Penyakit di Usada Rsi Bawa

Tenung dan Diagnosa Penyakit di Usada Rsi Bawa


16a. -/lu mamirudanin, muwang Pitra ngrubedanin. Ca, nasi cacahan, 11, tanding, malih caru pangkonan, benya sata pinanggang, sekar pucuk bang, macaru ring sanggah, malih nasi atanding, ulamnya lalasan idupan tegul, macaru ring marga ngarepin sema, malih nasi wong-wongan, ulunya tri warna, tangan, sukunya putih, awaknya ireng, acaru marep kangin, tigang wengi, waras. Sa, teka laranya, aturu sangkanya lara, ke/-

 ikut memberikan derita, dan leluhurnya yang murka. Sarananya adalah nasi cacahan 11 suguhan, juga caru pangkonan, berlauk ayam panggang, bunga kembang sepatu merah, melakukan caru di Sanggah, dan lagi dengan nasi satu suguhan, lauknya lalasan (sebangsa reftil) yang masih hidup diikat, melakukan caru di jalan yang di depannya ada kuburan, lagi dengan nasi berwujud manusia, kepalanya tiga warna, tangan dan kaki putih, badan hitam, melakukan caru menghadap ke timur, dalam waktu tiga hari ia akan sembuh. Jika pada hari Sabtu datang sakitnya, karena tidur datangnya penyakit,

16b. -/na pamali, muwang wongeri iya, prenah nyamanya ngawe ala iya, atukar sangkanya lara, baan munyi masengit, daldalanya uli wastra, ikang atungtung sengit, ca, nasi, 12, tanding, benya ayam pinanggang. Malih nasi, 7, tanding, be siyap ireng pinanggang, ca, marep kawuh ring umahnya. Om awighnamastu sidiyang. Nihan Catur Cuntaka, tenung jinah, 40, iki mantranya, ma, Om indah ta kita, kamu hyang asunga patu/-

kena Pamali, dan juga ada orang yang iri kepadanya, orang yang ada hubungan keluarga yang menyebabkan sakit, konflik yang menyebabkan ia sakit, karena ucapan mencaci, sebabnya dari busana, itulah yang menyebabkan permusuhan, adapun sarana untuk menetralisir adalah nasi 12 suguhan berlauk ayam panggang. Lagi dengan nasi 7 suguhan, lauk ayam hitam dipanggang, melakukan caru menghadap ke barat di rumahnya. Om semoga tidak ada aral yang melintang. Inilah yang disebut Catur Cuntaka, tenung dengan mempergunakan uang kepang 40, seperti ini mantranya: Om wahai engkau yang mengatur segalanya ini,

17a. -/duh, ta kita lara sang atakon, Om, sa, ba, ta, a, I, namasiwaya. Wus minantra, pinaro sowang, ika jumput, elingakena sesanya, dewa anglaranin. Hana sasangi ring wayahnya, kapranah uli lanang, di Sanggah Kamulan amangan anginum, marejang tan katuran, kaserah ring Dewa di Puseh, tan ika tawur, kaserah ring Kahyangan, tan ika tawur, tur Bhatari Durga manglaranin geringe jalan-jalan, geringe teka luwas, layu grah mrapah,

engkau penyakit yang bertanya, Om, sa, ba, ta, a, I, namasiwaya. Setelah mengucapkan mantra, dibagi masing-masing, itu diambil sedikit, ingatlah mengenai sisanya, itu adalah dewata yang memberi sakit. Itu karena ada kaul pada Wayah-nya, yang ada hubungan keluarga dari pihak lelaki, di Sanggah Kamulan makan dan minum, tidak ada persembahan tarian rejang, semua itu yang semestinya dipersembahkan kepada Dewa di Puseh, tidak seperti caranya membayar, dipersembahkan ke Kahyangan, itu tidak terbayar, dan Bhatari Durga memberikan penyakit mematikan yang berkeliaran, sakit yang pergi dan datang, menjadi lemas dan terasa panas membara,

17b. panes menek tuwun laranya, hana ring suku kamulanya, menek ring weteng, ka bayu, ring sirah, ring tangan, hana dewa magenah masewaka, kurang bakti, hana Hyang ring gunung, malaku palungguhan, raris managih gotra muwang palaletan, pang Widhine tur Dewane managih maeteh-eteh, mararabu agung, marejang, tur ne dumadi makta lara, teka aturu laranya, uyang atinya, tan kena yeh panglukatan ne dumadi kaparebon ja/-

sakit panas yang naik turun, ada di kaki asalnya, lalu nauk ke perut, masuk ke tenaga, ke kepala, pada tangan, ada dewa yang terlihat melakukan permohonan, kurang bakti, ada dewata di gunung, berjalan di tempat, lalu meminta keturunan dan palaletan, supaya Widhi dan Dewa meminta eteh-eteh, mararabu agung, pementasan tari rejang, dan yang menjelma bawa derita, datang tertidur deritanya, gelisah, itu karena yang menjelma tidak pernah kena air suci panglukatan,

18a. -/mur, tur hana pitra managih munggah maring abu, suwuri kuna, durung tut brata karya, durung ameras putu, kumpi, sangkan geringe suwe waras, hana wonge di wetane umah, hana marebutnya baan karang, druwen wong aturanya, baan liyan anggonya atukar, nyama muwah ipah akeh sabdanya, makreta tan seleng seluk pangalape, mangapit, kaapit, hana papagranya silih suduk, pupug walik sampahang. Sesa,

Untuk menampilkan bagian ini, diperlukan
Login Membership

20a. hana wong edi adengen wetengnya, kulon umahnya, lunga anyakitin, Buta Dengen uweh sebeng muwang Pamali amilara, baan kapitan tur satrunya iri ya, ring wayabya anggonya, hanya lanang tunggal aprebut panaban, kulon ungguwanya. Sesanya, 4, katepuk tegeh laranya, anak kabuyutan anglarani, begah-begah laranya wigena Buta Dengen ring pasaban sungkanya lara, gerah mrapah laranya, langu linyun, tur sa/-

ada orang yang adengan perutnya, di barat rumahnya, ia pergi menyakiti, Buta Dengen dan Pamali yang menyakiti, karena kapitan dan musuhnya iri, di barat laut menggunakan, ia lelaki yang sama merebut panaban, di barat tempatnya. Sisa 4, memperoleh derita yang berat, ada yang disebut anak kabuyutan yang menyakiti, bengkak-bengkak sakitnya itu karena Buta Dengen, panas membara sakitnya, langu linyun, dan

20b. -/mayanya baya teka, antenakna sapuluh wegung, sapuluh wulan, kekep dening dewa, baan sasangining wayahnya ring Kahyangan, Bhatari Durgha manglaranin, angaturang bakti, anak kabuyutan apit tur wanya maumah mandengenin, hana sabda sakecap anggenya lara, hana tunggalanya eri, lor umahnya, atukar munya, sabda saparusya, anggenya lara, hana parebut iya karang, wates lurung papageranya anggenya lara,

perjanjiannya untuk mendatangkan bahaya, terlihat sepuluh wegung, sepuluh bulan, ditutup oleh dewata karena kaul leluhurnya dahulu di Kahyangan, Bhatari Durga yang menyakiti, sujud bakti, anak kabuyutan apit dan berani membangun rumah mandengenin, ada sedikit ucapan yang dijadikan sebab derita, ada kerabatnya yang iri, di utara rumahnya, saling berselisih ucapan, kata-kata yang kasar, itu yang dijadikan sebab derita, ada yang diperebutkan pada pekarangan, batas jalan dan pagar dijadikan sebab derita,



HALAMAN TERKAIT
Baca Juga