengan sembilan periuk air.

 

Bagian Kelahiran Pancawara (Pasaran Lima Hari)
  1. Kliwon : Titisan Betara Guru dan Uma. Wataknya seperti pendeta (wiku), bijaksana, namun sering diperebutkan oleh waktu (rebutan semaya). Penawarnya : Nasi penek besar dengan ayam berumbun panggang dan ikan gerih, uang 88.
  2. Umanis : Titisan Sang Hyang Iswara dan Indra. Wataknya tenang, suka duduk, sopan. Namun nasibnya sering “rebutan”. Penawarnya : Daging babi seharga 55 kepeng, buah-buahan, dan jajan.
  3. Paing : Titisan Betara Yama dan Brahma. Wataknya rajin bekerja dan bisa bercocok tanam. Penawarnya : Nasi penek besar dengan ayam biying (merah) panggang dan uang 99.
  4. Pon : Sifatnya terampil namun kadang tidak stabil. Penawarnya : Nasi penek besar dengan ayam wiring (merah hitam) panggang dan uang 77.
  5. Wage : Titisan Betara Wisnu. Sifatnya penurut (bisa ingutus) dan bakat menjadi putri raja. Penawarnya : Tumpeng gurih dengan ujung hitam, lauk ayam hitam panggang, dan uang 44.

 

Bagian Tenung (Diagnosis Penyakit Berdasarkan Waktu Bertanya)

Bagian ini menjelaskan penyebab penyakit jika seseorang datang bertanya pada hari tertentu :

  • Bertanya Hari Redite (Minggu) : Penyakit disebabkan oleh Bhuta Ulu Asu. Akar masalahnya adalah kesalahan saat mempersembahkan caru di kahyangan atau melanggar sumpah (tan pesaksi). Solusi : Caru nasi penek lima dan daging babi di pintu gerbang (lebuh).
  • Bertanya Hari Soma (Senin) : Penyakit disebabkan oleh kemarahan Dewa (Danda Pati) dan Bhuta Ulu Koye. Solusi : Caru babi cincang mentah di kuburan (setra) dan mohon ampun pada Banaspati.
  • Bertanya Hari Anggara (Selasa) : Pasien telah “diserahkan” kepada Durga Dewi karena ada orang yang iri atau pasien berbuat curang (corah). Solusi : Caru babi hutan (caleng) dan tebusan uang 1800 kepeng kepada Betara Guru.
  • Bertanya Hari Buda (Rabu) : Diganggu oleh Bhuta Ulu Kumbe dan Dengen. Penyebabnya adalah pertengkaran. Solusi : Caru lele utuh dan nasi sisaan (sesaan).
  • Bertanya Hari Wraspati (Kamis) : Diganggu Bhuta Ulu Singa karena hutang leluhur (kawitan) atau janji (sesangi) yang belum dibayar. Solusi : Caru babi di halaman rumah dan mohon tirtha di Pura Dalem sebanyak 11 kali siraman.
  • Bertanya Hari Sukra (Jumat) : Penyakit kiriman leluhur (pitara) wanita yang menderita atau terkena racun (kawisian). Solusi : Caru nasi tujuh tanding dan ayam hitam.
  • Bertanya Hari Saniscara (Sabtu) : Gangguan karena pekarangan rumah “panas” akibat ditanami benda sihir (tulang penyu/sapi) oleh orang iri. Solusi : Caru babi cincang dan nasi penek delapan di pasar.

 

Bagian Tenung Catur Cantaka (Divinasi Uang Kepeng)

Caranya dengan mengambil segenggam uang kepeng secara acak, lalu menghitungnya dengan membagi empat.

  • Sisa 1 : Penyakit dari Dewa (kurang bakti). Sifat penyakitnya jalan-jalan (pindah-pindah).
  • Sisa 2 : Penyakit dari Leluhur (Pitra) atau Dewa di rumah. Seringkali berkaitan dengan leluhur wanita. Penyakit lama sembuh.
  • Sisa 3 : Penyakit dari Bhuta/Dengen atau sihir manusia. Gejalanya tubuh kurus kering (ngareges).
  • Sisa 4 (Habis) : Penyakit dari Kabuyutan (tempat suci tua). Kondisi sangat kritis.

 

Bagian Usada (Pengobatan)

Bagian ini berisi resep obat untuk berbagai jenis penyakit, terutama Tiwang (kejang/saraf) dan gila.

  • Obat Tiwang Naga (Sakit perut melilit) : Bedak dari kunyit, warangan, kapur bubuk, kulit pohon undung. Mantra : “Ong idepaku sang hyang Tunggal anambanin…”
  • Obat Tiwang Buaya (Kulit hitam/gelap) : Tanaman paku buaya, ragi, rempah.
  • Obat Tiwang Banyu (Badan bengkak air) : Minuman (loloh) dari daun kapkap, tingulun, ragi. Ampasnya diborehkan.
  • Obat Tiwang Gandrong (Kurus tapi perut besar) : Pucuk liligundi, pule, suren. Disembur (simbuh) pada pusar.
  • Obat Tiwang Tojos (Mata mendelik, kejang) : Tetes hidung (tutuh) dari daun jempinis dan bawang.
  • Obat Gila (Edan) : Kotoran tikus, kotoran kuda putih dan merah, semut. Digunakan sebagai tetes hidung, telinga, dan mata.
  • Obat Sakit Perut (Umum) : Daun jeruk nipis, bawang putih, dringo (sune-jangu), abu dapur.

 

Bagian Usada (Penyakit Perut dan Lainnya)

Bagian ini meneruskan resep-resep pengobatan yang belum tercantum di atas :

  • Obat Perut Anak Kembung/Begah (Seneb) : Sarana : Kulit pohon awar-awar (babakan awar-awar), daun sembung bulu, santan kental. Semua bahan diremas menjadi loloh (jamu) untuk diminum.
  • Obat Sakit Perut Keras sampai Ulu Hati (Deleg Menek) : Sarana : Kulit pohon kendal yang diambil secara sungsang (mengupas kulit dari bawah ke atas) sebanyak tiga lembar. Panjang kulit seukuran jari telunjuk (linjong). Kulit tersebut dikunyah dan disemburkan (simbuh) ke perut sebanyak tiga kali. Arah semburan harus ke bawah (audan ketebenan).
  • Obat Sakit Perut Padat/Keras (Mesawang Padet) : Gejala : Perut terasa keras dan tidak mau makan. Sarana : Daun jerungke (sejenis jeruk), daun jeruk (juuk), bangle, dan mesoyi (masuwi). Dikunyah lalu disemburkan ke ulu hati.

 

Bagian Bebayaan Rare (Bahaya Bayi Baru Lahir Berdasarkan Pancawara)

Bagian ini menjelaskan masa-masa kritis (baya) bagi bayi berdasarkan hari pasaran (Pancawara) kelahirannya dan cara menetralisirnya :

  1. Bayi Lahir Umanis :
    • Masa Bahaya : Umur 5 bulan (saat mulai bisa duduk/merangkak).
    • Risiko : Kematian mendadak.
    • Penebusan : Tumpeng satu buah, lauk kawisan (cincangan daging), sate lembat dan sate calon masing-masing 5 tusuk, rumbah gile, dan sasak mentah. Banten dipersembahkan di Sanggah Kemulan kepada Sang Sedahan Semaya.
    • Tambahan : Nasi telepokan (nasi tumpuk) dengan lauk ayam putih, ikan asin (sudang), dipersembahkan di balai tidur kepada Sang Ngindungin Bajang. Di halaman rumah menghadap Timur, persembahkan nasi penek dan rumbah gile kepada Bhuta Dohaken.
  2. Bayi Lahir Paing :
    • Masa Bahaya : Umur 9 bulan.
    • Risiko : Meninggal dunia.
    • Penebusan : Tumpeng di dulang, sate calon 9 tusuk, sate lembat 9 tusuk. Dipersembahkan di Sanggah Kemulan kepada Sang Sedahan Semaya.
    • Tambahan : Nasi telepokan dengan lauk balung ketupang dipersembahkan di balai tidur. Di halaman rumah menghadap Selatan, persembahkan nasi penek dan ayam biying (merah) panggang kepada Bhuta Pangkah.
  3. Bayi Lahir Pon :
    • Masa Bahaya : Umur 7 bulan.
    • Penebusan : Nasi punjungan satu kulak (takaran beras), sate calon 7, sate lembat 7, jeroan goreng. Dipersembahkan di balai tidur kepada Sang Ngindungin Bajang.
    • Tambahan : Nasi penek di dulang dengan sate calon 7 dan rumbah gile dipersembahkan di halaman rumah menghadap Barat kepada Sang Bhuta Bengawan.
  4. Bayi Lahir Wage :
    • Masa Bahaya : Umur 4 bulan.
    • Penebusan : Nasi satu mangkuk, lauk telur dan kacang komak, jajan godoh 4, sumping 4. Dipersembahkan di Sanggah Kemulan kepada Sang Sedahan Semaya.
    • Tambahan : Nasi telepokan dengan lauk ayam hitam, lele, dipersembahkan di balai tidur. Di halaman rumah menghadap Utara, persembahkan nasi penek dan ayam hitam kepada Sang Bhuta Wiro.
  5. Bayi Lahir Kliwon :
    • Masa Bahaya : Umur 8 bulan (saat belajar berjalan/cecewet).
    • Risiko : Kematian jika tidak ditebus.
    • Penebusan : Tumpeng satu buah, lauk ayam berumbun, ikan asin, gerang kepiting, jajan godoh 8, sumping 8. Dipersembahkan di Sanggah Kemulan kepada Sang Sedahan Semaya.
    • Tambahan : Nasi telepokan dengan lauk ikan asin dan ketupang agung di tempat tidur. Di halaman rumah (tengah/natar), persembahkan nasi penek dengan gerang kepiting dan kacang komak kepada Sang Kala Pereyoni.

 

Bagian Tata Cara Menanam Ari-Ari (Plasenta)

Naskah ini memberikan instruksi rinci tentang perlakuan terhadap ari-ari, yang dianggap sebagai saudara spiritual bayi (Kanda Pat).

Lokasi Penanaman : Di sebelah kanan pintu balai tidur untuk bayi laki-laki, dan di sebelah kiri untuk bayi perempuan.

Persiapan : Ari-ari dimasukkan ke dalam kelapa (nyuh) yang dibelah dua, lalu disatukan kembali. Dibungkus kain putih (sukele). Di dalamnya diisi isin rong (rempah-rempah), dialasi batu, dan disiram tuak.

Sesaji Pengiring : Nasi segehan lima warna (mancawarna) dengan lauk bawang jahe (uyah areng) dan ayam berumbun panggang. Di atas gundukan tanah diletakkan bunga terung sepasang dan Sanggah Cucuk (tempat sajian dari bambu).

Mantra Penanaman :

Duh Ibu Peretiwi, tabe ingsun anikel tibe wereti, sire muktiang ingsun, anugerahe mertha ring sanakire kabeh.
(Wahai Ibu Pertiwi, permisi hamba menitipkan titipan ini, engkaulah yang merawatnya, anugerahkanlah kehidupan bagi semua saudaranya).

Konsep Kanda Pat (Empat Saudara) : Naskah menyebutkan nama-nama saudara spiritual ini yang harus disapa :

  • I Legeprana : Manifestasi dari Ari-ari.
  • I Selabir, I Mekair, I Mokair : Saudara lainnya (Darah, Air Ketuban, Lemak). Pesan : Orang tua harus “berbicara” kepada ari-ari tersebut, meminta agar mereka menjaga si bayi, memberinya kepintaran sastra, dan menjaganya dari serangan ilmu hitam. Saat hari raya Galungan, keempat saudara ini harus diundang makan (ngaturin penamiyu).

 

Bagian Kaputusan Sang Hyang Nilekanta

Bagian akhir naskah memuat ajaran rahasia (kaputusan) untuk perlindungan diri tingkat tinggi, yang disebut Sang Hyang Nilekanta.

Manfaat : Membuat musuh takut, menawar racun, dan menolak leyak.

Visualisasi Meditasi (Ngeregep) : Pengamal ajaran ini harus memvisualisasikan dewa-dewa bersemayam di tubuhnya :

  • Sang Hyang Nilekanta (Siwa Leher Biru) berada di pangkal lidah (canteling lidah).
  • Sang Hyang Guru di ubun-ubun (siwadwara).
  • Sang Hyang Cintya di kanan, Sang Hyang Taye di mata.
  • Sang Hyang Brahma di bahu kanan, Sang Hyang Wisnu di bahu kiri. Dengan visualisasi ini, praktisi menjadi sakti dan tidak terkalahkan (“saktin aku tan kaukulan”).

 

Bagian Pamupug dan Ale Sengker

Bagian penutup naskah memberikan resep jimat penolak bala (pamupug) untuk melindungi rumah atau pekarangan.

  • Sarana : Tanduk kambing.
  • Cara : Tanduk kambing dipecah menjadi empat bagian.
  • Rajah (Tulisan Magis) : Setiap pecahan tanduk ditulisi aksara suci : Weru, Jah, Tah, Wah, Kah, Kah, Nyah, Suah, Ah.
  • Fungsi : Ditanam atau ditaruh sebagai pagar gaib (ale sengker) untuk menolak desti (santet), kapitan (kesialan), dan kameranan (wabah penyakit).

 



HALAMAN TERKAIT
Baca Juga