Runtutan Upakara dan Pelaksanaan Ngaben


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

TATA CARA UPACARA NGAJUM KAJANG DAN PEMERASAN

  1. Pengabenan Sawa Prateka (ada jenasah) ditaruh dibersihkan dimandikan ditaruh di semanggen. Sawa Prateka (tanpa jenasah), dilakukan upacara ngendag dan ngangkid. Jika tidak diketahui kuburnya dilakukan upacara ngulapin.
  2. Sebelum pengajuman, lakukan upacara pengulapan dg sanggah Urip (tempat roh yang dipanggil akan diaben). Sanggah urip dibuat dari daun kelapa dumala, ditaruh pada adegan, ditaruh disebelah jenasah yang akan diaben di semanggen.
  3. Ngajum kajang di natar mrajan disaksikan leluhur dan Dewa Pitara, dipimpin sulinggih. Kajang dan adegan tidak kena kesebelan. Adegan adalah simbul atma dan ”atma tan kekeng kesebelan karena atma percikan dari Brahman.
  4. Kajang adalah selimut kebesaran dari atma yang akan dibawa ke sorga.
  5. Adegan dan kajang bukan bagian dari raga sarira (badan kasar/prakerti) yang kena kesebelan, melainkan bagian dr Antah Karana Sarira (purusa)yang bebas
    dari kesebelan.
  6. Pemerasan dilakukan di luar merajan, karena ada upacara simbolis sang atma turun ke alam manusia.
  7. Setelah kajang selesai di ajum maka Sulinggih mulai memuja pasupati kajang, kemudian dilanjutkan ngaskara dan upacara mepetik.
  8. Dilanjutkan dengan Pemerasan. Diikuti oleh seluruh keluarga sebatas buyut. Adegan dan kajang diarak mengelilingi upakara pemerasan sbg simbul Sang Hyang Atma turun ke dunia manusia bertemu dg keluarga.
  9. Selanjutnya adegan dan kajang diletakkan diatas peti jenasah.
  10. Menunggu pemberangkatan ka setra.

URUTAN JALANNYA NGAJUM KAJANG

  1. Siapkan sebuah asagan (bale, meja) dg kasur kecil, tikar dan bantal. Tikar dirajah Padma ditengah padma ditulis aksara Ongkara Mertha dan Aksara Rwa Bhineda. Diatas bale2 diisi leluhur. Disamping bale ditaruh banten: ayaban tumpeng 5, sesayut alit, suci, daksina gde, sorohan, banten pemelaspas, peras pemelaspas, sesayut pasupati, pesucian.
  2. Siapkan sarana Ngajum Kajang: kain putih, selembar kain cepuk, kajang klasa, kajang pemijilan, kajang sari, ukur, jarum, kwangen, sekar ura, rurub sinom, rantasan, minyak wangi.
  3. Letakkan kain kasa 1,5 – 2 m diatas tikar sbg alas kajang sekaligus sbg pembungkus
  4. Diatasnya kain cepuk. Diatas kain cepuk ditaruh Kajang Klasa
  5. Diatasnya kajang sari (bila ada) (kajang dari dadia atau dari teman-teman)
  6. Diatasnya kajang Pemijilan (dari sulinggih). Kajang Pemijilan ini kajang inti (kajang utama) yang akan di Ajum.
  7. Ukur. Untuk laki2: Seleh (sisi pis bolong yang berisi dua huruf) menghadap keatas. Untuk wanita Kerep (empat huruf) menghadap keatas. Membuat ukur harus memperhatikan Seleh dan Kerep.
  8. Ngajum dimulai dg menusukkan jarum pada kajang melalui lubang uang kepeng sehingga ukur menyatu dg kajang seperti dijarit. Diawali oleh penglingsir (pemangku/pinandita) menusuk pada bagian kepala. Yang lebih muda dari yang diaben tidak boleh menusuk pd bagian kepala.
  9. Dilanjutkan pebersihan dg air kumkuman, keramas, sisig, minyak wangi, boreh miik seperti memandikan orang meninggal. Lanjut menghias kepala ukur dengan bunga.
  10. Memasang kwangen seperti upacara nyiramang layon, di kepala 1, ulu hati 1, kedua siku, bahu, pergelangan tangan, pangkal paha, lutut, pergelangan kaki.
  11. Ditabur sekar rura diatas ukur, semprot minyak wangi. (sekar rura: macam-macam bunga, kembang rampe, boreh miyik).
  12. Memasang rurub sinom (dari blangsah pinang) sebanyak 3 buah (kepala, badan, kaki).
  13. Menaruh rantasan diatasnya dan canang sari diatas rantasan.
  14. Pemangku memercikkan tirta penglukatan, pebersihan, prayascita.
  15. Melaspas kajang.
  16. Sulinggih memberi tirta Pengajuman (tirta pasupati kajang) dan Tirta Saji. Bersamaan dengan pemujaan sulinggih membuat tirta-tirta: pengajuman kajang, tirta penembak, tirta pengentas, tirta prelina,tirta penyaeb, tirta penganyutan dan lain-lain.
  17. Setelah ngetisang tirta pengajuman, tirta pasupati kajang, rurub sinom dan rantasan diambil sementara lalu dilanjutkan ngeringkes kajang. Kain putih tiga lembar paling bawah sebagai pembungkus. Sama seperti ngeringkes jenasah, laki: kain pembungkus sisi kananmenutup, wanita: pembungkus sisi kiri menutup. Pembungkus diikat dengan benang tukelan dan tali rotan di tiga tempat, kepala, dada dan kaki. Ketiga ikatan itu disambung dengan benang memanjang. Rurub sinom kembali dipasang.
  18. Setelah Ngaskara Adegan selesai, dilanjutkan upacara pemerasan. Kajang dan adegan dipanggul mengelilingi banten pemerasan sebanyak tiga kali diikuti oleh sanak keluarga.
  19. Kajang ditaruh diatas peti jenasah di Bale Semanggen. Nantinya akan dibawa ke setra untuk dibakar.



Blog Terkait



Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan