- 1Kosmologi Kelahiran - Pewarigaan dan Otonan
- 1.1A. Karakter Saptawara
- 1.1.11. Redite (Minggu)
- 1.1.22. Soma (Senin)
- 1.1.33. Anggara (Selasa)
- 1.1.44. Buda (Rabu)
- 1.1.55. Wraspati (Kamis)
- 1.1.66. Sukra (Jumat)
- 1.1.77. Saniscara (Sabtu)
- 1.2B. Karakter Pancawara
- 2Sistem Tenung dan Diagnosis Penyakit dalam Lontar Wrhaspati Kalpa
- 2.1Tenung Saptawara
- 2.2Tenung Catur Cantaka - Divinasi Uang Kepeng
- 2.3Tenung Firasat Tubuh (Polahing Wong)
- 3Usada dalam Lontar Wrhaspati Kalpa
- 3.1Bahan Obat dan Mantra
- 3.2Ritual Caru dan Bayuh Oton
- 4Terjemahan Naskah Lontar Wrhaspati Kalpa
- 5Naskah Lontar Wrhaspati Kalpa
Dalam bentangan luas kesusastraan Bali, naskah-naskah lontar tidak sekadar dipandang sebagai artefak literasi kuno, melainkan sebagai “pustaka hidup” yang terus bernapas dalam denyut ritual dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Di antara ribuan cakep lontar yang tersimpan di griya-griya pendeta, museum, maupun koleksi pribadi, terdapat sebuah teks yang memegang peranan vital namun kerap tersamar oleh bayang-bayang teks lain yang bernama serupa, yakni Lontar Wrhaspati Kalpa.
Jika teks-teks Tattwa berbicara tentang hakikat ketuhanan di langit metafisik, maka Wrhaspati Kalpa membumi di tanah realitas fenomenologis. Wrhaspati Kalpa adalah manual operasional untuk bertahan hidup menghadapi gempuran waktu (kala), nasib buruk (mala), dan penyakit (gering). Naskah ini menjadi jembatan penghubung antara mikrokosmos (buana alit) tubuh manusia dengan makrokosmos (buana agung) alam semesta, menyedia kan algoritma ritual untuk menyelaraskan keduanya. Melalui analisis naratif yang padat, laporan ini akan menelusuri lorong-lorong esoteris naskah, mulai dari taksonomi kelahiran, diagnosis penyakit supranatural, hingga farmakope mistis yang digunakan untuk penyembuhan.
Langkah pertama yang krusial dalam studi ini adalah meluruskan kerancuan terminologis yang sering terjadi di kalangan awam maupun pemerhati budaya pemula. Terdapat dua teks utama yang menggunakan nama “Wrhaspati” (nama begawan suci/planet Jupiter), yaitu Wrhaspati Tattwa dan Wrhaspati Kalpa. Kedua teks ini berbeda secara fundamental dalam hal genre, isi, dan tujuan, meskipun keduanya menempati posisi terhormat dalam pustaka suci Hindu Bali.
Wrhaspati Tattwa, sebagaimana dikonfirmasi oleh berbagai sumber sekunder , adalah teks filsafat Siwaistik yang mendalam. Isinya berupa dialog teologis antara Sang Hyang Iswara (sebagai guru) dan Bhagawan Wrhaspati (sebagai murid) yang membahas hakikat Cetana (kesadaran murni) dan Acetana (materi), serta jalan menuju kelepasan (moksa). Teks ini bersifat spekulatif-metafisik, berfokus pada pertanyaan “mengapa” eksistensi itu ada dan “siapa” Tuhan itu.
Sebaliknya, Wrhaspati Kalpa — yang menjadi objek utama kajian ini berdasarkan dokumen sumber — adalah teks Kalpa Sastra atau manual praktis. Kata “Kalpa” di sini merujuk pada prosedur, aturan, atau ritual. Naskah ini tidak berdiskusi tentang ontologi Tuhan, melainkan memberikan instruksi teknis tentang bagaimana mengelola hidup. Ia berisi sistem Wariga (astrologi kelahiran), Tenung (divinasi/peramalan nasib dan penyakit), Usada (pengobatan tradisional), dan Yadnya (tata cara kurban caru).
Wrhaspati Kalpa menjawab pertanyaan “bagaimana” : bagaimana mengatasi anak yang sakit demam, bagaimana menebus dosa kelahiran, dan bagaimana menolak gangguan ilmu hitam (desti/leyak).
Wrhaspati Tattwa adalah “ilmu murni” (teoritis), sedangkan Wrhaspati Kalpa adalah “ilmu terapan” (praktis).
Berdasarkan analisis bedah teks terhadap dokumen, Wrhaspati Kalpa disusun dengan sistematika yang sangat rapi, menyerupai struktur diagnosis medis modern namun dalam kerangka magis-religius. Teks tidak ditulis secara linear kronologis, melainkan dikelompokkan berdasarkan klaster masalah.
Secara garis besar, struktur teks ini terbagi menjadi empat kanda (bagian) utama yang saling menjalin :
- Kanda Kelahiran (Otonan) : Bagian ini memetakan profil psikologis dan biologis manusia berdasarkan waktu kelahirannya (Saptawara dan Pancawara). Ini adalah basis data “bawaan pabrik” manusia.
- Kanda Tenung (Diagnostik) : Bagian ini berisi algoritma untuk mendeteksi penyebab penyakit. Uniknya, variabel utamanya bukan hanya gejala fisik, melainkan “waktu bertanya” dan “metode hitungan uang kepeng”.
- Kanda Usada (Terapi Medis) : Bagian ini memuat resep-resep farmakologis (herbal, mineral, hewani) dan mantra-mantra sakti untuk mengobati penyakit, khususnya yang dikategorikan sebagai Tiwang (kejang/gangguan saraf).
- Kanda Ritual (Terapi Magis) : Bagian penutup yang memberikan resep ritual (caru, bayuh, penebusan) untuk menetralisir aspek negatif dari diagnosis sebelumnya.
Gaya bahasa yang digunakan dalam naskah adalah campuran antara Bahasa Jawa Kuno (Kawi) dan Bahasa Bali Tengahan, dengan penggunaan istilah-istilah teknis ritual yang sangat spesifik.
Kosmologi Kelahiran – Pewarigaan dan Otonan
Dalam pandangan Wrhaspati Kalpa, manusia tidak lahir sebagai kertas putih (tabula rasa). Setiap individu lahir dengan membawa muatan energi kosmis yang ditentukan oleh posisi waktu (kala) saat ia menarik napas pertama. Sistem ini dikenal sebagai Otonan atau Weton. Naskah memberikan deskripsi yang sangat mendetail — dan seringkali fatalistik—mengenai nasib manusia berdasarkan Saptawara (Siklus 7 Hari) dan Pancawara (Siklus 5 Hari).
A. Karakter Saptawara
Setiap hari dalam seminggu dikuasai oleh sebuah trinitas kekuatan supranatural : Dewa (aspek pelindung/positif), Kala (aspek waktu/destruktif), dan Bhuta (aspek elemen/negatif). Interaksi ketiga entitas ini membentuk watak dan nasib seseorang.
1. Redite (Minggu)
Individu yang lahir pada hari Redite berada di bawah naungan Sang Hyang Indra. Sebagai raja para dewa, Indra memberikan potensi kepemimpinan dan kewibawaan. Namun, naskah memberikan peringatan keras bahwa hari ini juga dibayangi oleh Kala Dore (atau Dorekala) dan elemen Bhuta Catus Pati (bhuta di perempatan jalan).
Secara simbolis, mereka diasosiasikan dengan Kayu Putih, burung Siyung, dan wayang Panji. Simbol-simbol ini mengindikasikan sifat yang tampak tenang di luar namun menyimpan potensi panas di dalam.
Patologi atau penyakit bawaan yang sering menyerang kelahiran Redite disebut sebagai panes wetu (kelahiran panas). Mereka rentan menderita sakit kepala hebat (puruh), pusing (langu), kondisi tubuh yang membara (gerrah merapah), hingga gangguan kejiwaan berupa kegilaan (edan). Gejala psikologis lainnya adalah kelesuan (lesu ngibuk) dan hilangnya nafsu makan.
Untuk menyeimbangkan energi “panas” ini, Wrhaspati Kalpa meresepkan ritual Caru yang serba lima (5). Angka lima merujuk pada penguasaan Panca Maha Bhuta.
Syarat ritual meliputi beras lima catu, uang kepeng berjumlah 555, telur lima butir, dan benang lima gulung (tukel). Sesayut (banten penebusan) khusus yang harus dibuat bernama Kusuma Jati. Hewan kurban yang spesifik adalah ayam putih tulus yang dipanggang, melambangkan kesucian Iswara/Indra di arah Timur untuk mendinginkan panasnya Kala Dore.
Tanpa ritual ini, naskah memperingatkan risiko kematian mendadak atau perilaku mengamuk.
2. Soma (Senin)
Kelahiran Soma dikuasai oleh Betara Wisnu, dewa pemelihara yang identik dengan elemen air. Namun, sisi gelap hari ini dikuasai oleh Kala Jereng dan Bhuta Wulu Kumbe (Bhuta berkepala periuk/gajah).
Simbol alamnya adalah Kayu Pule, burung Jangkung, dan wayang Togog. Meskipun Wisnu bersifat memelihara, pengaruh Bhuta Wulu Kumbe membawa kerentanan terhadap penyakit kulit yang parah seperti borok, koreng, dan gatal-gatal (koreng, anyang-anyangan).
Naskah juga mencatat gejala neurologis seperti ayan (epilepsi) dan nyakiting awak (nyeri seluruh tubuh). Secara psikologis, ada kecenderungan depresi atau kesedihan mendalam (ibuk), dan firasat kematian yang unik : mati saat tidur atau mati dalam mimpi (kapejahnie mati ngipi). Bagi pria, ada risiko mati mengamuk, sedangkan wanita berisiko mati akibat kejang (tiwang).
Ritual penebusan untuk Soma menggunakan elemen serba empat (4). Beras empat catu, kelapa empat, dan uang kepeng 444. Sesayut utamanya adalah Sipte Rengge. Banten ini harus dilengkapi dengan nasi ineng (jernih) dan bunga teleng biru, mencerminkan warna Wisnu. Hewan kurbannya adalah ayam berumbun (berwarna-warni) yang dipanggang. Ritual melukat (pembersihan diri) sangat ditekankan dan harus dilakukan oleh seorang Sulinggih Brahmana, menandakan bahwa “kotoran” bawaan Soma cukup sulit dibersihkan.
3. Anggara (Selasa)
Anggara adalah hari yang dikuasai oleh Betara Ludra (Rudra), aspek Siwa yang ganas dan destruktif. Kalanya adalah Durga (dewi kematian/kuburan), dan Bhutanya adalah Banas Pati Raja (raja hutan/pohon besar). Ini adalah kombinasi energi yang sangat keras, panas, dan berbahaya.
Simbol wayangnya adalah Cupak, tokoh yang dikenal rakus dan kasar. Bintangnya adalah Sidemalung. Manifestasi penyakit pada kelahiran Anggara sangat fisik dan keras : kecelakaan, luka-luka, kelumpuhan (rumpuh), cacat mata (peceng), dan gangguan pada persendian (sarwa sandi). Secara sosial, mereka digambarkan memiliki sifat suka berjudi (doyan bebotoh).
Resolusi ritualnya menuntut penggunaan angka tiga (3). Beras tiga catu, uang kepeng 333, dan sesayut Wirekesume (Bunga Pahlawan). Nasi yang digunakan harus berwarna merah (barak) dicampur kuning, mencerminkan api dan tanah. Hewan kurbannya adalah ayam biying (merah) yang dipanggang. Jika tidak diruwat, naskah memberikan peringatan mengerikan : risiko mati akibat jatuh (mati labuh) atau bunuh diri dengan menusuk diri (nyuduk awak).
4. Buda (Rabu)
Hari Buda berada di bawah lindungan Betari Uma, sakti Siwa yang lembut namun tegas. Kalanya adalah Anggapati dan Bhutanya Wulu Kumbe.
Simbol alamnya adalah Kayu Bunut dan binatang Lembu (wahana Siwa).
Karakteristik positif dari kelahiran ini adalah kecerdasan dan kebijaksanaan (perajnyan wicaksana). Namun, kerentanan fisiknya terletak pada “kemudahan terluka” (sering kanin). Lebih berbahaya lagi, tubuh mereka digambarkan sangat “manis” bagi kekuatan jahat, sehingga sering menjadi target ilmu hitam (galaking desti) dan gangguan makhluk halus (pemali sering kandihan).
Ritual penebusan Buda menggunakan angka tujuh (7). Beras tujuh catu, uang kepeng 777. Sesayutnya bernama Sudemale, sebuah nama yang menyiratkan pembersihan dari noda. Persembahannya meliputi nasi kuning, tebu ratu, dan tujuh jenis bunga putih. Hewan kurbannya adalah ayam putih kuning. Tanpa ritual ini, naskah memprediksi kematian di medan perang (payudan) atau mati akibat longsor/tebing (mati mapereng).
5. Wraspati (Kamis)
Dikuasai oleh Betara Guru (Siwa sebagai pengajar semesta). Kalanya Anggapati dan Bhutanya Wulu Singa (berkepala singa).
Simbolnya adalah Pohon Beringin (Waringin), burung Merak, dan wayang Semar. Simbol-simbol ini memancarkan aura pengayoman dan otoritas. Namun, penyakit yang mengintai cukup berat : sakit perut kronis, kelesuan, kelumpuhan (rumpuh), dan pembengkakan (perot).
Ritual penebusannya menggunakan angka delapan (8), merujuk pada delapan arah mata angin atau Asta Aiswarya. Beras delapan catu, uang kepeng 888. Sesayutnya Pengambiyan Adulang. Upacara melukat (ruwatan) memerlukan delapan periuk air. Kurban utamanya adalah ayam berumbun dan bebek dengan tanda tapak di paruh/kaki (bebek tampak taluh). Risiko kematian tanpa ritual adalah hanyut di sungai (mati anyud) atau tertimpa benda (tepen embidan).
6. Sukra (Jumat)
Hari Sukra dikuasai oleh Betari Sri, dewi padi dan kemakmuran. Kalanya Kalajerang dan Bhutanya Wulu Asu (berkepala anjing).
Simbol alamnya Kayu Ancak, burung Titiran (perkutut), dan wayang Sangut. Meskipun diasosiasikan dengan kemakmuran, kelahiran Sukra memiliki kerentanan fisik yang unik : rasa gatal, kesemutan (semutan), dan nyeri tubuh menyeluruh (nyakitang awak). Secara metafisik, mereka sangat disukai oleh leyak dan rentan terhadap racun (wisa).
Ritual penebusan menggunakan angka enam (6). Beras enam catu, uang kepeng 666. Sesayutnya Liwet Raje Kiru. Nasi yang dipersembahkan harus beraroma cendana (nasi mearu candana) dengan bunga teleng biru. Hewan kurbannya adalah ayam kelawu (abu-abu). Peringatan kematiannya cukup spesifik : mati akibat diseruduk sapi (engkot sampi) atau dimakan ilmu hitam (amah desti).
7. Saniscara (Sabtu)
Hari terakhir, Saniscara, adalah hari yang berat karena dikuasai oleh Betari Durga. Kalanya adalah Barong dan Bhutanya Raksasa.
Simbolnya adalah Kayu Kepuh (pohon yang sering tumbuh di kuburan), burung Celepuk (burung hantu), dan wayang Delem. Karakteristik kesehatannya didominasi oleh sakit perut, pusing, kedinginan (beku), dan penyakit yang datang dan pergi (menek tuun). Sifat dasarnya seringkali keras dan suka berjudi.
Ritual penebusannya menuntut angka sembilan (9), angka tertinggi. Beras sembilan catu, uang kepeng 999. Sesayut Kesume Yude (Bunga Perang). Perlu ayam merah dan bebek tampak taluh. Karena dikuasai Durga, ritual pembersihan mutlak memerlukan pendeta Sulinggih. Risiko kematiannya adalah mati kurus kering (mati ngareges) bagi wanita, atau kematian akibat kekerasan bagi pria.
B. Karakter Pancawara
Selain Saptawara, naskah juga merinci watak berdasarkan Pancawara (Umanis, Paing, Pon, Wage, Kliwon). Ini memberikan lapisan analisis tambahan :
- Kliwon : Kelahiran ini dianggap titisan Betara Guru dan Betara Uma. Mereka memiliki potensi spiritual tinggi (wiku wateknie) dan bijaksana. Namun, mereka juga rebutan semayanie (diperebutkan oleh waktu/janji). Penebusannya menggunakan ayam berumbun dan uang 88.
- Umanis : Titisan Sang Hyang Iswara dan Betara Indra. Sifatnya tenang, suka duduk (alelungguh), dan sopan. Penebusannya menggunakan daging babi seharga 55 kepeng.
- Paing : Titisan Betara Yama (Hakim Roh) dan Betara Brahma (Api). Sifatnya rajin bekerja (weruh anambut gawe) namun cenderung panas hati. Penebusannya menggunakan ayam biying (merah) dan uang 99.
- Pon : Sifatnya terampil namun tidak stabil (rumampin lampir). Penebusannya menggunakan ayam wiring (merah hitam) dan uang 77.
- Wage : Titisan Betara Wisnu. Sifatnya penurut (bisa ingutus) namun kaku. Penebusannya menggunakan ayam hitam (ireng) dan uang 44.
















