Penyatuan Dasa Aksara Bali, Sebagai Sumber Kekuatan


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

Dengan pengertian seperti itu, maka arti dari dasa aksara ini adalah orang yang mempunyai tingkah laku dan pikiran (idep) yang luhur saja yang mampu mempergunakan bayu kekuatan dari Siwa.

Dengan menyatukan tingkah laku dan pikirannya dia akan mampu mempergunakan dasa bayu untuk kesehjateraan buana alit dan buana agung.

Dasa aksara tersebut terbentuk dari dua jenis aksara suci, yaitu panca tirta dan panca brahma.

Yang disebut panca tirta, adalah sebagai berikut:

  1. sang sebagai tirta sanjiwani, untuk pangelukatan (membersihkan).
  2. Bang sebagai tirta kamandalu, untuk pangeleburan (menghancurkan).
  3. Tang merupakan tirta kundalini, utuk pemunah (menghilangkan).
  4. Ang merupakan tirta mahatirta, untuk kasidian (agar sakti).
  5. Ing merupakan tirta pawitra, untuk pangesengan (membakar).

Yang dikatakan panca brahma, berada dalam diri manusia. Ini aksaranya;

  1. Nang disimpan di suara.
  2. Mang disimpan di tenaga
  3. Sing disimpan di hati/perasaan
  4. Wang disimpan di pikiran
  5. Yang disimpan di nafas.

 Kemudian balikkan hurup tersebut:

  1. Yang disimpan di jiwa
  2. Wang disimpan di guna/aura
  3. Sing disimpan di pangkal tenggorokan
  4. Mang disimpan di lidah
  5. Nang disimpan di mulut

Bila Dasa aksara diringkas, aksara yang ada di panca tirtha dipasangkan dengan aksara panca brahma akan muncul Sang Hyang Panca Aksara. Inilah panca aksara tersebut:

  • Sa + Na menjadi Mang
  • Ba + Ma menjadi Ang
  • Ta + Si menjadi Ong
  • A + Wa menjadi Ung
  • I + Ya menjadi Yang

Panca Brahma dan Panca Tirta diringkas menjadi tri aksara (a, u, ma).

Setelah itu baru turun arda candra (bulan sabit), windu (lingkaran) dan nada (titik). Baru boleh di ucapkan sang, bang, tang, ang, ing, nang, mang, sing, wang, yang.

Jika panca tirtha digabung dengan panca brahma ditambah dengan tri aksara dan eka aksara akan terjadi catur dasa aksara.

Catur dasa aksara ini terdiri atas: sa-ba-ta-a-i ditambah na-ma-si-wa-ya, serta digabung dengan ang-ung-mang dan ong-kara yang erat kaitannya dengan catur-dasa-bayu, suatu kekuatan yang ada di dalam buana alit dan buana agung, yang memungkinkan manusia dan dunia hidup dengan wajar.

Ini menyimpan Rwa bhineda (dua sisi dunia), ini suaranya; Ong Ung.

  • Ong di hati putih, ung di hati hitam.
  • Ung di empedu, ong di pankreas.
  • Ong di dubur, ung di usus.

lafalkan aksara tersebut lalu letakkan dalam tubuh kita dan alam semesta. Ini rangkuman intisari dari sastra yang berjumlah lima hurup, yang digunakan untuk memuja tuhan, memanggil, menghaturkan persembahan, memohon anugrah dari tuhan, diantaranya:

  • mantra untuk memuja tuhan, Mang Ang Ong Ung Yang.
  • mantra untuk memanggil agar tuhan berkenan hadir, Ang Ong Ung Yang Mang
  • mantra untuk mempersembahkan sesajen jamuan dari kita, Ong Ung Yang Mang Ang
  • mantra untuk memohon anugrah dari tuhan YME, Ung Yang Mang Ang Ong

Ini suara inti sari; ekam evam dwityam Brahman, disebut ONG. Berupa api rwa bhineda Ang, berupa air rwa bineda Ah.

  1. dasar mantra antuk tri aksara; Mang Ang Ung
  2. kemulan mantra; Ang Ung Mang
  3. pengastiti widhi dewa bethara; Ung Mang Ang
  4. iki pengeraksa jiwa antuk catur aksara; Mang Ang Ung Ong
  5. pengundang bhuta dengen antuk kahuripan; Ang Ung Ong Mang
  6. pemageh bayu ring raga antuk catur resi; Ung Ong Mang Ang
  7. pangemit bayu antuk catur dewati; Ong Mang Ang Ung

Dwi Aksara  Ah dan Ang. Dwi Aksara juga adalah perlambang Rwabhineda (Dualitas), Ah juga dianggap sebagai Purusa (Bapa Akasha) dan Ang adalah Prakerti (Ibu Prtivi).

Dengan uraian di atas, jelas dapat kita lihat bahwa urutan penggunaan dan penyebutan ketiga aksara Ang Ung Mang tidak selamanya dimulai dari Ang, tetapi sesuai kegunaan/peruntukan/kebutuhan.



Buku Amrita Kundalini
Meditasi-Yoga menuju Realisasi Diri

Amrita Kundalini

Detail Buku

Baca Juga

Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan