Runtutan Upakara dan Pelaksanaan Ngaben


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

Makelud

Upacara ini dilakukan tiga hari setelah upacara pembakaran dengan melakukan upacara pecaruan di merajan dengan caru ayam brumbun dengan penyepuhan asoroh, sedangkan di halaman rumah dengan caru ayam brumbun dan bebek belang kalung serta di bale tempat meletakkan jenazah.

Selain kajang yang nunas di Griya, ada pula yang disebut dengan kajang kawitan. Kajang yang merupakan kulit dan selimut/kemul mulai banyak dicari oleh orang Bali saat mereka mulai mencari dari mana asalnya, soroh apa, sehingga saat upacara ngaben, kajang yang umum ada berdasarkan lontar yan ditadisikan secara turun temurun telah membuat masyarakat Hindu di Bali akan mencari kawitan dan kajang yang dibuatkan pula disesuaikan dengan kawitannya berasal dari mana.

Seperti halnya sangsangan yang dipasangkan di kedua sisi wadah akan disisapkan pula oleh produsen sehingga bila dalam ngaben ngiring yang diikuti banyak pengiring akan terlihat hal yang sama sebagai sebuah produk massal kecuali si konsumen menambhakannya dengan kain (kamen), dan selendang yang serasi dalam tata warna sehingga ada sesenggakan Bali mengatakan buka awak penyangsangan yang artinya apa saja busana yang dikenakan oleh seseorang akan pantas dan menarik sesuai bentuk tubuhnya.

Dalam mengusung jenazah ke patunon kini memakai teknologi dengan menepatkan roda di bawahnya. Hal ini akan memudahkan yang akan ngarap sawa tersebut. Hanya semangat bersama sebagai rasa solidaritas dan perasaan briak-briuk tidak akan tercipta kalau mengusung sawa dengan adanya roda, walaupun itu memudahkan dalam perjalanan menuju patunon, tetapi ada sesuatu yang hilang, yaitu rasa kebersamaan sesama karma banjar.

Pada era globalisasi ini perubahan pekerjaan masyarakat Bali turut menentukan dalam melaksanakan kegiatan upacara. Misalnya, upacara ngaben dengan memakai wadah yang berisi roda di bawahnya itu disebabkan karena masyarakat Bali sekarang sudah tidak bisa metegenan. Kalau masih dalam masyarakat agraris sebuah keluarga termasuk ayah dan anak-anaknya akan melakukan kegiatan metegenan, baik itu untuk mengangkut hasil panen berupa padi maupun kegiatan lainnya. Kalau sekarang dengan bekerja di sektor public apalagi di daerah industry/pariwisata, maka akan pula membawa perubahan dalam hal melakukan pekerjaan. Dengan demikian, alternatifnya adalah memakia roda. Beliau menambahkan memakai roda untuk alas sawa menuju ke setra bukan merupakan sebuah aktivitas yang baru karena di dalam Mahabarata yaitu pada saat kematian Panca Kumara pun jenazah kelima puta pandawa itu dibawa dengan kereta hanya ditarik oleh kuda. Sekarang sawa memakai roda tanpa kuda, tetapi ada beberapa orang di samping-sampingnya.

Pola-pola konsumsi yang telah melanda masyarakat Bali tidak lepas dari gaya hidup dan budaya konsumen kini masyarakat meninginkan kepraktisan dalam menyiasati waktu agar bekerja di sektor public tetap dapat dilakukan dan uoacara ngaben tatap dapat dilaksanakan, maka keefektivan dan keefisenan dilakukan dengan jalan membeli pada sebuah Griya terutama kepada Griya yang menjadi Siwa-nya karena keterikatan pada siwa menyebabkan pembelian komoditas ngaben tetao dilakukan dengan siwa-nya karena siwa juga akan lunga untuk muput upacara ngaben sisya-nya yang membeli.

Gaya hidup yang mengarah kepada budaya instan telah pula menjadi pemicu komodifikasi itu terjadi karena ternyata seorang karma dalam melaksanakan ritual ingin hidup yang praktis atau instan tingal menyerahkan uang, maka barang sudah didapatkan.
Chaney (1996:8) menyatakan bahwa “perubahan pola distribusi menuju konsumsi telah dialami masyarakat Indonesia mutakhir sejalan dengan sejarah globalisasi ekonomi dan transformasi kapitalisme konsumsi yang ditandai dengan menjamurnya pusat perbelanjaan bergaya semacam shopping mall, industry waktu luang, industry mode atau fashion, industi kecantikan, industry kuliner, industry nasihat, industry gossip, kawasan huni mewah, apartemen, real estate, gencarnya iklan barang-barang super mewah, dan liburan wisata ke luar negeri, dan tentu saja serbuan gaya hidup lewat industry iklan dan televise yang sudah sampai ke ruang kita yang paling pribadi, dan bahkan mungkin ke relung-relung jiwa kita yang paling dalam.”

Di tengah gaya hidup kosumerisme di kalangan sebagian masyarakat, mencuat pula gaya hidup alternative, gerakan untuk kembali ke alam, ke hal-hal yang diangap bersahaja, semacam kerinduan akan kampong halaman atau surga yang hilang, dan gaya hidup spiritualisme baru yang seakan-akan menjadi antithesis dari glamour fashion yang sekarang sudah tidak malu-malu lagi dipamerkan oleh kaum borjuas Orang Kaya Baru (OKB) di Indonesia. Siapakah yang tidak menjadi bangga menjadi orang kaya dan takwa. Lagi pula buat apa susah-susah menjadi kaya dan hidup sederhana, kalau tidak bisa merasakan enaknya menjadi orang kaya. Mungkin logikanya begitu sederhana. Rupanya nafsu besar terpendam untuk meraih kekayaan dan kekayaan sebagai lambang prestise dan prestasi itupun kini harus dinyatakan, dirayakan, dan diarak di ruang public (Chaney, 1996:6).

Pada saat kesuksesan justru menguat ke arah yang bersifat materialistic, semangat spiritualisme baru pun ternyata mengalami polesan lebih canggih lagi dalam budaya konsumen. Chaney melihat misalnya ketika kebangkitan agama mengambang di level simbolik, symbol-simbol, tanda-tanda, dan ikon yang diyakini sebagai artefak ketakwaan seseorang justu telah terkomodifikasi menjadi obek konsumsi. Hari-hari keagamaan pun bisa menjadi semacam “festival konsumsi”. Semangat pergantian mode dan fashion dalam tata busana penganut suatu agama tertentu justu dimanfaatkan oleh industi iklan dan televisi untuk keuntungan bisnis semata. Di sini, kebangkitan semangat keagamaan di kalangan tertentu juga harus kkita pahami sebagai kebangkitan gaya hidup.
Chaney (1996 :10) melihat dalam hal ini tengah ditanamkan semacam idiologi samar-samar terbentuk beragama, tetapi tetap trendi atau biar religious, tetapi tetap trendi atau biar religious, tetapi tetap modis. Rupanya para pemikir keagamaan mutakhir harus mulai melihat bahwa sensibilitas keagamaan pun mulai mengalami komodifikasi (menjadi komoditas) di pentas konsumsi massa. Dia mengira gejala tumbuhnya pusat-pusat penyemaian dan pemekaran gaya hidup yang mulai marak sejak 1990-an tampaknya pada awal 2000-an ini sudah tidak bisa dianggap sepele lagi. Gejaola yang demikian serius dan kompleks sudah tertentu memerlukan pengamatan dan kajian yang sistematis, ketat, dan mendalam.

Gaya hidup dianggap merupakan proyek yang lebih penting daripada aktivutas waktu luang yang khas dan Gidens sendiri mengingatkan bahwa gagasan gaya hidup telah dikorupsi oleh konsumerisme, meskipun pasar terutama setelah menjadi tema idiologis dalam politik neoliberal, sepertinya menawarkan kebebasan memilih dan dengan demikian bermaksud mempromosikan individualism. Komodifikasi kedirian (selfhood) melalui genre-genre narasi media (media narratives) begitu pula stategi-strategi pemasaran, menekankan gaya pada biaya investasi makna personal.

Dalam gaya hidup penampilan diri itu justru mengalami estetitasi kehidupan sehari-hari dan bahkan tubuh/diri (body/self) pun justru mengalami estetitasi tubuh (tubuh/diri) dan kehidupan sehari-hari pun menjadi sebuah proyek, benih penyemaian gaya hidup “Kamu berada maka kamu ada” atau “kamu berbelanja maka kamu ada” adalah ungkapan yang mungkin cocok untuk melukiskan kegandrungan manusia modern akan gaya.

Ketika gaya menjadi segala-galanya dan segala-galanya adalah gaya, maka perburuan penampilan dan citra diri akan masuk pula ke permainan konsumsi. Bukankah, menurut ahli sejarah, Johan Huizinga dalam karya klasiknya Homo Ludens dalam permainan gaya itu sendiri sudah terkandung pengakuan tentang adanya unsur permainan tertentu. Kalau dalam gaya itu sendiri sudah melekat unsur permainan, maka sudah bisa dipastikan unsur-unsur yang memebentuk gaya hidup akan menjadi komoditi dan ajang permainan konsumsi. Konsumsi pun menjadi sebuah tontonan. Apalagi produk yang memanfaatkan kekuatan citra bisa menjadi perlambang bagi kolektivitas social terutama dengan memakai asosiasinya denan gaya hidup.

Demikian pulalah yang dilakukan oleh masyarakat dalam industi pariwisata dalam mengelar upacara ngaben yag sarat dengan penampilan gaya hidup, walaupun sebenarnya ngaben adalah upacara kematian yang penuh duka, tetapi upacara dibuat semarak dan penuh kegembiraam karena jamuan tetap dilaksanakan setiap hari sebelum upacara pelebon dilaksanakan dan sebelum uapacara pelebon dengan keberangkatan jenazah ke kuburan dilaksanakan, maka jamuan terhadap undangan dan siapapun yang datang tetap berlangsung, setelah semua itu terlaksana barulah jenazah diberangkatkan ke kuburan sehingga keberangkatan itu terjadi pada siang hari.

 

 



Blog Terkait



Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan