Runtutan Upakara dan Pelaksanaan Ngaben


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

UPACARA MEBUMI SUDHA

Upacara pembersihan dan penyucian ditempat pengesengan sawa berdasar nista, madya, utama. Tujuannya menyucikan tempat pengesengan dengan tirta Kahyangan Tiga, tirta Kawitan, Tirta Pengentas. Tirta ini tidak kena kecemeran. Dilakukan pada semua jenis pengabenan.

UPACARA PEMRELINA DAN MEWANGUN SEKAR TUNGGAL DI SETRA.

Setelah adegan atau jenasah selesai dibakar, arangnya ditutupi pelepah daun pinang (papah buah) yang daunnya sudah disurat bergambar “Cakra”. Kemudian disiram dengan Toya Pemanah. Kmudian arang tulang diambil satu persatu menggunakan sepit atau cincin permata mirah Windhusara, diletakkan dalam kukusan. Dibersihkan lagi dengan air kumkuman. Selanjutnya dilakukan “pangerekan” diatas “Panca Layuan” serta disucikan lagi dengan eteh2 pesucian. Kemudian arang tadi digilas diatas sebuah sesenden, kemudian dibungkus menjadi sekah tunggal.
Makna berbagai uparengga yang
digunakan adalah:

  1. Penutup pelepah daun pinang: makna kembalinya ke unsur2 Panca Maha Butha dan penumadiannya nanti tergantung buah karmanya.
  2. Toya Pemanah yang dipakai: bukan toya penembak.
  3. Arang diambil dengan cincin mirah: sarana pengentas agar unsur Panca Maha Buthanya cepat kembali ke sumbernya Sang Pencipta. Cincin mirah sebagai simbul kekuatan Siwa.
  4. Sepit sebagai simkbul kekuatan Ardha Candra sebagai simbul kekuatan nada. Setelah selesai. Wiku melaksanakan upacara pengiriman, sekah dihanyut. Sebelumnya dilakukan meprelina dimana sekah tunggal dikelilingkan di Pengesengan dengan arah prasawya (kekiri) kemudian baru nagkil ke Pemuput (wiku) untuk memohon restu.

SAWA MEKINGSAN DI GENI DAN MEKINGSAN DI PERTIWI (MEPENDEM).

Perlu menggunakan tirta Pekingsan, karena bila sudah menggunakan tirta Pekingsan maka sewaktu-waktu dapat melaksanakan upacara pengabenan. Namun jika tidak menggunakan tirta pengentas pekingsan maka tidak diperkenankan ngaben sebelum setahun dipendem (Lontar Yama Purana Tatwa).

UPACARA PEMUKURAN/PENYEKAHAN/PENGRORASAN

Mukur asal katanya Bhuk (alam bawah), Ur atau urdah (swah loka). Mukur adalah proses penyucian lanjutan dari unsur-unsur Panca Mahabuta agar manjadi status Dewa untuk dikembalikan kealam kedewataan shg disebut Dewa Pitara dan pada puncak kesuciannya disebut Hyang Pitara.

Uperengga pada Damar Kurung mempergunakan simbul Kupu-Kupu Dedari (seekor kupu2 berkepala widyadari) sebagai simbul wahanyanya Hyang Pitara pulang ke sumbernya. Ini terlihat dari puja Penglepasan Pitra memohon kepada Sang Kepupu Wong. Demikian juga pada upacara pengabenan, damar kurungnya berisi simbul burung garuda berkepala raksasa sebagai wahanya Dewa Pitara. Puja Penglepasannya memohon kepada Kaki Badra Lim (manuk Raja) untuk mengantar Dewa Pitara ke sumbernya.

UPACARA PENGLIWETAN

Upacara pemukuran disertai upacara Pangliwetan. Pengeliwetan mengandung maksud dan tujuan Pengeluweran yaitu mengembalikan unsur2 Panca Maha Butha, unsur Roh dan unsur atmanya kealam masing-masing yaitu: unsur Panca Maha Buthanya ke Prakerthi Tattwa (kekuatan acetana), sedangkan unsur rokhnya kembali ke Purusa Tattwa dan unsur atmanya kembali ke alam Parana Nirbana (kealam moksa). (lontar Tattwa Jnana). Dalam proses Ngeliwet, dibuatkan bubur nasi yang berasnya diseruh sebanyak 11 kali (simbul dari alam Siwa. Angka 11 jika dijumlah menjadi 2 (simbul Windu Sunia) atau alamnya Siwa. (Lontar Tutur Saraswati). Bubur ini dicampur dengan menyan, madu, empehan (lontar Pengerorasan), bukan telur goreng dan bawang goreng. Menyan sebagai simbul Sang Hyang Brahma (mengembalikan unsur Panca Maha Buthanya), madu sebagai simbul kekuatan Sang Hyang Wisnu (mengembalikan unsur
rokhnya), empehan sebagai simbul kekuatan Sang Hyang Siwa (mengembalikan unsur Atmanya.
Setelah bubur kental kemudian dikepal-kepal 108 buah sebagai simbul titik puncak kekuatan Pralina (Tattwa Samkhya) dari angka 108 menjadi 9 merupakan angka sakti Hindu (titik lebur), sedangkan angka 0 merupakan simbul Windhu Sunia.

UPACARA NILAPATI

Upacara Nilapati adalah upacara ngeluwuirang Hyang Pitara atau Dewa Hyang setelah pemukuran atau penyekahan. Nilapati asal katanya Nila (hitam) yaitu Wisnu sebagai simbul kehidupan setelah kematian. Upacara Nilapati adalah suatu upacara untuk menstanakan Dewa yang berada dalam alam kehidupan yang tidak nyata.



Blog Terkait



Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan